Review Film – Despicable Me 3 (2017)

Despicable Me 3; Gru Ketemu Kembaran, Minions Makin Rusuh, Tapi Ceritanya Mulai Kebanyakan Isi

Despicable Me 3 terasa seperti franchise ini bilang, “oke, kita tambah saudara kembar, villain nostalgia 80-an, Minions mogok kerja, dan drama keluarga baru sekalian.” Film animasi komedi tahun 2017 ini disutradarai Pierre Coffin dan Kyle Balda, ditulis oleh Cinco Paul dan Ken Daurio, serta menjadi film utama ketiga dalam franchise Despicable Me.

Dengan durasi sekitar 90 menit, film ini masih dibintangi Steve Carell sebagai Gru, tapi kali ini ia juga mengisi suara Dru, saudara kembar Gru yang lama terpisah.

Cast lainnya juga ramai: Kristen Wiig sebagai Lucy, Trey Parker sebagai Balthazar Bratt, Miranda Cosgrove sebagai Margo, Dana Gaier sebagai Edith, Nev Scharrel sebagai Agnes, Steve Coogan, Jenny Slate, Julie Andrews, dan Pierre Coffin sebagai suara Minions.

Ide Banyak, Seru Sih, Tapi Agak Berantakan
Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Cerita dimulai saat Gru dan Lucy, yang kini menjadi agen Anti-Villain League, gagal menangkap Balthazar Bratt, mantan bintang cilik era 1980-an yang berubah menjadi supervillain setelah acaranya dibatalkan. Mereka berhasil menyelamatkan Dumont Diamond, tapi karena Bratt kabur, Gru dan Lucy justru dipecat oleh direktur baru AVL, Valerie Da Vinci.

Di tengah krisis pekerjaan itu, Gru mengetahui bahwa ia punya saudara kembar bernama Dru yang tinggal di negara bernama Freedonia dan hidup kaya raya dari warisan ayah mereka, seorang supervillain legendaris bernama “The Bald Terror.” 

Premis ini sebenarnya lucu dan punya potensi besar, tapi film juga memasukkan subplot Minions kabur, Lucy belajar jadi ibu, Agnes mencari unicorn, Margo menghadapi romansa bocah lokal, dan Bratt mau menghancurkan Hollywood, jadi rasanya seperti satu film dipaksa menampung tiga episode serial sekaligus.

Tiap Karakter Berhasil Jadi Mesin Komedi
Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Dari sisi voice acting, Steve Carell masih jadi senjata utama film ini. Sebagai Gru, ia mempertahankan aksen khas yang absurd tapi lovable, sementara sebagai Dru, ia memberi energi lebih cerah, manja, dan overexcited seperti anak orang kaya yang baru tahu keluarganya punya sejarah kriminal. 

Dinamika Gru dan Dru cukup menghibur karena mereka seperti dua sisi berbeda dari satu DNA: Gru serius, kaku, dan sudah lelah jadi penjahat; Dru flamboyan, kaya, dan sangat ingin mencicipi hidup sebagai villain. Sayangnya, hubungan mereka berkembang terlalu cepat, jadi konflik saudara kembar yang seharusnya emosional terasa lebih seperti komedi cepat daripada drama keluarga yang benar-benar dalam.

Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Balthazar Bratt adalah salah satu ide paling lucu di film ini. Dia mantan aktor cilik yang gagal move on dari masa kejayaan acaranya, lalu membangun identitas supervillain berdasarkan karakter yang dulu ia mainkan, lengkap dengan rambut mullet, outfit ungu, keytar, bubble gum super, dan dance moves ala 80-an.

Trey Parker berhasil membuat Bratt terdengar menyebalkan dengan cara yang fun. Dia bukan villain yang dalam atau tragis, tapi konsepnya sangat mudah dipahami: orang dewasa yang terlalu sakit hati karena popularitas masa kecilnya hilang, lalu memilih menghancurkan Hollywood sebagai bentuk tantrum paling mahal sedunia. 

Setelah menikah dengan Gru, Lucy Wilde mencoba menemukan posisinya sebagai ibu bagi Margo, Edith, dan Agnes. Ini sebenarnya perkembangan yang menarik karena Lucy bukan sekadar partner aksi Gru, tapi sekarang harus membangun hubungan emosional dengan tiga anak yang sudah punya ikatan kuat dengan ayah angkat mereka. 

Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Masalahnya, subplot ini terasa kurang napas. Ada momen manis ketika anak-anak akhirnya mengakui Lucy sebagai ibu mereka, tapi karena film terlalu sibuk dengan Gru, Dru, Bratt, dan Minions, perkembangan Lucy sebagai ibu terasa seperti checkpoint emosional, bukan perjalanan yang benar-benar digali. 

Di Despicable Me 3, sebagian besar Minions meninggalkan Gru setelah ia menolak kembali menjadi supervillain. Dipimpin oleh Mel, mereka mencari jalan sendiri, masuk studio televisi, bikin kekacauan, lalu berakhir di penjara karena trespassing. 

Adegan Minions tetap lucu, apalagi buat penonton yang memang datang demi slapstick kuning-kuning chaos ini. Tapi subplot mereka terasa cukup terpisah dari cerita utama, seperti mini movie yang diselipkan di tengah film, bukan bagian yang benar-benar menyatu dengan perjalanan Gru.

Cerah, Ekspresif, dan Ramah untuk Semua Umur
Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Secara visual, film ini masih membawa gaya khas Illumination: warna cerah, bentuk karakter ekspresif, dan dunia yang mudah dicerna. Desain Freedonia, rumah mewah Dru, kendaraan warisan ayah Gru, hingga robot raksasa Bratt memberi film ini banyak ruang untuk bermain secara visual.

Animasi komedinya juga tetap kuat, terutama ketika film memainkan ekspresi Gru, gaya sok keren Dru, dan kekacauan Minions. Memang tidak terasa seartistik film animasi yang lebih ambisius secara visual, tapi untuk tontonan keluarga yang cepat dan ringan, presentasinya sangat efektif.

Sebagai hiburan keluarga, Despicable Me 3 tetap bekerja. Durasinya pendek, pacing-nya cepat, humornya mudah masuk, dan karakter-karakternya sudah punya modal kuat dari film sebelumnya. 

Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Namun dibanding dua film pertama, film ini terasa paling scattershot alias idenya berserakan. Bukan berarti membosankan, tapi ada rasa bahwa franchise ini mulai bergantung pada banyak gimmick sekaligus untuk menjaga energi tetap tinggi.

Dance Fight, Hollywood, dan Ending yang Cukup Manis

Babak akhir membawa Bratt menyerang Hollywood dengan robot raksasa yang ditenagai Dumont Diamond. Gru dan Dru akhirnya bekerja sama, Lucy menyelamatkan anak-anak, Minions ikut membantu, dan Gru mengalahkan Bratt lewat final dance fight yang absurd tapi sangat sesuai dengan identitas villain-nya.

Ending-nya cukup hangat karena keluarga Gru kembali solid, Lucy diterima sebagai ibu, dan Gru-Dru berdamai. Lalu Dru bersama Minions kabur memakai pesawat Gru untuk mengejar impian jadi villain, sementara Gru dan Lucy memberi mereka lima menit head start sebelum mengejar; penutup yang ringan, lucu, dan membuka peluang cerita lanjut.

Despicable Me 3 (2017)
Despicable Me 3 (2017) | © Universal Pictures

Despicable Me 3 tetap fun, penuh warna, dan mudah dinikmati, terutama untuk penonton keluarga atau fans Minions. Tapi sebagai cerita, film ini terasa lebih ramai daripada rapi, dengan terlalu banyak subplot yang tidak semuanya mendapat ruang maksimal.

Bukan yang terbaik di franchise, tapi masih cukup menghibur; seperti snack manis yang kebanyakan topping—tetap enak, tetap lucu, tapi sedikit bikin kita bilang, “ini sebenarnya fokusnya ke mana sih?”



Despicable Me 3 – Movie Info

Scroll to Top