
The Mortuary Assistant; Adaptasi Game Horor Mayat Diotopsi, Malah Ceritanya Yang Terkubur
Pernah main atau minimal tahu game The Mortuary Assistant, pasti kebayang betapa menyeramkannya bekerja sendirian di kamar mayat tengah malam sambil curiga salah satu jenazah tidak benar-benar “kosong”.
Film horor supernatural tahun 2026 ini disutradarai Jeremiah Kipp, ditulis Tracee Beebe dan Brian Clarke, diadaptasi dari video game 2022 karya Brian Clarke, serta dibintangi Willa Holland dan Paul Sparks.
Film ini rilis terbatas di bioskop pada 13 Februari 2026, lalu tayang di Shudder pada 26 Maret 2026, dengan durasi 91 menit. Secara premis, ini bahan horor yang enak banget: kamar mayat, shift malam, mayat yang mencurigakan, ritual demon, trauma masa lalu, dan mentor misterius yang tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.
Awalnya Menarik, Lama-lama Terlalu Memaksakan Rasa Game

Cerita mengikuti Rebecca Owens, perempuan dengan masa lalu bermasalah yang baru saja mendapat chip satu tahun sobriety dari Narcotics Anonymous. Ia kemudian dipanggil oleh bosnya, Raymond Delver, untuk bekerja shift malam di rumah duka, melakukan proses embalming, dan perlahan menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap bersembunyi di balik tubuh-tubuh mati itu.
Awalnya, film ini menarik karena misteri kamar mayat ternyata berkaitan langsung dengan Rebecca sendiri. Gangguan supernatural, halusinasi, sosok bayangan, dan trauma masa lalu membuat kita bertanya apakah Rebecca sedang diserang demon, kehilangan kendali, atau dipaksa menghadapi sisi dirinya yang selama ini dikubur.
Masalahnya, dari tengah sampai akhir, film mulai terasa semakin aneh karena elemen game dimasukkan terlalu utuh. Proses mencari nama demon, membaca simbol di dinding, menemukan tape, turun ke basement, lalu mengikuti instruksi ritual terasa seperti gameplay yang dipindahkan ke film tanpa cukup diolah menjadi narasi sinematik yang mulus.
Misteri yang Harusnya Mencekam, Tapi Payoff-nya Biasa Saja

Secara konsep, misteri demon yang harus diidentifikasi lalu dibakar punya potensi kuat. Dalam game, mekanik seperti ini bekerja karena pemain aktif mencari petunjuk, mengambil keputusan, dan merasa bertanggung jawab atas kesalahan sendiri.
Di film, mekanik itu justru terasa repetitif. Rebecca melihat sesuatu, mendapat petunjuk, bingung, lalu mengikuti instruksi berikutnya; alih-alih membangun suspense, film kadang terasa seperti checklist objektif yang harus diselesaikan sebelum malam berakhir.
Penyelesaian misterinya juga tidak terlalu menggigit. Ada demon bernama The Mimic, reagent dari darah perempuan yang dikurung, dan aturan ritual yang cukup gelap, tapi semuanya datang dalam eksposisi yang membuat rasa penasaran awal turun menjadi “oh, jadi begitu saja?”.
Willa Holland: Penyelamat Utama Film

Willa Holland sebagai Rebecca adalah salah satu elemen terbaik film ini. Ia cukup meyakinkan sebagai karakter yang tidak mudah panik, punya trauma, sedang berusaha hidup bersih, tapi tetap seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat sisi gelap hidup sehingga hal supernatural pun tidak langsung membuatnya hancur.
Justru karena Rebecca tidak digambarkan terlalu takut, penonton bisa ikut bertahan dalam vibe thriller sampai akhir. Kita dibuat penasaran sekaligus ikut waswas, bukan karena Rebecca terus berteriak, tapi karena ia mencoba memahami situasi abnormal ini seperti pekerjaan yang harus diselesaikan meski tubuh dan pikirannya mulai diserang.
Namun, karakter Rebecca sebenarnya bisa jauh lebih kuat jika film lebih fokus pada konflik batinnya. Trauma ayah, addiction, rasa bersalah, dan demon yang memanipulasi luka personalnya punya bahan drama psikologis bagus, tapi beberapa momen emosional sering terpotong oleh formula “kejutan supernatural berikutnya”.

Paul Sparks sebagai Raymond punya aura yang tepat sebagai dokter/mortician yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Ia terlihat seperti orang yang sudah lama hidup berdampingan dengan rahasia busuk di River Fields Mortuary.
Sayangnya, peran Raymond tidak semaksimal potensinya. Ia seharusnya menjadi sosok mentor ambigu;antara penyelamat, manipulator, atau korban sistem ritualnya sendiri; tapi film sering membuatnya hanya sebagai pemberi instruksi misterius yang masuk-keluar lewat telepon dan tape.
Padahal hubungan Rebecca-Raymond bisa menjadi pusat ketegangan utama. Jika dinamika mereka digali lebih dalam, film bisa punya lapisan moral yang lebih kuat: apakah Raymond benar-benar menolong Rebecca, atau hanya memakai dia sebagai alat melanjutkan ritual?
Visual Terlalu Gelap sampai Terasa Murahan

Visual horor film ini mencoba meniru kegelapan dan rasa sesak dari game. Kamar mayat gelap, lorong sempit, tubuh terbujur, basement mencurigakan, dan bayangan di sudut ruangan memang memberi atmosfer awal yang cukup mengerikan.
Namun, kegelapan itu terlalu sering dipakai sampai kehilangan fungsi. Alih-alih menambah ketegangan, banyak adegan malah terasa seperti film kelas B yang terlalu ingin tampak gelap, tetapi kurang memberi kontras visual agar momen horornya benar-benar meledak.
Yang paling disayangkan, elemen mayat dan otopsi sebenarnya sudah sangat kuat. Proses embalming, detail tubuh, suara cairan, alat kerja mortuary, dan practical effects bisa menjadi senjata utama kengerian, tapi film tidak konsisten menjadikannya pusat horor.
Atmosfer Horor Ada, Kepuasan Kurang

Nuansa horornya tetap berhasil sedikit banyak. Ada rasa isolasi, rasa “sendirian dengan mayat”, serta beberapa desain makhluk dan gangguan possession yang cukup menyeramkan untuk fans demon horror.
Tapi scare factor-nya tidak terlalu kuat. Banyak momen yang harusnya menegangkan justru kalah oleh pacing lambat, score yang terlalu memaksa, atau transisi aneh antara realitas dan halusinasi yang tidak selalu memberi efek maksimal.
Sebagai adaptasi game, film ini terasa terlalu ingin menyenangkan penggemar sumbernya, tapi lupa bahwa film butuh ritme berbeda. Apa yang seru saat dimainkan belum tentu seru saat hanya ditonton.

The Mortuary Assistant punya premis kuat, Willa Holland yang solid, atmosfer kamar mayat yang awalnya menjanjikan, dan beberapa practical horror yang cukup bekerja. Tapi sebagai film, adaptasi ini terlalu terjebak membawa elemen game secara literal, sehingga misteri dan emosinya tidak berkembang sekuat yang seharusnya.
Cocok untuk fans game atau penonton yang suka horor mortuary dan possession, tapi kalau kamu mencari adaptasi game yang benar-benar matang secara cerita, The Mortuary Assistant terasa tanggung; menyeramkan di permukaan, tapi kurang memuaskan saat mayat misterinya akhirnya dibedah.





