Review Film – Zathura: A Space Adventure (2005)

Zathura; Board Game Ini Tidak Main-Main, Rumah Langsung Dilempar ke Luar Angkasa

Zathura: A Space Adventure adalah film sci-fi action-adventure tahun 2005 yang disutradarai Jon Favreau dan ditulis David Koepp bersama John Kamps, berdasarkan buku anak karya Chris Van Allsburg. Film ini dibintangi Josh Hutcherson, Jonah Bobo, Dax Shepard, Kristen Stewart, dan Tim Robbins, lalu rilis di Amerika Serikat pada 11 November 2005 dengan durasi 101 menit.

Ceritanya mengikuti Walter dan Danny, dua saudara yang sering bertengkar lalu menemukan board game misterius bernama Zathura di basement rumah mereka. Begitu game dimainkan, rumah mereka benar-benar terlempar ke luar angkasa, lengkap dengan hujan meteor, robot rusak, alien Zorgon, dan aturan permainan yang tidak bisa dinegosiasikan.

Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Film ini sering disebut sebagai “Jumanji di luar angkasa,” dan secara konsep memang perbandingan itu susah dihindari. Namun Zathura sebenarnya punya rasa sendiri: lebih sci-fi retro, lebih kecil skalanya, lebih fokus pada konflik saudara, dan lebih underrated dibanding reputasi box office-nya. 

Sederhana, Tapi Punya Mesin Petualangan yang Efektif

Premis Zathura langsung mudah dipahami: dua anak main board game, setiap kartu memunculkan bencana, dan satu-satunya cara pulang adalah menyelesaikan permainan. Formula ini memang mirip Jumanji, tapi perpindahan dari hutan liar ke luar angkasa memberi film ini identitas visual dan rasa petualangan yang beda.

Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Setiap giliran game membawa ancaman baru, mulai dari meteor shower yang menghancurkan rumah, robot pembunuh yang salah fungsi, kapal Zorgon yang memburu panas, sampai momen rumah hampir terseret gravitasi planet. Struktur episodik ini bikin film terasa seperti ride taman hiburan, dan anehnya tetap enak karena tiap bahaya punya imajinasi yang jelas.

Yang membuat ceritanya tidak cuma jadi parade efek adalah hubungan Walter dan Danny. Mereka adalah kakak-adik yang menyebalkan satu sama lain, tapi perjalanan ini perlahan memaksa mereka melihat bahwa game ini tidak bisa dimenangkan sendirian.

Twist soal astronaut juga cukup manis dan memberi bobot emosional pada konflik saudara. Tanpa harus menjadi drama besar, film ini berhasil bilang bahwa penyesalan kecil dalam keluarga bisa tumbuh jadi luka panjang kalau tidak diselesaikan.

Dua Saudara Berisik yang Justru Jadi Jantung Film
Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Josh Hutcherson sebagai Walter membawa energi kakak yang sok dewasa, kompetitif, dan sering kesal karena merasa adiknya merusak segalanya. Jonah Bobo sebagai Danny menjadi sumber kekacauan sekaligus kepolosan, tipe anak yang membuat penonton ingin bilang “jangan sentuh itu,” tapi tentu saja dia tetap menyentuhnya. 

Dax Shepard sebagai Astronaut memberi warna menarik karena awalnya tampak seperti sidekick dewasa yang muncul untuk membantu. Namun ketika latar belakangnya terbuka, karakter ini berubah menjadi cermin gelap dari kemungkinan masa depan Walter jika ia terus membiarkan amarah pada adiknya membusuk.

Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Kristen Stewart sebagai Lisa punya fungsi komedi yang cukup lucu, terutama karena ia lebih banyak “dibekukan” dan baru sadar betapa kacau situasinya setelah semuanya hampir terlambat. Tim Robbins sebagai ayah hadir singkat, tapi cukup untuk memberi konteks bahwa keluarga ini sedang hidup dalam suasana pecah setelah perceraian. 

Karakter robot yang disuarakan Frank Oz juga jadi salah satu bagian paling memorable, terutama karena desainnya terasa retro dan berbahaya. Ia bukan sekadar mesin lucu, tapi ancaman fisik yang membuat rumah kecil itu terasa makin sempit dan tidak aman.

Efek Praktikal yang Bikin Film Ini Nua tapi Tetap Berkelas
Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Salah satu hal terbaik dari Zathura adalah keputusan Jon Favreau untuk banyak memakai practical effects, miniatur, set fisik, robot nyata, dan makhluk buatan Stan Winston Studios. Favreau bahkan mengatakan bahwa menggunakan kapal nyata, robot nyata, dan Zorgon fisik memberi aktor muda sesuatu untuk benar-benar direspons di lokasi syuting.

Hasilnya terasa jauh lebih tactile dibanding banyak film keluarga CGI-heavy pada era yang sama. Rumah yang rusak, dinding yang robek, api yang menyala, robot yang bergerak, dan set yang dimiringkan di atas gimbal memberi kekacauan film ini rasa fisik yang kuat.

Secara desain, film ini sengaja mengejar rasa sci-fi 1950-an dari buku Chris Van Allsburg, bukan luar angkasa modern yang terlalu mengilap. Karena itu, kapal, robot, alien, dan atmosfernya punya kesan pulp adventure yang charming, seperti imajinasi anak-anak tentang luar angkasa yang tiba-tiba jadi nyata.

Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Beberapa efek digital tentu sudah mulai terasa tua jika dilihat sekarang, terutama bagian tertentu dari ledakan dan latar planet. Namun karena fondasinya banyak practical, film ini menua lebih baik daripada dugaan dan masih punya rasa “handmade adventure” yang hangat.

Padat dan Selalu Membekas

Sebagai hiburan keluarga, Zathura bekerja sangat baik karena durasinya pas, konfliknya jelas, dan setiap adegan punya ancaman baru yang mudah dinikmati. Film ini tidak terlalu rumit, tapi punya energi cepat yang membuat penonton merasa seperti ikut terjebak di rumah yang melayang entah di mana.

Respons kritikus saat rilis sebenarnya cukup positif, dengan Rotten Tomatoes mencatat approval 77% dan Metacritic memberi skor 67 yang masuk kategori generally favorable. IMDb mencatat rating sekitar 6,3 dari lebih dari 127 ribu penilaian, yang menurut saya sedikit terlalu rendah untuk film seimajinatif ini.

Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Masalah besarnya ada di box office, karena film hanya meraup sekitar 65,1 juta dolar dari budget 65 juta dolar. Dengan kata lain, secara bisnis film ini nyaris tidak bergerak dari titik impas, padahal kualitasnya jauh lebih baik daripada performa komersialnya.

Sebagian kegagalan itu mungkin karena bayang-bayang Jumanji terlalu besar dan marketing-nya kurang bisa menjelaskan kenapa film ini berbeda. Bahkan koneksi ke Jumanji kadang jadi beban, karena banyak orang melihatnya sebagai versi luar angkasa tanpa Robin Williams, bukan sebagai petualangan mandiri.

Zathura: A Space Adventure adalah film yang mungkin tidak sempurna, tapi punya hati, imajinasi, dan craft yang kuat. Ia mengambil ide board game ajaib lalu mengubahnya menjadi petualangan luar angkasa yang penuh bahaya, tawa, dan drama saudara yang sederhana tapi efektif.

Zathura: A Space Adventure (2005)
Zathura: A Space Adventure (2005) | © Sony Pictures

Kelebihannya ada pada efek praktikal, desain retro sci-fi, chemistry dua karakter utama, dan cara Jon Favreau menjaga film tetap bergerak tanpa kehilangan rasa kekeluargaan. Kekurangannya ada pada plot yang cukup familiar, beberapa karakter yang tipis, dan struktur episodik yang mungkin terasa terlalu sederhana untuk penonton yang ingin cerita lebih kompleks.

Kalau Jumanji adalah board game yang membawa hutan ke rumah, Zathura adalah board game yang membawa rumah ke jurang kosmik. Dan jujur, untuk film yang sering terlupakan, petualangan ini masih punya ledakan imajinasi yang sangat layak ditemukan ulang.

Logo Disney Plus


Zathura: A Space Adventure – Movie Info

Scroll to Top