Review Film – Gayong (2025)

Gayong; Pendekar Ini Tidak Cuma Jual Pukulan

Gayong merupakan film aksi drama biografi Malaysia tahun 2025 yang disutradarai Faisal Ishak dan ditulis Naza Manas berdasarkan cerita Eric Ong. Film ini dibintangi Beto Kusyairy, Nabila Huda, Syafie Naswip, dan Yayan Ruhian, lalu dirilis di Malaysia pada 8 Mei 2025 dengan biaya produksi sekitar RM7 juta.

Ceritanya mengikuti perjalanan hidup Datuk Meor Abdul Rahman, pendiri Silat Seni Gayong Malaysia, dari masa perantauannya hingga menghadapi tekanan penjajahan. Ia pergi dari Taiping menuju Singapura, bekerja sebagai mekanik di Gillman Barracks, lalu mempertahankan maruah, keluarga, dan pengetahuan silatnya ketika kekuasaan Inggris berganti menjadi pendudukan Jepang. 

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios
Plot Lambat di Awal, tetapi Punya Arah yang Jelas

Babak awal Gayong bergerak cukup lambat karena film harus mengenalkan kehidupan Meor, hubungannya dengan Che Som, kondisi masyarakat, dan alasan ia merantau ke Singapura. Ritme ini mungkin menguji kesabaran penonton yang datang mengharapkan pertarungan nonstop, tetapi fondasi emosional tersebut membuat perjuangan Meor menjelang akhir terasa lebih berarti.

Plotnya memang tidak terlalu berliku dan jarang melempar twist besar yang mengubah keseluruhan cerita. Daya tariknya justru terletak pada konflik batin Meor ketika harga diri, kewajiban keluarga, semangat persilatan, dan ancaman penjajahan terus menariknya ke arah berbeda.

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios

Sejumlah respons penonton juga mencatat bahwa 15 hingga 30 menit pertama terasa cukup lambat sebelum aksi mulai meningkat. Setelah melewati pemanasan tersebut, film bergerak lebih mantap menuju rangkaian pertarungan serta benturan budaya bela diri yang menjadi bahan jualan utamanya. 

Beto Kusyairy Menjadi Jiwa Utama Film

Beto Kusyairy berhasil menghidupkan Datuk Meor melalui gestur tegas, tatapan serius, emosi tertahan, dan fisik yang meyakinkan saat memasuki pertarungan. Ia tidak hanya menjual kemampuan menghajar lawan, tetapi juga memperlihatkan seorang pendekar yang terus berusaha memahami arti kekuatan, tanggung jawab, dan maruah.

Performa Beto terasa paling kuat ketika Meor sedang berada di antara amarah dan kewajiban menjaga orang-orang di sekelilingnya. Penghayatan karakter serta kesungguhan dalam adegan laga membuat Meor terlihat seperti manusia yang sedang bertumbuh, bukan tokoh sejarah sempurna yang sejak awal selalu punya jawaban. 

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios

Beto juga membangun chemistry yang cukup hangat bersama Nabila Huda sebagai Che Som. Hubungan mereka memberi sisi rumah tangga dan emosional yang dibutuhkan agar film tidak berubah menjadi pertunjukan silat tanpa hati.

Wak Kusang Menjadi Pembantu yang Paling Berarti

Yayan Ruhian sebagai Wak Kusang menjadi salah satu pemeran pendukung yang paling menonjol karena membawa wibawa pendekar sekaligus energi fisik yang sudah sangat teruji. Wak Kusang bukan sekadar mentor yang muncul untuk memberi nasihat, tetapi sosok yang membantu perjalanan Meor memahami bentuk perjuangan di luar kepentingan pribadinya.

Kehadiran Yayan juga terasa penting di balik layar karena ia terlibat sebagai pengarah aksi dan koreografer pertarungan. Para pemain menjalani latihan intensif agar setiap gerakan Silat Gayong terasa lebih autentik serta tetap menghormati warisan bela diri yang sedang diangkat.

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios

Sayangnya, sebagian karakter pendukung lain tidak mendapat ruang emosional yang sama besar. Mereka cukup efektif sebagai keluarga, sahabat, penjajah, atau lawan tanding, tetapi keberadaannya lebih sering membantu cerita Meor daripada membangun perjalanan pribadi yang mudah diingat.

Perpaduan Silat, Tomoi, Karate, dan Kung Fu

Film ini tidak hanya menghadirkan Silat Gayong, tetapi juga mempertemukannya dengan Tomoi Thailand, karate Jepang, dan kung fu. Shannon Wiratchai hadir sebagai Worawut, Hiromitsu Takeda sebagai Yamada, Eric Chen sebagai Master Chan, sedangkan Yayan Ruhian memainkan Wak Kusang dari Pulau Sudong.

Perbedaan gaya bertarung memberi variasi menarik karena setiap lawan tidak bergerak dengan pola serupa. Meor harus membaca jarak, kecepatan, senjata, dan karakter lawannya, sehingga pertandingan terasa seperti benturan filosofi bela diri, bukan hanya adu siapa yang paling kuat.

Koreografinya sudah apik dan cukup jelas memperlihatkan struktur jurus, kuncian, serangan, serta respons tubuh terhadap pukulan. Beberapa pertarungan bahkan memberi sedikit rasa film kungfu Hong Kong, terutama saat gerakan Silat Gayong mulai bertemu disiplin bela diri dari negara lain.

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios
Editing Tutup Keindahan Koreografi Silat

Masalahnya, editing Hafeez Mohd Noor beberapa kali memotong gerakan terlalu cepat sebelum rangkaian jurus selesai dinikmati. Seni silat yang mungkin jauh lebih brutal dan teratur ketika dilakukan di lokasi syuting tidak selalu terlihat seratus persen karena sudut kamera serta pergantian shot memecah aliran pertarungan.

Keputusan tersebut cukup disayangkan karena daya tarik film berada pada tubuh para pemain dan teknik nyata yang sudah mereka latih. Film akan terasa lebih kuat jika kamera bertahan sedikit lebih lama, memberi ruang lebih lebar, dan membiarkan penonton melihat awal hingga akhir satu kombinasi serangan.

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios

Meski begitu, adegan aksinya tetap memiliki bobot fisik dan tidak sepenuhnya bergantung pada efek digital. Beto terlihat cukup meyakinkan melakukan berbagai gerakan sendiri, membuat setiap hantaman terasa lebih berarti daripada pertarungan yang terlalu banyak disembunyikan oleh CGI.

Visual Sejarah Cukup Meyakinkan

Sinematografi Harris Hue Abdullah berhasil membangun nuansa periode akhir 1930-an sampai masa pendudukan Jepang melalui kampung, barak militer, pesisir, kostum, serta warna gambar yang hangat. Proses syuting dilakukan di Kuala Lumpur, Kota Tinggi, Johor, dan Bagan Lalang, Sepang, memberikan variasi lokasi yang membantu perjalanan Meor terasa luas.

Desain produksinya belum selalu terlihat megah dan beberapa efek digital masih terasa kurang rapi. Namun properti, pakaian, latar masyarakat, dan tata warna cukup berhasil membawa penonton memasuki periode sejarah tanpa terasa seperti drama televisi murah.

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios
Ending Menanjak Bayar Kesabaran

Bagian akhir menjadi titik ketika energi film akhirnya mencapai puncak, mempertemukan konflik pribadi Meor dengan ancaman yang lebih besar terhadap masyarakat serta tanah airnya. Aksi, emosi, dan semangat persilatan mulai menyatu lebih baik, membuat ritme yang sebelumnya lambat berubah menjadi cukup intens.

Penyelesaiannya terasa memuaskan karena kemenangan Meor tidak hanya diukur dari lawan yang berhasil dijatuhkan. Ia semakin memahami tanggung jawab membawa Silat Gayong sebagai ilmu, identitas, serta warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Ending tersebut juga membuka perjalanan yang lebih luas dan memang telah diikuti produksi Gayong 2 dengan pemain lama serta tambahan pemeran baru. Jadi film pertama ini bekerja sebagai pengenalan sosok Meor sekaligus fondasi bagi kelanjutan perjuangannya pada babak sejarah berikutnya. 

Gayong (2025)
Gayong (2025) | © Primeworks Studios

Gayong adalah film yang lambat menggigit, tetapi cukup berhasil memperkenalkan Datuk Meor Abdul Rahman melalui aksi, emosi, keluarga, dan semangat mempertahankan warisan. Beto Kusyairy menjadi alasan utama film tetap menarik, sementara Yayan Ruhian memberi dukungan penting melalui karakter Wak Kusang serta koreografi pertarungan.

Kelebihannya ada pada performa Beto, semangat budaya, variasi bela diri, dan final yang memuaskan. Kekurangannya terletak pada pembukaan lambat, karakter pendukung yang tipis, serta editing laga yang belum sepenuhnya membiarkan keindahan Silat Gayong terlihat utuh.



Gayong – Movie Info

Scroll to Top