Review Film – The Black Phone (2021)

The Black Phone, Tidak Perlu Banyak Darah untuk Membuat Tak Nyaman

The Black Phone adalah film supernatural horror yang disutradarai Scott Derrickson dan diadaptasi dari cerita pendek karya Joe Hill. Film ini dibintangi Mason Thames sebagai Finney Blake, Ethan Hawke sebagai pembunuh berantai misterius bernama The Grabber, serta Madeleine McGraw sebagai Gwen Blake yang diam-diam menjadi salah satu karakter terbaik dalam film ini.

Ceritanya berlatar Denver pada akhir 1970-an ketika seorang penculik anak yang dikenal sebagai The Grabber meneror lingkungan sekitar. Finney yang pendiam dan sering menjadi korban bully akhirnya menjadi target berikutnya, lalu terbangun di ruang bawah tanah kedap suara yang tampak mustahil untuk dijadikan tempat kabur. 

The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Di dalam ruangan itu terdapat sebuah telepon hitam tua yang sebenarnya sudah tidak tersambung ke mana pun. Masalahnya, telepon tersebut mulai berdering, dan suara di ujung sana ternyata berasal dari anak-anak yang sebelumnya sudah dibunuh oleh The Grabber.

Cerita Sederhana yang Dieksekusi Sangat Efektif

Salah satu hal yang membuat The Black Phone bekerja dengan baik adalah kesederhanaan ceritanya. Film ini tidak mencoba menciptakan dunia supernatural rumit atau mitologi berlapis-lapis, melainkan fokus pada satu anak yang berusaha keluar dari situasi paling mengerikan dalam hidupnya.

The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Premis “anak diculik lalu mendapat bantuan dari arwah korban sebelumnya” terdengar aneh di atas kertas. Namun ketika film mulai berjalan, konsep tersebut justru menjadi kekuatan utama karena setiap panggilan telepon memberi petunjuk baru sekaligus memperkuat rasa putus asa yang dirasakan Finney.

Menariknya lagi, film ini tidak terlalu tertarik menjelaskan kenapa telepon itu bisa menghubungkan dunia hidup dan mati. Scott Derrickson lebih memilih membiarkan unsur supranatural menjadi bagian misterius dari cerita, sehingga fokus penonton tetap tertuju pada upaya bertahan hidup yang semakin menegangkan.

Yang paling saya suka adalah bagaimana film terus membangun harapan kecil demi harapan kecil, lalu menghancurkannya sebelum memberi jalan baru. Kita ikut berpikir bersama Finney, mencoba menyusun semua petunjuk dari para korban untuk menemukan celah keluar yang mungkin tidak terlihat sejak awal.

Satu Villain Horor Terbaik dalam Beberapa Tahun Terakhir
The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Kalau ada satu alasan utama kenapa film ini terasa mencekam, jawabannya adalah Ethan Hawke. Sebagai The Grabber, ia berhasil menciptakan sosok pembunuh yang tidak perlu banyak tampil brutal untuk terasa menakutkan.

Topengnya menjadi elemen yang sangat ikonik. Dengan berbagai variasi ekspresi yang berubah-ubah, wajah The Grabber terasa seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dipahami, membuat setiap kemunculannya punya rasa ancaman yang berbeda.

The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Yang lebih menyeramkan lagi adalah cara Hawke memainkan karakter ini dengan tenang. Ia tidak selalu berteriak atau bertindak gila, justru ketenangan dan ketidakpastiannya membuat penonton terus merasa tidak aman setiap kali ia masuk ke dalam ruangan.

Film ini cukup pintar karena tidak memberikan terlalu banyak informasi tentang The Grabber. Kita mengetahui cukup banyak untuk takut padanya, tetapi tidak terlalu banyak sampai aura misterinya hilang.

Anak-Anak yang Justru Menjadi Kekuatan Film
The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Mason Thames sebagai Finney memberikan performa yang jauh lebih kuat dari yang mungkin orang bayangkan. Ia bukan protagonis yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan super, melainkan anak biasa yang ketakutan namun terus berusaha bertahan dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Madeleine McGraw sebagai Gwen. Karakternya memiliki kemampuan mimpi psikis yang membantu pencarian Finney, dan hampir setiap adegan Gwen berhasil mencuri perhatian karena energi, emosi, dan keberaniannya terasa sangat nyata. 

Hubungan kakak-adik antara Finney dan Gwen menjadi jantung emosional film ini. Di balik semua unsur hantu dan penculikan, cerita sebenarnya berbicara tentang keluarga yang rusak, trauma masa kecil, dan keinginan sederhana untuk melindungi orang yang kita sayangi.

Atmosfer Horor yang Tidak Bergantung pada Jumpscare
The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Scott Derrickson sebelumnya sudah membuktikan kemampuannya lewat Sinister, dan sebagian DNA film itu terasa kembali di sini. Horornya lebih banyak datang dari atmosfer, kecemasan, dan rasa bahwa bahaya bisa muncul kapan saja.

Basement tempat Finney ditahan sebenarnya sangat sederhana. Hanya sebuah ruangan kusam, kasur tua, pintu terkunci, dan telepon hitam, tetapi justru kesederhanaan itu membuat semuanya terasa lebih realistis dan lebih menghimpit secara psikologis.

Musik karya Mark Korven juga membantu memperkuat ketegangan tanpa terasa berlebihan. Suara-suara ganjil dan komposisi yang tidak nyaman terus mengingatkan bahwa harapan dan kematian berada sangat dekat satu sama lain.

Horor yang Tegang Sekaligus Punya Hati
The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

Film ini berhasil menjadi horor yang bisa dinikmati oleh penggemar horor serius maupun penonton umum. Ketegangannya konsisten, misterinya menarik, dan konflik emosionalnya cukup kuat untuk membuat kita peduli dengan nasib karakter-karakternya.

Kesuksesan film ini juga terlihat dari performa box office yang mencapai sekitar 161 juta dolar dari budget hanya 16–18 juta dolar. Angka itu menunjukkan bahwa film berhasil menemukan keseimbangan antara horor komersial dan kualitas cerita yang benar-benar mengundang penonton datang ke bioskop.

Memang ada beberapa kritik terhadap unsur supernaturalnya yang dianggap terlalu sederhana atau kurang dijelaskan. Tapi menurut saya, justru misteri itulah yang membuat The Black Phone terasa lebih menyeramkan daripada jika semuanya dijelaskan secara rinci.

The Black Phone (2021)
The Black Phone (2021) | © Universal Pictures

The Black Phone membuktikan bahwa film horor tidak harus penuh monster, gore berlebihan, atau dunia mitologi raksasa untuk menjadi efektif. Dengan ruang sempit, villain yang kuat, dan karakter yang mudah disukai, film ini berhasil menciptakan pengalaman yang menegangkan sekaligus emosional.

Kelebihannya ada pada performa Ethan Hawke yang luar biasa, chemistry kakak-adik yang kuat, atmosfer yang terus menekan, dan konsep supernatural yang unik. Kekurangannya hanya beberapa bagian cerita yang terasa terlalu sederhana bagi penonton yang mencari penjelasan mendalam tentang dunia mistis film ini. 

Kalau kamu suka horor yang membuat jantung tegang tanpa harus mengandalkan jumpscare setiap lima menit, The Black Phone adalah pilihan yang sangat aman. Dan jujur saja, setelah film selesai, suara dering telepon tua mungkin tidak akan terdengar sesederhana sebelumnya.

Logo HBO Max


The Black Phone – Movie Info

Scroll to Top