
Venom: Let There Be Carnage Bukan Horor Murni, Tapi Monster Berlendirnya Tetap Bikin Rusuh
Venom: Let There Be Carnage adalah film superhero Amerika tahun 2021 yang disutradarai Andy Serkis, ditulis Kelly Marcel, dan berasal dari cerita Tom Hardy bersama Marcel. Film ini menjadi sekuel dari Venom 2018 sekaligus film kedua dalam Sony’s Spider-Man Universe, dengan Tom Hardy kembali sebagai Eddie Brock/Venom, ditemani Michelle Williams, Naomie Harris, Reid Scott, Stephen Graham, dan Woody Harrelson.
Premisnya sederhana tapi langsung jualan: Eddie dan Venom harus menghadapi Cletus Kasady, pembunuh berantai yang berubah menjadi inang simbiot merah bernama Carnage. Film ini tayang perdana di London pada 14 September 2021, rilis di Amerika Serikat pada 1 Oktober 2021, berdurasi 97 menit, dan meraup sekitar 506,8 juta dolar dari budget sekitar 110 juta dolar.
Cerita dimulai dengan latar masa lalu Cletus Kasady dan Frances Barrison alias Shriek, dua sosok rusak yang dipisahkan sejak muda dan tumbuh menjadi pasangan kriminal penuh dendam. Di masa kini, Cletus hanya mau bicara dengan Eddie, lalu sebuah gigitan kecil membuat serpihan simbiot masuk ke tubuhnya dan melahirkan Carnage.

Film ini jelas tidak mau berlama-lama membangun mitologi ala film superhero besar. Andy Serkis sengaja membuat durasi lebih singkat agar film terasa seperti thrill ride, dan hasilnya memang cepat, walau kadang terlalu cepat sampai konflik emosionalnya terasa seperti dilewati pakai motor ngebut.
Masalah utamanya, plot Cletus dan Shriek sebenarnya punya potensi gelap yang bisa lebih nendang. Tapi karena rating PG-13 dan tempo yang super padat, sisi sadis Carnage sering terasa ditahan, seperti monster brutal yang disuruh main di taman bermain tapi tidak boleh benar-benar menghancurkan semuanya.
Hubungan Paling Aneh Eddie dan Venom Justru Jadi Nyawa Film

Daya tarik terbesar film ini tetap bukan Carnage, melainkan hubungan absurd Eddie dan Venom. Mereka ribut seperti pasangan serumah yang sudah terlalu lama saling tahan emosi: Eddie ingin hidup normal, Venom ingin makan kepala penjahat dan merasa dihargai.
Andy Serkis menyebut dinamika Eddie-Venom berada di fase “Odd Couple”, dan itu benar-benar terasa sepanjang film. Mereka bertengkar, putus, saling gengsi, lalu sadar bahwa mereka tetap butuh satu sama lain, membuat film ini anehnya terasa seperti romcom simbiot berlendir.
Tom Hardy masih total memainkan Eddie sebagai pria kacau yang hidupnya tidak pernah terlihat stabil sejak ketemu alien. Performanya fisikal, lucu, dan sengaja berlebihan, seolah Hardy sadar bahwa cara terbaik memainkan Venom adalah tidak malu terlihat konyol.
Kurang Maksimalnya Sang Carnage

Woody Harrelson sebagai Cletus Kasady membawa aura pembunuh berantai yang teatrikal dan sedikit gila, walau film tidak selalu memberi ruang cukup untuk membuatnya benar-benar menyeramkan. Carnage sendiri punya desain yang jauh lebih agresif dari Venom, dengan tubuh merah, tentakel tajam, dan gerakan yang terasa lebih liar.
Serkis membedakan Venom dan Carnage lewat gerakan serta kepribadian host masing-masing, dengan Carnage dibuat lebih off-kilter, lebih idiosinkratik, dan seperti bertarung melawan gurita yang marah. Secara visual ini menarik, tapi sayangnya banyak adegan Carnage terasa seperti belum cukup “carnage” untuk karakter yang namanya saja berarti pembantaian.
Naomie Harris sebagai Shriek memberi ancaman tambahan lewat kekuatan sonic scream yang secara natural jadi kelemahan simbiot. Sayangnya, hubungan Cletus-Shriek yang seharusnya bisa jadi kisah cinta kriminal paling toxic malah terasa seperti subplot yang dipadatkan demi segera membawa film ke final battle.
Lebih Rapi dari Film Pertama

Adegan aksi film ini cukup ramai dan lebih confident dibanding film pertama. Carnage keluar dari eksekusi mati, menghancurkan penjara, membantai penjaga, lalu bergerak seperti mimpi buruk merah yang baru lepas dari kandang.
Robert Richardson sebagai sinematografer memberi tampilan yang cukup glossy, sementara Marco Beltrami menggantikan Ludwig Göransson untuk musik filmnya. Secara teknis, film ini lebih ringkas dan punya energi lebih konsisten, tapi final battle di Grace Cathedral tetap terasa agak gelap, ramai, dan penuh CGI simbiot saling tabrak.
Kelebihan film ini adalah ia tidak terlalu banyak pura-pura serius. Begitu Venom masuk rave, lompat dari tubuh ke tubuh, dan mulai bicara soal kebebasan alien, film seperti sadar bahwa dirinya paling kuat saat menjadi aneh, loud, dan sedikit bodoh dengan percaya diri.

Let There Be Carnage jelas memeluk sisi sillier franchise ini. Rotten Tomatoes menyebut film ini memang ditujukan untuk fans chemistry Eddie dan Venom, sementara Metacritic memberi skor 49 yang menandakan respons kritik campuran.
IMDb mencatat rating sekitar 5,9 dari lebih dari 300 ribu penilaian, yang terasa cukup menggambarkan posisi filmnya. Banyak penonton menikmati action, banter, dan energi kacau film ini, tapi banyak juga yang merasa ceritanya terlalu ringan dan konflik Carnage kurang berbobot.
Buat saya, film ini lebih enak ditonton kalau kita tidak berharap Venom 2 jadi thriller psikologis gelap atau adaptasi komik yang brutal. Ini film tentang alien posesif dan jurnalis berantakan yang harus belajar berkomitmen sambil melawan pasangan pembunuh berantai berkekuatan simbiot, jadi ya, absurd-nya memang bagian dari paket.

Mid-credits scene film ini menjadi salah satu bagian paling ramai dibicarakan karena menghubungkan Eddie dan Venom dengan dunia Spider-Man MCU. Dalam adegan itu, mereka melihat J. Jonah Jameson membongkar identitas Peter Parker sebagai Spider-Man di televisi setelah dipindahkan oleh kilatan misterius.
Masalahnya, adegan ini begitu besar secara franchise sampai sedikit menenggelamkan film utamanya. Banyak orang keluar dari bioskop lebih sibuk membahas Spider-Man daripada Cletus, Shriek, atau Carnage itu sendiri.
Sekuel yang Lebih Singkat Tapi Lebih Gila

Venom: Let There Be Carnage adalah sekuel yang lebih fokus pada hal yang paling disukai penonton dari film pertama: Eddie dan Venom ribut seperti pasangan tidak sehat tapi menghibur. Film ini lebih cepat, lebih ringan, lebih campy, dan lebih sadar bahwa franchise ini memang paling hidup ketika tidak terlalu serius.
Kelebihannya ada pada Tom Hardy yang masih total, chemistry Eddie-Venom yang makin lucu, desain Carnage yang keren, dan durasi padat yang tidak membuat film terasa keteteran terlalu lama. Kekurangannya ada pada naskah tipis, Shriek yang kurang tergarap, Cletus yang belum cukup menyeramkan, serta aksi CGI yang kadang terlalu berisik.
Kalau kamu suka Venom pertama karena kekacauan dan hubungan absurd Eddie-Venom, sekuel ini memberi lebih banyak hal yang sama dalam porsi lebih cepat. Tapi kalau kamu datang berharap Carnage benar-benar brutal dan menyeramkan, film ini mungkin terasa seperti simbiot merah yang terlalu sering ditahan supaya tetap aman untuk popcorn PG-13.





