Review Film – The Devil Wears Prada (2006)

The Devil Wears Prada; Fashion, Drama, dan Aura Boss Galak yang Ikonik Banget

Kalau ada film yang sukses bikin orang takut sama bos, pengin makeover besar-besaran, sekaligus pengin kerja di kantor media yang super glamor walau toxic-nya bikin migrain, jawabannya ya The Devil Wears Prada. Film rilisan 2006 ini disutradarai David Frankel, ditulis Aline Brosh McKenna, dan diangkat dari novel Lauren Weisberger tahun 2003.

Pemerannya juga bukan main: Meryl Streep, Anne Hathaway, Stanley Tucci, Emily Blunt, Simon Baker, sampai Adrian Grenier ikut ngisi layar dengan chemistry yang masih enak ditonton bahkan sekarang. 

Secara cerita, film ini ngikutin Andy Sachs, lulusan Northwestern yang pengin jadi jurnalis serius, tapi malah nyasar jadi asisten junior untuk Miranda Priestly, editor-in-chief majalah fashion Runway yang terkenal super dingin, perfeksionis, dan bisa bikin ruangan beku cuma dengan satu lirikan. 

The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

Film ini tayang perdana di LA Film Festival pada 22 Juni 2006, lalu rilis luas di AS pada 30 Juni 2006, dan akhirnya jadi hit besar dengan pendapatan global sekitar US$326 juta dari budget sekitar US$35 – 41 juta. 

Simpel, tapi ngena karena relate sama hidup kerja

Secara garis besar, The Devil Wears Prada punya premis yang sebenarnya sederhana: cewek pintar masuk ke dunia kerja yang bukan dunianya, lalu perlahan berubah demi bertahan. Andy awalnya nggak ngerti fashion, nggak terlalu peduli penampilan, dan ngerasa kerja di Runway cuma batu loncatan buat karier jurnalismenya.

Tapi makin lama dia masuk lebih dalam ke dunia Miranda, makin jelas kalau pekerjaan itu pelan-pelan menggerus hidup pribadinya juga. Nah, kekuatan film ini justru ada di situ.

The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

Dia nggak perlu plot yang ribet untuk bikin kita invested. Konfliknya sangat “orang dewasa muda banget”: kerja keras sampai lupa diri, ngerasa harus membuktikan diri, lalu pelan-pelan bingung apakah harga yang dibayar masih masuk akal atau nggak. Buat penonton usia 15–40 tahun, tema ini masih relevan banget.

Mau kamu anak kuliahan yang takut dunia kerja, first-jobber yang lagi burnout, atau orang yang udah pernah punya bos model “satu napasmu salah aja bisa ditegur”, film ini bakal terasa dekat.

Meryl Streep itu jahatnya elegan, dan itu mematikan

Alasan film ini naik kelas dari “drama kantor biasa” jadi “ikon budaya pop” adalah Meryl Streep. Di Wikipedia disebutkan bahwa film ini mendapat ulasan positif terutama karena performa Streep, sampai dia menang Golden Globe untuk Best Actress – Musical or Comedy dan masuk nominasi Oscar, BAFTA, SAG, serta Critics’ Choice. Itu bukan pujian kosong, karena Miranda Priestly versi Streep memang mengerikan sekaligus magnetik.

The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

Yang bikin Miranda seram bukan karena dia teriak-teriak terus, tapi justru karena dia bisa merendahkan orang dengan volume suara stabil dan wajah hampir tanpa emosi. Itu level galak yang sophisticated, ya ampun.

Anne Hathaway juga solid banget sebagai Andy; dia berhasil bikin transformasi karakter ini terasa natural, dari awkward jadi lebih “masuk” ke dunia fashion, tanpa kehilangan sisi manusiawinya. Emily Blunt sebagai Emily jelas scene-stealer, dan Stanley Tucci sebagai Nigel? Lembut, tajam, dan classy; pokoknya penyelamat emosional film ini.

Chemistry karakter sinis, lucu, dan kadang nyesek juga

Salah satu hal yang bikin film ini awet ditonton ulang adalah hubungan antar karakternya enak banget. Andy vs Miranda itu jelas jadi poros utama, tapi film ini juga hidup karena ada Emily yang sinisnya level dewa, Nigel yang jadi mentor, dan lingkaran pertemanan Andy yang makin lama terasa makin menjauh. 

The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

Jadi film ini bukan sekadar “girl gets makeover”, tapi juga soal perubahan identitas dan harga yang harus dibayar ketika kamu mulai menang dalam sistem yang dari awal bikin kamu nggak nyaman. 

Dan yang menarik, film ini nggak bikin semuanya hitam-putih. Miranda memang galak banget, tapi filmnya tetap kasih dia kedalaman. Andy juga bukan korban suci sepanjang waktu; ada momen ketika dia ikut tenggelam dalam ritme dunia Runway dan mulai bikin pilihan yang bikin hubungan pribadinya berantakan. 

Jadi meskipun gaya film ini ringan dan penuh kilau, isinya tetap punya konflik yang cukup pahit buat bikin kita mikir, “eh iya juga ya, sukses itu kadang mahal banget.”

Visual & fashion vibe tahu cara tampil mahal
The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

Mari kita bahas bagian yang bikin banyak orang jatuh cinta dari awal: fashion-nya. Film ini memang berdiri di dunia mode, dan dia paham betul kalau visual itu harus menjual mimpi.

Dari wardrobe Andy yang berubah drastis, kantor Runway yang terlihat eksklusif, sampai keseluruhan atmosfer New York yang super polished, semuanya dirancang untuk bikin penonton merasa sedang ngintip dunia yang sulit dijangkau tapi susah berhenti dilihat. 

Lucunya, walau banyak tokoh fashion dunia awalnya enggan terlibat karena takut bikin Anna Wintour tersinggung; yang disebut luas sebagai inspirasi Miranda Priestly; film ini tetap berhasil mempertahankan aura fashion elit yang meyakinkan. Bahkan kemudian Wintour sendiri disebut akhirnya menyukai film ini, terutama performa Streep.

Jadi ya, kalau film ini terasa seperti editorial majalah yang hidup, itu memang karena dari awal ia dibangun buat terlihat mahal, dingin, dan menggoda. 

The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

Film ini termasuk daftar wajib tonton sih. Alasannya simpel: temanya masih relevan, performa pemainnya kuat, dan ritmenya ringan tapi tetap punya isi. Ini bukan film yang terlalu berat sampai bikin capek, tapi juga nggak kosong. Jadi bisa dinikmati sebagai hiburan glamor, atau dibaca sebagai kritik soal dunia kerja, pencitraan, dan kompromi pribadi.

Dan kalau ngomongin dampak, film ini jelas bukan sekadar sukses sesaat. Selain box office-nya besar, The Devil Wears Prada juga terus hidup di budaya pop, sering dibahas ulang, dan bahkan punya sekuel resmi yang dirilis pada 2026.

Itu menunjukkan bahwa film pertamanya benar-benar meninggalkan jejak, bukan cuma karena quotes atau outfit, tapi karena karakternya memorable banget. 

The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) | © 20th Century Fox

The Devil Wears Prada adalah film yang kelihatannya glossy dan ringan, tapi diam-diam cukup tajam dalam ngomongin ambisi, identitas, dan dunia kerja yang bisa mengubah orang pelan-pelan. Film ini menang besar di akting khususnya Meryl Streep yang benar-benar absurd bagusnya dan punya chemistry karakter yang bikin semua dramanya terasa hidup.

Apakah ada kekurangannya? Ada. Beberapa konflik personal Andy memang terasa lebih tipis dibanding tekanan kantor yang jadi pusat cerita, jadi emotional payoff-nya nggak selalu sedalam yang bisa diharapkan. Tapi secara keseluruhan, ini tetap film yang stylish, cerdas, dan sangat gampang disukai.



The Devil Wears Prada – Movie Info

Scroll to Top