Review Film – The Great Flood (2025)

The Great Flood; Banjir Besar, Apartemen Tenggelam, dan Rahasia yang Tidak Sesederhana Itu

The Great Flood adalah film science fiction disaster Korea Selatan tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai Kim Byung-woo bersama Han Ji-su, dengan Kim Da-mi dan Park Hae-soo sebagai pemeran utama. Film ini tayang perdana di Busan International Film Festival pada 18 September 2025, lalu rilis global di Netflix pada 19 Desember 2025 dengan durasi sekitar 108 menit.

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Ceritanya mengikuti An-na, seorang peneliti AI dan ibu muda yang terjebak bersama anaknya, Ja-in, di gedung apartemen 30 lantai saat banjir besar menenggelamkan dunia. Awalnya film terasa seperti survival disaster biasa, tapi perlahan berubah menjadi sci-fi puzzle yang baru benar-benar membuka kartu besarnya menjelang akhir.

Film Bencana yang Ternyata Menyembunyikan Mesin Sci-Fi

Kesan awalnya sangat jelas: air naik, orang panik, tangga penuh korban, dan An-na harus membawa Ja-in naik ke atap sebelum seluruh gedung berubah jadi kuburan vertikal. Setup ini langsung efektif karena apartemen dijadikan arena survival yang sempit, kacau, dan terus ditekan oleh gelombang air yang makin brutal.

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Namun begitu Hee-jo muncul dan menjelaskan bahwa banjir global terjadi akibat dampak asteroid di Kutub Selatan, film mulai memperluas ancaman dari sekadar bencana alam menjadi krisis akhir umat manusia. Pemerintah dunia ternyata sudah tahu soal ancaman itu dan diam-diam membangun proyek penyelamatan lewat stasiun luar angkasa, tubuh buatan, serta riset kesadaran digital.

Yang bikin menarik, film ini tidak berhenti di “selamat dari banjir” saja. Di tengah aksi basah kuyup dan napas tersengal, cerita pelan-pelan membelok ke pertanyaan tentang AI, emosi, ingatan, simulasi, dan apakah cinta ibu bisa direplikasi oleh sistem buatan.

Greget, Penasaran, dan Masih Ngajak Mikir

Kekuatan terbesar The Great Flood ada pada caranya menjaga ketegangan sejak awal tanpa merasa terlalu lama pemanasan. Dari menit-menit awal, An-na sudah harus membuat keputusan cepat, menyelamatkan anaknya, melewati tetangga yang panik, dan menghadapi situasi yang terus berubah setiap kali gelombang baru datang. 

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Bagian tengah film mulai terasa seperti permainan puzzle yang makin aneh setelah beberapa peristiwa seperti berulang, terutama ketika An-na menemukan ribuan gambar digital dari Ja-in yang menggambarkan variasi timeline sebelumnya. Di titik ini, film berhasil membuat kita tidak cuma tegang, tapi juga mulai mikir, “ini sebenarnya bencana nyata atau ada sesuatu yang lebih sinting sedang terjadi?”

Twist akhirnya cukup berani karena mengungkap bahwa versi pertama kejadian adalah realitas, sementara ribuan kejadian berikutnya merupakan simulasi dari jam terakhir hidup An-na untuk menyempurnakan respons emosional AI. Ide ini membuat film terasa seperti campuran disaster movie, Groundhog Day, Edge of Tomorrow, dan drama ibu-anak yang ditekuk ke arah kecerdasan buatan.

Ibu dan Anak Sebagai Pemancing Emosi yang Ampuh
The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Kim Da-mi sebagai An-na menjadi pusat emosional film, dan performanya banyak bertumpu pada fisik: berenang, berlari, jatuh, menangis, panik, lalu tetap memaksa tubuhnya bergerak demi Ja-in. Karakter ini bekerja karena ia bukan pahlawan super, melainkan ibu yang terus dipaksa memilih antara keselamatan sendiri, keselamatan anak, dan masa depan manusia yang tidak pernah ia minta. 

Ja-in bukan sekadar anak kecil yang perlu diselamatkan, karena film kemudian mengungkap bahwa ia adalah anak sintetis yang lahir dari pengembangan software AI An-na. Twist ini bisa terasa dingin secara konsep, tapi justru membuat hubungan ibu-anak mereka jadi lebih menarik karena pertanyaannya berubah: kalau cinta terasa nyata, apakah asal-usul biologis masih jadi ukuran?

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Park Hae-soo sebagai Hee-jo memberi energi pelindung yang lebih tenang dan praktis di tengah kepanikan. Ia bukan karakter paling kompleks, tapi kehadirannya membantu menjaga ritme aksi dan memberi An-na partner yang cukup kuat saat film mulai masuk ke wilayah konspirasi penyelamatan manusia. 

Semua Elemen Kepanikan yang Terasa Mahal

The Great Flood punya beberapa set-piece yang cukup mengesankan, terutama saat air menghantam apartemen, korban terseret, dan lorong-lorong gedung berubah menjadi sungai vertikal. Banyak ulasan menyorot bagian awalnya sebagai disaster filmmaking yang kuat karena gedung apartemen benar-benar terasa seperti ekosistem panik yang makin lama makin tenggelam.

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Efek banjirnya tidak selalu sempurna, tapi cukup sering berhasil menciptakan rasa skala besar dan urgensi. Adegan gelombang besar, rooftop, lift terendam, dan tubuh-tubuh yang terbawa air membuat film ini punya sensasi bencana yang padat dan tidak terasa murahan.

Yang paling menarik adalah pergeseran visual setelah twist sci-fi mulai masuk. Dari beton, air, dan tangga darurat, film pelan-pelan membawa kita ke ruang konsep yang lebih dingin, digital, dan filosofis, seolah bencana fisik berubah menjadi bencana eksistensial.

Padat dari Awal Sampai Akhir, Meski Tidak Semua Orang Akan Nyambung
The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Film ini cukup padat karena hampir tidak memberi jeda panjang untuk bosan, apalagi paruh pertamanya terus menekan lewat survival fisik. Begitu energi disaster mulai berulang, film langsung memasukkan belokan sci-fi yang membuat pengalaman menonton terasa lebih greget dan penasaran.

Namun, belokan itu juga bisa jadi sumber masalah bagi sebagian penonton. Rotten Tomatoes mencatat 47% ulasan positif dari 15 kritikus, sementara IMDb menunjukkan rating sekitar 5,4, jadi jelas film ini cukup membelah respons karena tidak semua orang suka disaster movie yang tiba-tiba berubah jadi meditasi AI.

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Metacritic menampilkan respons campuran, dengan beberapa kritik menyebut film ini ambisius tapi terlalu penuh ide untuk durasi standar. Meski begitu, performa Netflix-nya sangat kuat karena film ini masuk Top 10 Non-English Films selama tujuh minggu dan mencatat sekitar 83,7 juta views dalam 91 hari pertama. 

The Great Flood adalah film yang berani mengambil premis bencana besar lalu diam-diam mengubahnya menjadi sci-fi puzzle tentang AI, cinta ibu, dan simulasi emosi. Eksekusinya tidak selalu rapi, tapi konsepnya cukup menarik untuk membuat kita tetap engage, apalagi karena hubungan An-na dan Ja-in menjadi jangkar emosional yang membuat twist akhirnya tidak terasa kosong.

The Great Flood (2025)
The Great Flood (2025) | © Netflix

Kelebihannya ada pada pacing awal yang intens, visual banjir yang solid, performa Kim Da-mi, dan keberanian film membelok dari disaster ke sci-fi filosofis. Kekurangannya ada pada paruh kedua yang bisa terasa terlalu padat, beberapa ide yang belum sepenuhnya matang, dan twist yang mungkin membuat penonton yang cuma ingin film bencana sederhana merasa terseret arus terlalu jauh.

The Great Flood berhasil karena tidak hanya membuat kita takut pada air, tapi juga membuat kita mempertanyakan apa arti “manusia” ketika cinta, memori, dan pengorbanan bisa diprogram ulang. Ini bukan film sempurna, tapi jelas bukan tontonan membosankan; ia basah, panik, emosional, dan cukup gila untuk terus dibahas setelah credit selesai.



The Great Flood – Movie Info

Scroll to Top