
Hokum; Horor Folk yang Atmosfernya Lebih Tajam dari Ceritanya
Kalau kamu suka horor yang mengandalkan atmosfer tempat, lorong sunyi, hotel tua, mitos lokal, dan karakter utama yang jelas menyimpan luka batin, Hokum punya semua bahan itu.
Film horor supernatural tahun 2026 ini ditulis dan disutradarai oleh Damian McCarthy, dibintangi Adam Scott sebagai Ohm Bauman, serta rilis di Amerika Serikat pada 1 Mei 2026 setelah premiere di SXSW pada 14 Maret 2026.
Dengan durasi sekitar 107 menit, Hokum mengikuti seorang penulis Amerika yang datang ke hotel terpencil di Irlandia untuk menaburkan abu orang tuanya, tanpa sadar bahwa tempat itu punya sejarah mengerikan dan rumor tentang penyihir yang menghuni honeymoon suite.
Film ini mendapat respons cukup positif, menghasilkan sekitar US$24 juta dari budget sekitar US$5 juta, jadi secara skala kecil, performanya lumayan menggigit.

Cerita berpusat pada Ohm Bauman, penulis Amerika yang sedang kesulitan menyelesaikan akhir dari trilogi suksesnya, Conquistador. Setelah melihat bayangan seperti hantu ibunya di rumah, Ohm pergi ke The Bilberry Woods Hotel di pedalaman Irlandia, tempat orang tuanya dulu berbulan madu, untuk menaburkan abu mereka.
Premis ini sebenarnya kuat banget karena Ohm bukan cuma datang ke tempat asing, tapi juga membawa beban masa lalu. Sayangnya, konflik batin Ohm terasa bisa digali lebih dalam lagi, karena film sering lebih sibuk memperlihatkan teror hotel berhantu daripada benar-benar membedah kenapa luka batin Ohm membuat semua kengerian itu personal.
Hotel ini dihuni karakter-karakter lokal seperti Cob, Mal, Fergal, Fiona, Alby, dan Jerry, yang masing-masing punya fungsi dalam membuka misteri tempat tersebut. Ohm mendengar kisah tentang Cailleach, penyihir lokal yang menculik anak-anak dan membawa mereka ke dunia bawah, lalu perlahan cerita rakyat itu terasa tidak lagi sekadar dongeng pengantar tidur.
Ada Potensi Besar yang Kurang Diperah

Salah satu hal paling menarik dari Hokum adalah masa lalu Ohm, terutama trauma terkait kematian ibunya. Film kemudian membuka bahwa Ohm pernah tidak sengaja menembak ibunya dengan senjata ayahnya saat masih kecil, sebuah fakta yang seharusnya bisa jadi pusat horor psikologis yang super menyakitkan.
Masalahnya, film tidak selalu memberi ruang cukup untuk membuat trauma ini benar-benar “menghantui” penonton. Kita memang melihat Ohm dihantui penglihatan, hotel, penyihir, dan memori, tapi hubungan antara rasa bersalah Ohm dan teror supernatural kadang terasa belum sekuat yang dijanjikan sejak awal.
Akibatnya, beberapa bagian film terasa seperti “hotel berhantu dengan karakter utama bermasalah”, bukan “karakter bermasalah yang dihancurkan oleh hotel berhantu”. Bedanya tipis, tapi untuk horor psikologis, perbedaan itu penting banget.
Adam Scott Kuat, Sisanya Mudah Menguap

Adam Scott cukup baik sebagai lead. Ia membawa Ohm sebagai pria arogan, sinis, menyebalkan, tapi tetap punya sisi rapuh yang pelan-pelan muncul ketika hotel mulai merobek pertahanan emosionalnya.
Scott berhasil membuat Ohm terasa tidak mudah disukai, tapi tetap cukup menarik untuk diikuti. Karakter ini kasar ke staf hotel, meremehkan orang lain, dan terlihat seperti orang yang memakai kesuksesan sebagai baju zirah untuk menutup rasa bersalah.
Sayangnya, karakter pendukung tidak semuanya berkesan. Fiona punya posisi penting karena ia menyelamatkan Ohm lalu menghilang, Jerry memberi warna eksentrik lewat cerita dan kebiasaannya, sementara Mal dan staff lain membantu menebalkan misteri, tapi setelah film selesai, banyak dari mereka terasa mudah dilupakan.
Hotelnya adalah Senjata Horor Utama

Kalau ada satu hal yang wajib diacungi jempol dari Hokum, itu adalah setting tempatnya. Bilberry Woods Hotel terasa seperti karakter tersendiri: tua, sepi, lembap, penuh lorong, punya kamar terlarang, dan berdiri di tengah lanskap Irlandia yang indah tapi dingin.
Film ini sangat pintar memakai ruang. Honeymoon suite yang terkunci, bar hotel, hutan, basement, dan lorong-lorong gelap menjadi alat utama untuk membangun rasa tidak aman.
Secara visual, Hokum mengandalkan bayangan, negative space, framing yang menahan informasi, dan rasa bahwa ada sesuatu di luar pandangan kamera. Ini bukan horor yang pamer monster setiap lima menit, tapi horor yang membuat kita curiga pada pintu tertutup dan sudut ruangan kosong.
Tipis, Klasik, dan Kadang Terlalu Datar

Elemen horor di Hokum sebenarnya cukup tipis kalau kamu mengharapkan teror agresif. Film ini lebih dekat ke horor klasik dengan bumbu hiperbolik: legenda penyihir, hotel tua, kamar terlarang, penglihatan masa lalu, dan sosok misterius yang muncul dalam gelap.
Pendekatan ini bisa bekerja untuk penonton yang suka slow-burn. Tapi buat yang ingin horor intens dengan banyak ledakan jumpscare atau adegan berdarah, Hokum mungkin terasa datar cukup lama.
Kengerian terbaik film ini justru muncul saat ruang dan atmosfer mengambil alih cerita. Saat Ohm mulai menyusuri tempat yang tidak seharusnya ia masuki, film akhirnya terasa lebih hidup, seperti hotel itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk menelan dia bulat-bulat.
Lambat di Tengah, Lebih Seru Menjelang Akhir

Sebagian besar film terasa datar karena misterinya dibuka pelan-pelan dan tidak semua karakter cukup kuat untuk menjaga tensi tetap naik. Ada rasa penasaran, tapi tidak selalu ada dorongan emosional besar yang membuat kita benar-benar takut kehilangan seseorang.
Namun menjelang akhir, ketika fakta-fakta mulai terbuka, Hokum jadi jauh lebih menarik. Pertanyaan besarnya berubah: apakah semua teror ini hanya kutukan hotel, atau sebenarnya ada hubungan langsung dengan rasa bersalah Ohm dan kejadian mengerikan yang sudah dibuka sejak awal?
Di titik ini, film akhirnya menemukan tenaga. Semua simbol, cerita Cailleach, honeymoon suite, Fiona, Jerry, dan trauma Ohm mulai terasa saling menyambung, meskipun tidak semuanya dijelaskan dengan super rapi.

Ending Hokum menjadi bagian yang paling memuaskan karena film akhirnya mengikat horor supernatural dengan trauma pribadi Ohm. Konfrontasi terakhir membawa Ohm masuk lebih dalam ke area hotel yang selama ini dilarang, menghadapkan dia pada chained horrors, bayangan ibunya, dan sosok penyihir yang mengejarnya.
Secara konsep, ending ini cukup kuat karena memberikan rasa penebusan dan self-forgiveness. Tapi lagi-lagi, dampaknya mungkin akan lebih besar kalau konflik batin Ohm dibangun lebih tajam sejak tengah film.
Meski begitu, ending berhasil membuat film terasa lebih utuh. Bukan final horor paling brutal tahun ini, tapi cukup punya rasa gothic, folk horror, dan tragedi personal yang meninggalkan gema setelah kredit berjalan.

Hokum adalah horor supernatural yang unggul di atmosfer, setting hotel, dan performa Adam Scott, tapi kurang maksimal dalam menggali konflik batin karakter utamanya. Teror hotel berhantunya menarik, visualnya kuat, dan ending-nya cukup seru, namun beberapa bagian tengah terasa datar dan karakter pendukungnya tidak terlalu membekas.
Cocok buat kamu yang suka horor klasik, folk horror, hotel tua, penyihir, dan cerita trauma yang pelan-pelan terbuka; tapi kalau kamu mencari horor yang langsung menghajar dari awal sampai akhir, Hokum mungkin terasa lebih seperti kabut dingin yang merayap lambat daripada teriakan keras di tengah malam.




