Review Film – The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)

The Furious: Pertaruhan Maruah; Ketika Popularitas Menantang Sebuah Warisan

The Furious: Pertaruhan Maruah adalah film aksi drama olahraga Malaysia yang disutradarai Heng Aik Siong serta dibintangi Zul Ariffin, Sky Iskandar, Ikmal Amry, Marissa Yasmin, Zamarul Hisham, dan Sandra Lim. Film berdurasi 106 menit ini dirilis di Malaysia pada 28 Mei 2026 dengan cerita yang berpusat pada tinju, persaudaraan, dan warisan keluarga.

Masalah dimulai ketika Danial, YouTuber sekaligus petinju populer, menghina nama mendiang Hameed yang dahulu menyandang gelar The Furious. Firdaus dan adiknya, Hakim, akhirnya kembali bersatu untuk melawan Danial, meskipun keduanya membawa cara pandang serta luka keluarga yang berbeda.

The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Gagasan mempertemukan YouTuber-boxer dengan atlet yang tumbuh membawa warisan besar terasa sangat relevan ketika banyak figur internet mulai memasuki ring profesional. Danial tidak sekadar ingin menang dalam satu pertandingan, tetapi ingin merebut julukan The Furious agar popularitas digitalnya mendapatkan pengakuan dari dunia tinju yang lebih tradisional.

Konflik ini membuat persaingannya terasa cukup personal karena nama seorang ayah, harga diri keluarga, dan masa depan sebuah sasana ikut dipertaruhkan. Danial bahkan mendatangi makam Hameed untuk memancing kemarahan Firdaus, memperlihatkan bahwa ia memahami provokasi publik sama baiknya dengan teknik menjual pertandingan.

Film menyentuh benturan antara popularitas dan kemampuan dengan cara yang mudah dipahami, meskipun tidak selalu membedah industrinya secara mendalam. Danial mempunyai fasilitas modern, citra mewah, serta pengikut besar, sedangkan Firdaus dan Hakim hanya membawa warisan ayah yang semakin sulit dipertahankan.

Firdaus dan Hakim Menjadi Jantung Cerita
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Zul Ariffin memerankan Firdaus, mantan petinju yang meninggalkan ring setelah kematian istrinya dan kini menjadi pelatih di Furious Gym. Sky Iskandar tampil sebagai Hakim, adik yang lama tinggal di Filipina dan masih menyimpan kemarahan karena merasa dibuang oleh keluarganya.

Chemistry keduanya berhasil membuat perseteruan dengan Danial terasa lebih dari sekadar pertandingan untuk menentukan siapa paling kuat. Firdaus berjuang mencari penebusan, sedangkan Hakim bergerak menggunakan dendam, membuat satu nama keluarga dipertahankan melalui dua emosi yang saling bertentangan.

Hakim punya energi liar, mudah marah, dan cenderung menyerang tanpa memikirkan stamina atau strategi. Firdaus jauh lebih tenang setelah mengalami banyak kehilangan, tetapi ketenangan itu juga membuat Hakim menganggap kakaknya telah membiarkan nama sang ayah diinjak tanpa perlawanan.

The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Ikmal Amry menghidupkan Danial sebagai influencer arogan yang mengerti cara memancing perhatian penonton dan membuat lawannya kehilangan fokus. Gayanya terasa dekat dengan persona figur internet zaman sekarang, penuh kemewahan, provokasi, pelukan palsu, dan keyakinan bahwa popularitas bisa membeli legitimasi.

Danial memang bukan antagonis kompleks dengan motivasi sangat emosional, tetapi keberadaannya sukses membuat penonton greget. Ia menjadi simbol petinju yang menganggap ring sebagai panggung konten, lalu menantang orang-orang yang memandang tinju sebagai disiplin, identitas, dan warisan hidup.

Marissa Yasmin sebagai Mastura dan Zamarul Hisham sebagai Emmet memberikan konteks terhadap sejarah keluarga serta dunia tinju Firdaus. Emmet khususnya memperlihatkan sisi pahit olahraga tersebut melalui gangguan pendengaran, mengingatkan bahwa kemenangan di atas ring sering dibayar dengan kerusakan tubuh permanen. 

The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Sandra Lim sebagai Lydia dan karakter pendukung lainnya ikut memperluas lingkungan di sekitar dua saudara tersebut. Sayangnya, sebagian peran masih terasa sebatas penggerak konflik atau penyemangat, sehingga perhatian film tetap jauh lebih besar kepada Firdaus, Hakim, dan Danial.

Pertarungan di Ring Belum Sepenuhnya Menghantam

Walaupun dipasarkan sebagai film tinju, elemen pertandingannya mungkin hanya mengisi sekitar separuh pengalaman keseluruhan. Selebihnya dipakai untuk latihan, konflik masa lalu, kehidupan sasana, hubungan keluarga, serta pergulatan Firdaus dan Hakim dalam memahami arti gelar The Furious.

The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Pilihan tersebut tidak sepenuhnya buruk karena drama keluarganya justru lebih menarik untuk digali. Film memperlihatkan bahwa tinju bukan cuma perkara kekuatan pukulan, tetapi juga stamina, tempo, kecerdasan membaca lawan, dan kemampuan menjaga emosi ketika seseorang sengaja memancing kemarahan.

Koreografi pertandingannya cukup meyakinkan dalam memperlihatkan pukulan, pertahanan, kelelahan, dan kondisi tubuh yang terus menurun. Namun pengambilan gambar serta beberapa penggunaan slow motion belum selalu menambah intensitas, bahkan kadang membuat pertandingan terasa lebih lambat daripada seharusnya.

Grading warnanya juga terlihat agak kusam dan memberi rasa seperti film olahraga dari era lama. Film ini sebenarnya bisa belajar dari Rocky atau Creed dalam memakai jarak kamera, suara napas, perspektif sudut ring, dan efek setiap pukulan agar penonton merasa benar-benar berdiri di samping petinju.

Drama Keluarga Lebih Kuat daripada Spectacle
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Bagian paling berkesan justru datang ketika Firdaus dan Hakim saling meluapkan luka yang lama disimpan. Akting Zul Ariffin dan Sky Iskandar membuat hubungan saudara tersebut terasa penuh rasa sayang, iri, marah, dan kebutuhan akan pengakuan yang tidak pernah diucapkan secara sehat.

Film juga menunjukkan dampak kehilangan istri terhadap Firdaus dan pengalaman Hakim bertahan sendirian di Filipina. Konflik tersebut memberi bobot pada pertandingan final karena keduanya tidak hanya berusaha mengalahkan Danial, tetapi juga mencoba berdamai dengan versi masing-masing tentang sang ayah.

Sesuai Ekspektasi, tetapi Tetap Memuaskan
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

Arah penyelesaiannya relatif mudah ditebak karena nama The Furious pasti akan dipertahankan melalui perjuangan Firdaus serta Hakim. Film tidak mengejar twist besar, melainkan membayar perjalanan emosional mereka melalui pertandingan akhir dan rekonsiliasi keluarga.

Hasil akhirnya bekerja sebagai kemenangan moral, bukan cuma catatan menang-kalah di atas ring. Penonton yang mengikuti luka kedua saudara tersebut tetap mendapat kepuasan ketika mereka akhirnya memahami bahwa warisan Hameed bukan sekadar gelar, melainkan keberanian bangkit setelah dihantam kehidupan.

The Furious: Pertaruhan Maruah (2026)
The Furious: Pertaruhan Maruah (2026) | © ACT 2 Pictures

The Furious: Pertaruhan Maruah punya tema relevan tentang influencer boxing, warisan atlet, harga diri keluarga, dan jarak antara popularitas dengan kemampuan nyata. Nilai IMDb 5,3 dari jumlah penilaian yang masih terbatas cukup menggambarkan film yang punya emosi menarik, tetapi belum maksimal sebagai spectacle olahraga. 

Kelebihannya ada pada chemistry Zul Ariffin dan Sky Iskandar, antagonis menyebalkan dari Ikmal Amry, serta drama persaudaraan yang terasa tulus. Kekurangannya terletak pada pertarungan yang belum cukup wah, penggunaan slow motion kurang efektif, visual kusam, dan karakter pendukung yang tidak semuanya mendapat ruang berarti.



The Furious: Pertaruhan Maruah – Movie Info

Scroll to Top