Review Film – Tarung: Unforgiven (2026)

Tarung Unforgiven; Dosa Lama Terbawa ke Gelanggang Bawah Tanah

Tarung: Unforgiven adalah film action crime Malaysia tahun 2026 yang disutradarai Razaisyam Rashid dan ditulis bersama Amar Amir. Film berdurasi 100 menit ini dibintangi Mierul Aiman, Aedy Ashraf, Zul Ariffin, Bront Palarae, Amir Ahnaf, Azira Shafinaz, dan Sharifah Sakinah, lalu dirilis di Malaysia pada 7 Mei 2026.

Ceritanya mengikuti Hatta, mantan juara silat yang meninggalkan dunia pertarungan setelah tidak sengaja menyebabkan kematian lawannya dalam sebuah kompetisi. Ketika kakaknya membutuhkan biaya pengobatan, Hatta menerima tawaran Badrul untuk masuk ke gelanggang haram milik organisasi kriminal MARGA.

Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw
Dunia Mafia Menjanjikan, tetapi Kurang Gelap

MARGA digambarkan sebagai kongsi gelap dengan delapan cabang yang menguasai delapan wilayah di Kuala Lumpur, sedangkan posisi pemimpinnya sedang diperebutkan. Setiap cabang mengirim petarung menuju turnamen bernama Tarung, membuat gelanggang tersebut seharusnya menjadi tempat berdarah yang menentukan arah kekuasaan organisasi.

Namun film belum menggali bagaimana MARGA membangun sistem, menghasilkan uang, mengendalikan wilayah, atau menghukum anggota yang melanggar aturan. Pertemuan para pemimpinnya terlihat flamboyan, tetapi dunia kriminal tersebut belum cukup gelap untuk membuat penonton merasa sedang memasuki sarang mafia yang benar-benar berbahaya.

Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw

Potensi membangun semesta kriminal sebenarnya cukup besar karena setiap cabang bisa mempunyai petarung, budaya, dan kepentingan sendiri. Sayangnya, film lebih sibuk menyiapkan kemungkinan franchise daripada membuat organisasi MARGA terasa lengkap serta menakutkan dalam cerita pertamanya.

Emosinya Terlalu Sering Dijelaskan

Film membawa tema pengampunan, loyalitas, keluarga, persahabatan, dan keberanian menghadapi masa lalu. Semua unsur itu relevan dengan perjalanan Hatta, tetapi dialognya beberapa kali terdengar seperti drama televisi yang menjelaskan emosi secara langsung daripada membiarkan tindakan karakter berbicara.

Bagian tengah juga melambat karena film berkali-kali kembali kepada trauma serta hubungan lama yang sudah dipahami penonton. Respons pengguna cukup terbelah, dengan sebagian memuji kedalaman emosi dan pertarungannya, sedangkan lainnya menganggap ceritanya linear, dialognya canggung, dan ambisi membangun franchise membuat film pertama terasa belum selesai.

Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw
Hatta dan Isa Terjebak dalam Luka yang Terus Diulang

Hatta membawa trauma karena kematian lawannya, rasa bersalah terhadap keluarga, dan tekanan untuk menyelamatkan kakaknya. Persoalan tersebut terus diulang melalui dialog serta tatapan murung, tetapi tidak selalu berkembang menjadi pemahaman baru tentang karakternya.

Isa menjadi lawan paling personal karena ia mempunyai sejarah dekat dengan Hatta dan melihat turnamen ini sebagai kesempatan membayar luka masa lalu. Persaingan keduanya menjadi pusat cerita, tetapi arah akhirnya mudah ditebak karena film sejak awal sudah memberi sinyal bahwa mereka pasti akan berhadapan di gelanggang. 

Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw

Konflik emosionalnya sebenarnya bisa kuat jika hubungan lama mereka dibuka lebih dalam melalui pilihan, pengkhianatan, atau perbedaan prinsip. Sayangnya, film berulang kali meminta penonton merasakan kesedihan tanpa selalu memberi materi dramatik yang cukup untuk benar-benar menghasilkan emosi tersebut.

Para Pemeran Menjaga Cerita Tetap Berdiri

Mierul Aiman menjadi kekuatan terbesar sebagai Hatta karena mampu membawa tekanan masa lalu dan ketidakpastian masa depan melalui ekspresi yang intens. Ia terlihat meyakinkan sebagai petarung yang menyimpan kemarahan besar, sekaligus manusia rapuh yang merasa satu pukulan buruk dapat mengulangi tragedi lama.

Aedy Ashraf memberi energi fisik serta emosional sebagai Isa, sedangkan Amir Ahnaf tampil solid sebagai Ucop yang ikut memperluas sisi persahabatan Hatta. Bront Palarae dan Zul Ariffin membawa wibawa sebagai Khalid serta Badrul, meskipun naskah belum memberi keduanya cukup ruang untuk menjadi figur mafia yang benar-benar kompleks. 

Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw

Azira Shafinaz sebagai Dahlia dan Sharifah Sakinah sebagai Aisha membantu mempertebal sisi perasaan serta keluarga. Namun sejumlah karakter pendukung masih terasa seperti batu loncatan bagi perkembangan Hatta dan Isa, bukan individu dengan perjalanan yang mampu berdiri sendiri.

Pertarungan Tangan Kosong Penyelamat Utama

Koreografi pertarungannya merupakan elemen paling menarik karena setiap petarung terasa mempunyai ritme, ketahanan, dan cara menyerang berbeda. Pukulan, tendangan, bantingan, kuncian, serta benturan tubuh dibuat cukup realistis, sementara sound effect memberi sensasi berat yang kadang membuat badan ikut ngilu. 

Kamera cukup efektif menangkap sebagian besar gerakan tanpa selalu menyembunyikan kemampuan fisik para pemain. Pertarungan terakhir menjadi bagian terkuat dan mampu menyelamatkan film ketika drama serta dialognya mulai terasa terlalu klise.

Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw

Meski brutal dan berdarah, kekejamannya tetap terasa setengah hati karena hampir tidak ada kematian besar di dalam arena. Untuk sebuah turnamen bawah tanah yang menentukan kekuasaan mafia, para petarung terlihat babak belur tetapi risikonya belum terasa cukup mengerikan.

Sinematografi Stephen Chua memberi tampilan muram melalui ruang pertarungan, gang kota, ruangan pertemuan, dan pencahayaan keras di atas arena. Visualnya cukup menarik, tetapi belum menciptakan identitas dunia bawah tanah yang benar-benar unik atau membuat MARGA terasa seperti organisasi dengan sejarah panjang. 

Musik Joseph Chua dan Li-Anne Kong membantu mendorong adegan emosional serta pertarungan, sementara lagu “Terbang” dari Noh Salleh menjadi tema resminya. Unsur audio bekerja cukup baik untuk menjaga tenaga film, terutama ketika jalan ceritanya mulai kehilangan momentum.

Mudah Ditebak dan Masih Mengincar Kelanjutan
Tarung: Unforgiven (2026)
Tarung: Unforgiven (2026) | © Astro Shaw

Arah akhir Hatta dan Isa tidak sulit ditebak karena seluruh film dibangun untuk mempertemukan mereka dalam satu pertarungan penentuan. Payoff fisiknya tetap memuaskan, tetapi kesimpulan emosionalnya bergerak di jalur aman dan tidak mengubah pandangan kita terhadap dunia MARGA secara besar.

Film meninggalkan cukup banyak struktur organisasi, karakter, dan konflik untuk dikembangkan dalam installment berikutnya. Namun kelanjutan tersebut baru akan menarik jika MARGA digali lebih gelap, taruhannya dibuat lebih kejam, dan setiap petarung mendapatkan motivasi yang tidak hanya berasal dari trauma berulang.

Tarung: Unforgiven mempunyai pemeran kuat, koreografi brutal, dan konflik persahabatan yang cukup efektif untuk menjaga film tetap menghibur. Kesuksesan komersialnya juga besar dengan pendapatan sekitar RM23,6 juta, jauh melampaui biaya produksi RM8,12 juta, sementara IMDb mencatat rating pengguna 6,1 dari sekitar 240 penilaian. 

Kelebihannya ada pada Mierul Aiman, Aedy Ashraf, pertarungan tangan kosong, serta final yang bertenaga. Kekurangannya terletak pada dunia mafia kurang dalam, drama emosional berulang, korban yang terlalu aman, dan ambisi franchise yang belum ditopang cerita pertama secara matang.



Tarung: Unforgiven – Movie Info

Scroll to Top