Review Film – Venom (2018)

Venom; Monster Hitam Ini Bukan Horor Murni, Tapi Tetap Punya Gigitan

Venom adalah film superhero Amerika tahun 2018 yang disutradarai Ruben Fleischer, ditulis oleh Jeff Pinkner, Scott Rosenberg, dan Kelly Marcel, serta dibintangi Tom Hardy sebagai Eddie Brock dan Venom. Film ini juga menampilkan Michelle Williams, Riz Ahmed, Scott Haze, dan Reid Scott, lalu menjadi film pertama dalam Sony’s Spider-Man Universe.

Walau sering punya aroma body horror karena ada alien simbiot yang masuk ke tubuh manusia, Venom sebenarnya lebih cocok disebut action superhero sci-fi dengan komedi gelap. Ceritanya mengikuti Eddie Brock, jurnalis investigasi yang hidupnya hancur setelah mencoba membongkar eksperimen ilegal Life Foundation, lalu tanpa sengaja menjadi inang makhluk alien bernama Venom.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Film ini rilis di Amerika Serikat pada 5 Oktober 2018 setelah premiere pada 1 Oktober 2018, dengan durasi 112 menit dan budget sekitar 100–116 juta dolar. Meski dihajar kritik, film ini sukses besar secara komersial dengan pendapatan global 856,1 juta dolar dan menjadi film terlaris ketujuh tahun 2018.

Origin Story Telat Panas

Cerita Venom dimulai dari Life Foundation yang membawa beberapa simbiot alien ke Bumi setelah sebuah misi luar angkasa menemukan bentuk kehidupan asing. Carlton Drake, pemimpin perusahaan itu, melakukan eksperimen berbahaya pada manusia karena percaya simbiot bisa menjadi jalan evolusi baru untuk umat manusia. 

Eddie Brock masuk ke konflik ini ketika ia membaca dokumen rahasia milik tunangannya, Anne Weying, lalu menggunakan informasi itu untuk mengonfrontasi Drake dalam wawancara. Tindakannya membuat Eddie kehilangan pekerjaan, hubungannya hancur, dan ia masuk fase hidup paling menyedihkan sebelum akhirnya terinfeksi simbiot Venom.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Masalah terbesar film ini ada pada babak awal yang terasa terlalu panjang dan agak datar. Banyak waktu dipakai untuk setup perusahaan jahat, hubungan Eddie-Anne, dan eksperimen simbiot, padahal film baru benar-benar hidup ketika Venom mulai bicara di kepala Eddie.

Namun begitu Eddie dan Venom mulai berbagi tubuh, film mendadak berubah jadi komedi monster buddy-movie yang anehnya sangat menghibur. Dari adegan Eddie panik makan lobster hidup sampai Venom mengomentari keputusan bodoh manusia, hubungan mereka menjadi nyawa utama film ini.

Tom Hardy Seperti Main di Film yang Cuma Dia Pahami

Tom Hardy adalah alasan terbesar kenapa Venom tetap susah dibenci walaupun naskahnya sering goyah. Ia memainkan Eddie Brock dengan energi kacau, gugup, berkeringat, dan seperti orang yang sedang bertengkar dengan isi kepalanya sendiri di tengah supermarket.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Hardy juga mengisi suara Venom, dengan suara yang lebih berat, liar, dan dimodulasi agar terasa lebih sinister. Hubungan Eddie dan Venom memang digambarkan sebagai dualitas satu tubuh, dan bahkan Ruben Fleischer membandingkan dinamika mereka dengan hubungan hybrid yang lebih dari sekadar “monster menguasai manusia.” 

Michelle Williams sebagai Anne Weying sebenarnya punya potensi besar, apalagi karakternya sempat menjadi She-Venom dalam salah satu adegan. Sayangnya, porsi Anne terasa kurang maksimal, dan film lebih sering memakai dirinya sebagai titik emosional Eddie daripada karakter yang benar-benar berdiri kuat sendiri.

Riz Ahmed sebagai Carlton Drake atau Riot tampil cukup dingin, tapi villain-nya terasa tipis untuk ukuran ancaman invasi alien. Drake punya motivasi “menyelamatkan manusia” melalui evolusi simbiot, tetapi eksekusinya terlalu generik sehingga ia lebih terasa seperti CEO jahat standar daripada musuh yang benar-benar memorable. 

Visual Simbiot Keren, Tapi Aksi Finalnya Terlalu Gelap dan Berisik
Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Film ini terlihat cukup keren dengan tubuh hitam mengilap, ukuran besar, mata putih khas komik, gigi tajam, dan lidah panjang yang langsung ikonik. Tim efek DNEG membuat desain simbiot dengan inspirasi dari organisme seperti jellyfish, amoeba, slime mold, dan bentuk cair non-Newtonian agar gerakannya terasa hidup sekaligus aneh.

Adegan Eddie dikejar oleh pasukan Life Foundation dan berubah sebagian menjadi Venom termasuk bagian yang paling fun. Momen ketika tentakel muncul, motor melaju, kendaraan beterbangan, dan Eddie tidak sepenuhnya paham apa yang terjadi memberi film ini energi kacau yang cocok dengan karakternya.

Sayangnya, pertarungan final Venom melawan Riot tidak terlalu mudah dinikmati secara visual. Dua makhluk CGI gelap saling hantam di malam hari membuat aksi terasa ramai, licin, dan kadang membingungkan, seperti dua tumpahan oli sedang ribut di layar.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Untuk film yang awalnya disebut punya inspirasi dari John Carpenter dan David Cronenberg, unsur body horror-nya juga terasa tertahan karena rating PG-13. Venom memang menggigit kepala dan bicara soal organ manusia sebagai snack, tapi film jelas menahan kekerasan agar tetap aman untuk penonton lebih luas.

Fun Dengan Caranya Sendiri

Kritikus banyak menyorot bahwa Venom punya tone yang tidak konsisten, plot yang messy, dan gaya superhero yang terasa seperti film dari era sebelum MCU benar-benar merapikan genre ini. Rotten Tomatoes mencatat approval sekitar 31% dari kritikus, sementara Metacritic memberi skor 35 dari 100 yang masuk kategori generally unfavorable.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Namun penonton justru lebih hangat, dengan CinemaScore B+ dan respons pengguna yang lebih positif dibanding kritik profesional. IMDb mencatat rating sekitar 6,6 dari ratusan ribu pengguna, menunjukkan bahwa banyak orang tetap menikmati kekacauan film ini sebagai hiburan antihero yang tidak terlalu serius.

Anehnya, kekacauan itulah yang membuat Venom punya identitas. Film ini kadang terasa seperti superhero, kadang buddy comedy, kadang alien invasion, kadang romcom aneh antara pria gagal dan simbiot posesif yang suka makan penjahat.

Bahkan hubungan Eddie dan Venom sampai memunculkan fenomena “SymBrock” di fandom, karena penonton membaca dinamika mereka sebagai hubungan yang jauh lebih intim dan lucu daripada sekadar host dan parasit. Sony sendiri kemudian ikut memasarkan home media film ini seperti romantic comedy yang fokus pada hubungan Eddie dan Venom.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Venom bekerja paling baik ketika kita berhenti menuntutnya menjadi film superhero rapi. Begitu menerima bahwa ini adalah film tentang Tom Hardy berdebat dengan alien lapar di tubuhnya, pengalaman menonton langsung terasa jauh lebih menyenangkan.

Komedi Eddie-Venom menjadi senjata paling kuat, jauh lebih menarik daripada konflik Life Foundation atau invasi simbiot. Dialog internal mereka, perubahan moral Venom yang tiba-tiba suka Bumi, dan cara keduanya saling mengejek membuat film ini punya charm yang tidak bisa diproduksi hanya dengan CGI mahal. 

Mid-credits scene yang memperkenalkan Woody Harrelson sebagai Cletus Kasady juga menjadi teaser besar untuk arah sekuelnya. Kehadiran Carnage jelas memberi janji bahwa Sony tahu daya tarik utama Venom adalah ketika film ini merangkul sisi aneh, brutal, dan chaotic dari dunia simbiot.

Venom (2018)
Venom (2018) | © Sony Pictures

Venom bukan film superhero yang rapi, bukan origin story paling kuat, dan bukan adaptasi komik yang sepenuhnya memuaskan dari sisi naskah. Tapi film ini punya satu hal yang sangat penting: chemistry Eddie dan Venom yang begitu aneh, lucu, dan liar sampai mampu menutupi banyak lubang cerita.

Kelebihannya ada pada Tom Hardy yang total, desain Venom yang ikonik, komedi gelap yang tidak terduga, serta energi antihero yang beda dari film Marvel arus utama. Kekurangannya ada pada villain lemah, pacing awal lambat, tone tidak stabil, dan final battle CGI yang terlalu ramai.

Kalau kamu mencari film superhero yang cerdas, elegan, dan tertata seperti mesin, Venom mungkin bikin frustrasi. Tapi kalau kamu ingin tontonan monster alien yang absurd, kasar, lucu, dan punya aura “so messy it becomes fun,” film ini masih sangat layak ditonton ulang.

Logo Apple TV


Venom – Movie Info

Scroll to Top