Review Film – The Monkey (2025)

The Monkey; Mainan Anak yang Seharusnya Lucu, Tapi Malah Jadi Mesin Kematian

The Monkey adalah film supernatural comedy horror tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai Osgood Perkins, diadaptasi dari cerita pendek Stephen King tahun 1980 berjudul sama. Film ini dibintangi Theo James dalam peran ganda sebagai saudara kembar Hal dan Bill, dengan Tatiana Maslany, Christian Convery, Colin O’Brien, Rohan Campbell, Sarah Levy, Adam Scott, dan Elijah Wood sebagai jajaran pendukung.

The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Film ini rilis di Amerika Serikat pada 21 Februari 2025 lewat Neon, berdurasi 98 menit, dan dibuat dengan budget sekitar 10–11 juta dolar. Secara box office, The Monkey cukup sukses karena meraup sekitar 68,9 juta dolar di seluruh dunia, angka yang solid banget untuk horor independen yang isinya orang mati dengan cara super absurd. 

Ceritanya mengikuti Hal dan Bill, dua saudara kembar yang hidupnya hancur setelah menemukan boneka monyet tua milik ayah mereka. Setiap kali kunci boneka itu diputar dan drumnya berbunyi, seseorang akan mati dengan cara yang random, sadis, dan kadang kelewat konyol sampai kita bingung harus takut atau ketawa.

Kutukan Monyet; Bukan Siapa yang Mati, Tapi Gimana Matinya
The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Cerita The Monkey tidak terlalu peduli pada mitologi panjang soal asal-usul bonekanya, dan itu justru jadi keputusan yang cukup tepat. Film ini lebih tertarik pada konsep kematian sebagai kejadian kacau yang tidak bisa dinegosiasikan, seperti semesta sedang iseng menekan tombol “acak bencana” setiap kali monyet itu menabuh drum. 

Pembukaannya langsung memberi sinyal bahwa film ini tidak main aman, ketika Captain Petey Shelburn mencoba mengembalikan boneka tersebut ke toko antik dan kejadian brutal langsung pecah. Setelah itu, film melompat ke masa kecil Hal dan Bill, lalu memperlihatkan bagaimana satu mainan jelek bisa menghancurkan keluarga, persaudaraan, dan hidup orang-orang yang bahkan tidak tahu mereka sedang masuk daftar korban.

The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Konflik terbaik film ini bukan cuma “boneka membunuh orang,” tapi hubungan Hal dan Bill yang rusak karena rasa bersalah, iri, trauma, dan dendam masa kecil. Ketika mereka dewasa dan kutukan itu muncul lagi, film berubah menjadi reuni keluarga paling busuk: bukan pelukan hangat, tapi adu luka lama sambil orang-orang sekitar mereka meledak, terbakar, atau kehilangan kepala. 

Kelemahannya, alur film kadang terasa seperti rangkaian set-piece kematian yang disambung oleh drama keluarga yang tidak selalu mulus. Ada beberapa bagian yang lucu dan sadis banget, tapi ada juga momen ketika film seperti kehilangan tenaga di tengah, sebelum kembali naik dengan kegilaan visual berikutnya.

Theo James vs Theo James: Kembar, Trauma, dan Ego yang Sama-Sama Rusak
The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Theo James bermain sebagai Hal dan Bill dewasa, dan peran ganda ini menjadi fondasi utama film. Ia membedakan keduanya bukan hanya lewat gaya bicara, tapi juga aura: Hal lebih lelah, paranoid, dan penuh rasa bersalah, sementara Bill terasa lebih meledak, pahit, dan menyimpan dendam seperti orang yang tidak pernah selesai berantem dengan masa kecilnya.

Christian Convery juga memerankan versi muda Hal dan Bill, memberi dasar emosional untuk hubungan mereka sebelum rusak total. Masa kecil mereka terasa seperti tragedi domestik yang dibungkus komedi gelap, karena setiap kematian di sekitar mereka selalu meninggalkan aroma trauma yang tidak bisa hilang begitu saja. 

The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Tatiana Maslany sebagai Lois, ibu Hal dan Bill, memberi sentuhan emosional yang cukup penting meski porsinya tidak sebesar dua karakter utama. Adam Scott sebagai sang ayah, Elijah Wood sebagai Ted, Sarah Levy sebagai Ida, dan Rohan Campbell sebagai Ricky menambah warna aneh dalam dunia yang memang sengaja dibuat seperti karikatur horor keluarga disfungsional.

Masalahnya, beberapa karakter pendukung lebih terasa sebagai bahan bakar untuk kematian kreatif daripada manusia yang benar-benar kompleks. Tapi dalam film seperti ini, mungkin itu bagian dari jualannya: kamu datang bukan untuk drama ensemble halus, tapi untuk melihat siapa korban berikutnya dan seberapa absurd cara film menghabisinya.

Gore Sadis, Kartunis, dan Sengaja Tidak Waras
The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Osgood Perkins sebelumnya dikenal lewat horor yang lebih muram seperti Longlegs, tapi di sini ia memilih jalur yang jauh lebih nakal dan gelap secara komedi. Ia memang sengaja membuat The Monkey lebih playful karena merasa cerita tentang mainan pembunuh lebih cocok dibawa ke arah horor komedi ekstrem daripada horor serius penuh mitologi

Adegan kematiannya menjadi highlight utama, dengan gore yang brutal tapi sering dimainkan seperti punchline. Ada rasa Final Destination versi lebih sinis, di mana kematian tidak hadir sebagai hukuman moral yang rapi, melainkan sebagai kecelakaan absurd yang terasa kejam karena tidak punya alasan jelas.

The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Nico Aguilar sebagai sinematografer membantu membuat film ini punya gambar yang cukup stylish meski ceritanya sengaja kacau. Beberapa ulasan juga memuji citra visual film yang penuh malice, editing yang tajam, dan keberanian Perkins membuat death scene terasa seperti komedi slapstick dari neraka.

Namun, kalau kamu mencari horor lambat yang membangun dread sampai menusuk tulang, ini mungkin bukan menu paling tepat. The Monkey lebih memilih darah, ledakan, absurditas, dan humor sakit daripada ketegangan sunyi yang membuatmu takut mematikan lampu.

Kocak, Menjijikkan, dan Tidak untuk Semua Mood
The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

Sebagai hiburan horor, The Monkey punya energi yang sangat spesifik: kamu harus siap menerima bahwa film ini sering sengaja bodoh, brutal, dan tidak sopan terhadap kematian. Kalau mood kamu cocok, film ini bisa terasa seperti roller coaster gila yang tertawa sambil menabrak tembok.

Respons kritiknya cukup positif, dengan Rotten Tomatoes mencatat 77% review positif dan Metacritic memberi skor 62 dari 100. IMDb menampilkan rating sekitar 5,9 dari puluhan ribu penilaian, yang menunjukkan penonton lebih terbagi dibanding kritikus karena tone horor-komedi seperti ini memang gampang bikin orang antara suka banget atau ilfeel total.

Stephen King sendiri memuji film ini sebagai karya yang “batshit insane,” dan jujur saja deskripsi itu terasa sangat pas. Film ini bukan adaptasi King yang paling emosional atau paling menakutkan, tapi mungkin salah satu yang paling sadar bahwa kegilaan bisa jadi cara paling jujur untuk membahas kematian.

Boneka Monyet Ini Tidak Selalu Seram, Tapi Sulit Diabaikan
The Monkey (2025)
The Monkey (2025) | © Neon

The Monkey adalah horor komedi yang lebih suka menghantam penonton dengan kematian absurd daripada merayap pelan-pelan ke bawah kulit. Ia punya gore kreatif, ide sederhana yang kuat, performa Theo James yang cukup menarik, dan humor gelap yang membuat kita ketawa dengan rasa bersalah.

Kelemahannya ada pada pacing yang tidak selalu stabil, drama keluarga yang kadang kalah oleh gimmick kematian, dan tone yang bisa terasa terlalu snarky bagi sebagian penonton. Tapi kelebihannya jelas: film ini berbeda, berani, kotor, lucu, dan punya keberanian untuk bilang bahwa kematian memang tidak selalu puitis, kadang cuma stupid banget.

Kalau kamu suka horor yang absurd, berdarah, dan punya selera humor seperti orang yang tertawa di pemakaman karena sudah terlalu capek menangis, The Monkey layak dicoba. Tapi kalau kamu ingin horor serius, penuh atmosfer, dan minim lelucon, boneka ini mungkin akan membuatmu lebih kesal daripada takut.

Logo Disney Plus


The Monkey – Movie Info

Scroll to Top