Review Film – Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018)

Kafir: Bersekutu dengan Setan; Kematian Ayah yang Membuka Pintu Teror

Kafir: Bersekutu dengan Setan merupakan film horor Indonesia arahan Azhar Kinoi Lubis dengan skenario karya Rafki Hidayat dan Upi, serta diproduksi oleh Starvision bersama Indie Picture. Film berdurasi 97 menit ini dirilis pada 2 Agustus 2018 dan dibintangi Putri Ayudya, Sujiwo Tejo, Indah Permatasari, Rangga Azof, Nadya Arina, Teddy Syach, serta Nova Eliza.

Cerita dimulai ketika Herman mendadak memuntahkan pecahan beling saat makan bersama keluarganya, lalu meninggal secara mengenaskan di depan Sri, Andi, dan Dina. Sebulan setelah tragedi tersebut, Sri masih tenggelam dalam duka sebelum mulai mengalami gangguan aneh yang menunjukkan bahwa kematian suaminya bukan kejadian biasa.

Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Film ini memakai santet sebagai sumber teror utama, tetapi tidak langsung melempar semua jawaban kepada penonton. Kecurigaan berkembang lewat foto lama, sosok perempuan misterius, kondisi Sri yang semakin buruk, serta hubungan masa lalu yang sengaja ditutup rapat oleh keluarga.

Pendekatan tersebut membuat Kafir terasa seperti drama misteri keluarga yang perlahan dirasuki horor, bukan sekadar parade penampakan. Setiap informasi baru membuka lapisan lain tentang Herman, Sri, Leila, dan keputusan lama yang dampaknya baru datang menagih bertahun-tahun kemudian.

Plot Rapi, tetapi Kejutannya Mulai Tercium
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Susunan ceritanya cukup sistematis karena penonton diajak mengikuti Andi dan Dina saat mencoba memahami gangguan yang menyerang ibu mereka. Kemunculan Hanum, penyelidikan tentang identitas Leila, dan keterlibatan Jarwo membuat misterinya terus bergerak tanpa terlalu banyak subplot yang tidak diperlukan.

Sayangnya, arah rahasianya mulai bisa ditebak setelah hubungan foto lama, Ratna, dan Hanum semakin jelas. Beberapa ulasan penonton juga menyorot klimaks yang terasa terburu-buru serta twist yang belum sepenuhnya sepadan dengan atmosfer kuat yang sudah dibangun sejak awal.

Sri Menjadi Pusat Emosi sekaligus Kecurigaan

Putri Ayudya memberikan performa paling menonjol sebagai Sri, seorang istri yang tampak hancur karena kehilangan tetapi perlahan memperlihatkan sisi lain dari masa lalunya. Perubahan suara, ekspresi, penampilan, dan gesturnya membuat Sri terasa rapuh sekaligus sulit dibaca, sehingga penonton tidak pernah benar-benar yakin apakah ia korban murni atau menyembunyikan sesuatu.

Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Karakter Sri bekerja karena kesedihannya tidak hanya dijadikan dekorasi sebelum hantu datang. Duka, rasa bersalah, ketakutan terhadap santet, dan kebutuhannya melindungi keluarga saling bertabrakan sampai rumah mereka terasa seperti ruang pengadilan bagi dosa lama.

Rangga Azof sebagai Andi membawa energi kakak yang berusaha tetap logis ketika ketakutan mulai mengambil alih rumah. Nadya Arina sebagai Dina tampil lebih curiga dan aktif, terutama saat menemukan foto Sri bersama Herman serta perempuan yang wajahnya telah dipotong.

Dinamika mereka cukup meyakinkan sebagai dua saudara yang sedang berduka, walau beberapa dialog dan reaksi masih terasa kaku. Keduanya berfungsi baik sebagai mata penonton, tetapi pendalaman pribadi mereka belum sekuat karakter Sri yang mendapatkan lapisan emosi serta rahasia lebih banyak.

Hanum dan Jarwo Memberi Warna pada Misteri

Indah Permatasari sebagai Hanum hadir sebagai kekasih Andi yang terlihat suportif dan ikut membantu merawat Sri. Posisinya semakin penting menjelang akhir ketika hubungan keluarganya dengan masa lalu Sri mulai terbongkar, meski perubahan perannya tidak selalu terasa halus.

Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Sujiwo Tejo sebagai Jarwo langsung membawa aura mistis yang cocok dengan dunia film, bahkan sebelum karakter tersebut melakukan banyak hal. Jarwo menjadi gambaran bahwa ilmu hitam dalam cerita ini bukan ancaman sederhana, sebab siapa pun yang mencoba melacak pelakunya tetap bisa diserang balik secara mengerikan. 

Visual Gelap Buat Desa Makin Tak Aman

Pengambilan gambar dilakukan selama sekitar satu bulan di Banyuwangi, Jember, dan Bromo, sementara Yunus Pasolang bertugas sebagai sinematografer. Lokasi pedesaan, rumah lama, ladang, jalan sepi, dan cahaya malam yang minim memberi film rasa mistis lokal yang kuat tanpa memerlukan dunia supernatural terlalu besar. 

Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Visualnya terlihat cantik tetapi tetap suram, seolah setiap ruangan menyimpan bagian sejarah yang tidak boleh dibuka. Sejumlah adegan memang cukup gelap secara harfiah, tetapi pilihan tersebut masih mendukung atmosfer rumah yang perlahan kehilangan rasa aman.

Kafir lebih mengandalkan atmosfer, misteri, dan ancaman santet daripada suara keras yang muncul mendadak setiap beberapa menit. Rasa takut dibangun perlahan melalui tubuh yang sakit, beling, kematian tidak wajar, orang berjubah, dan keyakinan bahwa ada seseorang yang sengaja menghancurkan keluarga ini.

Strategi tersebut membuat film terasa lebih elegan dibanding horor yang cuma mengejar jumlah jumpscare. Ketegangannya tidak selalu konsisten, tetapi ketika aura mistisnya bekerja, film berhasil membuat aktivitas sederhana seperti makan bersama terasa mengancam.

Klimaks Kurang Kuat Dibanding Perjalanannya
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Babak terakhir mencoba menjawab hubungan Sri, Herman, Leila, Ratna, dan Hanum melalui konfrontasi yang lebih terbuka. Sayangnya, perubahan dari misteri pelan menuju penjelasan besar berlangsung terlalu cepat, sehingga sebagian kejutan kehilangan tenaga sebelum benar-benar menghantam.

Adegan basement dan beberapa pengungkapan akhir tetap menarik sebagai tontonan, tetapi logika serta penyutradaraannya belum sepenuhnya meyakinkan. Inilah titik ketika film yang sebelumnya sangat sabar justru terlihat buru-buru ingin merapikan seluruh rahasianya.

Horor Santet Cantik dengan Akhir Kurang Menggigit

Kafir: Bersekutu dengan Setan adalah horor Indonesia yang efektif ketika membangun suasana, mengembangkan misteri, dan membuat santet terasa seperti ancaman personal bagi satu keluarga. Film ini juga berhasil menunjukkan bahwa teror paling kuat bukan selalu hantu yang muncul di depan kamera, tetapi rahasia lama yang diam-diam tumbuh menjadi kebencian.

Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)
Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) | © Starvision

Kelebihannya ada pada performa Putri Ayudya, sinematografi gelap, atmosfer pedesaan, dan pilihan untuk tidak terlalu bergantung pada jumpscare. Kekurangannya terletak pada beberapa akting yang belum rata, twist yang cukup mudah terbaca, serta klimaks yang terasa terburu-buru dibanding build-up sebelumnya.

Film ini tetap layak ditonton sebagai salah satu horor ilmu hitam Indonesia yang punya identitas visual dan rasa misteri kuat. Ia mungkin tidak sempurna saat membuka semua kartunya, tetapi perjalanan menuju rahasia itu cukup mencekam untuk membuat setiap pecahan beling terasa seperti ancaman.



Kafir: Bersekutu Dengan Setan – Movie Info

Scroll to Top