
Munafik: Melawan Iblis; Rukiah Ke Teror yang Tidak Habis-Habis
Munafik: Melawan Iblis adalah film horror, mystery, dan thriller Indonesia yang disutradarai Guntur Soeharjanto bersama Angger Yudha Setiawan, dengan skenario karya M. Ali Ghifari berdasarkan film Malaysia tulisan Syamsul Yusof. Film berdurasi 103 menit ini dibintangi Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, Nova Eliza, dan Muhammad Faqih Alaydrus, lalu dirilis di Indonesia pada 3 September 2026.

Ceritanya mengikuti Ustaz Adam, praktisi rukiah yang kehilangan istrinya, Aini, dalam kecelakaan setelah membantu sebuah keluarga mengusir iblis dari tubuh anak mereka. Adam berhenti melakukan rukiah dan hidup dalam kesedihan sampai Ustaz Anwar memintanya menyelamatkan Fitri, perawat yang mengalami gangguan supernatural ekstrem.
Adaptasi Berdiri Sendiri
Secara garis besar, ceritanya masih mengikuti Munafik versi Malaysia tahun 2016, terutama melalui sosok Adam yang kehilangan istri dan kembali menghadapi kasus kerasukan. Versi Indonesia menyusun beberapa babak secara lebih jelas serta memasukkan konteks desa, rukiah, dan kepercayaan lokal agar penonton tidak perlu menonton atau mengingat film aslinya dahulu.

Penyesuaian tersebut membuat film terasa seperti interpretasi baru, bukan salinan adegan demi adegan dengan pemain berbeda. Misteri Fitri, posisi Mansyur sebagai figur terhormat, serta rahasia di balik teror supernatural diberi ruang agar premisnya menyatu dengan lingkungan sosial Indonesia.
Sudut Pandang Adam Membawa Penonton Menembus Duka
Perjalanan Ustaz Adam menjadi pusat emosi karena ia bukan pemburu iblis yang memasuki kasus dengan keyakinan sempurna. Kematian Aini membuat rasa percaya dirinya runtuh, sedangkan pesan terakhir sang istri terus mengingatkannya bahwa kemampuan menolong orang lain tidak boleh dikubur bersama kesedihannya.

Film mempertemukan konflik spiritual dengan trauma personal, membuat setiap sesi rukiah terasa seperti ujian bagi Fitri sekaligus Adam. Ketegangan, kesedihan, rasa bersalah, dan kemarahannya bergerak naik turun sampai akhir, memberi film lapisan drama keluarga yang lebih kuat daripada sekadar kesurupan bertubi-tubi.
Arya Saloka cukup meyakinkan ketika memperlihatkan Adam sebagai suami berduka yang kehilangan arah hidup. Tatapan kosong, sikap tertutup, dan perubahan emosinya saat kembali melakukan rukiah membuat perjalanan karakternya terasa manusiawi.
Namun wibawanya sebagai ahli rukiah belum selalu keluar maksimal, terutama ketika Adam harus mengambil alih situasi berbahaya. Beberapa dialog religius terdengar seperti penjelasan naskah, bukan ucapan alami seorang ustaz yang sudah bertahun-tahun menghadapi gangguan gaib
Acha Septriasa Jadi Pusat Teror Sebenarnya

Acha Septriasa memberikan performa paling menonjol sebagai Fitri melalui perubahan ekstrem dari sosok lembut menjadi perempuan penuh trauma, kebingungan, dan kemarahan. Gerakan tubuh, tatapan, perubahan suara, serta ledakan saat kerasukan membuat dualitas karakternya terasa benar-benar mengganggu.
Ingatan Fitri yang tidak utuh membuat penonton terus mempertanyakan apakah ia hanya korban atau menyimpan hubungan lebih dalam dengan gangguan tersebut. Saat tubuhnya diambil alih, Acha tidak sekadar berteriak dan menggeliat, tetapi membawa kesan bahwa ada kepribadian lain yang perlahan merusak dirinya dari dalam.
Para Pemeran Pendukung Menambah Lapisan Kecurigaan

Dimas Aditya sebagai Ustaz Anwar membantu membawa Adam kembali kepada tugas yang telah ditinggalkannya, meskipun karakternya lebih sering menjadi penghubung informasi. Donny Damara sebagai Mansyur dan Nova Eliza sebagai Zulfa memberi aura keluarga yang terlihat terhormat, tetapi jelas menyembunyikan persoalan lama.
Sayangnya, beberapa karakter pendukung belum digali sedalam yang seharusnya, padahal keterlibatan mereka dapat memperkuat tema kemunafikan. Film mulai terasa terlalu ramai menjelang akhir ketika rahasia, konflik keluarga, dan twist dibuka berdekatan tanpa cukup waktu untuk membiarkan setiap pengungkapan menghantam penonton.
Pacitan dan Klenik Jawa Memperkuat Identitas Lokal
Latar pedesaan di Pacitan, Jawa Timur, memberi film tekstur berbeda dari versi Malaysia melalui rumah tua, jalan sepi, pepohonan rapat, dan kehidupan masyarakat yang masih dekat dengan kepercayaan lokal. Unsur rukiah kemudian bersinggungan dengan klenik Jawa, pesugihan, serta dosa tersembunyi yang diwariskan di dalam keluarga.

Perpaduan tersebut menjadi salah satu keberhasilan terbesar adaptasinya karena ancamannya tidak terasa ditempel ke lingkungan Indonesia secara asal. Film memahami bahwa teror religius akan lebih kuat ketika bertemu budaya, ketakutan, dan praktik gaib yang sudah familier bagi masyarakat setempat.
Sinematografi Enggar Budiono memanfaatkan kamar sempit, ruang rukiah, pemakaman, hutan, dan rumah keluarga sebagai wilayah yang terus terasa tidak aman. Pencahayaan redup serta tata artistik pedesaan mempertebal atmosfer tanpa membuat semua adegan sekadar terlihat seperti rumah yang sedang mati lampu.
Beberapa adegan ikonik dari film asli dibuat ulang dengan skala dan intensitas yang cukup baik, tetapi tidak kehilangan identitas lokalnya. Riasan kesurupan, suara tidak manusiawi, gerakan tubuh agresif, serta kemunculan sosok gaib berhasil memberi rasa tidak nyaman meskipun tidak semuanya meninggalkan efek jangka panjang.

Film ini cocok bagi penonton yang menyukai horror bernuansa agama karena rukiah menjadi bagian penting dari konflik, bukan sekadar adegan wajib menjelang klimaks. Pertarungan terbesar Adam bukan hanya melawan makhluk gaib, tetapi juga menghadapi manusia yang memakai citra religius untuk menyembunyikan kebusukan.
Kerasukan Fitri kemudian dikaitkan dengan insiden masa lalu, pesugihan, dan drama keluarga yang perlahan mengubah arah penyelidikan. Sayangnya, banyaknya lapisan itu membuat bagian akhir sedikit melebar dan tema kemunafikan yang seharusnya paling menggigit justru tidak tergali maksimal.
Horor Religi yang Tidak Berhenti pada Kesurupan

Bagian akhir mengambil sejumlah keputusan berbeda dari film Malaysia sehingga penonton lama tetap memiliki alasan mengikuti ceritanya sampai selesai. Perubahan tersebut menggeser dampak beberapa karakter serta membuat versi Indonesia mempunyai jalur sendiri, meskipun eksekusinya terasa lebih padat dan penuh pengungkapan.
Pilihan ini dapat membelah respons karena sebagian orang mungkin lebih menyukai kesederhanaan akhir versi asli, sedangkan lainnya akan mengapresiasi keberanian adaptasi Indonesia mencari kesimpulan berbeda. Menonton kedua filmnya menjadi pengalaman menarik untuk melihat bagaimana premis serupa dapat menghasilkan tekanan emosional dan penutupan yang tidak sama.

Munafik: Melawan Iblis berhasil berdiri sendiri melalui sudut pandang Adam, performa kuat Acha Septriasa, serta gabungan rukiah dengan klenik Jawa. Filmnya mendapatkan rating awal 7,6 dari jumlah penilaian yang masih terbatas di IMDb, sementara ulasan kritis memuji para pemain dan atmosfernya tetapi menyorot naskah yang melebar menjelang akhir.
Kelebihannya ada pada emosi Adam, dualitas Fitri, setting Pacitan, dan teror religius yang mempertemukan kesurupan dengan dosa manusia. Kekurangannya terletak pada karakter pendukung yang kurang dalam, wibawa Adam sebagai ahli rukiah yang belum maksimal, serta finale yang membawa terlalu banyak rahasia sekaligus.




