Review Film – The Old Guard 2 (2025)

The Old Guard 2, Sekuel Pasukan Abadi Terlalu Sibuk Membuka Lore Sampai Lupa Menggigit

The Old Guard 2 adalah film superhero action fantasy Netflix yang dirilis pada 2 Juli 2025, dan menjadi sekuel langsung dari The Old Guard yang tayang pada 2020. Film ini disutradarai Victoria Mahoney, dengan naskah dari Greg Rucka dan Sarah L. Walker, berdasarkan komik karya Rucka dan Leandro Fernández. 

Charlize Theron kembali sebagai Andy, ditemani KiKi Layne, Matthias Schoenaerts, Marwan Kenzari, Luca Marinelli, Veronica Ngô, dan Chiwetel Ejiofor yang mengulang peran mereka dari film pertama. Dua nama baru, Henry Golding sebagai Tuah dan Uma Thurman sebagai Discord, masuk untuk memperluas mitologi para manusia abadi ini. 

Film dibuka dengan penyelamatan Quỳnh dari iron maiden di dasar laut setelah ia terperangkap selama 500 tahun. Pembukaan ini langsung menyambung luka terbesar dari film pertama, karena Quỳnh bukan sekadar karakter comeback, tapi trauma hidup yang kembali menghantui Andy.

The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

Enam bulan setelah Booker dihukum hidup dalam kesendirian, Andy memimpin Joe, Nicky, Nile, dan Copley dalam misi mengambil cache senjata di Split, Kroasia. Dari situ cerita melebar ke Paris, Seoul, Rimini, Roma, hingga fasilitas nuklir di South Tangerang, membuat skala film terasa jauh lebih global dibanding pendahulunya. 

Premisnya sebenarnya menarik: Andy kehilangan keabadian, Quỳnh kembali dengan dendam, Nile punya posisi penting sebagai immortal terakhir, dan Discord muncul sebagai immortal pertama yang menyimpan agenda besar. Masalahnya, film terlalu sering menjelaskan aturan baru tentang keabadian sampai ritmenya terasa seperti kelas sejarah makhluk immortal, bukan action thriller yang mengalir natural.

Banyak Ide Bagus, Tapi Terlalu Terasa Seperti Jembatan ke Film Ketiga
The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

The Old Guard 2 ingin menjawab pertanyaan besar tentang asal-usul immortal, cara kekuatan mereka berpindah, dan kenapa Nile dianggap berbeda. Tapi karena terlalu banyak hal ingin dikenalkan sekaligus, film terasa lebih seperti setup panjang untuk konflik berikutnya daripada cerita yang benar-benar tuntas.

Konflik Discord sebagai immortal pertama punya potensi besar karena ia bisa menjadi ancaman yang selevel dengan Andy secara usia, pengalaman, dan luka eksistensial. Sayangnya, pemanfaatannya belum maksimal, karena Discord lebih terasa seperti teaser villain besar daripada karakter yang benar-benar menguasai film.

Bagian nuclear facility di South Tangerang seharusnya menjadi klimaks besar dengan taruhan jutaan nyawa. Namun karena film masih sibuk menyiapkan cliffhanger, ketegangannya tidak meledak sekuat yang diharapkan, meski konsepnya jelas punya potensi aksi yang gila.

Lagi-Lagi Pusat di Charlize Theron, Tapi Timnya Kurang Dapat Ruang
The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

Charlize Theron masih menjadi pusat gravitasi film ini sebagai Andy, pemimpin abadi yang kini justru harus menghadapi kerapuhan setelah kehilangan kemampuan menyembuhkan diri. Ia tetap membawa aura lelah, keras, dan penuh luka, tetapi naskah kali ini tidak memberi ruang emosional sekuat film pertama untuk benar-benar menggali perubahan statusnya.

KiKi Layne sebagai Nile punya peran penting karena film mengungkap bahwa ia adalah immortal terakhir dengan kemampuan yang bisa menghilangkan atau memindahkan keabadian orang lain. Sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya menjadi drama karakter yang tajam, karena banyak momennya lebih terasa sebagai informasi plot. 

The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

Joe dan Nicky tetap menjadi pasangan paling hangat dalam tim, dan chemistry Marwan Kenzari serta Luca Marinelli masih terasa natural. Namun film ini terlalu sibuk memperluas lore sehingga hubungan mereka tidak mendapat porsi emosional sebanyak yang membuat film pertama terasa lebih manusiawi.

Booker mendapat momen cukup penting lewat pengorbanannya, terutama saat ia mentransfer keabadian kembali kepada Andy. Adegan ini seharusnya menghantam keras, tapi karena ritme film bergerak cepat, dampaknya tidak sedalam tragedi yang sebenarnya bisa dibangun dari karakter ini.

Aksi Tidak Selincah Harapan
The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

Sebagai film action Netflix, The Old Guard 2 tetap menyediakan pertarungan jarak dekat, baku hantam, senjata tajam, dan misi lintas negara. Adegan aksinya cukup rapi dan Barry Ackroyd membuat kamera tetap terasa kasar serta grounded, sesuai DNA film pertama.

Namun aksi di sini tidak selalu punya bobot emosional yang sama seperti film pertama. Banyak set-piece terasa hadir karena film action butuh aksi, bukan karena setiap pukulan memperdalam konflik karakter.

Beberapa ulasan menilai film ini kekurangan fighting yang benar-benar memuaskan dan terlalu banyak dialog eksposisi. Komentar itu masuk akal, karena untuk cerita tentang warrior abadi, film ini kadang terasa lebih banyak membahas aturan keabadian daripada membiarkan mereka bertarung dengan rasa sakit berabad-abad.

Dunia Lebih Luas, Emosi Justru Lebih Tipis
The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

Film ini tampak lebih besar dengan lokasi seperti Italia, Korea Selatan, Kroasia, dan Indonesia sebagai bagian dari plot. Syuting utamanya dilakukan di Italia, termasuk Cinecittà Studios, lalu ada tambahan produksi di Inggris dan fotografi tambahan pada 2024.

Skala global membuat dunia The Old Guard terasa lebih luas dan membuka peluang franchise yang besar. Tetapi konsekuensinya, film kehilangan fokus intim yang dulu membuat penonton peduli pada para immortal sebagai manusia yang kelelahan, bukan sekadar unit tempur fantasy. 

Musik dari Steffen Thum dan Ruth Barrett memberi nuansa modern action yang cukup efektif. Tetapi secara keseluruhan, film ini belum memiliki momen audiovisual yang sangat melekat seperti sensasi emosional Quỳnh tenggelam di film pertama.

Sekuel yang Punya Bahan Kuat, Tapi Terlalu Sibuk Menyiapkan Meja
The Old Guard 2 (2025)
The Old Guard 2 (2025) | © Netflix

The Old Guard 2 bukan kegagalan total, tapi jelas belum mencapai kekuatan emosional dan kejutan film pertama. Film ini punya ide besar tentang asal-usul keabadian, trauma Quỳnh, mortalitas Andy, dan peran Nile sebagai immortal terakhir, namun terlalu banyak yang terasa seperti fondasi untuk cerita berikutnya.

Kelebihannya ada pada cast yang masih karismatik, dunia yang makin luas, beberapa aksi solid, dan konflik Andy-Quỳnh yang punya potensi emosional besar. Kekurangannya ada pada pacing yang kurang mantap, lore yang terlalu padat, villain yang belum maksimal, dan ending cliffhanger yang terasa lebih menjual janji daripada membayar perjalanan film ini.

Kalau The Old Guard terasa seperti film action fantasy yang punya hati, The Old Guard 2 terasa seperti bab tengah yang sibuk menjelaskan peta dunia. Masih layak ditonton untuk fans, tapi sebagai sekuel action Netflix, film ini butuh lebih banyak luka, lebih banyak emosi, dan lebih banyak aksi yang benar-benar menggigit.



The Old Guard 2 – Movie Info

Scroll to Top