Review Film – Roofman (2025)

Roofman ketika perampok punya hati yang terlalu ingin menyenangkan orang terdekeat

Film Roofman garapan Derek Cianfrance mungkin terdengar seperti film kriminal biasa. Tapi setelah menontonnya, rasanya jauh dari kata “biasa”. Film ini diangkat dari kisah nyata Jeffrey Manchester, pria yang dikenal karena merampok gerai McDonald’s dengan cara mengebor atap bangunan, lalu bersembunyi di toko mainan setelah kabur dari penjara.

Yang membuat film ini menarik bukan hanya metode perampokannya yang unik, tapi bagaimana karakter Jeffrey yang diperankan dengan intens namun lembut oleh Channing Tatum, terasa begitu manusiawi. Ini bukan film tentang kejahatan semata. Ini film tentang seseorang yang terlalu ingin menyenangkan orang lain sampai kehilangan arah hidupnya sendiri.

Jeffrey Manchester bukan kriminal tipikal yang penuh kekerasan. Ia bukan mafia, bukan pembunuh, bukan perampok bersenjata yang brutal. Metodenya justru aneh dan nyaris absurd: masuk lewat atap, menghindari konfrontasi, dan berusaha tidak menyakiti siapa pun.

Roofman (2025)
Roofman (2025) | © Paramount Pictures

Setelah melarikan diri dari penjara, ia bersembunyi di dalam sebuah toko mainan besar. Di situlah film ini berubah dari sekadar kisah kriminal menjadi potret psikologis tentang kesepian, rasa gagal, dan kebutuhan untuk diterima.

Plotnya berjalan tenang, tidak penuh ledakan atau aksi kejar-kejaran besar. Justru karena itu, film ini terasa lebih intim dan personal.

Channing Tatum di Peran yang Berbeda

Kalau biasanya kita melihat Channing Tatum dalam film aksi atau drama romantis, di Roofman ia tampil jauh lebih sunyi dan rapuh. Ia memerankan Jeff bukan sebagai penjahat, tapi sebagai pria yang kebingungan menghadapi hidup.

Roofman (2025)
Roofman (2025) | © Paramount Pictures

Ekspresinya banyak bermain di ruang kosong, tatapan kosong di lorong toko mainan, gestur kecil saat ia mencoba bersikap ramah, hingga cara ia berbicara yang terasa seperti orang yang terus-menerus ingin disukai.

Jeff digambarkan sebagai seseorang yang punya kecenderungan untuk menyenangkan orang lain. Ia tidak ingin konflik. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Namun pilihan hidupnya justru membawa dirinya semakin jauh dari normalitas. Film ini tidak membenarkan tindakannya, tetapi membantu kita memahami kenapa ia melakukannya.

Menegangkan sekaliggus hangat: Film kriminal yang ramah keluarga?

Mungkin terdengar aneh menyebut film tentang perampok sebagai tontonan keluarga. Tapi Roofman punya nada yang berbeda. Tidak ada kekerasan eksplisit yang berlebihan. Tidak ada glorifikasi kriminalitas.

Roofman (2025)
Roofman (2025) | © Paramount Pictures

Pendekatan Derek Cianfrance di sini terasa lebih empatik dibanding sensasional. Ia dikenal lewat film-film karakter yang dalam dan emosional, dan gaya itu tetap terasa.

Banyak adegan di toko mainan yang justru menghadirkan nuansa hangat. Ada ironi lembut ketika seorang buronan hidup di tengah boneka, permainan anak-anak, dan warna cerah. Kontras ini membuat film terasa ringan sekaligus menyentuh.

Bahkan beberapa momen terasa hampir seperti film keluarga tentang pria kesepian yang mencoba menemukan kembali arah hidupnya, hanya saja latar belakangnya adalah kisah kriminal nyata.

Tema: Kesepian, Identitas, dan Keinginan untuk Diterima

Roofman lebih banyak berbicara soal psikologi dibanding strategi perampokan. Film ini menggali: rasa tidak cukup dalam diri seseorang, kebutuhan untuk diterima dan disukai, dan juga tekanan hidup yang mendorong pilihan ekstrem

Roofman (2025)
Roofman (2025) | © Paramount Pictures

Jeff bukan digambarkan sebagai jenius kriminal. Ia digambarkan sebagai manusia biasa yang terjebak dalam keputusan yang salah. Dan justru karena itu, ia terasa dekat.

Kita mungkin tidak pernah mengebor atap restoran cepat saji. Tapi banyak orang bisa relate dengan rasa ingin membuat semua orang senang, bahkan ketika itu merugikan diri sendiri.

Atmosfer sederhana kehidupan bertetangga
Roofman (2025)
Roofman (2025) | © Paramount Pictures

Secara visual, film ini tidak bombastis. Tone warnanya cenderung lembut dan realistis. Banyak adegan malam hari yang hening, menegaskan kesendirian karakter utama.

Toko mainan menjadi simbol penting, tempat penuh warna yang kontras dengan hidup Jeff yang penuh kebingungan. Sinematografinya tidak berusaha mencuri perhatian, tapi cukup kuat untuk membangun suasana reflektif.

Musiknya pun tidak terlalu mendominasi, memberi ruang bagi emosi penonton untuk tumbuh secara alami.

Film kriminal ringan tapi ironis

Kalau kamu mencari film kriminal penuh aksi dan adrenalin, mungkin Roofman bukan pilihan utama. Tapi kalau kamu suka film berbasis karakter dengan pendekatan humanis, ini bisa jadi pengalaman yang mengejutkan.

Film ini cocok untuk: penonton yang suka drama psikologis, penggemar kisah nyata, keluarga yang ingin menonton film dengan diskusi moral ringan setelahnya, dan khususnya, kamu yang tertarik pada sisi manusia di balik berita kriminal

Roofman mengingatkan kita bahwa di balik headline “perampok” selalu ada manusia dengan cerita yang lebih kompleks.

Roofman (2025)
Roofman (2025) | © Paramount Pictures

Roofman adalah film kriminal yang tidak terasa seperti film kriminal. Ia ringan, aneh, kadang terasa ironis, tapi tetap menyentuh. Kekuatan terbesarnya ada pada bagaimana kita bisa memahami Jeff sebagai manusia, bukan sekadar pelaku kejahatan.

Lewat akting Channing Tatum yang lebih tenang dan pendekatan empatik Derek Cianfrance, film ini berhasil menghadirkan kisah nyata yang terasa intim dan tidak menggurui.

Pada akhirnya, Roofman bukan tentang bagaimana seseorang merampok lewat atap. Ini tentang bagaimana seseorang mencoba menemukan tempatnya di dunia, dengan cara yang salah.



Roofman – Movie Info

Scroll to Top