Review Film – 28 Years Later (2025)

28 Years Later Kembali dengan Garang dan Memuaskan Para Pecinta Genre Zombie Survial

28 Years Later adalah film horor pasca-apokaliptik karya Danny Boyle dan Alex Garland, bagian ketiga dari franchise 28 Days Later. Film ini dirilis pada 20 Juni 2025 dengan pemeran utama Jodie Comer, Aaron Taylor-Johnson, dan Ralph Fiennes.

Berlatar 28 tahun setelah wabah, cerita mengikuti Jamie dan anaknya Spike yang meninggalkan pulau terkarantina untuk mencari bantuan medis, menghadapi mutasi zombie dan konflik manusia.

Plot dan alur jadi dramatis dan eksploratif

Plot dari 28 Years Later benar-benar menunjukkan sisi unik yang membedakan franchise ini dari film zombie lainnya. Jika biasanya film zombie fokus pada konflik melawan para zombie, mencari vaksin, atau bertahan hidup dari serangan mereka, film ini mengambil pendekatan berbeda.

Di franchise 28 Days Later, termasuk seri terbarunya ini, zombie bukanlah konflik utama. Mereka lebih seperti latar belakang yang memberikan tekanan konstan, tetapi fokus sebenarnya ada pada karakter manusia dan dinamika mereka.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Film ini membawa elemen segar dengan menggabungkan coming-of-age story ke dalam setting dunia zombie. Konsep ini jarang sekali, atau bahkan belum pernah, digunakan sebelumnya di genre ini. Elemen coming-of-age yang menceritakan pertumbuhan dan perkembangan karakter utama, Spike, di tengah situasi apokaliptik memberikan kedalaman yang jarang ditemukan di film zombie lainnya.

Kisahnya menjadi lebih personal, karena kita tidak hanya melihat Spike (yang masih 12 tahun) bertahan hidup, tetapi juga belajar, berkembang, dan memahami dirinya sendiri dalam dunia yang sudah hancur ini. Keunggulan lain dari plotnya adalah bagaimana Alex Garland dengan cerdas menyeimbangkan drama manusia dengan aksi zombie.

Zombie di sini memang tetap berbahaya, tetapi konflik utama justru berasal dari interaksi antar manusia. Bagaimana mereka beradaptasi, hidup bersama, atau bahkan saling menghancurkan, menjadi inti cerita. Garland juga berhasil menanamkan elemen-elemen emosional yang kuat, membuat penonton tidak hanya takut akan zombie, tetapi juga peduli pada para karakter.

Meskipun ada beberapa elemen yang tampak familier, cerita ini sama sekali tidak terasa mudah ditebak. Justru, alur yang ditawarkan penuh kejutan dengan cara penyampaian yang segar.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Klimaks cerita membawa emosi yang sangat mengena, terutama di bagian akhir yang mengharukan. Momen tersebut memberikan penutup yang menyentuh hati, menyoroti inti dari cerita ini—yaitu hubungan manusia di tengah kekacauan.

Membawa Dalam Setiap Perkembangan Karakter

Selain itu, aksi zombie yang disajikan tetap memberikan ketegangan yang menyenangkan. Kombinasi antara drama emosional dan aksi penuh adrenalin ini membuat 28 Years Later terasa seperti kisah yang tidak hanya seru, tetapi juga sangat bermakna. Secara keseluruhan, ini adalah cerita yang sangat solid dan mengesankan.

Meskipun alur cerita film ini terasa segar dan tidak mudah ditebak, sayangnya, hal tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk penggambaran karakternya. Banyak karakter di dalam film ini yang klise dan mengikuti pola yang sudah sering kita temukan dalam berbagai film lainnya.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Ambil contoh karakter Jamie. Dia digambarkan sebagai sosok yang tidak setia kepada istrinya, yang akhirnya menyebabkan konflik dengan Spike. Spike merasa kecewa dan meminta Jamie untuk pergi.

Alur ini sudah sangat umum dan sering kita lihat di berbagai film, namun uniknya, ini jarang—atau bahkan tidak pernah—terjadi di genre film zombie. Hal ini menunjukkan bagaimana 28 Years Later mampu menggabungkan drama manusia yang realistis dengan dunia zombie yang penuh fantasi.

Lalu, ada karakter sampingan seperti Erik, yang jujur saja terasa kurang penting. Ya, dia memang menyelamatkan Spike dan Isla, tetapi kontribusinya berhenti di situ saja. Keberadaannya hanya sebagai alat untuk menyelamatkan karakter utama dari situasi bahaya.

Mungkin karena alasan ini, dia akhirnya tewas dengan cepat. Meskipun perannya penting dalam satu adegan, secara keseluruhan, Erik tidak menambahkan banyak kedalaman pada cerita.

Hal yang sama juga berlaku untuk Isla. Pada awalnya, saya berharap bahwa penyakit yang dia derita memiliki hubungan atau “kekuatan” tertentu dalam menghadapi zombie, terutama ketika dia dapat berinteraksi dengan zombie yang sedang hamil.

Saya sempat berpikir bahwa penyakit ini mungkin akan menjadi kunci penting di film ini atau di masa depan, misalnya untuk membuat perdamaian dengan para zombie.

Namun, ternyata penyakit yang dia derita hanyalah kanker biasa. Tidak ada sesuatu yang lebih besar atau signifikan dari itu. Saya pribadi merasa ini sedikit mengecewakan karena potensinya besar untuk menjadi elemen cerita yang unik.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Karakter Jimmy juga terasa agak kurang maksimal. Dia hanya muncul di akhir cerita, sehingga pengenalannya sebagai seorang anak kecil di awal film terasa tidak terlalu diperlukan. Sepertinya, kehadirannya di film ini lebih bertujuan untuk memberikan sedikit “teaser” dan membangun antisipasi untuk sekuel berikutnya, yaitu Bone Temple.

Namun, ada juga beberapa aspek positif dalam hal karakter. Pertumbuhan karakter Spike menjadi sorotan utama, sesuai dengan genre coming-of-age yang diusung film ini. Dari seorang anak yang takut pada zombie, dia berkembang menjadi seseorang yang mandiri dan mampu bertahan hidup di alam liar. Perjalanan karakternya dieksekusi dengan baik, meskipun proses berdukanya atas kematian ibunya terasa terlalu cepat dan kurang emosional.

Salah satu karakter pendukung yang mencuri perhatian adalah Dr. Kelson. Sosoknya begitu menarik dan menambah kedalaman cerita. Saya sangat berharap dia kembali di film berikutnya dengan porsi cerita yang lebih besar dan eksplorasi terhadap latar belakangnya.

Selain analisis individu, interaksi antar karakter adalah salah satu kekuatan besar film ini. Hubungan antara Spike dan Jamie, yang dimulai dengan keakraban hingga akhirnya mengalami “perpisahan,” digambarkan dengan sangat baik. Demikian pula, interaksi antara Spike dan Isla menunjukkan betapa besar kasih sayang Spike terhadap ibunya.

Namun, film ini memang terfokus pada Spike sebagai karakter utama, sehingga interaksi karakter lain seperti Jamie dengan Isla atau Isla dengan Dr. Kelson kurang dieksplorasi. Walau begitu, fokus pada Spike berhasil memberikan kedalaman pada perjalanan emosionalnya.

28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Secara keseluruhan, meskipun karakter-karakter ini memiliki beberapa kekurangan, pertumbuhan Spike yang memuaskan dan hubungan antarmanusia yang kuat menjadi elemen yang benar-benar menyelamatkan film ini dalam aspek karakter.

Tempo dari film 28 Years Later bisa dibilang sangat sempurna. Sebagai penonton, saya merasa setiap adegan disusun dengan cermat sehingga tidak ada momen yang terasa membosankan. Adegan aksi yang seru dan mendebarkan berhasil mencuri perhatian, sementara saat film beralih ke adegan non-aksi, saya tetap terlibat dengan drama manusia yang menyentuh serta sinematografi yang memukau—terutama ketika karakter melakukan perjalanan di luar pulau.

Setiap adegan dalam film ini terasa penting, meskipun ada beberapa bagian, seperti pembukaan dan penutup, yang secara naratif mungkin tidak memberikan kontribusi besar terhadap cerita utama (akan dibahas lebih lanjut di kategori berikutnya).

Adegan-adegan ini tetap menyenangkan untuk ditonton.

Durasi 1 jam 55 menit film ini benar-benar terasa berlalu begitu cepat. Biasanya, dalam film yang lebih dari 90 menit, ada momen-momen tertentu yang terasa lambat atau tidak relevan, namun hal itu tidak terjadi di sini. Semua terasa terstruktur dengan baik. Film ini berhasil menjaga ritmenya dari awal hingga akhir tanpa membuat saya merasa lelah atau kehilangan minat.

Salah satu elemen menarik yang perlu dicatat adalah perubahan nada (tone) dalam film ini. Ada perbedaan yang cukup drastis antara bagian awal dan akhir film (akan dibahas lebih lanjut di kategori berikutnya).

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Biasanya, perubahan tonal yang drastis seperti ini bisa membuat film terasa tidak konsisten, tetapi 28 Years Later berhasil mengintegrasikannya dengan sangat baik. Transisi antar nada tetap terasa mulus, dan setiap elemen saling melengkapi, menciptakan pengalaman yang menyeluruh dan kohesif.

Film ini juga patut dipuji karena tidak hanya menyajikan ketegangan atau aksi, tetapi juga meluangkan waktu untuk mengeksplorasi drama manusia. Saya terlibat sepenuhnya dengan konflik emosional para karakter dan hubungan mereka satu sama lain.

Bahkan saat tidak ada adegan aksi, cerita tetap menarik dan relevan, menunjukkan bagaimana film ini memberikan keseimbangan yang sempurna antara intensitas dan kedalaman cerita. Secara keseluruhan, pacing film ini luar biasa. Semua elemen—dari aksi, drama, hingga visual—berjalan harmonis, memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan tanpa sedikitpun rasa bosan.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, tone dalam film 28 Years Later cukup tidak merata. Ada perubahan drastis dari paruh pertama ke paruh kedua, terutama mendekati klimaks. Namun, meskipun perubahan ini signifikan, saya merasa bahwa film ini tetap mampu menyajikan cerita yang menghibur, menarik, dan tetap kohesif.

Alur cerita yang solid juga membantu mencegah munculnya plot hole, sehingga saya tidak merasa bingung atau kehilangan arah saat menonton. Walaupun demikian, saya bisa memahami jika beberapa penonton merasa kecewa atau bosan dengan perubahan nada yang drastis ini.

Pada paruh pertama, film ini sangat berfokus pada aksi. Adegan-adegan menegangkan dan penuh adrenalin menjadi elemen utama. Kita disajikan dengan situasi yang penuh bahaya, di mana karakter-karakter harus bertahan hidup melawan zombie. Perasaan tegang ini terus terbangun dengan aksi-aksi yang intens dan adegan-adegan yang memacu detak jantung.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Namun, saat memasuki paruh kedua, film ini berubah arah. Dari aksi penuh ketegangan, tone-nya bergeser menjadi lebih dramatis dan reflektif. Bagian ini lebih menyoroti aspek survival(adventure) dan hubungan antar karakter. Perubahan ini mencapai puncaknya mendekati akhir film, di mana tone benar-benar berubah menjadi sangat emosional, bahkan filosofis.

Adegan-adegan di bagian ini benar-benar menyentuh hati, membuat suasana menjadi melankolis. Tidak ada aksi sama sekali di sini—hanya emosi yang intens dan momen-momen yang menguras air mata.

Bagi sebagian penonton, perubahan nada yang drastis ini mungkin terasa mengecewakan. Awalnya mereka mungkin berharap aksi yang konsisten dari awal hingga akhir, namun justru mendapatkan klimaks yang lebih banyak menawarkan drama emosional daripada ledakan atau pertarungan.

Namun, bagi saya pribadi, perubahan nada ini sangat cocok dengan cerita dan tema film. Perubahan ini mencerminkan perjalanan karakter utama, Spike, yang tumbuh dari seorang anak muda yang penuh ketakutan menjadi individu yang mandiri dan dewasa.

Film ini juga menunjukkan keseimbangan yang luar biasa antara aksi dan drama. Adegan-adegan aksi di awal film membangun intensitas, sementara momen-momen drama di paruh kedua memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan di film zombie lainnya. Hal ini menegaskan bahwa 28 Years Later bukan sekadar film zombie biasa, melainkan sebuah kisah manusia yang kompleks dan penuh makna.

Perubahan tone dari aksi ke drama yang emosional juga memberikan variasi pengalaman menonton. Pada awalnya, adrenalin penonton terpacu dengan aksi-aksi yang intens, namun menjelang akhir, film ini menawarkan perasaan haru yang mendalam. Bagi saya, kombinasi ini sangat memuaskan dan memperkaya cerita secara keseluruhan.

Perubahan tone ini juga menunjukkan keberanian para pembuat film untuk mengambil risiko dalam membangun narasi yang tidak konvensional.

Secara keseluruhan, tone dalam 28 Years Later mungkin tidak akan disukai oleh semua orang, tetapi saya merasa bahwa film ini berhasil menghadirkan pengalaman yang unik dan berkesan. Pergeseran dari aksi penuh ketegangan ke drama emosional terasa sangat natural dan mendukung perjalanan cerita, sekaligus mencerminkan pertumbuhan karakter Spike dengan cara yang sangat indah.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Meskipun 28 Years Later tidak memiliki soundtrack ikonik yang akan langsung terngiang di kepala kita setelah keluar dari bioskop, menurut saya, film ini memiliki musik latar terbaik dibandingkan dengan dua film sebelumnya dalam franchise 28 Days Later.

Soundtrack-nya mungkin tidak terlalu memorable, tetapi secara keseluruhan, musiknya sangat mendukung tone film dan berhasil menciptakan suasana yang pas di setiap adegan.

Salah satu keunggulan utama dari soundtrack film ini adalah kemampuannya untuk menyatu dengan narasi. Musiknya tidak mendominasi atau terasa berlebihan, tetapi justru menjadi elemen pelengkap yang sempurna untuk membangun atmosfer.

Dalam adegan-adegan menegangkan, musiknya mampu menambah intensitas tanpa mengalihkan perhatian kita dari aksi yang terjadi di layar. Sebaliknya, dalam momen-momen yang lebih tenang dan emosional, musiknya memberikan sentuhan yang lembut namun tetap menggugah perasaan.

Yang paling menonjol bagi saya adalah penggunaan puisi “Boots” karya Rudyard Kipling. Meskipun secara teknis bukan bagian dari soundtrack, puisi ini dipadukan dengan sempurna dalam film dan memberikan lapisan emosional tambahan pada narasi.

Penempatannya yang tepat dalam cerita tidak hanya menambah ketegangan, tetapi juga memberikan dimensi artistik yang memperkaya pengalaman menonton. Ada sesuatu yang sangat indah dan menggetarkan tentang bagaimana kata-kata Kipling digunakan untuk mengekspresikan perjuangan dan penderitaan para karakter di tengah dunia yang penuh kekacauan.

Setiap aktor memberikan performa terbaik mereka, dan mengingat daftar pemain film ini, ekspektasi saya memang tinggi. Nama-nama seperti Ralph Fiennes, Aaron-Taylor Johnson, Jodie Comer, dan pendatang baru Alfie Williams sudah cukup untuk menjanjikan performa kelas dunia. Dan ya, mereka tidak mengecewakan sama sekali.

Ralph Fiennes seperti biasa berhasil bersinar di setiap perannya, termasuk sebagai Dr. Kelson dalam film ini. Karakter Dr. Kelson adalah sosok yang menarik, berkat kemampuan akting Fiennes yang memukau, karakter ini terasa hidup.

Gestur, ekspresi wajah, hingga cara dia berbicara memberikan kedalaman dan kehangatan pada karakter ini, membuat saya benar-benar peduli dan ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang Dr. Kelson.
Aaron-Taylor Johnson juga membuktikan dirinya sebagai aktor yang semakin matang. Dalam beberapa tahun terakhir, dia sudah menunjukkan performa yang solid melalui film-film seperti Kick-Ass dan Bullet Train.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Namun, peran-peran itu cenderung berada di ranah komedi atau aksi ringan. Dalam 28 Years Later, dia menunjukkan sisi seriusnya yang lebih mendalam. Lewat film ini, serta penampilannya di Nosferatu, Aaron-Taylor Johnson memperlihatkan jangkauan aktingnya yang patut diacungi jempol.Dia berhasil menyampaikan emosi yang mendalam dan memberikan nuansa pada karakternya yang membuatnya sangat memikat untuk ditonton.

Jodie Comer juga tidak kalah mengesankan. Dalam perannya sebagai seorang ibu yang sakit-sakitan tetapi tetap penuh cinta dan perhatian, Comer menunjukkan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Transisinya antara menjadi ibu yang rapuh dan tertekan dengan sosok ibu yang hangat dan penuh kasih terasa sangat mulus dan nyata. Rentang emosi yang dia tampilkan membuat karakternya terasa sangat manusiawi, sehingga penonton bisa benar-benar merasakan penderitaan sekaligus kasih sayangnya.

Namun, kejutan terbesar datang dari Alfie Williams, yang menjadi bintang baru di dunia perfilman. Meskipun ini adalah peran besar pertamanya, dia berhasil mencuri perhatian. Performanya sebagai Spike terasa sangat alami dan emosional. Dia berhasil menunjukkan berbagai lapisan emosi yang kompleks, mulai dari ketakutan, keberanian, hingga kedewasaan yang bertumbuh sepanjang cerita.

Yang lebih mengesankan adalah kemampuannya untuk tetap tampil kuat di antara para aktor berpengalaman seperti Fiennes, Johnson, dan Comer. Untuk seorang aktor muda tanpa banyak pengalaman, ini adalah pencapaian yang luar biasa, dan saya yakin dia memiliki masa depan yang cerah di industri ini.

Kalau kalian ingin melihat Jack O’Connel, jangan berharap apa-apa ya. Keseluruhan, akting dalam 28 Years Later adalah salah satu elemen terkuatnya. Para aktor tidak hanya menjalankan peran mereka dengan baik, tetapi mereka benar-benar menghidupkan cerita dengan emosi dan kedalaman yang mereka bawa. Bahkan jika Anda tidak terlalu tertarik pada genre zombie, akting para pemain ini cukup menjadi alasan untuk menonton film ini.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures
Sinematografinya sangat indah

Setiap adegan terasa dirancang dengan sangat hati-hati untuk menggambarkan keindahan dunia yang hancur akibat wabah zombie. Pemandangan kota yang ditinggalkan, hutan yang lebat, hingga lanskap terbuka yang sunyi, semuanya berhasil menciptakan atmosfer yang tepat untuk cerita ini. Ada perpaduan sempurna antara kecantikan dan kehancuran, yang membuat saya terkagum-kagum di banyak momen sepanjang film.

Fakta bahwa film ini direkam dengan alat sederhana tetapi menghasilkan kualitas visual yang luar biasa adalah sebuah pencapaian besar. Ini menunjukkan bahwa kreativitas dan keahlian lebih penting daripada peralatan mahal. Film ini berhasil membuktikan bahwa cerita yang kuat, dipadukan dengan visual yang memukau, bisa tetap bersinar meskipun menggunakan teknologi yang dianggap tidak konvensional untuk standar industri film.

Salah satu elemen visual yang mencuri perhatian saya adalah cara adegan pembunuhan para zombie difilmkan. Ada kreativitas luar biasa di sini. Sudut pengambilan gambar yang dinamis dan unik memberikan kesan intens setiap kali para karakter melawan zombie.

Serta ada penggunaan efek visual seperti tampilan inframerah di beberapa adegan. Inovasi ini memberikan perspektif baru dalam melihat dunia pasca-apokaliptik yang penuh bahaya ini. Dengan tampilan inframerah, kita seolah bisa merasakan ketegangan yang lebih mendalam.

Secara keseluruhan, visual dalam film ini benar-benar mengesankan. Dari penggunaan teknologi sederhana yang dimaksimalkan hingga sinematografi yang memukau, semuanya terasa sangat memuaskan untuk ditonton.

Bagi saya, opening memainkan peran yang sangat penting dalam franchise 28 Days Later. Kalau kita lihat dari dua film sebelumnya, opening selalu memberikan prolog kuat yang langsung menarik perhatian dan memberikan konteks bagi cerita yang akan berkembang. Nah, untuk 28 Years Later (2025), opening-nya memang cukup menarik, tetapi rasanya belum mampu menyamai level iconic dari dua pendahulunya.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Di awal film, kita diperkenalkan dengan karakter Jimmy melalui adegan yang cukup mencekam. Jujur, saat pertama kali melihatnya, saya sempat mengira bahwa Jimmy adalah Jamie, salah satu karakter utama, tetapi ternyata saya salah. Hal ini sebenarnya membuat saya semakin penasaran dengan siapa sebenarnya Jimmy dan bagaimana dia terhubung dengan cerita utama.

Sayangnya, seiring berjalannya film, kita menyadari bahwa opening ini tidak terlalu penting bagi cerita utama. Rasanya, adegan ini hanya digunakan untuk menarik perhatian dan memperkenalkan Jimmy sebagai setup untuk film selanjutnya.

Yang lebih mengganggu saya adalah kenyataan bahwa Jimmy baru diperkenalkan di bagian akhir film ini. Jadi, adegan pembuka tersebut terasa seperti elemen yang tidak relevan untuk cerita kali ini. Sebenarnya, saya merasa opening ini akan lebih cocok jika dimasukkan ke dalam installment berikutnya, di mana Jimmy kemungkinan akan menjadi karakter utama.

Karena di film ini, kehadiran opening itu terasa seperti filler, sesuatu yang hanya ditambahkan untuk memberikan sensasi dan menarik perhatian di awal tanpa benar-benar relevan dengan plot utama.

Meskipun demikian, saya tetap mengapresiasi usaha untuk menciptakan pembukaan yang menegangkan. Sebagai penggemar franchise ini, saya tahu bahwa 28 Years Later memiliki tantangan besar untuk memenuhi ekspektasi tinggi yang sudah dibangun oleh dua film sebelumnya. Jadi, meskipun opening ini tidak sekuat pendahulunya, setidaknya masih cukup solid untuk membangun antisipasi.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Namun, tetap ada elemen ketegangan yang berhasil ditampilkan, meskipun sayangnya tidak memberikan dampak besar pada cerita utama. Dengan sedikit penyesuaian, saya rasa opening ini bisa lebih efektif jika diletakkan di installment berikutnya daripada di film ini.

Bagian closing dari 28 Years Later (2025) mungkin menjadi bagian terlemah dari film ini. Jujur saja, saya sebenarnya cukup suka dengan ending-nya, tapi ada potensi besar untuk membuatnya jauh lebih baik jika durasi film dipangkas sekitar lima menit sebelum scene terakhir.

Namun, karena adanya tambahan adegan yang terasa seperti cliffhanger yang dipaksakan, ending film ini justru terasa kurang memuaskan. Saya pribadi adalah penggemar ending yang tiba-tiba atau mendadak karena biasanya memberikan kesan mendalam dan membuat kita terus memikirkan film tersebut.

Namun, untuk kasus ini, ending terasa terlalu mendadak dan kurang mulus. Seolah-olah adegan terakhir itu sebenarnya belum selesai atau bahkan tidak seharusnya ada di film ini. Rasanya seperti sebuah adegan yang dipotong di tengah jalan dan sengaja dimasukkan hanya untuk membangun hype bagi installment berikutnya.

Adegan yang saya maksud adalah ketika karakter Jimmy diperkenalkan di akhir film. Awalnya, saya merasa adegan itu cukup menarik—Jimmy muncul sebagai penyelamat di saat genting, dan itu sudah cukup untuk menjadi penutup yang kuat.

Namun, film ini melanjutkan dengan menunjukkan Jimmy dan timnya menyerang para zombie. Bagi saya, adegan tersebut sangat tidak diperlukan. Adegan ini tidak hanya mengurangi dampak emosional dari kehadiran Jimmy, tetapi juga membuat ending terasa terburu-buru.

Jika saja film ini berhenti di momen Jimmy datang untuk menyelamatkan Spike, itu sudah cukup memberikan kesan mendalam. Penonton akan penasaran dengan siapa Jimmy sebenarnya, apa yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana hubungan mereka akan berkembang. Tapi dengan melanjutkan adegan hingga ke aksi Jimmy menyerang zombie, film ini malah memberikan terlalu banyak informasi yang tidak perlu dan terasa seperti “trailer” untuk film selanjutnya.

Saya merasa adegan aksi Jimmy tersebut lebih cocok dimasukkan ke installment berikutnya daripada memaksakannya masuk di bagian akhir film ini. Dengan begitu, penonton akan tetap penasaran dan antusias menunggu kelanjutan cerita tanpa merasa ending kali ini terlalu penuh atau dipaksakan.

28 Years Later (2025)
28 Years Later (2025) | © Sony Pictures

Secara keseluruhan, closing film ini cukup mengecewakan jika dibandingkan dengan kualitas film secara keseluruhan. Ada potensi besar untuk membuat ending yang lebih berkesan dan efektif, tetapi sayangnya, keputusan untuk menambahkan adegan ekstra membuatnya kehilangan dampak emosionalnya. Bagi saya, ending ini adalah kesempatan yang terlewatkan untuk memberikan penutup yang lebih rapi dan memuaskan.

Ini adalah salah satu film terbaik tahun ini dan, tanpa diragukan lagi, menjadi film terbaik dalam franchise 28 Days Later. Film ini sukses menghadirkan pengalaman sinematik yang memadukan drama, aksi, dan unsur emosional dengan sangat baik. Lebih dari itu, film ini membuktikan bahwa kombinasi genre yang unik—coming-of-age dan zombie, bukan hanya mungkin, tetapi juga bisa dieksekusi dengan luar biasa.

Shyamalan menciptakan sebuah film thriller di dalam sebuah konser pop. Ini benar-benar unik dan bisa menjadi film yang luar biasa jika eksekusinya bagus. Namun sayangnya, Shyamalan tidak dapat mengeksekusi plot yang jenius ini dengan baik (akan dibahas nanti).

Shyamalan adalah seorang sutradara yang sangat hebat dengan visi dan ide yang hebat dan unik. Tapi bukan seorang penulis dan “executioner” yang hebat.



28 Years Later – Movie Info

Scroll to Top