Review Film – Venom: The Last Dance (2024)

Venom: The Last Dance yang Lebih Mirip Road Trip Alien Berantakan

Venom: The Last Dance adalah film superhero tahun 2024 yang ditulis dan disutradarai Kelly Marcel, dengan cerita dari Marcel bersama Tom Hardy. Film ini menjadi sekuel dari Venom (2018) dan Venom: Let There Be Carnage (2021), sekaligus film kelima dalam Sony’s Spider-Man Universe.

Tom Hardy kembali sebagai Eddie Brock dan Venom, ditemani Chiwetel Ejiofor, Juno Temple, Rhys Ifans, Stephen Graham, Peggy Lu, Alanna Ubach, Clark Backo, dan Andy Serkis sebagai Knull. Film ini rilis di Amerika Serikat pada 25 Oktober 2024, berdurasi 109 menit, dan meraup sekitar 478,9 juta dolar dari budget 110–120 juta dolar. 

The Last Dance tetap membawa elemen dark fantasy, alien monster, body horror ringan, dan makhluk pemburu yang desainnya cukup mengancam. Jadi rasa “ngeri”-nya bukan dari setan, tapi dari ide bahwa Eddie dan Venom sedang diburu dari dua dunia sekaligus, manusia dan alien.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Cerita dimulai setelah Eddie dan Venom kembali dari semesta MCU ke dunia mereka sendiri, masih dalam status buronan setelah kekacauan film sebelumnya. Eddie ingin pergi ke New York untuk membersihkan namanya, tetapi hidup mereka makin rumit ketika Xenophage, makhluk pemburu dari dunia simbiot, mulai mengejar Codex yang ada di tubuh mereka. 

Plot Codex ini adalah pusat cerita, karena Codex terbentuk ketika simbiot membangkitkan host-nya dari kematian, dan benda itu bisa membebaskan Knull dari penjara kosmiknya. Secara konsep, ini terdengar besar banget, tapi eksekusinya kadang terasa seperti film tiba-tiba ingin jadi saga cosmic Marvel padahal kekuatan utama Venom justru ada di hubungan Eddie dan alien cerewet di kepalanya.

Bagian road trip Eddie dan Venom sebenarnya jauh lebih menyenangkan daripada plot Area 51 dan eksperimen Imperium. Ketika film membiarkan mereka kabur, bertengkar, menumpang keluarga hippie, dan mencoba bertahan hidup dengan gaya absurd, The Last Dance terasa hidup lagi.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Masalahnya, film terlalu banyak memasukkan elemen baru seperti Rex Strickland, Dr. Teddy Paine, Knull, Xenophage, Patrick Mulligan, dan symbiote lain. Akibatnya, alur terasa padat tapi tidak selalu dalam, seperti pesta perpisahan yang mengundang terlalu banyak orang sampai tamu utamanya hampir ketutup.

Hubungan Toxic Paling Menghibur di Sonyverse

Tom Hardy tetap menjadi alasan utama film ini masih enak ditonton walau ceritanya sering oleng. Ia memainkan Eddie sebagai laki-laki capek, panik, nyasar, dan tetap harus meladeni Venom yang tingkahnya seperti partner serumah super posesif tapi loyal.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Hubungan Eddie dan Venom masih jadi jantung film, terutama karena banter mereka tetap lucu dan aneh dengan cara yang khas. Bahkan beberapa kritik yang tidak terlalu suka filmnya tetap mengakui bahwa chemistry Hardy dengan “dirinya sendiri” sebagai Venom adalah bagian paling kuat dari trilogi ini.

Sayangnya, film justru tidak selalu memberi cukup waktu untuk menikmati dinamika itu. Ada terlalu banyak misi penyelamatan dunia, monster kosmik, dan subplot lab yang membuat hubungan Eddie-Venom kadang terasa seperti disela oleh film lain yang ingin jauh lebih serius.

Karakter Baru Banyak Nama
Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Chiwetel Ejiofor sebagai Rex Strickland tampil sebagai figur militer yang memburu Venom dan mengawasi operasi Imperium di Area 51. Ia cukup tegas dan punya screen presence, tapi karakternya terasa seperti template tentara keras kepala yang baru sadar semuanya tidak hitam-putih di akhir cerita.

Juno Temple sebagai Dr. Teddy Paine punya backstory trauma yang menarik, terutama soal kematian saudaranya akibat sambaran petir dan kondisi lengan kirinya. Namun film tidak benar-benar memberi ruang cukup agar konflik personal Teddy terasa sekuat pengorbanan besar yang terjadi di klimaks.

Rhys Ifans sebagai Martin Moon dan keluarga hippie alien enthusiast justru memberi warna ringan yang cukup menyenangkan. Mereka membuat film terasa seperti road movie aneh, dan bagian ini terasa lebih dekat dengan energi Venom yang santai, bodoh, tapi fun.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Andy Serkis sebagai Knull terdengar seperti setup besar untuk masa depan, bukan villain yang benar-benar dipakai penuh di film ini. Kehadirannya keren secara konsep, tapi lebih terasa seperti trailer panjang untuk ancaman berikutnya daripada antagonis utama yang benar-benar mengguncang cerita Eddie dan Venom.

Aksi dan Visual Terlalu Banyak CGI

Xenophage menjadi ancaman fisik utama, dan desainnya cukup agresif sebagai predator alien yang memburu Eddie serta Venom. Adegan pengejaran pesawat, padang gurun Nevada, Las Vegas, dan Area 51 memberi film skala lebih besar dibanding dua film sebelumnya.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Final battle di Area 51 menghadirkan banyak symbiote baru yang dilepaskan untuk melawan Xenophage. Momen ini jelas dibuat untuk fans komik yang ingin melihat variasi simbiot, tetapi secara visual kadang terasa terlalu ramai, seperti gelombang CGI warna-warni yang saling pukul tanpa cukup waktu untuk mengenali mereka. 

Meski begitu, beberapa review menilai aksi film ini meningkat dan tidak sepenuhnya tenggelam dalam kekacauan CGI yang tidak terbaca. Ketika film sedang fokus pada Venom versus monster, bukan pada penjelasan Codex, adegannya masih cukup memuaskan sebagai tontonan blockbuster popcorn.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Humor film ini masih khas Venom: childish, absurd, kadang receh, tapi sering berhasil karena Tom Hardy bermain total tanpa malu. Ada rasa bahwa trilogi ini tidak pernah benar-benar ingin menjadi superhero elegan, melainkan buddy comedy alien yang kebetulan punya ancaman akhir dunia. 

Bagian emosional terbesar tentu datang dari keputusan Venom mengorbankan diri demi menghancurkan Codex dan menyelamatkan Eddie. Adegan itu seharusnya sangat menghantam, dan sebagian penonton memang merasa ending-nya menyentuh, tetapi build-up sebelumnya kurang cukup tenang untuk membuat perpisahan ini terasa sekuat potensinya.

Film mencoba memberi Eddie momen penutup di Statue of Liberty sebagai tribute untuk keinginan Venom. Secara ide, ini manis banget, tapi secara eksekusi terasa sedikit terburu-buru, seperti film sadar baru di akhir bahwa hubungan Eddie-Venom adalah alasan utama kita peduli.

Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Venom: The Last Dance mendapat respons campuran, dengan Rotten Tomatoes mencatat 40% ulasan positif dari 219 kritik dan konsensus bahwa Tom Hardy tetap sangat watchable, tetapi filmnya runtuh oleh ambisi tone yang terlalu rumit. Metacritic memberi skor 41 dari 100 berdasarkan 47 review, menandakan respons mixed or average.

IMDb mencatat rating sekitar 6,0 dari lebih dari 159 ribu penilaian, sedangkan CinemaScore memberi nilai B–, terendah dalam trilogi Venom. Angka-angka itu terasa pas karena film ini memang bukan bencana total, tapi juga bukan penutup yang benar-benar mantap. 

Meski begitu, secara finansial film ini tetap sukses dengan total global 478,9 juta dolar. Ini memang film dengan pendapatan terendah dalam trilogi, tetapi tetap membuktikan bahwa Eddie dan Venom punya basis penonton yang kuat meski kualitas naskahnya sering diperdebatkan.

Perpisahan yang Manis Tapi Sedikit Berantakan
Venom: The Last Dance (2024)
Venom: The Last Dance (2024) | © Sony Pictures

Venom: The Last Dance adalah penutup trilogi yang punya hati, tapi juga punya plot yang sering terlalu sibuk sendiri. Film ini paling kuat saat menjadi cerita Eddie dan Venom kabur bersama, saling ejek, saling butuh, dan akhirnya sadar bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar host dan simbiot.

Kelebihannya ada pada Tom Hardy, humor absurd, chemistry Eddie-Venom, beberapa aksi monster yang seru, dan ending yang cukup emosional. Kekurangannya ada pada Knull yang terasa seperti setup, subplot Area 51 yang terlalu penuh, karakter baru yang kurang nempel, dan final yang kurang rapi untuk sebuah “last dance.” 

Kalau kamu sudah suka dua film sebelumnya, film ini tetap wajib ditonton karena memberikan penutup emosional untuk duo paling kacau di dunia superhero modern. Tapi kalau kamu berharap trilogi ini tiba-tiba jadi cerita Marvel yang solid, terstruktur, dan megah, The Last Dance mungkin akan terasa seperti Venom menari sambil menginjak skripnya sendiri.

Logo Apple TV


Venom: The Last Dance – Movie Info

Scroll to Top