Review Film – The Conjuring: Last Rites (2025)

The Conjuring: Last Rites; Penutup Era Warren yang Emosional, Seram Secukupnya, Tapi Belum Sepenuhnya “Final Boss”

The Conjuring: Last Rites rilis di Amerika Serikat pada 5 September 2025. Film ini disutradarai Michael Chaves, dibintangi lagi oleh Vera Farmiga dan Patrick Wilson sebagai Lorraine dan Ed Warren, serta menjadi installment kesembilan dalam The Conjuring Universe.

Sebagai film yang diposisikan sebagai penutup kisah utama Ed dan Lorraine, ekspektasinya jelas tinggi banget. Apalagi film ini punya durasi 135 menit, budget sekitar US$55 juta, dan sukses besar secara komersial dengan pendapatan global sekitar US$499,3 juta, bahkan menjadi film terlaris dalam franchise ini.

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Plot The Conjuring: Last Rites mengambil inspirasi dari Smurl haunting case, sebuah kasus keluarga di West Pittston, Pennsylvania, yang menjadi pusat teror supernatural film ini.

Cerita dibuka pada 1964, ketika Ed dan Lorraine menyelidiki sebuah cermin antik di toko barang unik, lalu Lorraine mendapat penglihatan mengerikan yang berkaitan dengan entitas dan bayi yang sedang ia kandung.

Lompatan waktu ke 1986 membawa kita ke keluarga Smurl, yang pindah ke rumah baru bersama anak-anak mereka dan menerima cermin antik sebagai hadiah untuk Heather.

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Dari titik ini, rumah mereka mulai diganggu tiga sosok menyeramkan: perempuan tua, perempuan muda, dan pria dengan kapak, meski kemudian diketahui bahwa semuanya berada di bawah kendali satu demon yang lebih besar.

Yang menarik, film ini tidak hanya membuat kasus Smurl sebagai “rumah berhantu baru”. Cermin itu ternyata terhubung dengan investigasi pertama Ed dan Lorraine, sehingga plot terasa lebih personal karena iblisnya bukan sekadar mengganggu keluarga korban, tapi seperti mengejar keluarga Warren sendiri, terutama Judy Warren.

Karakter Ed dan Lorraine Masih Jadi Jantung Franchise
The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Harus diakui, alasan utama film ini tetap enak ditonton adalah Patrick Wilson dan Vera Farmiga. Mereka sudah terlalu melekat sebagai Ed dan Lorraine, sampai hubungan mereka terasa seperti pondasi emosional yang membuat semua teror lebih punya bobot.

Di film ini, Ed digambarkan mulai melemah karena kondisi jantungnya, sementara Lorraine masih dihantui kemampuan vision-nya yang selalu datang dengan harga emosional.

Dinamika mereka bukan lagi pasangan investigator yang gagah masuk rumah berhantu, tapi dua orang tua yang sadar bahwa hidup mereka sudah terlalu lama bersentuhan dengan kegelapan.

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Mia Tomlinson sebagai Judy Warren juga jadi tambahan penting. Judy bukan sekadar anak yang harus dilindungi, tapi karakter yang mewarisi sensitivitas supernatural Lorraine, dan konflik batinnya membuat film ini terasa seperti cerita keluarga, bukan cuma cerita kasus paranormal.

Keluarga Smurl Efektif, Tapi Tidak Seikonik Korban Film Awal

Keluarga Smurl menjadi pintu masuk teror utama, dan film cukup berhasil membangun rasa lelah, panik, dan putus asa mereka. Jack, Janet, anak-anak, orang tua, dan rumah yang semakin tidak aman memberi film ini struktur haunted house yang familiar untuk fans Conjuring.

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Namun, secara emosional, keluarga Smurl belum sekuat keluarga Perron di film pertama atau keluarga Hodgson di The Conjuring 2. Mereka punya momen seram dan simpati, tapi film lebih tertarik pada hubungan Warren-Judy, sehingga porsi keluarga korban sedikit terasa sebagai kendaraan plot.

Secara visual, Last Rites cukup berhasil mengembalikan vibe klasik Conjuring: rumah remang, ruang sempit, lorong gelap, objek terkutuk, dan kamera yang sabar menunggu sesuatu muncul dari sudut frame.

Cermin antik menjadi elemen visual paling kuat karena ia bukan cuma benda seram, tapi pintu simbolik menuju masa lalu Warren. 

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Beberapa set piece bekerja cukup baik, terutama adegan attic, basement, dan momen ketika Judy mulai diserang secara langsung oleh demon. Film ini memang tidak selalu memberi jumpscare paling fresh, tapi atmosfernya cukup solid untuk membuat penonton tetap waspada.

Yang paling terasa adalah film ini ingin tampil seperti “closing chapter”, jadi visualnya sering menonjolkan nostalgia franchise. Ruang artefak Warren, mirror remains, hingga cameo karakter dari film-film sebelumnya membuat Last Rites terasa seperti reuni horor untuk fans lama.

Seram, Emosional, Tapi Ritmenya Agak Panjang
The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Sebagai hiburan horor, The Conjuring: Last Rites cukup memuaskan kalau kamu datang sebagai fans Ed dan Lorraine. Film ini punya elemen rumah berhantu, possession, demon, keluarga terancam, dan investigasi spiritual yang menjadi formula utama franchise.

Namun, durasi 135 menit membuat beberapa bagian terasa agak panjang. Ada momen emosional yang penting, terutama tentang Judy dan kondisi Ed, tapi bagi penonton yang mencari horor padat tanpa jeda, pacing-nya mungkin terasa sedikit berat di tengah.

Dari sisi respons, film ini mendapat ulasan campuran, dengan kritik yang menilai ia belum sepenuhnya terasa sebagai klimaks besar, meski tetap menjaga standar spooky franchise. Penonton juga memberi respons cukup solid, sementara box office-nya menunjukkan bahwa daya tarik Conjuring Universe masih sangat kuat. 

Cermin Hancur, Judy Selamat, Era Warren Ditutup Manis
The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Ending membawa konflik ke puncak ketika demon memakai cermin untuk menyerang Judy dan memecah keluarga Warren dari dalam. Judy kerasukan, Ed mengalami episode jantung, Lorraine diserang di basement, dan semuanya terasa seperti ujian terakhir yang benar-benar diarahkan ke keluarga mereka.

Momen paling penting terjadi ketika Lorraine tidak lagi hanya menyuruh Judy menutup diri dari kemampuan psikisnya. Sebaliknya, ia meminta Judy menerima gift tersebut, dan bersama-sama mereka memakai doa Saint Michael untuk menghancurkan cermin.

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

Secara emosional, ending ini cukup kuat karena menyelesaikan arc Judy sebagai penerus sensitivitas Lorraine. Tapi sebagai final battle horor, klimaksnya masih terasa agak aman; demon-nya kalah lewat ritual dan penghancuran objek, bukan lewat konfrontasi yang benar-benar membuat franchise ini mencapai puncak teror baru. 

Film ditutup dengan keluarga Smurl yang hidup tanpa gangguan lebih lanjut selama beberapa tahun, pecahan cermin disimpan di museum occult Warren, dan Judy menikah dengan Tony. Adegan pernikahan yang menghadirkan beberapa wajah lama dari film-film sebelumnya terasa seperti goodbye letter untuk franchise utama ini. 

The Conjuring: Last Rites (2025)
The Conjuring: Last Rites (2025) | © Warner Bros

The Conjuring: Last Rites adalah penutup yang emosional, rapi, dan cukup menyeramkan, walau bukan film paling menakutkan dalam franchise. Vera Farmiga dan Patrick Wilson tetap luar biasa, Judy memberi dimensi keluarga yang segar, dan elemen cermin terkutuk membuat kasus ini terasa personal.

Sebagai final chapter Ed dan Lorraine, film ini menyentuh hati dan memuaskan fans lama, tapi kalau dinilai sebagai klimaks horor terbesar The Conjuring Universe, Last Rites masih terasa kurang “mengguncang” lebih seperti perpisahan hangat di rumah berhantu daripada mimpi buruk terakhir yang benar-benar brutal



The Conjuring: Last Rites – Movie Info

Scroll to Top