
Black Phone 2; Sekuel yang Tidak Memilih Jalan Aman
Setelah kesuksesan The Black Phone, banyak orang bertanya satu hal yang sama: bagaimana membuat sekuel ketika villain utamanya sudah mati? Ternyata Scott Derrickson tidak mencoba mencari jawaban realistis, melainkan langsung menabrak pintu supernatural dan membawa The Grabber kembali dengan cara yang lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Black Phone 2 kembali menghadirkan Mason Thames sebagai Finney Blake, Madeleine McGraw sebagai Gwen Blake, Jeremy Davies sebagai ayah mereka, dan Ethan Hawke sebagai The Grabber. Film ini tayang pada Oktober 2025 dan melanjutkan kisah empat tahun setelah peristiwa film pertama, ketika trauma ternyata belum benar-benar selesai.

Kalau film pertama terasa seperti perpaduan thriller penculikan dan horor supernatural, film kedua ini bergerak jauh lebih berani ke wilayah mimpi buruk, dunia arwah, kutukan masa lalu, dan teror yang terasa dekat dengan A Nightmare on Elm Street.
Cerita Teleponnya Masih Berdering, dan Itu Kabar Buruk
Empat tahun setelah berhasil lolos dari The Grabber, Finney masih hidup dengan trauma yang belum sembuh sepenuhnya. Sementara itu Gwen mulai mengalami mimpi aneh yang memperlihatkan pembunuhan lama di sebuah lokasi bernama Alpine Lake Camp, sebuah tempat yang ternyata memiliki hubungan gelap dengan masa lalu keluarganya dan juga The Grabber.

Karena penglihatan tersebut terasa semakin nyata, Gwen meyakinkan Finney dan Ernesto untuk pergi ke lokasi itu. Di sinilah film mulai berubah dari cerita penculikan sederhana menjadi misteri supernatural bersalju yang dipenuhi roh, mimpi, pembunuhan lama, dan koneksi mengerikan antara masa lalu dan masa kini.
Saat badai salju mengisolasi mereka dari dunia luar, sebuah telepon umum mati mulai berdering lagi. Kali ini yang berbicara bukan korban The Grabber, melainkan The Grabber sendiri yang kini berbicara dari kematian dan tidak menyembunyikan niat balas dendamnya terhadap Finney.
Konsep ini sebenarnya terdengar gila, tapi justru itulah yang membuat film terasa menarik. Derrickson sadar bahwa mengulang formula film pertama akan terasa aman namun membosankan, sehingga ia memilih jalur yang lebih aneh, lebih supranatural, dan lebih ambisius.
Karakter Gwen Malah Jadi Bintang Utama

Kalau di film pertama Finney adalah pusat cerita, kali ini Gwen terasa lebih dominan. Madeleine McGraw tampil luar biasa dan membuktikan bahwa karakternya bukan sekadar tokoh pendukung dengan kemampuan psikis, melainkan jantung emosional sekaligus motor utama cerita.
Gwen membawa cerita bergerak lewat mimpi, visi, dan keberaniannya menghadapi sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan secara logis. Ada rasa bahwa film ini lebih percaya pada Gwen dibanding siapa pun, dan keputusan itu ternyata cukup berhasil karena karakter ini memang punya karisma kuat sejak film pertama.

Finney sendiri berkembang menjadi karakter yang lebih marah, lebih tertutup, dan lebih rusak secara emosional. Mason Thames berhasil menunjukkan bahwa menjadi korban yang selamat tidak otomatis membuat hidup kembali normal, justru terkadang meninggalkan luka yang lebih panjang.
Demián Bichir sebagai Armando atau Mando menjadi tambahan menarik dalam cerita. Ia membantu memberi lapisan misteri baru yang terhubung ke sejarah Alpine Lake Camp dan masa lalu yang selama ini tersembunyi.
The Grabber Sedikit Berubah, Tapi Masih Menyeramkan

Ethan Hawke kembali menjadi alasan utama mengapa film ini tetap memiliki aura ancaman yang kuat. Meskipun kini The Grabber sudah mati, kehadirannya tidak terasa lebih lemah, justru lebih mengganggu karena ia tidak lagi terikat batas fisik.
Film ini memperlakukan The Grabber seperti mimpi buruk yang terus hidup di alam bawah sadar korbannya. Ia tidak lagi sekadar penculik, melainkan entitas yang bisa masuk ke mimpi, penglihatan, dan ketakutan terdalam karakternya.
Memang ada penonton yang merasa versi supernatural The Grabber tidak semenakutkan versi manusia biasa di film pertama. Namun menurut saya, melihat karakter ini berubah menjadi semacam hantu pendendam memberi identitas berbeda yang membuat sekuel tidak terasa seperti salinan ulang.
Atmosfer Horor Lebih Gelap, Lebih Dingin, Lebih Mimpi Buruk

Lokasi Alpine Lake Camp menjadi salah satu kekuatan besar film ini. Salju tebal, danau beku, kabin kosong, badai, dan kesunyian membuat suasana film terasa jauh lebih dingin dibanding ruang bawah tanah di film pertama.
Scott Derrickson banyak bermain dengan dunia mimpi dan visual yang terasa seperti rekaman VHS rusak dari tahun 1980-an. Hasilnya menciptakan pengalaman horor yang aneh, tidak nyaman, dan sering terasa seperti sedang berjalan di antara kenyataan dan mimpi buruk.
Ada beberapa adegan yang benar-benar mengandalkan logika mimpi, sehingga tidak semua penonton akan menyukainya. Namun justru bagian inilah yang membuat Black Phone 2 terasa punya identitas sendiri dan tidak hanya mengulang formula basement, telepon, dan penculikan lagi.
Berani Ambil Risiko

Hal yang paling saya apresiasi dari film ini adalah keberaniannya. Banyak sekuel horor sukses karena mengulang hal yang sama, sedangkan Black Phone 2 justru memilih memperluas dunianya ke arah yang jauh lebih aneh dan berbahaya.
Tentu tidak semua eksperimen berhasil sempurna. Beberapa bagian terasa terlalu panjang, ada eksposisi yang kadang menahan laju cerita, dan sebagian misteri sebenarnya bisa dibuat lebih ringkas.
Namun ketika film sedang berada di mode terbaiknya, terutama saat dunia mimpi dan teror The Grabber mulai bertabrakan, pengalaman yang diberikan terasa unik. Jarang ada horor studio besar yang berani tampil seaneh ini sambil tetap mempertahankan emosi dan karakter dari film sebelumnya.

Black Phone 2 mungkin tidak sesederhana dan seefektif film pertamanya. Namun sebagai sekuel, film ini melakukan sesuatu yang lebih penting: berani berkembang dan mengambil risiko besar.
Kelebihannya ada pada performa Madeleine McGraw yang luar biasa, atmosfer musim dingin yang mencekam, kembalinya Ethan Hawke sebagai The Grabber, dan dunia supernatural yang diperluas dengan cukup menarik. Kekurangannya ada pada pacing yang sedikit tidak stabil serta beberapa bagian cerita yang terlalu rumit dibanding film pertama.
Jika The Black Phone adalah kisah korban yang berusaha kabur dari monster manusia, maka Black Phone 2 adalah cerita tentang menghadapi monster yang sudah mati tapi menolak pergi. Dan kadang, itu jauh lebih menyeramkan.





