
Evil Dead Burn, Keluarga Berkumpul, Neraka Ikut Datang
Evil Dead Burn adalah film supernatural horror Amerika tahun 2026 yang disutradarai Sébastien Vaniček, ditulis bersama Florent Bernard, dan diproduksi Rob Tapert serta Sam Raimi. Film ini menjadi standalone sequel dari Evil Dead 2013 dan Evil Dead Rise 2023, sekaligus installment keenam dalam franchise Evil Dead.
Ceritanya berpusat pada Alice, seorang perempuan yang baru kehilangan suaminya dan datang ke rumah keluarga mendiang untuk mencari sedikit ketenangan. Tapi tentu saja ini Evil Dead, jadi ketenangan itu langsung dibantai ketika satu per satu anggota keluarga berubah menjadi Deadite dan rumah duka berubah jadi arena mutilasi emosional.

Film ini dibintangi Souheila Yacoub sebagai Alice, Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, dan Maude Davey sebagai Polly. Rilis teater Amerika Serikat dijadwalkan pada 10 Juli 2026 dengan durasi sekitar 109 menit, dan respons awal kritikus cenderung positif meski tidak semuanya sepakat film ini masuk jajaran terbaik franchise.
Tidak Perlu Ribet Lore, Yang Penting Siap Dibantai
Kamu tidak perlu terlalu detail mengikuti cerita atau menghafal hubungan film ini dengan semua installment sebelumnya. Evil Dead Burn memang berdiri cukup mandiri, jadi yang paling penting adalah masuk bioskop dengan mental siap dihajar gore, kesurupan, dan kekacauan keluarga yang semakin lama semakin tidak manusiawi.

Cerita dimulai dari Joseph yang meneliti peninggalan keluarganya tentang Naturom Demonto, Deadites, dan Kandarian Dagger yang dipercaya bisa menghancurkan mereka. Penemuan itu memicu rantai kejadian brutal, mulai dari kemunculan Deadite Jessica, kematian William, sampai reuni keluarga yang berubah jadi neraka penuh tubuh rusak.
Kekuatan plotnya bukan pada misteri rumit atau twist besar, melainkan pada eskalasi yang semakin sadis tanpa memberi ruang banyak untuk menenangkan diri. Dari rumah, mobil, peti kremasi, basement, atap, sampai lokasi konstruksi, film ini seperti terus mencari tempat baru untuk membuktikan bahwa tubuh manusia di dunia Evil Dead memang cuma bahan dekorasi berdarah.
Kelemahannya, kalau kamu mencari karakterisasi super dalam atau mitologi baru yang rapi, film ini mungkin terasa terlalu langsung dan ganas. Tapi buat penonton yang datang untuk “orang kesurupan melakukan hal paling tidak masuk akal dengan tubuh orang lain,” film ini paham betul tugas kotornya.
Sedikit Orang, Lebih Banyak Waktu untuk Menderita

Jumlah karakter yang tidak terlalu banyak justru membuat film ini lebih fokus. Kita tidak sibuk mengingat terlalu banyak nama, karena perhatian utama langsung tertuju pada siapa yang akan kerasukan berikutnya dan dengan cara sekejam apa mereka akan dihancurkan.
Alice menjadi pusat emosional sekaligus tubuh terakhir yang dipaksa bertahan dalam kekacauan ini. Souheila Yacoub membawa rasa trauma, marah, dan survival mode yang cukup kuat, terutama karena Alice bukan hanya melawan Deadite, tapi juga warisan kekerasan dari pernikahannya sendiri.

Joseph, Thya, Susan, Edgar, dan Polly memberi variasi korban sekaligus ancaman, karena setiap orang bisa berubah dari keluarga menjadi monster dalam hitungan adegan. Polly juga menarik karena menghadirkan sedikit elemen komedi gelap, tapi jangan tertipu, bahkan karakter yang tampak “lucu” pun bisa berubah jadi sumber mimpi buruk.
Masalahnya, sebagian karakter memang lebih terasa seperti bahan bakar set-piece daripada manusia yang benar-benar lengkap. Namun dalam konteks film ini, itu bukan dosa besar, karena Evil Dead Burn memang lebih tertarik menguji batas rasa jijik dan panik daripada membuat drama keluarga panjang seperti serial prestige.
Darah Tumpah, Tubuh Robek, dan Tidak Ada Mode Aman

Gore adalah jualan paling depan film ini, dan dari laporan review awal, Evil Dead Burn disebut sebagai salah satu installment paling brutal dalam franchise. Banyak kritikus menyorot intensitas kekerasannya yang hampir tanpa jeda, bahkan ada yang menggambarkannya sebagai entry paling jahat, paling graphic, dan paling savage dibanding film-film sebelumnya.
Tumpahan darah, potongan tubuh, luka terbuka, tubuh terbakar, kepala dihancurkan, dan momen mutilasi ekstrem jadi santapan utama sepanjang film. Ini bukan horor yang mengetuk pintu pelan-pelan, ini horor yang menendang pintu, menyeretmu ke lantai, lalu bertanya kenapa kamu masih punya denyut nadi.

Vaniček membawa energi keras yang terasa lebih dekat ke ekstremitas horor modern daripada slapstick klasik Evil Dead II atau kegilaan kartunis Army of Darkness. Jadi kalau kamu berharap “groovy” ala Ash Williams, mungkin kamu akan sedikit kaget karena film ini lebih sering memilih rasa sakit daripada lelucon fisik.
Kritik yang muncul juga masuk akal, karena kekerasan yang terlalu intens bisa membuat sebagian penonton mati rasa. Ketika semua hal terus berdarah dan berteriak, efek kejutnya kadang berubah jadi stamina test: bukan lagi “takut,” tapi “kuat nggak nonton ini sampai akhir?”
Rumah Lapuk yang Jadi Mesin Penggiling Mental

Setting rumah keluarga terpencil memberi film ini ruang yang sempit, busuk, dan sangat cocok untuk teror possession. Debu, kayu tua, basement, kamar mandi, atap, dan area terbakar membuat visualnya terasa seperti rumah ini sejak awal memang dibangun untuk jadi tempat orang mati dengan cara menjijikkan.
Philip Lozano sebagai sinematografer membantu menciptakan tekstur gelap yang tidak terlalu bersih, sementara musik dari Xavier Caux, Douglas Cavanna, dan Double Danger menambah rasa psikologis serta panik. Soundtrack resminya bahkan dirilis sebelum film tayang luas, mempertegas bahwa atmosfer suara jadi bagian penting dari pengalaman brutal ini.
Kekuatan visualnya ada pada cara film membuat rumah biasa terasa seperti ruang penyiksaan supernatural. Setiap pintu, tangga, sudut kamar, dan suara retakan seperti memberi sinyal bahwa sesuatu akan muncul, menggigit, menusuk, atau merobek.
Jantung Diperas Sampai Detik Akhir, Tidak Peduli Kamu Siap atau Tidak

Tidak ada celah untuk bernapas lama di film ini. Setiap detik terasa seperti ujian kecil untuk jantung, emosi, dan kewarasan, karena serangan Deadite datang cepat dan jarang memberi jeda yang benar-benar menenangkan.
IMDb mencatat rating awal sekitar 6,9, sementara Metacritic memberi skor 58 yang menunjukkan respons campuran ke positif. Rotten Tomatoes mencatat sekitar 77% ulasan positif dari puluhan kritik, menandakan film ini cukup diterima meski jelas bukan tipe horor yang akan nyaman untuk semua orang.

Film ini akan sangat memuaskan buat yang mencari horor gore tanpa basa-basi dan tidak keberatan dengan kekerasan ekstrem yang terus menumpuk. Tapi kalau kamu tipe yang lebih suka horor atmosferik pelan, misteri psikologis, atau karakter drama yang panjang, Evil Dead Burn mungkin terasa seperti diseret masuk mesin penggiling selama hampir dua jam.
Evil Dead Burn bukan film yang minta kamu memahami semua detail franchise, melainkan film yang menantang kamu bertahan dari satu rangkaian kesadisan ke rangkaian berikutnya. Ia tidak terlalu peduli membangun napas panjang, karena misinya jelas: membuat Deadites kembali terasa seperti ancaman yang kotor, jahat, dan sangat tidak berbelas kasih.

Kelebihannya ada pada gore yang total, pacing agresif, rumah yang terasa menekan, dan karakter sedikit yang membuat fokus teror tidak pecah. Kekurangannya ada pada cerita yang sederhana, beberapa karakter yang kurang dalam, dan intensitas brutal yang bisa membuat sebagian penonton lelah sebelum klimaks.
Kalau kamu ingin Evil Dead yang kembali penuh darah, tubuh remuk, kesurupan ganas, dan final yang masih sempat mempermainkan napas terakhir penonton, ini wajib masuk daftar. Ini bukan entry paling lucu, bukan paling pintar, tapi mungkin salah satu yang paling kejam.




