
The Conjuring: The Devil Made Me Do It; Horor Warren yang Lebih Detektif, Lebih Gelap, tapi Kurang Nendang
Dua film pertama The Conjuring terasa seperti masuk rumah berhantu yang makin lama makin mencekik, The Conjuring: The Devil Made Me Do It mencoba jalur berbeda: horor supernatural rasa investigasi kriminal.
Film tahun 2021 ini disutradarai Michael Chaves, ditulis oleh David Leslie Johnson-McGoldrick, diproduksi James Wan dan Peter Safran, serta kembali membawa Vera Farmiga dan Patrick Wilson sebagai Lorraine dan Ed Warren.
Film ini merupakan sekuel dari The Conjuring dan The Conjuring 2, sekaligus installment ketujuh dalam The Conjuring Universe. Dengan durasi 112 menit, budget sekitar US$39 juta, dan box office global sekitar US$206,4 juta, film ini tetap sukses secara komersial meski respons kritiknya lebih campur aduk dibanding dua film utama sebelumnya.

Plot film ini mengambil inspirasi dari kasus Arne Cheyenne Johnson, yang dikenal karena pembelaan “demonic possession” dalam kasus pembunuhan di Connecticut pada 1981. Cerita dimulai saat Ed dan Lorraine Warren menghadiri eksorsisme David Glatzel, bocah 8 tahun yang kerasukan, sebelum Arne Johnson mencoba menyelamatkannya dengan meminta iblis masuk ke tubuhnya.
Dari situ, film berubah menjadi misteri saat Arne kemudian membunuh landlord-nya setelah mengalami gangguan mengerikan. Ed dan Lorraine mulai menyelidiki apakah kasus ini benar-benar kerasukan, lalu menemukan keterlibatan kutukan satanic, totem penyihir, dan seorang occultist yang sengaja memanipulasi korban.

Secara ide, ini menarik karena The Conjuring 3 tidak mengulang formula “keluarga tinggal di rumah seram lalu diganggu hantu.” Film ini bergerak seperti supernatural detective story, di mana Ed dan Lorraine mengejar jejak kutukan dari satu lokasi ke lokasi lain, bukan hanya menunggu jumpscare muncul dari sudut ruangan.
Masalahnya, perubahan formula ini juga membuat rasa teror klasik The Conjuring agak berkurang. Karena plotnya lebih banyak investigasi dan kejar petunjuk, film ini tidak selalu punya tekanan atmosferik yang stabil seperti rumah Perron atau rumah Hodgson di dua film sebelumnya.
Ed dan Lorraine Tetap Jadi Nyawa Film

Kekuatan terbesar film ini tetap ada pada Patrick Wilson dan Vera Farmiga. Mereka sudah sangat nyaman sebagai Ed dan Lorraine Warren, dan chemistry mereka membuat film tetap punya hati, bahkan ketika horornya tidak selalu menggigit.
Hubungan Ed dan Lorraine diberi porsi emosional lebih besar, terutama karena Ed mengalami serangan jantung setelah eksorsisme pembuka. Film beberapa kali menegaskan bahwa cinta mereka bukan cuma bumbu drama, tapi jangkar yang membuat mereka bisa bertahan saat kutukan mulai menyerang secara personal.

Ruairi O’Connor sebagai Arne Johnson juga cukup solid sebagai korban yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya. Ia bukan karakter paling kompleks di franchise ini, tapi cukup efektif memperlihatkan ketakutan seseorang yang sadar bahwa tubuh dan pikirannya tidak sepenuhnya miliknya.
Sayangnya, beberapa karakter pendukung terasa lebih fungsional daripada memorable. Debbie Glatzel, Father Gordon, dan beberapa pihak kepolisian hadir untuk menggerakkan plot, tapi tidak semuanya mendapat ruang emosional yang cukup kuat untuk meninggalkan kesan panjang.
Occultist Menarik, Tapi Tidak Seikonik Valak atau Annabelle

Film ini memperkenalkan ancaman manusia melalui Isla, occultist yang meninggalkan totem kutukan dan mengatur korban-korbannya dari jauh. Secara konsep, ini lumayan segar karena musuhnya bukan sekadar iblis yang muncul dan menghilang, tapi manusia yang secara sadar bermain dengan kekuatan gelap.
Namun, sebagai villain, Isla tidak punya aura ikonik seperti Valak atau Annabelle. Ia punya fungsi cerita yang jelas dan cukup mengganggu, tapi desain, kehadiran, dan memorabilitasnya masih kurang kuat untuk menjadi “wajah horor” baru dari franchise ini.
John Noble sebagai Kastner justru memberi warna menarik lewat karakter mantan pastor yang punya pengetahuan luas tentang kultus. Twist bahwa Isla adalah putrinya menambah lapisan tragedi, meski pengungkapan ini terasa agak cepat dan kurang diberi waktu untuk benar-benar menghantam secara emosional.
Gelap, Lebih Crime-Horror

Secara visual, film ini tetap membawa ciri khas Conjuring Universe: ruangan gelap, lorong suram, cahaya temaram, dan komposisi kamera yang sering membuat kita menatap ruang kosong sambil curiga ada sesuatu di belakang. Michael Burgess sebagai sinematografer memberi tampilan yang cukup polished dan muram.
Adegan pembuka eksorsisme adalah salah satu bagian visual paling kuat. Tubuh David yang terdistorsi, kepanikan keluarga, dan kondisi Ed yang ikut terkena dampak membuat film langsung dibuka dengan energi horor yang intens.
Tapi setelah opening, visual horornya tidak selalu konsisten. Ada beberapa set piece keren seperti kamar mayat, penglihatan Lorraine, dan terowongan bawah rumah Kastner, namun film kadang terasa lebih seperti thriller investigasi gelap daripada horor supernatural yang benar-benar membuat kita takut pulang malam.

Sebagai tontonan horor mainstream, The Devil Made Me Do It tetap cukup menghibur. Tempo filmnya lumayan cepat, kasusnya berbeda, dan dinamika Ed-Lorraine membuat perjalanan investigasi terasa enak diikuti.
Namun, jika kamu mencari rasa takut seperti The Conjuring pertama, film ini mungkin terasa lebih ringan. Jumpscare ada, atmosfer ada, tapi rasa “dikepung teror” yang dulu jadi kekuatan utama franchise ini tidak sekuat sebelumnya.
Kelebihannya, film ini membuka kemungkinan bahwa seri utama The Conjuring bisa bergerak ke berbagai kasus berbeda, bukan hanya haunted house. Kekurangannya, perubahan itu membuat identitas horornya sedikit bergeser dan tidak semua penonton akan merasa puas.
Cinta Mengalahkan Kutukan, Terlalu Standar

Ending film membawa Ed dan Lorraine ke altar occultist di terowongan bawah tanah. Isla mengutuk Ed dan Arne sekaligus, membuat Ed hampir membunuh Lorraine sementara Arne hampir mengakhiri hidupnya sendiri.
Lorraine kemudian menyadarkan Ed dengan mengingatkan cinta mereka, dan Ed akhirnya menghancurkan altar yang menjadi pusat kutukan. Begitu altar hancur, Arne selamat, kutukan terputus, dan Isla dibunuh oleh iblis yang sebelumnya ia panggil karena gagal menyelesaikan ritualnya.
Secara emosional, ending ini manis karena kembali menegaskan kekuatan hubungan Ed dan Lorraine. Tapi secara horor, klimaksnya terasa cukup standar dan kurang megah dibanding eksorsisme atau konfrontasi final di dua film utama sebelumnya.

Film ditutup dengan Arne yang dihukum atas manslaughter dan menjalani lima tahun penjara, lalu menikahi Debbie saat masih di dalam penjara. Ed juga menyimpan cawan dari altar ke ruang artefak Warren, berdampingan dengan benda-benda ikonik seperti lukisan Valak dan boneka Annabelle.
The Conjuring: The Devil Made Me Do It adalah sekuel yang berani mengubah arah dari haunted house menjadi supernatural investigation. Ide kasus pengadilan, kutukan satanic, dan dinamika Ed-Lorraine membuat film ini tetap menarik, walau rasa seramnya tidak sekuat dua film pertama.
Cocok untuk fans Conjuring Universe yang ingin melihat Warren menangani kasus berbeda, tapi kalau kamu mencari horor paling menakutkan dari franchise ini, film ketiga ini lebih terasa seperti spin detective-horror yang solid daripada mimpi buruk yang benar-benar menghantui.




