Review Film – Enola Holmes 3 (2026)

Enola Holmes 3; Pernikahan yang Harusnya Romantis Malah Jadi Misi Penyelamatan

Enola Holmes 3 adalah film mystery Netflix tahun 2026 yang disutradarai Philip Barantini, ditulis Jack Thorne, dan diadaptasi dari karakter dalam seri buku The Enola Holmes Mysteries karya Nancy Springer. Millie Bobby Brown kembali sebagai Enola, ditemani Louis Partridge sebagai Tewkesbury, Henry Cavill sebagai Sherlock Holmes, Helena Bonham Carter sebagai Eudoria, Himesh Patel sebagai Dr. Watson, dan Sharon Duncan-Brewster sebagai Moriarty.

Ceritanya membawa Enola dan Tewkesbury ke Malta untuk pernikahan mereka, tetapi suasana romantis langsung rusak ketika Sherlock diculik dan Enola harus memilih antara altar atau misi penyelamatan. Netflix merilis film ini pada 1 Juli 2026, dengan durasi sekitar 108 menit menurut sumber Wikipedia dan sekitar 105 menit dalam beberapa daftar platform review. 

Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Film ini terasa seperti fase “dewasa muda” dari franchise Enola, karena konfliknya bukan cuma soal memecahkan teka-teki, tapi juga soal identitas, pernikahan, kolonialisme, dan pilihan hidup. Masalahnya, ketika film mencoba terlihat lebih besar dan lebih serius, sebagian pesona ringan yang dulu bikin dua film pertamanya begitu gampang dicintai ikut sedikit terkikis.

Kasusnya Lebih Gelap, Tapi Tidak Selalu Lebih Tajam

Misteri kali ini berpusat pada hilangnya Sherlock, jejak nama “Rathe,” rahasia lama di Malta, dan kembalinya Moriarty dengan identitas baru yang jelas membuat permainan jadi lebih berbahaya. Ada pula lapisan konspirasi sejarah yang menyentuh pendudukan Inggris, emas Afghanistan, perjuangan kemerdekaan Malta, dan manipulasi politik yang seharusnya bisa membuat film ini terasa jauh lebih menggigit.

Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Sayangnya, plot yang kelihatannya padat ini tidak selalu punya ritme penyelidikan yang memuaskan. Beberapa clue terasa datang terlalu praktis, beberapa twist mudah ditebak, dan misterinya kadang lebih sibuk terlihat “rumit” daripada benar-benar membuat kita ikut mikir seperti detektif.

Gagasan Enola yang bimbang antara menjadi istri dan tetap menjadi detektif sebenarnya menarik, terutama karena franchise ini sejak awal bicara soal kebebasan perempuan. Namun film belum sepenuhnya menggali dilema itu sampai dalam, sehingga konflik personalnya kadang terasa seperti hiasan emosional di pinggir kasus utama. 

Millie Bobby Brown Masih Nyala, Tapi Franchise Mulai Lelah
Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Millie Bobby Brown tetap menjadi alasan utama film ini hidup, karena energi Enola yang cerdas, cepat, dan suka bicara langsung ke penonton masih terasa menyenangkan. Bedanya, Enola kali ini terlihat lebih matang, sedikit lebih berat, dan tidak lagi sekadar gadis pemberontak yang kabur dari aturan keluarga.

Louis Partridge sebagai Tewkesbury punya chemistry yang tetap manis dengan Brown, terutama karena hubungan mereka sekarang masuk fase serius yang bukan cuma saling tatap imut. Tapi jujur saja, film ini kadang memperlakukan Tewkesbury lebih sebagai simbol “kehidupan normal” Enola daripada karakter yang benar-benar punya ruang berkembang sendiri.

Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Henry Cavill sebagai Sherlock masih punya aura tenang dan karismatik, tapi karena ia diculik, porsinya tidak sebesar yang mungkin diharapkan banyak penonton. Himesh Patel sebagai Dr. Watson justru jadi tambahan paling segar, karena dinamika Watson dan Enola memberi warna baru yang cukup lucu, hangat, dan lebih hidup daripada beberapa bagian misterinya.

Sharon Duncan-Brewster sebagai Moriarty tampil kuat sebagai ancaman yang lebih dingin dan manipulatif, sementara Helena Bonham Carter tetap memberi percikan liar khas Eudoria. Sayangnya, beberapa karakter pendukung terasa seperti cameo wajib franchise, muncul untuk menyapa fans lalu cepat terdorong ke pinggir cerita.

Malta Cantik Banget, Bahkan Saat Ceritanya Tersandung
Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Latar Malta memberi film ini napas visual yang segar setelah dua film sebelumnya lebih melekat dengan nuansa Inggris. Jalanan Valletta, bukit, gereja, pesta pernikahan, dan interior era Victoria membuat Enola Holmes 3 terlihat lebih mewah, hangat, dan sinematik.

Philip Barantini membawa sentuhan yang lebih dewasa lewat pergerakan kamera dan staging yang terasa lebih serius dibanding film sebelumnya. Ia tetap mempertahankan editing cepat dan visual puzzle khas Enola, tetapi kali ini ada usaha membuat dunia Enola terasa lebih berbahaya dan tidak terlalu kartunis.

Kostum dan production design menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini, terutama gaun pengantin Enola dan detail lokasi yang membuat Malta terlihat seperti arena misteri romantis. Namun visual yang cantik tidak selalu bisa menutupi fakta bahwa teka-tekinya kurang punya “gigitan” emosional yang sama kuatnya.

Masih Enak Ditonton, Tapi Tidak Lagi Semagis Dulu
Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Enola Holmes 3 masih sangat mudah ditonton sebagai film Netflix sore-malam yang ringan, stylish, dan cukup ramai. Ada romansa, chase scene, humor, teka-teki, keluarga Holmes, dan sedikit komentar sosial yang membuat filmnya tetap punya paket hiburan komplet.

Masalahnya, film ini mulai menunjukkan tanda franchise fatigue, karena formula bicara ke kamera, kasus sosial, aksi cepat, dan konflik identitas Enola mulai terasa familiar. Beberapa ulasan awal juga menyorot bahwa film ini lebih lemah dari dua pendahulunya, terutama karena pacing yang goyah dan mystery yang kurang kuat.

Enola Masih Menawan, Tapi Kasusnya Butuh Otak yang Lebih Licik
Enola Holmes 3 (2026)
Enola Holmes 3 (2026) | © Netflix

Enola Holmes 3 tetap punya banyak hal menyenangkan: Millie Bobby Brown yang charming, chemistry romantis yang manis, Malta yang indah, dan tambahan Watson yang membuat dinamika cerita lebih segar. Film ini juga berani membawa Enola ke fase hidup baru, saat kebebasan tidak lagi cuma soal kabur dari rumah, tapi memilih siapa dirinya saat cinta, keluarga, dan tanggung jawab datang bersamaan.

Kelemahannya cukup terasa pada misteri yang kurang tajam, penjelasan politik yang terasa setengah matang, serta beberapa karakter yang hanya lewat tanpa dampak besar. Ini masih film yang fun, tapi bukan lagi petualangan yang terasa secerdas dan sebertenaga dua film sebelumnya.

Kalau kamu sudah sayang dengan Enola, film ini tetap layak ditonton karena karakternya masih punya pesona yang sulit ditolak. Tapi kalau Netflix ingin lanjut ke film keempat, Enola butuh kasus yang lebih liar, lebih emosional, dan lebih pintar agar franchise ini tidak cuma bergantung pada charm Millie Bobby Brown.



Enola Holmes 3 – Movie Info

Scroll to Top