Review Film – Thor: Love and Thunder (2022)

Thor: Love and Thunder; Komedi Dewa yang Terlalu Ramai, Tapi Masih Punya Hati

Thor: Ragnarok terasa seperti reboot energi untuk karakter Thor, maka Thor: Love and Thunder terasa seperti Taika Waititi menekan tombol “lebih absurd, lebih warna-warni, lebih bercanda” sampai hampir kebablasan.

Film tahun 2022 ini disutradarai Taika Waititi, ditulis bersama Jennifer Kaytin Robinson, menjadi sekuel dari Thor: Ragnarok sekaligus film ke-29 dalam MCU.

Dengan durasi 119 menit, film ini dibintangi Chris Hemsworth, Christian Bale, Tessa Thompson, Natalie Portman, Russell Crowe, Jaimie Alexander, dan Waititi sendiri sebagai Korg.

Secara box office, film ini tetap kuat dengan pendapatan global sekitar US$760,9 juta, meskipun respons kritiknya campur aduk, terutama karena masalah tone dan visual effects.

Thor Mencari Damai, Tapi Filmnya Kebanyakan Bercanda
Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Premis film ini sebenarnya menarik: Thor sedang mencari kedamaian batin setelah kehilangan banyak hal, tetapi perjalanannya terganggu oleh kemunculan Gorr the God Butcher, pembunuh dewa yang ingin menghapus para dewa dari semesta. U

ntuk menghentikan ancaman ini, Thor bekerja sama dengan Valkyrie, Korg, dan Jane Foster yang kini memegang Mjolnir sebagai Mighty Thor. 

Masalahnya, film ini sering seperti tidak tahan membiarkan momen serius bernapas lebih dari beberapa detik. Setiap kali emosi mulai masuk, ada joke yang datang menyela, dan kadang rasanya seperti teman yang terlalu sering melucu saat kita lagi curhat sedih. 

Tiap Karakter Menonjolkan Kharismanya Masing-Masing
Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Chris Hemsworth masih sangat nyaman sebagai Thor, bahkan mungkin terlalu nyaman. Dia punya timing komedi bagus, fisik superhero yang meyakinkan, dan chemistry kuat dengan karakter lain, tapi naskah sering membuat Thor terlihat terlalu konyol untuk karakter yang sudah melewati tragedi sebesar Infinity War dan Endgame. 

Thor yang dulu berkembang dari pangeran arogan menjadi pemimpin penuh luka kini kadang terasa seperti karakter sketsa komedi kosmik. Lucu? Iya, beberapa kali berhasil banget; tapi kalau terlalu sering, wibawa sang God of Thunder jadi terkikis seperti Mjolnir kena amplas. 

Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Kembalinya Natalie Portman sebagai Jane Foster adalah salah satu keputusan terbaik film ini. Jane didiagnosis menderita kanker stadium empat, lalu Mjolnir yang hancur kembali menyatu dan memberinya kekuatan sebagai Mighty Thor, walau setiap transformasi justru melemahkan tubuh manusianya.

Secara emosional, arc Jane adalah bagian yang paling punya bobot karena ia membawa tema kematian, keberanian, dan keinginan untuk tetap berarti meski hidup sedang runtuh. Sayangnya, film yang terlalu sibuk bercanda membuat tragedi Jane kadang tidak sekuat potensi sebenarnya, padahal bahan dramanya bisa bikin penonton benar-benar hancur kalau diberi ruang lebih.

Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Christian Bale sebagai Gorr the God Butcher adalah highlight besar. Dari prolognya saja, kita langsung paham kenapa Gorr membenci para dewa: ia kehilangan putrinya, lalu dikecewakan oleh dewa yang ternyata sombong, egois, dan tidak peduli pada penderitaan umatnya. 

Bale memberi aura menyeramkan, rapuh, dan tragis sekaligus, membuat Gorr terasa seperti villain yang seharusnya bisa masuk jajaran antagonis MCU paling kuat. Tapi ironisnya, “God Butcher” ini tidak terlalu banyak terlihat benar-benar membantai dewa di layar, jadi reputasinya lebih sering kita dengar daripada kita rasakan.

Tessa Thompson sebagai Valkyrie tetap punya presence kuat, terutama sebagai pemimpin New Asgard yang kini harus menghadapi sisi birokrasi kerajaan, pariwisata, dan diplomasi. Tapi setelah punya setup menarik sebagai King Valkyrie, karakternya tidak benar-benar mendapat konflik personal sebesar yang layak ia dapatkan. 

Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Korg masih lucu sebagai narator dan comic relief, sedangkan Russell Crowe sebagai Zeus tampil sangat teatrikal dengan aksen Yunani yang sengaja dibuat konyol. Adegan Omnipotence City memang menghibur, tapi juga mempertegas masalah film ini: dunia dewanya luas banget, namun sering dipakai lebih sebagai panggung komedi daripada eksplorasi mitologi yang tajam.

Visual Warna-warni, Tapi Tidak Selalu Mulus

Secara desain, Love and Thunder punya beberapa momen visual yang keren, terutama saat masuk ke Shadow Realm yang hampir hitam-putih dan membuat Gorr terasa jauh lebih mengancam. Kontras antara dunia penuh warna Thor dan ruang gelap Gorr sebenarnya bisa menjadi bahasa visual yang kuat.

Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Namun kualitas visual effects film ini juga banyak dikritik, bahkan menjadi salah satu poin lemah yang sering dibahas. Untuk film dengan budget sekitar US$250 juta, beberapa efek terasa tidak semulus standar Marvel terbaik, sehingga beberapa momen yang harusnya megah malah terlihat agak “belum matang”. 

Taika Waititi jelas masih membawa gaya komedi absurd yang membuat Ragnarok begitu segar. Ada banyak momen lucu, dari kecanggungan Thor dengan Jane, kecemburuan Stormbreaker terhadap Mjolnir, sampai kambing teriak yang entah kenapa jadi joke berulang.

Tapi komedi di sini terasa lebih berisik daripada presisi. Ketika hampir semua karakter dan situasi dibuat lucu, ancaman Gorr dan penyakit Jane kadang kehilangan efek emosional, seolah film ini takut terlalu sedih padahal kisahnya justru butuh kesedihan itu.

Ending Manis, Tapi Agak Terburu-buru
Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Klimaks film membawa Thor, Jane, dan Gorr ke hadapan Eternity, tempat Gorr bisa mengajukan satu permintaan. Alih-alih memusnahkan semua dewa, Gorr akhirnya memilih menghidupkan kembali putrinya, Love, setelah melihat cinta Thor dan Jane serta menyadari kesalahannya. 

Jane meninggal dalam pelukan Thor dan kemudian disambut Heimdall di Valhalla, sementara Thor mengadopsi Love dan melanjutkan petualangan sebagai duo “Love and Thunder”. Ending ini manis dan punya hati, tapi terasa agak cepat untuk menutup konflik sebesar trauma Gorr, kematian Jane, dan perjalanan batin Thor. 

Thor Love and Thunder (2022)
Thor Love and Thunder (2022) | © Marvel Studios

Thor: Love and Thunder adalah film Marvel yang penuh energi, warna, dan komedi, tapi juga terlalu sering merusak emosinya sendiri dengan joke yang datang bertubi-tubi. Chris Hemsworth tetap menyenangkan, Natalie Portman memberi bobot emosional, dan Christian Bale hampir mencuri film ini sepenuhnya, tetapi tone yang tidak stabil membuat hasil akhirnya terasa kurang seimbang.

Film ini tetap fun untuk ditonton, terutama buat fans Thor era Ragnarok, tapi kalau kamu berharap kisah Gorr dan Mighty Thor digarap lebih gelap, tragis, dan dalam, siap-siap merasa film ini seperti dewa petir yang terlalu sibuk bikin punchline sampai lupa menyambar hati penonton.



Thor: Love and Thunder – Movie Info

Scroll to Top