
Hawkeye; Series Marvel Paling “Holiday Chaos”, Ringan, Tapi Diam-Diam Punya Hati
Suka horor “jelas-jelas aja dong hantunya siapa”, Backrooms mungkin bakal bikin kamu kesel. Tapi kalau kamu suka film misteri yang setelah selesai malah bikin buka teori Reddit, cari breakdown YouTube, dan mikir, “sebenarnya tempat itu hidup nggak sih?”, film horror sci-fi psikologis tahun 2026 ini bisa jadi salah satu tontonan paling menarik dari A24.
Film ini disutradarai dan ikut diberi musik oleh Kane Parsons, kreator web series Backrooms, dalam debut penyutradaraan film panjangnya. Ceritanya ditulis oleh Will Soodik, dibintangi Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, Renate Reinsve sebagai Mary, serta Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita Maxwell, dan Avan Jogia.

Secara premis, Backrooms mengikuti Clark, pemilik toko furnitur yang hidupnya sedang berantakan setelah perceraian dan masalah alkohol, serta terapisnya, Mary Kline, yang juga punya trauma sendiri. Mereka kemudian menemukan dimensi lain berisi ruang-ruang liminal tanpa ujung yang bisa diakses melalui basement toko Clark.
Cerita film ini menarik kalau benar-benar diikuti sambil menelaah teori-teori dalam kepala. Kalau kamu hanya menikmati permukaan misterinya, kemungkinan besar kamu akan merasa plotnya membingungkan, karena film sengaja tidak menjelaskan Backrooms sebagai “tempat berhantu biasa” dengan aturan yang rapi.

Yang bikin Backrooms ditakuti bukan cuma karena ada monster atau ruang kuning kosong. Yang lebih menyeramkan adalah kesan bahwa tempat itu seperti menyembunyikan sesuatu, mempelajari manusia, lalu memantulkan trauma mereka dalam bentuk ruangan, suara, sosok, dan tiruan yang tidak sempurna.
Cerita Kosong yang Justru Penuh Makna
Backrooms bukan film yang plotnya bergerak seperti horror mainstream. Tidak ada formula sederhana seperti “masuk tempat angker, cari asal-usul hantu, hancurkan kutukan, selesai”; film ini lebih seperti labirin psikologis yang makin dalam semakin kita mencoba memahaminya.

Clark masuk ke Backrooms, keluar, lalu mencoba membuktikan bahwa tempat itu nyata. Ia membawa Kat dan Bobby untuk merekam, tetapi perjalanan mereka berubah jadi mimpi buruk ketika makhluk dan ruang-ruang absurd mulai menunjukkan bahwa Backrooms bukan cuma lokasi, melainkan sistem yang bisa meniru dan memakan ingatan.
Di sinilah film terasa segmented. Buat penonton yang suka menggali makna, simbol, dan teori, Backrooms sangat menggoda; tapi buat yang butuh hiburan cepat, jumpscare rutin, dan jawaban tegas, film ini bisa terasa seperti diajak keliling gedung kosong selama dua jam sambil ditinggal sendirian.
Pemeran Apik yang Menyelamatkan Kebingungan

Film ini terselamatkan oleh para pemeran yang bermain dengan sangat apik. Chiwetel Ejiofor membuat Clark terasa tragis, menyebalkan, rapuh, dan berbahaya sekaligus; ia bukan korban horor biasa, tapi orang yang perlahan memilih tenggelam dalam ruang yang memvalidasi kehancurannya.
Renate Reinsve sebagai Mary juga menjadi jangkar emosional yang kuat. Mary bukan hanya terapis yang masuk untuk menyelamatkan pasiennya, tapi juga karakter yang punya trauma sendiri, sehingga Backrooms terasa seperti ancaman yang bisa membaca isi kepalanya, bukan sekadar tempat yang ia kunjungi.
Mark Duplass sebagai Phil memberi sisi institusional lewat Async Research Institute, organisasi yang meneliti Backrooms. Kehadirannya memperluas misteri bahwa tempat ini bukan insiden kecil Clark, tapi fenomena yang sudah diamati, dipetakan, dan mungkin disalahpahami oleh manusia.
Kosong, Emosin Penuh Rasa Terjebak

Setting adalah senjata utama film ini. Backrooms berisi ruang-ruang kosong, lorong panjang, lampu fluorescent, dinding kuning, kolam tanpa ujung, showroom palsu, dan area yang terasa familiar tapi salah total.
Kosongnya ruang justru mewakili perasaan karakter: kesepian, rasa gagal, trauma, dan kebutuhan untuk menemukan pintu keluar dari hidup sendiri. Film sukses menggali emosi penonton karena kita tidak cuma takut ada sesuatu di ujung lorong, tapi juga takut kalau ujung lorong itu tidak pernah ada.
Inilah kekuatan horor liminal. Tempatnya tidak perlu selalu berdarah atau penuh mayat; cukup dengan ruangan yang terlalu sunyi, cahaya yang terlalu datar, dan suara dengung yang terus berjalan, film sudah bisa membuat penonton merasa tidak aman.

Sebagai horror, Backrooms lebih mengandalkan atmosfer daripada kejutan cepat. Ketakutannya datang dari rasa tersesat, realitas yang glitch, dan kehadiran makhluk seperti Still Life, tiruan manusia yang tidak sempurna dan terasa seperti hasil copy-paste memori yang rusak.
Ada momen-momen tegang ketika Bobby, Kat, dan Clark mulai dikejar atau terpisah, tapi film tidak buru-buru menjadikan monster sebagai pusat utama. Justru ketika kamera menatap ruang kosong terlalu lama, kita mulai bertanya apakah yang menakutkan adalah makhluknya, tempatnya, atau pikiran karakter yang sedang dipecah pelan-pelan.
Klimaksnya cukup menegangkan karena Mary harus menghadapi Clark yang sudah berubah secara mental, Still Life yang makin kacau, dan entitas seperti Pirate Clark. Tapi sekali lagi, film ini tidak memberi horor yang nyaman untuk dikategorikan.

Sebagai tontonan, Backrooms jelas bukan film horror popcorn biasa. Ini film yang meminta penonton aktif, sabar, dan rela merasa bingung tanpa langsung marah pada filmnya.
Kalau kamu suka misteri, teori, dan film yang membiarkan makna terbuka, Backrooms akan terasa kaya. Tapi kalau kamu butuh hiburan belaka, dialog jelas, monster jelas, ending jelas, film ini bisa terasa frustratif karena ia memang lebih tertarik membuat kamu bertanya daripada memberi jawaban.
Ending Multi-Makna, Tidak Lega, Malah Makin Bingung

Ending film memperlihatkan Mary berhasil keluar dan dibawa oleh ilmuwan Async, tetapi ini bukan kemenangan bersih. Phil menjelaskan bahwa pintu-pintu lain menuju Backrooms mulai muncul, sementara ruang-ruang yang terbentuk dari ingatan Mary dan Still Life Mary menandakan tempat itu sudah “membaca” dirinya.
Jadi, ending-nya bukan lega, melainkan makin bikin bingung. Apakah Mary selamat? Secara fisik, iya. Tapi secara psikologis dan metafisik, mungkin ia sudah menjadi bagian dari Backrooms, atau setidaknya sudah meninggalkan jejak yang bisa ditiru tempat itu.
Ending multi-makna ini cocok dengan keseluruhan film. Backrooms bukan tempat yang selesai setelah seseorang keluar; ia seperti lubang di realitas yang semakin kamu pahami, semakin terasa bahwa kamu sebenarnya belum memahami apa-apa.

Backrooms adalah film horror A24 yang segmented, aneh, misterius, dan sangat kuat secara atmosfer. Ceritanya bisa membingungkan kalau ditonton pasif, tapi kalau kamu suka menelaah teori, trauma, simbol ruang kosong, dan makna liminal horror, film ini punya banyak bahan untuk dibongkar.
Ini bukan horror untuk semua orang, tapi bagi pencinta misteri yang suka pulang dari bioskop dengan kepala penuh pertanyaan, Backrooms adalah pengalaman kosong yang justru terasa penuh; penuh rasa takut, penasaran, dan kebingungan yang sengaja tidak diselesaikan.




