Review Film – Ballerina (2025)

Ballerina; Wickverse Punya Penari Baru yang Siap Bikin Rusuh

Ballerina atau From the World of John Wick: Ballerina adalah film action thriller tahun 2025 yang disutradarai Len Wiseman dan ditulis Shay Hatten, dengan Ana de Armas sebagai Eve Macarro, seorang ballerina sekaligus assassin yang tumbuh dalam tradisi Ruska Roma.

 Film ini berada di timeline antara John Wick: Chapter 3 – Parabellum dan John Wick: Chapter 4, jadi secara posisi cerita, dia bukan tempelan random tapi benar-benar nyempil di tengah kekacauan besar Wickverse.

Secara singkat, ceritanya mengikuti Eve yang kehilangan ayahnya karena kelompok pembunuh misterius, lalu tumbuh menjadi petarung terlatih yang ingin membalas dendam. Dari sana, film ini membawa kita ke dunia hotel Continental, organisasi assassin, perjanjian lama, dan tentu saja orang-orang nekat yang seolah antre untuk dihajar dengan cara paling menyakitkan.

Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Film ini rilis di Amerika Serikat pada 6 Juni 2025, berdurasi sekitar 125 menit, dan membawa kembali beberapa wajah penting seperti Keanu Reeves, Ian McShane, Anjelica Huston, serta Lance Reddick dalam penampilan layar terakhirnya.

Dengan budget sekitar 90 juta dolar dan pendapatan global sekitar 140,2 juta dolar, Ballerina terasa seperti proyek besar yang ingin membuktikan bahwa dunia John Wick masih bisa hidup tanpa selalu menaruh Baba Yaga di kursi utama.

Plot Balas Dendam Simpel, Tapi Masih Enak Dikunyah
Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Plot film ini sebenarnya memakai resep klasik: anak kehilangan keluarga, dilatih jadi pembunuh, lalu mengejar orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Formula ini memang tidak baru, bahkan bisa dibilang sangat aman, tapi dalam dunia John Wick, cerita sederhana kadang memang cuma butuh alasan kuat untuk membuka pintu kekerasan yang kreatif.

Masalahnya, film ini tidak selalu berhasil membuat luka batin Eve terasa sedalam trauma John Wick dengan anjing dan istrinya, padahal fondasi emosinya jelas lebih besar. Kita paham kenapa Eve marah, tapi beberapa bagian awal terasa terlalu terburu-buru secara emosi dan terlalu lambat secara tempo, kombinasi yang agak lucu tapi lumayan terasa.

Untungnya, ketika Eve mulai masuk ke jalur balas dendam, film ini pelan-pelan menemukan giginya. Konflik dengan The Chancellor, aturan Ruska Roma, dan kehadiran John Wick membuat plot yang tipis tetap punya rasa dunia besar yang seru untuk diikuti.

Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Sebagai spin-off, Ballerina cukup pintar karena tidak sepenuhnya meniru perjalanan John Wick, walau bayang-bayang franchise utamanya tetap menempel di setiap sudut. Eve punya jalannya sendiri, tapi film ini masih sering seperti bilang, “tenang, ini masih satu dunia kok,” lewat cameo, aturan assassin, dan estetika Continental yang familiar.

Ana de Armas Jadi Peluru Paling Tajam

Ana de Armas adalah alasan utama film ini tetap punya nyawa, karena dia membawa campuran marah, rapuh, dingin, dan nekat dalam satu karakter. Eve bukan mesin pembunuh sempurna seperti John Wick, melainkan petarung yang sering terlihat kewalahan, berdarah, jatuh, lalu bangun lagi dengan energi “oke, sekarang gue makin kesal.” 

Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Keanu Reeves sebagai John Wick jelas jadi magnet besar, tapi film ini cukup sadar untuk tidak membuatnya mengambil alih panggung sepenuhnya. Kehadirannya terasa seperti jembatan ke film utama, meski beberapa momen memang lebih terasa sebagai fan service yang menyenangkan daripada kebutuhan cerita yang benar-benar wajib. 

Ian McShane sebagai Winston dan Anjelica Huston sebagai The Director kembali memberi aura elegan sekaligus berbahaya pada dunia assassin ini. Lance Reddick sebagai Charon juga memberi sentuhan emosional tersendiri, apalagi karena ini menjadi penampilan layar terakhirnya.

Gabriel Byrne sebagai The Chancellor punya tampilan villain yang cukup dingin, tapi karakternya belum sepenuhnya terasa sekuat ancaman besar yang seharusnya. Norman Reedus juga menarik saat muncul, hanya saja perannya terasa seperti pintu yang baru dibuka sedikit lalu langsung ditutup lagi.

Stylish, Dingin, dan Penuh Koreografi Sakit
Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Ballerina masih membawa DNA John Wick yang kita kenal: lampu neon, ruang mewah, lorong dingin, dan kota Eropa yang terasa indah tapi berbahaya. Pengambilan gambar dilakukan terutama di Praha dan Budapest, sehingga latarnya punya rasa klasik, dingin, dan cocok untuk dunia kriminal bawah tanah yang penuh ritual. 

Romain Lacourbas sebagai sinematografer membuat banyak adegan terlihat glossy dan mahal, terutama saat film masuk ke lokasi-lokasi yang lebih besar dan penuh atmosfer. Ketika aksi mulai rapi, gerakan Eve benar-benar terasa seperti tarian kasar yang penuh tulang retak, bukan sekadar pukul-pukulan biasa.

Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Namun, kalau dibandingkan dengan empat film utama John Wick, beberapa adegan action awal terasa kurang bersih dalam staging dan editing. Ada momen ketika kamera dan potongan gambar membuat pukulan tidak sejelas yang kita harapkan dari franchise yang selama ini terkenal dengan koreografi tajam.

Tapi begitu film masuk ke paruh kedua, Ballerina mulai menggila dengan cara yang jauh lebih menyenangkan. Senjata api, granat, benda tajam, sampai duel absurd dengan flamethrower membuat film ini sadar bahwa kekonyolan brutal adalah salah satu bumbu paling enak dari Wickverse.

Bisa Dibilang Lambat Panas, Tapi Begitu Nyala Langsung Rusuh

Sebagai hiburan action, Ballerina memang butuh waktu untuk benar-benar panas. Paruh pertamanya terasa seperti pemanasan yang agak kepanjangan, tapi paruh keduanya mulai membayar dengan aksi yang makin kreatif, brutal, dan kadang sengaja konyol.

Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Kalau kamu datang untuk cerita yang dalam dan penuh twist mengejutkan, mungkin film ini bukan menu terbaik. Tapi kalau kamu ingin melihat Ana de Armas menghajar sekumpulan assassin dengan gaya elegan, penuh luka, dan banyak senjata random, film ini jelas punya banyak camilan action yang memuaskan.

Respons terhadap film ini cenderung positif untuk aksi, performa Ana de Armas, dan perluasan dunia John Wick, meski banyak juga yang merasa ceritanya terlalu biasa. Di beberapa penilaian, film ini terlihat sebagai tontonan yang fun dan brutal, tetapi belum cukup kuat untuk menyamai energi film utama John Wick.

Buat target penonton usia 15-40 tahun yang suka action modern, Ballerina punya paket yang gampang dijual: karakter perempuan badass, dunia assassin stylish, cameo familiar, dan fight scene yang makin lama makin liar. Ini bukan film action paling rapi tahun 2025, tapi jelas salah satu yang paling gampang bikin kamu bilang, “oke, adegan itu gila juga.”

Ballerina (2025)
Ballerina (2025) | © Lionsgate

Secara keseluruhan, Ballerina adalah spin-off John Wick yang solid, menghibur, dan cukup percaya diri untuk memperkenalkan Eve Macarro sebagai wajah baru di dunia assassin. Film ini belum punya bobot emosional dan presisi action sekelas saga utama, tapi Ana de Armas berhasil membuat Eve terasa layak mendapat panggung sendiri. 

Kelemahan terbesarnya ada pada plot yang tipis, villain yang kurang menggigit, dan awal cerita yang agak lambat. Tapi kelebihannya juga jelas: visual stylish, aksi brutal, dunia Wickverse yang tetap menarik, dan paruh akhir yang benar-benar mengangkat energi film.

Buat fans John Wick, Ballerina bukan pengganti Baba Yaga, melainkan cabang baru yang masih punya banyak potensi. Buat penonton baru, film ini tetap bisa dinikmati sebagai action revenge yang cantik, kasar, dan penuh adegan “aduh, itu pasti sakit banget.”

Logo Amazon Prime Video


Ballerina – Movie Info

Scroll to Top