
Passenger; Jalan Sepi, Kecelakaan Aneh, dan Entitas yang Ikut Numpang
Passenger adalah film supernatural horror Amerika tahun 2026 yang disutradarai André Øvredal, sineas di balik Troll Hunter, The Autopsy of Jane Doe, dan The Last Voyage of the Demeter. Film ini dibintangi Jacob Scipio sebagai Tyler Genocchio, Lou Llobell sebagai Maddie Brecker, Melissa Leo sebagai Diane Larson, dan Joseph Lopez sebagai sosok iblis bernama The Passenger.
Film ini dirilis Paramount Pictures di Amerika Serikat pada 22 Mei 2026, dengan durasi sekitar 94 menit dan budget sekitar 15 juta dolar. Secara box office, Passenger mengumpulkan sekitar 31 juta dolar dan mendapat respons campuran dari kritikus maupun penonton.

Ceritanya mengikuti Maddie dan Tyler, pasangan muda yang memilih hidup van-life setelah meninggalkan pekerjaan dan rutinitas lama mereka. Road trip mereka berubah jadi mimpi buruk setelah berhenti di lokasi kecelakaan mengerikan, lalu sadar bahwa mereka tidak benar-benar meninggalkan tempat itu sendirian.
Premis Bagus, Eksekusi Masih Jalan di Tempat
Konsep Passenger sebenarnya sangat menggoda: pasangan van-life, jalan sepi, kecelakaan misterius, tanda cakaran di kendaraan, dan entitas yang seperti “menumpang” pada orang yang berhenti di malam hari. Premis ini punya potensi jadi campuran It Follows, Jeepers Creepers, dan horor road-trip klasik yang membuat kita takut menepi di jalan kosong.

Sayangnya, film sering terasa seperti trailer-nya sudah menjual versi terbaik dari ide tersebut. Bahkan salah satu respons penonton menilai trailer film ini jauh lebih kuat daripada film utuhnya, dan jujur itu cukup menggambarkan pengalaman menontonnya.
Masalah terbesarnya ada pada build-up yang tidak selalu menghasilkan payoff memuaskan. Awal film cukup menjanjikan lewat adegan dua pria di jalan gelap yang langsung menunjukkan ancaman The Passenger, tapi setelah masuk ke kisah Tyler dan Maddie, ketegangannya sering turun terlalu lama.
Film mencoba memberi lapisan drama hubungan, karena Maddie mulai mempertanyakan apakah hidup nomaden bersama Tyler benar-benar pilihan yang tepat. Ide ini sebetulnya bisa memperkuat horor, tapi karakterisasi yang tipis membuat konflik mereka terasa lebih seperti pengisi waktu daripada luka emosional yang benar-benar menekan.
Ketakutan Kurang Sampai ke Penonton

Jacob Scipio dan Lou Llobell punya chemistry yang cukup masuk akal sebagai pasangan yang sudah lelah hidup di jalan. Namun saat film menuntut mereka untuk membawa rasa takut, panik, dan keputusasaan, hasilnya tidak selalu sampai dengan kuat.
Tyler dan Maddie seharusnya menjadi pusat emosi, karena seluruh film bergantung pada apakah kita peduli mereka selamat atau tidak. Masalahnya, banyak penonton mudah bosan karena keduanya belum diberi kedalaman yang cukup untuk membuat teror terasa personal.
Melissa Leo sebagai Diane sebenarnya memberi warna yang lebih menarik, karena karakternya seperti penjaga pengetahuan tentang aturan jalan dan ancaman The Passenger. Tapi sayangnya, kehadirannya terasa terlalu singkat untuk benar-benar mengangkat film ke level misteri yang lebih menggigit.

Joseph Lopez sebagai The Passenger punya tampilan creepy, terutama ketika bentuknya muncul samar di malam hari atau di dalam kendaraan. Namun monster ini jarang benar-benar terasa ikonik karena film terlalu sering memakai jumpscare langsung daripada membangun rasa dread yang pelan dan menempel.
Horor Road Trip, Terlalu Sedikit Teror yang Nempel
Passenger paling menarik ketika membiarkan jalan raya, lampu mobil, dan ruang sempit van menjadi sumber ancaman. Ada beberapa set-piece malam yang cukup stylish, dan secara visual film ini sebenarnya punya bahasa gambar yang rapi.

André Øvredal tahu cara membuat lokasi terasa menekan, terutama saat karakter berada di jalan kosong tanpa banyak pilihan aman. Tetapi film ini tidak selalu memaksimalkan isolasi road-trip tersebut, karena beberapa ancaman terasa datang sekadar untuk mengagetkan, bukan untuk membangun ketakutan yang bertahan lama.
Penggunaan simbol hobo code, gereja St. Christopher, dan medali pelindung memberi sedikit sentuhan folklore jalanan yang menarik. Namun lore ini terasa seperti side quest yang datang agak terlambat dan tidak cukup matang untuk membuat mitologi The Passenger terasa benar-benar kuat.
Bagian akhirnya juga cenderung main aman karena misteri besar sudah terbuka sejak pertengahan film. Saat kita sudah tahu pola ancamannya, film tidak punya cukup kejutan baru untuk menjaga rasa penasaran tetap menyala.
Jumpscare Murahan yang Terlalu Sering Mengambil Alih

Film ini cukup sering mengandalkan suara keras, kemunculan mendadak, dan visual cepat untuk membuat penonton kaget. Masalahnya, kaget tidak selalu sama dengan takut, dan Passenger terlalu sering lupa membedakan dua hal itu.
Beberapa review menilai jumpscare film ini predictable dan paint-by-numbers, walau pencahayaan serta shot choice-nya sebenarnya punya fondasi bagus untuk menciptakan teror yang lebih elegan. Ini seperti punya mobil bagus tapi terlalu sering menginjak klakson ketika seharusnya membiarkan mesin menderu pelan.
Momen terbaik horornya justru muncul saat film lebih tenang. Ketika The Passenger hanya terasa hadir di pinggir frame, di kursi penumpang, atau lewat tanda cakaran di kendaraan, film terasa jauh lebih mengganggu daripada saat ia muncul terang-terangan.
Cukup untuk Sekali Tonton, Tidak Cukup untuk Diingat Lama

Sebagai tontonan horor singkat, Passenger masih bisa dinikmati kalau ekspektasi kamu diturunkan. Durasi 94 menit membuat film tidak terlalu menyiksa, dan ada beberapa adegan jalan malam yang cukup asyik sebagai camilan horor.
Rotten Tomatoes mencatat 47% ulasan positif dari 79 kritikus dengan konsensus bahwa film ini stylish tapi terlalu berat oleh klise, sementara Metacritic memberi skor 52 dari 100. IMDb menampilkan rating sekitar 5,5 dari 11 ribu penilaian, yang terasa pas untuk film yang punya ide menarik tapi hasil akhirnya biasa saja.
CinemaScore memberi nilai B–, menandakan respons penonton bioskop juga tidak sepenuhnya buruk tapi jauh dari antusias. Film ini tampaknya cukup bekerja untuk penonton kasual, namun kurang kuat untuk pecinta horor yang menuntut atmosfer, karakter, dan mitologi lebih solid.

Passenger punya premis bagus, sutradara berpengalaman, dan setting road-trip yang seharusnya bisa menjadi mimpi buruk berkesan. Sayangnya, film ini tidak mampu mengeksekusi idenya dengan cukup tajam, sehingga trailer terasa lebih mewakili kengerian konsepnya dibanding film utuhnya.
Kelebihannya ada pada visual malam yang cukup stylish, ide entitas yang menumpang setelah kecelakaan, dan beberapa adegan suspense yang lumayan efektif. Kekurangannya ada pada karakter utama yang kurang kuat, misteri yang cepat terbuka, jumpscare murahan, serta ending yang terasa terlalu aman.
Kalau kamu cuma ingin horor jalanan ringan untuk sekali tonton, Passenger masih bisa menemani malam tanpa harus berpikir keras. Tapi kalau kamu berharap road-trip horror yang benar-benar bikin takut berhenti di jalan sepi, film ini mungkin membuatmu lebih sering menunggu daripada merinding.




