Review Film – Exit 8 (2025)

Exit 8; Terjebak di Lorong Stasiun, Bingung, Bosan, Tapi Kok Nagih?

Kamu pernah main game The Exit 8, pasti tahu vibes-nya: jalan di lorong stasiun yang itu-itu aja, cari anomali kecil, salah sedikit balik lagi ke awal. Nah, versi filmnya, Exit 8 atau 8-ban Deguchi, membawa konsep itu ke live-action dengan sutradara Genki Kawamura, yang juga menulis naskah bareng Kentaro Hirase.

Film ini dibintangi Kazunari Ninomiya sebagai pria tanpa nama yang terjebak di koridor subway looping dan harus menemukan “Exit 8” dengan aturan sederhana tapi nyebelin: kalau ada anomali, balik; kalau nggak ada, lanjut.

Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Film ini tayang perdana di Midnight Screenings Cannes Film Festival pada 19 Mei 2025, lalu rilis di Jepang pada 29 Agustus 2025 oleh Toho. Secara genre, ini mystery psychological horror yang adaptasinya cukup unik, karena sumber aslinya adalah game indie 2023 yang lebih dikenal sebagai walking simulator dan puzzle “spot the difference” dalam lorong metro Jepang. 

Nggak Usah Cari Motif, Ikut Aja Tersesat

Hal paling menarik dari Exit 8 adalah film ini nggak ngajak kita mikir, “kenapa dia bisa masuk sini?” atau “siapa dalang di balik lorong ini?” Filmnya lebih peduli pada pengalaman: gimana rasanya terjebak, ngulang, salah langkah, lalu makin paranoid sama hal kecil.

Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Premisnya memang sederhana: si “Lost Man” harus mencapai Exit 8 dengan membaca instruksi di dinding dan mengamati apakah ada anomali di setiap loop. Kalau salah menilai, progress balik lagi ke Exit 0.

Dan percaya deh, justru karena motifnya nggak dijelaskan gamblang, kita ikut kebawa. Tiap kali lorong muncul lagi, otak otomatis ikut scan: poster berubah nggak? lampu aneh nggak? orang itu jalan beda nggak? Film ini bikin kita ikut jadi player, bukan cuma penonton. Bingung iya, tapi penasaran juga, dan itu magnet utamanya.

Karakter Biasa Aja, Tapi Si Anak Jadi Kunci yang Bikin Cerita Naik Level
Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Secara karakter, jujur aja si tokoh utama bukan tipe protagonis yang super memorable. Dia lebih terasa sebagai “avatar penonton”, orang biasa yang panik, takut, bingung, dan cuma mau keluar.

Kazunari Ninomiya cukup solid membawa rasa cemas dan desperate itu, tapi karakter ini memang sengaja dibuat minimalis supaya fokus tetap ke lorong dan aturan permainannya. 

Yang jadi scene stealer justru The Boy, anak kecil yang muncul di tengah cerita. Kehadirannya bikin film punya lapisan emosional dan simbolik yang lebih kuat. Dalam plot, anak ini membantu Lost Man memahami loop dan punya hubungan dengan Walking Man, sosok yang terus berjalan di koridor.

Dari sini film mulai terasa lebih dari sekadar adaptasi game: ada rasa bersalah, pilihan, dan kemungkinan bahwa lorong ini bukan cuma ruang fisik, tapi cermin masalah batin si tokoh utama.

Lorongnya Itu-Itu Aja, Tapi Justru Itu yang Bikin Merinding
Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Setting film ini bisa dibilang sangat terbatas: lorong subway putih, poster, lampu, ubin, dan jalan yang berulang. Kalau kamu gampang bosan sama film satu lokasi, Exit 8 mungkin akan terasa repetitif.

Tapi ya namanya juga adaptasi game yang memang inti horornya ada di pengulangan. Bahkan game aslinya memang memakai passageway metro Jepang sebagai ruang utama, dengan anomali yang bisa subtle atau ekstrem.

Anehnya, pengulangan ini lama-lama malah jadi candu. Karena tiap loop membawa harapan: “kali ini ada apa?” Kadang anomali kecil, kadang mengganggu, kadang bikin merinding.

Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Dan karena setting-nya steril banget, tiap perubahan kecil terasa lebih keras. Satu detail melenceng sedikit aja rasanya kayak ada yang salah dengan realitas. 

Cerita Tipis, Tapi Rasa Penasarannya Tebal

Kalau dinilai dari cerita besar, Exit 8 sebenarnya nggak punya plot yang luar biasa. Nggak ada lore panjang, nggak ada monster besar dengan backstory megah, nggak ada villain yang menjelaskan semuanya di akhir.

Bahkan beberapa penonton mungkin akan bilang film ini “membosankan tapi kok lanjut terus.” Dan itu valid banget. 

Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Tapi film ini punya kekuatan aneh: kita selalu menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Apakah kali ini serem? Apakah cuma jebakan visual? Apakah anomali ini punya makna? Atau ternyata cuma hal biasa yang bikin kita overthinking?

Perasaan waspada seperti ini yang bikin Exit 8 hidup. Ia bukan horor yang teriak di muka, tapi horor yang bisik-bisik di kuping sampai kamu nggak percaya sama mata sendiri. 

Ending Mind Blowing, Tapi Tetap Setia Sama Rasa Game-nya
Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Bagian ending menurutku cukup mind blowing, bukan karena ada twist paling gila sedunia, tapi karena film akhirnya memberi kesan bahwa semua anomali ini berkaitan dengan masalah utama si karakter.

Dalam plot, Lost Man punya konflik personal dengan mantan kekasihnya yang hamil, rasa takut menjadi ayah, dan rasa bersalah karena gagal membantu seorang ibu di kereta. Semua ini perlahan nyambung dengan perjalanan dia di lorong. 

Apakah semua jawabannya penting buat kita? Nggak juga. Dan mungkin memang bukan itu tujuannya. Sama seperti game-nya, Exit 8 lebih enak dinikmati sebagai pengalaman menemukan anomali, bukan puzzle lore yang harus dijelaskan sampai akar. Ending-nya bekerja sebagai konklusi emosional untuk si tokoh utama, sambil tetap membiarkan penonton meraba-raba sendiri. 

Exit 8 (2025)
Exit 8 (2025) | © Toho

Exit 8 adalah contoh adaptasi video game yang berani mempertahankan identitas sumbernya: minimalis, repetitif, paranoid, dan aneh. Film ini nggak cocok buat yang cari cerita horor penuh aksi atau penjelasan detail. Tapi kalau kamu suka film psikologis yang bikin ikut main tebak-tebakan, ini seru banget. 

Bukan film paling rame, bukan juga paling emosional, tapi berhasil bikin lorong stasiun biasa terasa seperti mimpi buruk yang sopan; diam, rapi, tapi diam-diam bikin bulu kuduk naik.



Exit 8 – Info Movie

Scroll to Top