Review Film – GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu; Komedi Absurd Terlalu Kacau sampai Lupa Ini Adalah Film

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu adalah film komedi keluarga Indonesia tahun 2025 yang disutradarai Monty Tiwa dan dibintangi Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, Bucek Depp, Nadya Arina, serta Luna Maya. Film ini dirilis di bioskop Indonesia pada 12 Juni 2025 dan menjadi langkah trio GJLS dari dunia podcast menuju film layar lebar. 

Ceritanya mengikuti Rigen, Hifdzi, dan Rispo, tiga saudara dewasa yang masih bergantung kepada ayah mereka, Tyo, seorang pemilik rumah kost yang kesepian setelah istrinya meninggal. Masalah bertambah ketika Tyo ingin menikahi Feni, penghuni kost yang jauh lebih muda, sekaligus berniat mewariskan usaha keluarga kepadanya. 

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Premis anak-anak dewasa yang berusaha menggagalkan pernikahan ayahnya memang bukan gagasan baru, tetapi masih punya potensi untuk menjadi komedi keluarga yang hangat. Konflik warisan, rasa takut kehilangan figur orang tua, dan kehadiran calon ibu baru seharusnya bisa menghasilkan situasi lucu sekaligus drama yang dekat dengan 

Masing-masing saudara juga membawa masalah personal yang cukup relevan, mulai dari pekerjaan serabutan, kebutuhan biaya pernikahan, sampai kecanduan judi daring dan jeratan pinjaman digital. Sayangnya, berbagai masalah tersebut tidak disatukan dalam struktur yang mantap sehingga premisnya terasa seperti kumpulan ide yang saling berebut perhatian.

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Film bergerak dari masalah mobil yang hilang, utang, pernikahan, kehamilan, warisan rumah kost, sampai kemunculan Sumi yang diam-diam mencuri sertifikat milik Tyo. Semua konflik itu terus ditambahkan tanpa pengembangan yang cukup, membuat alurnya terasa seperti beberapa episode sketsa yang dipaksa menjadi satu cerita panjang. 

Ketika ancaman Sumi muncul, film seharusnya mendapatkan arah baru yang lebih jelas karena ketiga saudara akhirnya memiliki musuh dan tujuan bersama. Namun bahkan konflik tersebut masih dibungkus oleh begitu banyak selipan komedi hingga rasa penting dari penyelamatan aset keluarga nyaris menghilang.

Para Komedian Justru Menambah Kekacauan
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Rigen, Rispo, dan Hifdzi terlihat sangat nyaman berinteraksi karena chemistry mereka sudah terbentuk melalui podcast serta panggung komedi. Percakapan spontan dan improvisasinya kadang terasa seperti sedang mendengarkan tiga teman lama nongkrong, tetapi energi tersebut tidak otomatis cocok dengan kebutuhan film yang memerlukan ritme, fokus, dan perkembangan karakter.

Hampir semua percakapan ingin menjadi lelucon, hampir setiap karakter mendapat momen aneh, dan terlalu banyak pemain seperti berlomba menjadi orang paling lucu dalam satu adegan. Bukannya memperkuat komedi, tawa berlebihan serta reaksi yang terlalu heboh malah membuat alur utama semakin sulit terlihat.

Komedi Absurd yang Terlalu Bergantung pada Persona
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Humornya sangat dekat dengan gaya GJLS, yaitu spontan, ngawur, improvisasional, dan sengaja tidak mengikuti logika normal. Bagi penggemar podcast mereka, pendekatan ini mungkin terasa seperti versi panjang dari konten yang sudah familier, tetapi bagi penonton baru, banyak lelucon berisiko terasa terlalu personal dan tidak mempunyai konteks cukup.

Film juga memakai humor vulgar, permainan fisik, body shaming, breaking the fourth wall, dan blooper yang sengaja dimasukkan ke dalam cerita. Sebagian respons penonton menganggap keberanian tersebut sangat menghibur, sedangkan lainnya melihat blooper dan tawa pemain sebagai cara memaksa penonton ikut merasa lucu.

Seperti Proyek Main-Main yang Belum Selesai Diedit
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Pilihan memasukkan adegan gagal, improvisasi panjang, dan momen pemain tertawa sendiri membuat film terlihat seperti belum benar-benar meninggalkan ruang latihan. Batas antara karakter, aktor, dan persona podcast menjadi kabur, tetapi bukan dalam cara eksperimental yang tajam, melainkan seperti tim produksi kesulitan memilih materi mana yang harus dibuang.

Editing-nya terasa tidak berani memotong adegan yang sebenarnya sudah kehilangan momentum. Beberapa lelucon diteruskan terlalu lama, transisinya tampak mendadak, dan konflik baru bisa muncul sebelum konflik sebelumnya mendapat penyelesaian yang pantas.

Pemain Senior Memberi Sedikit Keseimbangan
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Bucek Depp sebagai Tyo memberikan ketenangan yang cukup dibutuhkan di tengah energi trio utama yang terus meledak. Karakternya menghadirkan rasa sepi seorang ayah yang ingin kembali memiliki pasangan, walau film lebih sering menjadikannya sumber konflik daripada menggali kebutuhan emosional tersebut.

Nadya Arina juga cukup baik sebagai Feni karena mampu bergerak dari sosok calon istri yang dicurigai menuju karakter dengan emosi serta kepentingan sendiri. Luna Maya sebagai Sumi membawa aura manipulatif yang cocok untuk antagonis, tetapi kemunculannya terasa seperti film memasukkan jalur cerita baru ketika kekacauan yang lama saja belum tertata.

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

Di balik semua tingkah absurd, sebenarnya terdapat cerita tentang tiga anak yang belum siap menerima perubahan dalam kehidupan ayahnya. Mereka takut kehilangan rumah, warisan, serta sisa struktur keluarga setelah ibu mereka meninggal, tetapi motivasi itu jarang mendapat ruang cukup untuk berkembang secara tulus.

Setiap kali film hampir mencapai momen emosional, lelucon baru buru-buru datang dan memotong suasana. Akibatnya, penonton sulit merasakan kehilangan keluarga ini karena film sendiri seperti tidak nyaman membiarkan karakternya diam dan berbicara dengan jujur.

Sakit Kepala, Bahkan Sampai Habis Filmnya

Menonton film ini bisa melelahkan bukan karena misterinya kompleks atau konfliknya terlalu berat. Rasa pusing datang dari banyaknya teriakan, improvisasi, punchline yang bertabrakan, karakter dadakan, dan adegan yang tidak selalu memiliki hubungan kuat dengan tujuan utama cerita.

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

IMDb mencatat rating pengguna sekitar 6,4, tetapi respons penontonnya sangat terbelah antara mereka yang menganggap film ini komedi absurd menyegarkan dan mereka yang merasa humornya kering serta dipaksakan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa filmnya sangat bergantung pada seberapa akrab penonton dengan gaya GJLS sebelum masuk ke bioskop. 

Bagian akhir berusaha menyatukan trio GJLS untuk menyelamatkan rumah kost dan membuktikan bahwa mereka masih peduli kepada ayahnya. Secara fungsi, penyelesaian itu masuk akal, tetapi perjalanan menuju sana terlalu semrawut sehingga kemenangan mereka tidak memberikan kepuasan yang benar-benar besar.

Film menutup ceritanya dengan semangat keluarga dan kebersamaan, tetapi pesan tersebut terasa kalah keras dari semua kekonyolan sebelumnya. Ketika kredit mulai berjalan, yang tertinggal bukan perkembangan tiga saudara, melainkan pertanyaan tentang berapa banyak adegan yang sebenarnya dapat dipotong.

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025)
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025) | © Role Entertainment

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu mungkin bekerja sebagai hadiah panjang bagi penggemar setia trio GJLS yang sudah memahami gaya, persona, dan pola bercanda mereka. Namun sebagai film mandiri, premisnya terasa familiar, strukturnya kacau, komedinya terlalu berlebihan, dan proses editing-nya tidak cukup disiplin untuk menjaga cerita tetap jelas.

Kelebihannya ada pada chemistry trio utama, keberanian menjadi sangat absurd, dan dukungan pemain senior yang cukup solid. Kekurangannya jauh lebih terasa melalui alur semrawut, lelucon terlalu personal, drama keluarga yang dangkal, serta kesan proyek main-main yang belum selesai dibentuk menjadi film utuh.

Logo Vidio


GJLS: Ibuku Ibu-Ibu – Movie Info

Scroll to Top