Review Film – Street Fighter (2026)

Street Fighter Akhirnya Ingat bahwa Jualan Utamanya Adalah Bertarung

Street Fighter adalah film martial arts comedy tahun 2026 yang disutradarai Kitao Sakurai dan diadaptasi dari waralaba video game milik Capcom. Film produksi Legendary Pictures ini berdurasi 120 menit, dirilis di Amerika Serikat pada 16 Oktober 2026, serta dibintangi Andrew Koji, Noah Centineo, Callina Liang, David Dastmalchian, Jason Momoa, dan Roman Reigns.

Ceritanya mengikuti Chun-Li yang merekrut Ryu dan Ken untuk mengikuti World Warrior Tournament serta menghadapi diktator Shadaloo, M. Bison. Premisnya sederhana dan memang tidak sok rumit, sebab film memahami bahwa penonton datang untuk melihat karakter-karakter game saling menghajar, bukan mendengarkan penjelasan politik selama dua jam.

Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

Konfliknya bermula pada 1987 ketika Ryu mengalahkan Sagat menggunakan Dark Hadou, lalu menarik perhatian Akuma yang kemudian membunuh Gouken untuk memancing kekuatan gelap tersebut. Tragedi itu merusak hubungan Ryu dan saudara angkatnya, Ken, hingga keduanya berpisah sebelum dipertemukan kembali enam tahun kemudian dalam turnamen baru milik Bison.

Fokus terhadap Ryu dan Ken menjadi keputusan tepat karena persahabatan, rasa iri, persaingan, dan perbedaan jalan hidup mereka memberi sedikit bobot emosional di antara semua pukulan. Ryu berusaha mengendalikan kegelapan dalam dirinya, sedangkan Ken memakai optimisme serta ketenarannya untuk menutupi rasa kecewa karena terus hidup di bawah bayangan sang saudara.

Plot Tipis, tetapi Lore Karakternya Cukup Mengenyangkan
Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

Film memakai turnamen sebagai alasan mempertemukan berbagai petarung, lalu memberikan potongan latar belakang melalui flashback bergaya anime produksi Titmouse, Inc.. Bagian animasi tersebut menjadi salah satu elemen yang banyak mendapat pujian karena mampu menjelaskan masa lalu karakter tanpa menghentikan film terlalu lama.

Masalahnya, jumlah karakter terlalu banyak untuk durasi dua jam sehingga beberapa petarung hanya muncul, mengeluarkan jurus ikonik, lalu menghilang dari fokus. Ceritanya mulai berantakan menjelang akhir ketika konflik Bison, Akuma, Dark Ryu, penjara Shadaloo, dan perebutan turnamen berlangsung hampir bersamaan.

Casting Mahal Sebagian Besar Terasa Tepat
Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

Andrew Koji membawa Ryu sebagai petarung pendiam dengan kemarahan yang terus ditahan, sedangkan Noah Centineo memainkan Ken dengan energi lebih ringan, percaya diri, dan sedikit konyol. Chemistry mereka cukup meyakinkan untuk membuat konflik saudara angkat terasa penting, bahkan ketika dialognya sesekali terdengar seperti cutscene game fighting.

Callina Liang juga berhasil membuat Chun-Li terlihat seperti petarung sungguhan, bukan model yang sekadar memakai kostum biru dari gamenya. Ia menjalani latihan taekwondo, Muay Thai, dan wushu sekitar dua jam setiap hari, dengan fokus besar pada kekuatan kaki agar gerakan Chun-Li punya bobot fisik.

Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

David Dastmalchian bersenang-senang sebagai M. Bison, sementara Cody Rhodes, Vidyut Jammwal, Orville Peck, dan 50 Cent membawa Guile, Dhalsim, Vega, serta Balrog hidup melalui gaya bertarung berbeda. Jason Momoa sebagai Blanka dan Roman Reigns sebagai Akuma tampil sangat mencolok, walau porsi mereka belum sebesar daya tarik casting-nya.

Kostum, rambut, postur, aksen, dan gerakan khas setiap karakter ditampilkan dengan rasa cinta besar terhadap materi sumber. Beberapa desain memang sengaja terlihat berlebihan, tetapi justru cocok dengan dunia Street Fighter yang sejak awal tidak pernah mengejar realisme murni.

Dunia Video Game yang Benar-Benar Dihidupkan

Metrolao City, arena World Warrior, penjara Shadaloo, bar, sauna, dan markas Bison memberi variasi set yang membuat aksi tidak terjebak di satu tempat. Setiap lokasi terasa seperti stage dalam game, lengkap dengan warna mencolok, kerumunan heboh, musik keras, serta benda-benda sekitar yang ikut hancur ketika pertarungan berlangsung.

Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

Film ini paling menyenangkan ketika berhenti menjelaskan plot dan membiarkan dua karakter bertukar pukulan. Duel Ryu melawan E. Honda, Ken menghadapi Balrog, Chun-Li melawan Vega, serta kekacauan Ryu dan Ken mempunyai energi arcade liar yang menjadi alasan utama film tetap menghibur.

Setiap petarung memiliki kecepatan, jarak, postur, dan ritme berbeda sehingga pertarungannya tidak terasa seperti aktor melakukan koreografi identik dengan kostum berlainan. Ryu tampil kokoh dan efisien, Ken lebih ekspresif, Chun-Li mengandalkan serangan kaki, sedangkan Dhalsim serta Blanka membawa pergerakan yang sengaja dibuat tidak normal.

Film juga cukup menahan penggunaan CGI agar pertarungan tangan kosong tetap bisa dinikmati, meskipun efek visual dibutuhkan untuk Hadouken, Psycho Crusher, Dark Hadou, dan kemampuan supernatural lainnya. Efeknya menjadi pelengkap, bukan pengganti koreografi, membuat setiap jurus ikonik terasa seperti fan service yang memang pantas mendapatkan sorakan bioskop.

Komedi Menjaga Film Dinamis
Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

Andrew Schulz sebagai Dan Hibiki, Eric André, dan beberapa karakter pendukung membawa komedi yang menjaga cerita tidak terlalu serius. Sebagian lelucon bekerja karena sesuai dengan kegilaan dunianya, tetapi humor juvenil dan dialog kasar menjadi salah satu kritik terbesar terhadap film ini.

Untungnya, komedi tersebut tidak sepenuhnya mengacaukan konflik utama Ryu dan Ken. Ritmenya tetap dinamis karena satu adegan emosional biasanya segera diikuti pertarungan, kekonyolan, atau kemunculan karakter lain yang membuat kita menunggu siapa akan berkelahi berikutnya.

Penggemar Game Akan Mendapat Porsi Paling Besar

Sekitar 80 persen daya tarik film memang ditujukan kepada penggemar game melalui kostum klasik, jurus andalan, karakter deep-cut, catchphrase, cameo pemain profesional, dan berbagai referensi kecil. Para penggemar fighting game bahkan memberi respons lebih hangat daripada kritikus umum karena film menangkap energi arcade yang ramai, bodoh, tetapi sangat menyenangkan.

Street Fighter (2026)
Street Fighter (2026) | © Paramount Pictures

Penonton yang tidak memainkan gamenya masih dapat menikmati aksi close combat dan cast mahal, tetapi mungkin kesulitan peduli kepada semua karakter baru yang muncul bergantian. Filmnya menerima respons campuran dengan 40 persen ulasan positif di Rotten Tomatoes, skor Metacritic 44, dan nilai B- dari CinemaScore.

Street Fighter berhasil melakukan satu hal paling penting, yaitu membuat dunia video gamenya terasa hidup melalui karakter, desain, jurus, dan pertarungan yang penuh identitas. Film ini jelas berantakan, humornya tidak selalu lucu, dan plotnya kehilangan fokus menjelang akhir, tetapi energi serta kecintaan terhadap gamenya sulit dianggap palsu.

Kelebihannya ada pada casting, koreografi, variasi fighting style, kostum autentik, dan fan service yang tidak malu-malu. Kekurangannya terletak pada karakter terlalu banyak, cerita tidak koheren, villain belum maksimal, serta ending yang terlalu sibuk membuka jalan menuju sekuel.



Street Fighter – Movie Info

Scroll to Top