Review Film – Mickey 17 (2025)

Mickey 17; Aneh, Absurd, Kadang Capek, Tapi Tetep Bikin Penasaran Sampai Akhir

Kalau kamu masuk ke Mickey 17 dengan ekspektasi film sci-fi biasa yang rapi, serius, dan gampang dicerna, ya… maaf ya, kamu salah alamat. Film ini memang datang dari Bong Joon Ho, disutradarai, ditulis, sekaligus diproduseri olehnya, dan diangkat dari novel Mickey7 karya Edward Ashton.

Jadi dari awal memang sudah kelihatan bahwa film ini bakal jalan di jalur aneh, satir, dan sengaja bikin penonton senyum bingung sambil bilang, “ini orang maunya apa sih… tapi kok gue tetap mau lanjut nonton?” Film ini dibintangi Robert Pattinson, Naomi Ackie, Steven Yeun, Toni Collette, dan Mark Ruffalo, tayang perdana pada 13 Februari 2025 di Leicester Square, lalu rilis luas pada Maret 2025. 

Premisnya sendiri udah cukup buat bikin alis naik: seorang pria bernama Mickey Barnes mendaftar sebagai “Expendable”, alias pekerja buangan di misi kolonisasi planet es Niflheim, yang tugasnya ya… mati berkali-kali demi eksperimen, lalu dicetak ulang lewat teknologi kloning/reprinting dengan memori yang dikembalikan.

Dari situ film bergerak semakin liar ketika Mickey 17 ternyata selamat, sementara Mickey 18 sudah terlanjur dicetak. Dan boom, semua kekacauan eksistensial, politik, monster aneh, dan komedi hitam mulai nyampur jadi satu. 

Misi Kloning yang Aneh, Capek, Tapi Tetap Bikin Kepo
Mickey 17 (2025)
Mickey 17 (2025) | © Warner Bros

Hal yang paling gampang terasa dari Mickey 17 adalah: film ini memang aneh banget. Tapi anehnya bukan tipe yang asal random demi kelihatan artsy. Film ini punya konsep cloning yang seru karena tiap kematian Mickey bukan sekadar shock value, tapi jadi bahan buat mengulik identitas, harga nyawa, dan gimana sistem kerja bisa memperlakukan manusia seperti cartridge printer.

Plotnya bergerak dari utang, pelarian, misi kolonisasi, lalu masuk ke permainan moral dan politik yang makin lama makin absurd. Ada bagian yang jujur terasa agak berputar-putar dan bikin capek, tapi justru rasa “sebentar, ini arahnya mau ke mana?” itu yang bikin film tetap ngunci perhatian.

Bong Joon Ho memang sengaja bikin film ini seperti campuran slapstick, sci-fi, satire, dan monster movie dalam satu blender besar. Banyak kritik positif datang dari caranya Bong mencampur genre dan menyisipkan kritik sosial di tengah kekacauan itu. Jadi walaupun kadang narasinya terasa panjang dan sedikit berisik, film ini tetap punya tenaga karena idenya cukup gila buat bikin kita bertahan. 

Robert Pattinson Gila Bagus, Sisanya Ya Oke Aja
Mickey 17 (2025)
Mickey 17 (2025) | © Warner Bros

Mari ngomongin hal paling penting: Robert Pattinson memang cocok banget di film ini. Dia harus memerankan karakter yang berulang, tapi tetap memberi perbedaan rasa antara Mickey 17 dan Mickey 18, dan itu berhasil banget.

Pattinson mengubah aksen masing-masing Mickey untuk membedakan keduanya, dan improvisasinya membantu memberi warna yang lebih liar, terutama untuk Mickey 18 yang jauh lebih agresif. Jujur, tanpa Pattinson, film ini mungkin bakal terasa jauh lebih berat dan kurang hidup. 

Pemain lain seperti Naomi Ackie, Toni Collette, Steven Yeun, dan Mark Ruffalo tetap oke, tapi memang rasanya mereka lebih berfungsi sebagai penggerak dunia aneh di sekitar Pattinson. Bukan jelek, cuma ya spotlight-nya jelas jatuh ke Robert.

Mark Ruffalo juga sengaja dimainkan sebagai sosok politikus megalomaniak yang dikomentari banyak kritikus sebagai karikatur pemimpin otoriter, dan itu cukup lucu sekaligus ngeselin. Tapi tetap saja, motor utamanya ya Pattinson.

Semua Elemen Produksi Niat Banget, Sampai Monster-nya Ikut Mencuri Perhatian
Mickey 17 (2025)
Mickey 17 (2025) | © Warner Bros

Kalau ada satu hal yang nggak bisa dibantah dari Mickey 17, itu adalah level produksinya niat. Dari kostum, desain set, kapal, fasilitas reprinting, sampai planet Niflheim yang dingin dan nggak ramah itu, semuanya terasa digarap serius.

Film ini punya budget sekitar US$118 juta, dan ya, uangnya kelihatan di layar. Dunia yang dibangun terasa penuh, mahal, dan cukup detail untuk bikin kita percaya bahwa orang-orang di film ini memang tinggal dalam sistem kolonisasi masa depan yang absurd. 

Yang paling seru buat dilihat tentu saja para monster lokal alias Creepers. Bong bahkan ikut mendesain makhluk-makhluk ini bersama kolaborator lamanya, dan hasilnya memang mengganggu tapi juga anehnya lucu.

Mereka bukan monster generik yang asal serem, tapi punya bentuk, gerak, dan fungsi naratif yang bikin kita terus bertanya: “sebenernya mereka ini cuma ancaman, atau justru inti moral filmnya?” Dan ketika film mulai menaruh fokus besar ke makhluk-makhluk itu, rasa penasarannya makin naik.

Awalnya Lumayan Seret, Tapi Bikin Nanya Terus: Sebenarnya Film Ini Mau Ke Mana?
Mickey 17 (2025)
Mickey 17 (2025) | © Warner Bros

Nggak usah bohong, bagian awal film ini memang bisa terasa membosankan buat sebagian penonton. Penjelasan soal utang Mickey, status Expendable, kolonisasi, sampai aturan dunia baru itu butuh waktu. Tapi di sisi lain, fase awal yang lambat ini justru punya fungsi: film sengaja menanam banyak pertanyaan kecil.

Kenapa Mickey terus dicetak ulang? Apa tujuan sesungguhnya misi di Niflheim? Dan kenapa monster-monster aneh itu terasa lebih “hidup” daripada sebagian manusia di sekitarnya?

Begitu pertanyaan-pertanyaan itu mulai kebuka, filmnya jadi jauh lebih enak diikuti. Bukan karena semuanya tiba-tiba jelas banget, tapi karena rasa bingung kita berubah jadi rasa penasaran.

Ini tipe film yang memang nggak mau cepat-cepat memuaskan penonton. Dia ngajak kita mondar-mandir dulu di lorong absurdnya, baru pelan-pelan melempar ide besar soal eksploitasi, kolonialisme, kekuasaan, dan kemanusiaan. 

Ending-nya Memang Agak Aneh, Tapi Ya… Sepanjang Film Juga Udah Aneh
Mickey 17 (2025)
Mickey 17 (2025) | © Warner Bros

Kalau kamu berharap ending yang super rapi dan manis, film ini jelas bukan tempatnya. Ending Mickey 17 tetap terasa aneh, agak miring, dan nggak benar-benar berusaha menenangkan semua pertanyaan.

Tapi justru karena keseluruhan film dari awal memang sudah berjalan dengan logika yang aneh, kita nggak terlalu kaget kalau penutupnya juga punya rasa yang sama.  Di akhir, konflik cloning disudahi lewat penghancuran mesin reprinting, Nasha memimpin koloni, dan perdamaian dengan Creepers mulai dibangun. Tapi film tetap menyisakan nuansa mimpi buruk dan rasa nggak stabil yang khas Bong Joon Ho.

Jadi ya, ending-nya mungkin nggak akan bikin semua orang teriak “wah gila masterpiece!”, tapi cukup selaras dengan filmnya secara keseluruhan. Bukan ending yang sepenuhnya puas, bukan juga yang bikin kesel total. Lebih ke: “yaudah, aneh, tapi gue paham kenapa ditutup seperti ini.” Dan jujur, itu cukup cocok untuk film yang dari awal sudah menjual dirinya sebagai pengalaman sci-fi absurd yang sengaja nggak mau jinak. 

Mickey 17 (2025)
Mickey 17 (2025) | © Warner Bros

Mickey 17 adalah film sci-fi yang aneh, kadang terlalu rame, kadang agak seret, tapi tetap punya daya tarik besar karena konsepnya berani, visualnya niat, dan Robert Pattinson benar-benar ngangkat film ini di pundaknya. Ini bukan karya Bong Joon Ho yang paling rapi, tapi tetap terasa punya identitas kuat dan cukup banyak hal menarik buat direnungkan setelah selesai nonton.

Kalau kamu suka film yang absurd, satir, penuh makhluk aneh, dan bikin kamu mikir “ini gue suka atau bingung ya?” maka Mickey 17 wajib dicoba. Karena kadang, film yang paling aneh justru yang paling susah dilupakan.

Logo HBO Max


Mickey 17 – Info Movie

Scroll to Top