
Minions & Monsters; Ketika Minions Bukan Lagi Henchmen, Tapi Pembuat Film Chaos
Minions & Monsters adalah film animasi komedi Amerika tahun 2026 dari Illumination dan Universal Pictures, disutradarai Pierre Coffin dengan naskah dari Coffin bersama Brian Lynch. Film ini menjadi installment ketiga dalam seri prekuel Minions dan film ketujuh dalam franchise Despicable Me, dengan Pierre Coffin kembali mengisi suara para Minions bersama Trey Parker, Allison Janney, Christoph Waltz, Jesse Eisenberg, Jeff Bridges, Zoey Deutch, Bobby Moynihan, dan Phil LaMarr.
Ceritanya mengambil latar tahun 1927, jauh sebelum para Minions bertemu Gru, dan mengikuti kelompok Minions berbeda yang masuk ke dunia Old Hollywood. Mereka awalnya mencari master jahat baru, tapi malah terseret ke industri film, jadi bintang silent movie, lalu punya ambisi absurd untuk membuat film monster mereka sendiri.

Film ini rilis di Amerika Serikat pada 1 Juli 2026 setelah premiere di Annecy International Animation Film Festival pada 21 Juni 2026. Dengan durasi 90 menit, budget sekitar 85 juta dolar, dan awal box office global sekitar 31 juta dolar, film ini masih berada di fase awal perjalanannya saat review ini ditulis.
Film dalam Film yang Ternyata Ide Brilian
Konsep “film dalam film” jadi senjata paling segar dari Minions & Monsters, karena para Minions bukan cuma bikin kacau cerita orang lain, tapi ikut mengacaukan proses pembuatan filmnya sendiri. Mereka berubah dari makhluk kuning pencari bos jahat menjadi bintang silent movie, korban transisi ke film bersuara, lalu pembuat monster movie yang jelas tidak punya SOP produksi aman.

Bagian awalnya terasa seperti love letter untuk sejarah sinema, lengkap dengan vibe silent comedy, Old Hollywood, penghormatan ke slapstick klasik, dan referensi ke era awal perfilman. Beberapa ulasan menyorot bahwa film ini menarik karena menghubungkan gaya komedi fisik Minions dengan akar sinema lawas seperti Charlie Chaplin dan Buster Keaton.
Cerita mulai makin liar ketika monster benar-benar masuk ke permainan dan para Minions harus memperbaiki kekacauan yang mereka ciptakan sendiri. Di titik ini film agak kembali ke formula franchise, yaitu kejar-kejaran, ledakan visual, makhluk aneh, dan masalah besar yang diselesaikan dengan kebodohan kolektif.
Kelemahannya, paruh kedua tidak setajam ide awal yang super pintar. Setelah setup Hollywood-nya begitu kreatif, bagian penyelamatan dunia terasa lebih familiar dan sedikit turun dari “wah ini beda banget” menjadi “oke, ini Minions seperti biasa, tapi tetap lucu.”
James, Henry, dan Geng Kuning yang Akhirnya Punya Ambisi Seni

James dan Henry menjadi pusat cerita, bukan Kevin, Stuart, atau Bob seperti yang dikenal dari film solo sebelumnya. James digambarkan lebih artistik dan punya passion menggambar, sementara Henry menjadi sahabat yang mendukungnya, jadi hubungan mereka memberi film ini rasa hangat di balik kekacauan banana-level.
Ed juga hadir sebagai bagian dari trio utama dan memberi dinamika baru dalam kelompok Minions ini. Beberapa review menilai hubungan James, Henry, dan Ed membuat film terasa lebih punya fokus emosional dibanding dua film solo Minions sebelumnya yang sering terasa seperti kumpulan sketsa panjang.

Christoph Waltz sebagai Max, Jeff Bridges sebagai Frank dan Elwood, serta Jesse Eisenberg dan Zoey Deutch memberi warna tambahan lewat karakter manusia dan makhluk aneh yang mengisi dunia Hollywood versi film ini. Voice cast-nya cukup ramai, tapi film tetap paling hidup saat para Minions menguasai layar dengan bahasa ngaco, tubuh lentur, dan kebiasaan membuat masalah dari hal paling sederhana.
Yang menarik, film ini tidak bergantung pada Gru, anak-anak, atau drama keluarga Despicable Me. Jadi kamu tidak perlu khawatir kalau belum menonton empat film Despicable Me atau dua film Minions, karena konflik utamanya berdiri sendiri sebagai petualangan absurd tentang Minions, Hollywood, dan monster.
Old Hollywood, Monster, dan Slapstick yang Berantakan dengan Niat

Gaya visual Minions & Monsters terasa berbeda karena film ini bermain dengan sejarah sinema, mulai dari nuansa silent era, studio film klasik, sampai referensi visual ke monster movie lama. Film bahkan membuka atmosfernya dengan sentuhan nostalgia logo studio dan gaya animasi lawas, menunjukkan bahwa ia bukan sekadar sekuel tempelan, tapi benar-benar ingin bermain-main dengan bahasa film.
Animasi Illumination tetap cerah, lentur, dan sangat ekspresif, terutama ketika tubuh para Minions dipakai sebagai alat slapstick tanpa rem. Adegan mereka menghancurkan set, salah paham dengan kamera, dan memperlakukan produksi film seperti arena bermain jadi sumber komedi visual yang gampang masuk tanpa perlu dialog panjang.

Monster-monster yang muncul memberi tekstur baru, walau tidak semuanya terasa seikonik potensi premisnya. Desain makhluk seperti Goomi, Phillips, dan Howard memberi rasa kartun monster yang lucu sekaligus kacau, cocok dengan dunia yang memang tidak pernah meminta logika realistis.
Kekuatan terbesar visualnya ada pada cara film membuat Old Hollywood terasa seperti taman bermain sejarah film. Buat yang menangkap referensinya, ini seperti kelas sinema yang disamarkan jadi komedi kuning berisik; buat yang tidak menangkap, tetap ada cukup banyak jatuh, tabrak, teriak, dan kekacauan untuk dinikmati.
Absurd, Ramai, dan Anehnya Lebih Segar dari Dugaan

Minions & Monsters terasa jauh lebih segar dibanding dua film solo Minions sebelumnya karena punya ide utama yang lebih jelas. Ambisi para Minions untuk membuat film monster memberi arah komedi yang konkret, bukan sekadar jalan-jalan lintas sejarah sambil mencari bos jahat.
Humornya tetap sangat Minions: konyol, fisik, cepat, dan kadang sengaja bodoh sampai kamu menyerah untuk melawan. Kalau kamu tipe yang mudah capek dengan bahasa Minionese, beberapa bagian mungkin tetap terasa berisik, tapi durasi 90 menit membuat film tidak terlalu panjang untuk ditahan.

Respons awalnya termasuk positif, bahkan beberapa catatan menyebut ini sebagai salah satu entry paling menyenangkan dalam franchise. Rotten Tomatoes menampilkan sambutan kuat dengan konsensus bahwa film ini membawa kekacauan Minions ke sejarah Hollywood secara charming, sementara IMDb mencatat rating sekitar 6,5 dari ribuan penilaian awal.
Film ini cocok ditonton ramai-ramai karena komedinya tidak menuntut pengetahuan franchise yang berat. Yang perlu kamu bawa cuma kesiapan melihat makhluk kuning ini mengubah pembuatan film menjadi bencana produksi paling lucu, lengkap dengan monster hijau yang ikut menambah level kekacauan.
Minions Akhirnya Punya Film yang Benar-Benar Punya Ide

Film ini adalah kejutan kecil yang menyenangkan karena berani membuat para Minions masuk ke dunia film klasik dan menjadikan mereka bagian dari sejarah sinema versi paling ngawur. Premis film dalam film membuatnya terasa lebih cerdas, lebih playful, dan lebih punya identitas dibanding petualangan solo Minions yang sebelumnya sering hanya mengandalkan chaos.
Kelemahannya ada pada paruh kedua yang sedikit kembali ke jalur aman franchise dan beberapa lelucon yang tetap bisa terasa repetitif. Namun energi visual, konsep Old Hollywood, hubungan James-Henry, dan absurditas monster movie membuat film ini tetap punya rasa baru yang cukup kuat.
Kalau kamu ingin animasi ringan yang penuh warna, banyak slapstick, dan punya bonus referensi film klasik, ini pilihan yang sangat aman. Minions & Monsters mungkin bukan film animasi paling emosional tahun ini, tapi sebagai komedi absurd tentang makhluk kuning yang mencoba menaklukkan Hollywood, film ini sukses bikin kacau dengan gaya.




