
Comic 8 Revolution; Santet Kabinet Minatnya Comeback Kacau Malah Kacau Beneran
Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t adalah film komedi aksi horor Indonesia tahun 2025 yang disutradarai Fajar Bustomi dan ditulis Adhitya Mulya. Film ini menjadi bagian keempat dari waralaba Comic 8, setelah Comic 8 serta dua film Comic 8: Casino Kings, dan dirilis di bioskop Indonesia pada 24 Desember 2025 dengan durasi 111 menit.
Ceritanya mengikuti Ki Bagus dan Ni Gendis, pasangan dukun sakti yang ingin membalas dendam kepada pemerintah lewat santet terhadap presiden dan kabinet. Pemerintah lalu menugaskan Badan Intelijen Republik atau BIR, dipimpin Pakde Indro dan Oki, untuk merekrut delapan agen baru yang menyamar sebagai asisten rumah tangga di kediaman para dukun tersebut.
Premis Santet Politik yang Sebenarnya Lumayan Menggoda

Secara ide dasar, film ini punya konsep yang cukup menarik: santet, kabinet, intelijen, agen undercover, dan parodi politik yang dibungkus komedi. Di atas kertas, ini bisa jadi comeback Comic 8 yang segar karena tidak lagi bermain di area perampokan atau kasino, melainkan masuk ke dunia klenik dan satire kekuasaan.
Masalahnya, premis yang terdengar ramai itu tidak otomatis menjadi film yang solid. Eksekusi tiap babak terasa berantakan, seperti terlalu banyak ide dilempar sekaligus tanpa ada pusat cerita yang benar-benar kuat untuk menahan semuanya.
Terlalu Banyak Fokus, Terlalu Banyak Selipan

Alur film ini seperti ingin menjadi komedi intelijen, misteri horor, parodi politik, film aksi, dan showcase komika baru dalam satu paket. Hasilnya, banyak bagian terasa saling sikut, bukan saling melengkapi, sampai penonton bisa kehilangan arah tentang apa yang sebenarnya ingin dikejar film ini.
Beberapa sumber mencatat film ini memang membawa kombinasi komedi, aksi, horor, fantasi, dan satire politik. Namun justru campuran itu menjadi pedang bermata dua, karena ketika semua elemen ingin tampil dominan, tidak ada satu pun yang terasa benar-benar matang
Komedi Terlalu Personal, Tak Universal

Masalah paling terasa ada di komedinya, yang sering tampak seperti dipaksakan agar setiap cast mendapat jatah punchline. Banyak lelucon terasa segmented, terutama untuk penonton yang memang mengenal persona stand-up para pemainnya, tapi kurang mengena untuk penonton umum yang datang hanya ingin film komedi rapi.
Montase bahkan menyorot bahwa penonton yang bukan penggemar stand-up comedy kemungkinan akan kesulitan mengikuti latar tokoh dan memahami siapa saja yang berperan di film ini. Itu cukup menjelaskan kenapa komedinya terasa sangat bergantung pada familiaritas, bukan pada situasi sinematik yang bisa dinikmati siapa saja.
Nama Banyak, Tapi Tidak Semua Siap Jadi Tulang Punggung Film

Film ini membawa Andre Taulany sebagai Ki Bagus, Hesti Purwadinata sebagai Ni Gendis, Indro Warkop sebagai Pakde Indro, Oki Rengga sebagai Oki, serta deretan komika baru hasil audisi terbuka. Di satu sisi, konsep regenerasi ini niatnya bagus karena Comic 8 memang selalu dekat dengan kultur stand-up dan ensemble komedian.
Namun di sisi lain, deretan cast yang hampir semuanya datang dari dunia komedi justru menjadi boomerang. Tidak semua punya kekuatan akting layar lebar yang cukup, sehingga karakter terasa seperti kumpulan persona panggung yang dipindahkan ke film, bukan tokoh fiksi yang hidup dalam cerita.
Tegang Horor Tipis, Tawa Ikut Tipis

Film ini mengemas diri sebagai komedi aksi horor dengan elemen santet, ritual mistis, dan gangguan supranatural. Secara tema lokal, santet dan dukun sebenarnya bisa jadi sumber horor-komedi yang kaya banget, apalagi budaya mistis Indonesia punya ruang visual dan humor yang luas.
Sayangnya, unsur horor dan misterinya tidak cukup kuat sebagai tulang belakang. Ketika film mencoba bermain detektif dan mystery horror, elemen penentunya terasa kurang presisi, sehingga vibes-nya lebih mirip sketsa panjang tentang agen kacau daripada investigasi klenik yang benar-benar seru.
Produksi Ramai, Terlihat “Main-Main Sendiri”

Secara produksi, film ini punya skala yang lumayan karena melibatkan Falcon Pictures, proses audisi, pelatihan fisik, karantina, dan syuting di beberapa lokasi termasuk wilayah kepulauan. Jadi jelas ada usaha untuk membuat Comic 8 Revolution terlihat besar dan bukan sekadar reuni komedi kecil-kecilan.
Tetapi dalam pengalaman menonton, film ini kadang terasa seperti proyek yang terlalu percaya bahwa nama Comic 8 dan parade komika sudah cukup. Ada kesan “yang penting ramai” lebih dominan daripada “yang penting rapi,” sehingga beberapa adegan tampak tidak terlalu peduli apakah semua lelucon, aksi, dan plot benar-benar sampai ke penonton.
Perbandingan dengan Comic 8 Lama: Nafasnya Dipaksa Hidup

Film Comic 8 pertama punya daya tarik karena lahir di momen stand-up comedy sedang naik besar di Indonesia, sehingga kumpulan komika dalam satu film terasa fresh. Sekuel baru ini mencoba meneruskan napas itu, tapi konteksnya sudah berubah dan formula “rame-rame komika masuk misi absurd” tidak lagi otomatis terasa baru.
IDN Times menilai film ini membawa ensemble komedian lintas generasi dan mencoba menggabungkan nostalgia dengan wajah baru. Namun buat saya, justru nostalgia itu terasa seperti beban, karena film terlalu sibuk membuktikan dirinya masih Comic 8 sampai lupa membangun fondasi komedi yang benar-benar kuat.
Santetnya Niat Menyerang Kabinet, Tapi Filmnya Kena Balik
Sebagai hiburan ringan, film ini masih mungkin membuat sebagian penonton tertawa, terutama yang sudah kenal para komikanya. Tapi untuk ukuran film komedi bioskop yang membawa nama besar waralaba, hasilnya terasa kurang terarah dan terlalu sempit jangkauan humornya.

Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t punya premis lokal yang menarik, cast populer, dan niat menghidupkan kembali franchise yang dulu punya tempat sendiri di komedi Indonesia. Namun naskah yang tidak fokus, komedi yang terlalu personal, karakter baru yang kurang kuat, dan campuran genre yang kacau membuat film ini sulit benar-benar menyala.
Kelebihannya ada pada ide santet politik, beberapa nama senior yang masih punya timing komedi, dan energi absurd yang sesekali muncul. Kekurangannya jauh lebih dominan: plot tidak karuan, lelucon dipaksakan, mystery horror tipis, serta regenerasi cast yang belum cukup siap memikul nama Comic 8.
Kalau kamu penggemar berat komika yang tampil di film ini, mungkin masih ada beberapa momen yang bisa dinikmati. Tapi kalau kamu berharap comeback Comic 8 yang segar, rapi, dan lucunya universal, Santet K4bin3t terasa seperti ritual yang salah mantra.





