Review Series – Ride or Die (2026)

Ride or Die; Bestie Lama, Rahasia Gelap, dan Liburan Eropa yang Berubah Jadi Buronan

Ride or Die adalah series action adventure comedy dari Amazon Prime Video yang dibuat oleh Tessa Coates, dengan Matt Miller sebagai showrunner. Series ini dibintangi Octavia Spencer sebagai Debbie, Hannah Waddingham sebagai Judith, serta nama-nama seperti Ed Skrein, Calam Lynch, Savannah Steyn, Jamie Parker, Sylvia Hoeks, Bill Nighy, dan Jacky Ido. 

Season pertamanya punya 8 episode berdurasi sekitar 48 sampai 55 menit, dan semua episode dirilis sekaligus pada 15 Juli 2026 di Prime Video. Premisnya simpel tapi langsung nyantol: dua sahabat harus kabur dari musuh misterius setelah salah satunya ketahuan ternyata assassin super terlatih. 

Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Cerita berpusat pada Debbie, istri seorang anggota parlemen Inggris, yang selama ini mengira sahabatnya Judith punya hidup normal. Masalah mulai pecah ketika Debbie tahu Judith bukan sekadar teman buku klub yang stylish, tapi pembunuh bayaran profesional yang sudah hidup dalam dunia rahasia selama puluhan tahun.

Premis Klise, Tapi Tetap Enak Buat Dikunyah

Premis dua sahabat kabur dari mafia karena salah satu punya identitas rahasia memang bukan sesuatu yang benar-benar baru. Ada aroma buddy comedy klasik, spy caper, assassin thriller, sampai road trip kacau yang sudah sering kita lihat sebelumnya.

Tapi justru karena formulanya familiar, series ini gampang masuk sejak episode awal. Kamu tidak perlu mikir terlalu keras soal lore organisasi rahasia, cukup ikut Debbie yang shock berat dan Judith yang berusaha menyelamatkan semuanya dengan gaya elegan tapi tetap chaos.

Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Alur Ride or Die bergerak dari pesta politik, pelarian, kereta mewah, Spanyol, Monte Carlo, Bosphorus, sampai Geneva. Daftar episode seperti “Strangers on a Train,” “The Count of Monte Carlo,” dan “The Geneva Convention” sudah memberi sinyal bahwa series ini ingin tampil seperti petualangan Eropa yang penuh penyamaran, uang hilang, dan orang-orang berbahaya.

Masalahnya, cerita utamanya sering terasa terlalu mudah ditebak. Beberapa twist soal pengkhianatan, uang mafia, suami yang bermasalah, dan masa lalu assassin tidak benar-benar mengejutkan, walau tetap cukup fun untuk membuat kita lanjut episode berikutnya.

Chemistry Octavia Spencer dan Hannah Waddingham Jadi Nyawa Series

Octavia Spencer dan Hannah Waddingham adalah alasan terbesar Ride or Die terasa jauh lebih hidup dari naskahnya. Hubungan Debbie dan Judith terasa seperti persahabatan panjang yang benar-benar punya sejarah, bukan dua karakter yang baru dikenalkan cepat demi kebutuhan plot.

Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Debbie bukan karakter action heroine instan, dan itu justru menyenangkan. Ia pintar, resourceful, kadang panik, kadang nekat, tapi tetap terasa seperti orang biasa yang mendadak dilempar ke dunia peluru, mafia, dan rahasia sahabat yang kelewat besar.

Judith adalah kebalikannya: dingin saat membunuh, anggun saat menyamar, tapi emosinya berantakan ketika harus menghadapi fakta bahwa ia sudah membohongi sahabatnya selama bertahun-tahun. Hannah Waddingham berhasil membuat Judith terlihat badass tanpa kehilangan sisi rapuh yang membuat karakter ini tidak sekadar “assassin keren pakai coat mahal.”

Ada yang Segar, Ada yang Cuma Ramai

Bill Nighy sebagai The Director memberi aura misterius yang cocok untuk dunia organisasi rahasia. Ed Skrein sebagai Billy Donovan juga memberi energi kriminal yang cukup berbahaya, walau karakternya kadang terlihat lebih menarik ketika bersinggungan dengan subplot lain dibanding saat plot utama fokus pada mafia.

Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Queenie, karakter tech dan weapons specialist, serta Sam sebagai handler Judith memberi warna yang membuat dunia assassin-nya terasa lebih ramai. Bahkan ScreenRant menilai subplot Billy dan Queenie terasa lebih segar dibanding beberapa bagian A-plot yang lebih mudah ditebak.

Adegan aksi menjadi salah satu bagian paling solid dari series ini. Fight scene-nya tidak hanya berisi orang lari ditembak, tapi dibuat di lokasi yang beragam, dari gedung cantik, mobil berjalan, pesta formal, sampai tempat-tempat Eropa yang memberi rasa petualangan.

Yang menarik, koreografinya membedakan gaya masing-masing karakter. Judith bertarung seperti assassin berpengalaman yang taktis, sementara Debbie bergerak seperti warga sipil cerdas yang sedang mencoba bertahan hidup, dan perbedaan itu membuat adegan aksinya terasa lebih masuk akal.

Komedi Tidak Selalu Pecah, Tapi Terhibur Lansekap Eropa
Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Humor Ride or Die paling berhasil ketika muncul dari benturan Debbie dan Judith. Debbie sering bereaksi seperti manusia normal yang melihat dunia gila, sementara Judith terlalu terbiasa dengan kekacauan sampai lupa bahwa sahabatnya belum pernah ikut tur pembunuhan internasional.

Namun tidak semua jokes terasa tajam. Ada beberapa momen yang terlalu mengandalkan formula buddy comedy lama, dan series ini kadang seperti ingin menjadi Thelma & Louise versi assassin tapi belum selalu punya punchline atau keberanian yang sama menggigit.

Produksi series ini berlangsung di Prague, Czech Republic, dan Ischgl, Austria, dengan syuting dimulai pada Februari 2025 dan selesai Juni 2025. Lokasi-lokasi Eropa memberi series ini tampilan mahal, seperti road trip kacau yang kebetulan melewati tempat-tempat terlalu indah untuk orang yang sedang diburu.

Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Sinematografinya tidak selalu revolusioner, tapi cukup rapi untuk mendukung tone action comedy yang ringan. Kamu dapat pesta elegan, jalanan kota, kereta, tempat ski, dan ruangan rahasia yang membuat perjalanan Debbie-Judith terasa lebih luas dari sekadar “dua orang kabur dari penjahat.”

Ride or Die mendapat respons kuat dengan Rotten Tomatoes mencatat approval 96% dari 26 review, sementara Metacritic memberi skor 73 dari 100. Konsensusnya banyak menyorot friendship Spencer-Waddingham, humor, aksi, dan energi fun sebagai daya tarik utama.

IMDb juga menampilkan rating sekitar 7,6 dari 9,3 ribu penilaian, dengan rata-rata episode berada di kisaran 7,6 sampai 8,1. Angka ini cukup menggambarkan posisi series-nya: bukan cerita paling original, tapi sangat mudah dinikmati karena pemain dan momentumnya bekerja.

Ride or Die (2026)
Ride or Die (2026) | © Prime Video

Ride or Die bukan series action comedy paling inovatif, karena banyak elemen plot-nya terasa familiar dan beberapa twist bisa ditebak dari jauh. Tapi series ini punya dua pemeran utama yang begitu kuat sampai kelemahan ceritanya sering tertutup oleh chemistry, energi, dan rasa persahabatan yang tulus.

Kelebihannya ada pada Octavia Spencer dan Hannah Waddingham, aksi yang variatif, tempo ringan, serta konsep dua perempuan dewasa yang mengambil alih genre buddy assassin dengan percaya diri. Kekurangannya ada pada plot klise, beberapa karakter pendukung yang belum maksimal, dan komedi yang tidak selalu setajam potensi premisnya.

Kalau kamu ingin tontonan Prime Video yang fun, penuh aksi, dan punya heart lewat hubungan dua sahabat yang diuji rahasia besar, Ride or Die layak masuk watchlist. Ini bukan ride paling original, tapi cukup chaotic, stylish, dan hangat untuk bikin kita berharap Debbie dan Judith dapat misi kedua yang lebih liar.

Logo Amazon Prime Video


Ride or Die S1 – Movie Info

Scroll to Top