Review Film – Black Panther: Wakanda Forever (2022)

Black Panther: Wakanda Forever; Duka, Tahta, dan Perang Dua Kerajaan yang Emosinya Berat Banget

Black Panther pertama terasa seperti perayaan Wakanda, maka Black Panther: Wakanda Forever terasa seperti upacara duka yang megah, mahal, dan sakitnya diam-diam nyangkut di dada. Film tahun 2022 ini disutradarai Ryan Coogler, ditulis bersama Joe Robert Cole, berdurasi 161 menit, dan menjadi film ke-30 dalam MCU sekaligus penutup Phase Four.

Film ini dibintangi Letitia Wright, Lupita Nyong’o, Danai Gurira, Winston Duke, Dominique Thorne, Tenoch Huerta Mejía, Martin Freeman, Julia Louis-Dreyfus, dan Angela Bassett.

Dengan pendapatan global sekitar US$859,2 juta, film ini tetap sukses besar dan menjadi salah satu film terlaris tahun 2022, walau bebannya jelas tidak ringan karena harus melanjutkan franchise tanpa Chadwick Boseman sebagai T’Challa. 

Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Keputusan terbesar film ini adalah tidak mengganti aktor T’Challa setelah wafatnya Chadwick Boseman pada 2020, sehingga cerita langsung dibangun dari kehilangan sang raja. Dalam film, T’Challa meninggal karena penyakit yang gagal disembuhkan Shuri, dan dari situlah Wakanda harus menghadapi duka sekaligus tekanan dunia luar terhadap vibranium. 

Opening film ini benar-benar terasa seperti Marvel menurunkan volume dunia dan membiarkan penonton ikut berkabung. Bukan cuma karakter yang kehilangan T’Challa, kita sebagai penonton juga sedang kehilangan Boseman, dan film ini paham banget cara menekan tombol emosional itu tanpa terasa murahan.

Shuri Naik Level, Tapi Jalannya Berat dan Penuh Amarah
Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Letitia Wright sebagai Shuri mendapat beban besar karena ia harus berubah dari adik jenius penuh humor menjadi pusat emosional cerita. Shuri di sini bukan langsung siap menjadi Black Panther; ia marah, patah, skeptis terhadap tradisi, dan lebih percaya pada teknologi daripada spiritualitas Wakanda. 

Perjalanan Shuri menarik karena film tidak memaksanya jadi T’Challa versi baru. Ia punya energi yang lebih tajam, lebih emosional, dan lebih rapuh, terutama ketika kehilangan Ramonda membuat dendamnya terhadap Namor hampir menguasai dirinya.

Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Kalau ada satu performa yang paling “anjir, ini kelasnya beda”, itu jelas Angela Bassett sebagai Queen Ramonda. Karakternya harus menjadi ratu, ibu, pemimpin negara, sekaligus manusia yang sedang hancur karena kehilangan anak, dan Bassett memainkan semuanya dengan intensitas yang bikin setiap dialog seperti petir. 

Tidak heran performanya mendapat banyak penghargaan dan nominasi besar, termasuk kemenangan Golden Globe serta nominasi Academy Awards. Dalam film yang penuh konflik politik dan perang, Ramonda justru sering menjadi pusat gravitasi emosional yang paling kuat.

Ancaman Baru yang Nggak Sekadar Jahat
Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Tenoch Huerta Mejía sebagai Namor adalah tambahan paling segar di film ini. Namor bukan villain generik yang ingin menguasai dunia, tapi pemimpin Talokan, kerajaan bawah laut kaya vibranium yang merasa terancam setelah Wakanda membuka eksistensinya ke dunia.

Motivasi Namor cukup masuk akal: ia ingin melindungi rakyatnya dari eksploitasi dunia permukaan, terutama setelah sejarah kolonial dan kekerasan terhadap bangsanya. Dia brutal, arogan, bahkan menyebalkan, tapi justru karena itu ia terasa seperti antihero-politik yang punya alasan kuat, bukan sekadar bos akhir dengan kostum keren. 

Konflik antara Wakanda dan Talokan sebenarnya punya potensi luar biasa karena mempertemukan dua bangsa tersembunyi yang sama-sama melindungi vibranium dan trauma sejarah mereka. Film ini mencoba membahas kolonialisme, isolasi, geopolitik, grief, warisan, dan perebutan sumber daya dalam satu paket besar. 

Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Masalahnya, semua ide itu kadang terlalu banyak untuk satu film, bahkan dengan durasi 161 menit. Ada momen ketika cerita terasa gemuk banget: ada Shuri, Namor, Ramonda, Riri Williams, CIA, Valentina, Talokan, hingga masa depan Black Panther, semuanya antre minta jatah fokus.

Dominique Thorne sebagai Riri Williams membawa energi anak muda yang cerdas dan cukup fun sebagai genius MIT pembuat detektor vibranium. Secara fungsi cerita, Riri menjadi pemicu konflik karena alat ciptaannya membuat Talokan terancam ditemukan dunia luar.

Namun, kehadirannya juga terasa agak seperti jembatan menuju proyek Ironheart, yang kemudian memang dirilis sebagai miniseries pada 2025. Riri bukan karakter buruk, tapi dalam film yang sudah penuh duka dan konflik dua kerajaan, subplot-nya kadang terasa seperti tamu yang datang saat rumah sedang berantakan.

Megah, Tapi Tidak Selalu Rapi
Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Secara action, film ini punya beberapa momen kuat, terutama serangan Talokan ke Wakanda dan duel Shuri melawan Namor di pantai gurun. Namor dengan sayap di pergelangan kaki, kekuatan brutal, dan gaya bertarung cepat memberikan sensasi baru yang cukup beda dari villain MCU lain.

Tapi kalau dibandingkan film pertama, beberapa set piece terasa kurang ikonik dan CGI-nya tidak selalu konsisten. Final battle di laut memang besar, tapi kadang terasa terlalu gelap, ramai, dan kurang elegan dibanding kekayaan visual Wakanda yang biasanya begitu memanjakan mata.

Bagian terbaik film ini ada di penutupnya. Setelah perang selesai, Shuri pergi ke Haiti menemui Nakia, membakar pakaian pemakaman, dan akhirnya benar-benar memberi ruang untuk berduka atas T’Challa. 

Black Panther: Wakanda Forever (2022)
Black Panther: Wakanda Forever (2022) | © Marvel Studios

Mid-credit scene memperkenalkan Toussaint, anak T’Challa dan Nakia, yang juga memiliki nama Wakanda T’Challa. Ini twist emosional yang manis banget karena film tidak “menghidupkan” T’Challa secara murah, tapi memberi simbol bahwa warisannya tetap berjalan.

Black Panther: Wakanda Forever bukan film superhero paling rapi, tapi salah satu film MCU paling emosional. Ia terlalu panjang, agak penuh sesak, dan beberapa subplot terasa seperti kewajiban franchise, tapi tribute untuk Chadwick Boseman, performa Angela Bassett, transformasi Shuri, serta kehadiran Namor membuat film ini tetap berdiri kuat.

Ini bukan sekadar sekuel, tapi proses berkabung yang dibungkus perang kerajaan, politik vibranium, dan pertanyaan besar: setelah kehilangan simbol terbesar, siapa yang berani melanjutkan warisan Wakanda?

Logo Disney Plus


Black Panther: Wakanda Forever – Movie Info

Scroll to Top