Review Film – Den of Thieves (2018)

Den of Thieves, Polisi Brutal, Perampok Militer, dan Los Angeles yang Selalu Terlihat Berkeringat

Den of Thieves adalah film action crime tahun 2018 yang ditulis dan disutradarai Christian Gudegast, dengan Gerard Butler, Pablo Schreiber, O’Shea Jackson Jr., Curtis “50 Cent” Jackson, Evan Jones, dan Dawn Olivieri sebagai jajaran pemain utama. Film ini rilis di Amerika Serikat pada 19 Januari 2018, berdurasi 140 menit, dan menghasilkan sekitar 80,5 juta dolar dari budget 30 juta dolar. 

Rasa ngerinya tetap ada dalam bentuk dunia kriminal yang kasar, polisi yang sama bengisnya dengan penjahat, dan baku tembak yang bisa pecah di tengah kemacetan kota. Film ini mengikuti unit elite Los Angeles County Sheriff’s Department yang berusaha menghentikan kru mantan Marinir MARSOC yang merencanakan perampokan Federal Reserve di Los Angeles.

Heist Movie yang Ingin Jadi Heat, Tapi Lebih Bau Rokok dan Testosterone
Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Cerita dibuka dengan perampokan mobil lapis baja yang berubah menjadi baku tembak berdarah, langsung memberi tahu bahwa film ini tidak datang untuk jual elegansi. Ray Merrimen dan timnya bukan perampok receh, mereka eks-militer yang disiplin, cepat, dan punya rencana besar untuk mencuri uang lama Federal Reserve sebelum dihancurkan.

Di sisi lain ada Nick “Big Nick” O’Brien, polisi keras kepala yang minum terlalu banyak, main terlalu kotor, dan hidup pribadinya sama berantakannya dengan metode kerjanya. Film ini mencoba membuat batas polisi dan kriminal terasa kabur, karena dua kubu sama-sama maskulin, agresif, dan percaya bahwa dunia hanya tunduk pada orang yang lebih siap menarik pelatuk.

Plot pencurian Federal Reserve cukup menarik karena tidak hanya mengandalkan senjata, tapi juga penyamaran, rute logistik, brownout, kamera mati, truk sampah, dan informasi dari orang dalam. Saat detail rencananya mulai terbuka, film terasa seperti puzzle kriminal yang kasar tapi lumayan memuaskan untuk diikuti.

Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Masalahnya, durasi 140 menit membuat film terasa agak gemuk dan kadang terlalu senang memamerkan macho energy. Ada bagian kehidupan pribadi Big Nick yang niatnya memberi kedalaman, tapi tidak semuanya terasa cukup penting untuk mendukung cerita utama.

Gerard Butler Kumal, Pablo Schreiber Dingin, Donnie Diam-Diam Licik

Gerard Butler sebagai Big Nick bermain seperti beruang mabuk yang diberi lencana polisi, dan anehnya itu cukup efektif. Karakter ini menyebalkan, kasar, manipulatif, tapi punya energi layar yang membuat kita terus ingin tahu langkah brutal berikutnya.

Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Pablo Schreiber sebagai Ray Merrimen menjadi lawan yang lebih dingin dan terkendali. Ia tidak seberisik Big Nick, tapi justru itu yang membuatnya terasa berbahaya, seperti orang yang sudah menghitung semua kemungkinan sebelum orang lain sadar mereka berada dalam permainan.

O’Shea Jackson Jr. sebagai Donnie Wilson adalah kartu paling menarik dalam film ini, karena awalnya terlihat seperti driver kecil yang ditekan dari dua sisi. Namun ending film membuktikan bahwa diam bukan berarti bodoh, dan Donnie ternyata memegang permainan lebih rapi dari semua pria besar yang sibuk pamer otot.

50 Cent sebagai Enson Levoux punya porsi yang cukup kuat sebagai bagian dari kru Merrimen, walau tidak selalu mendapat kedalaman sebesar yang bisa diharapkan. Satu adegan intimidasi keluarga membuat karakternya terasa lebih berkesan, tapi secara umum film tetap lebih fokus pada duel energi Butler, Schreiber, dan Jackson Jr.

Aksi Heist Keras, Teknis, dan Paling Hidup Saat Senjata Bicara
Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Adegan aksinya terasa berat, kotor, dan tidak terlalu dipoles agar terlihat keren secara berlebihan. Baku tembak pembuka dan final shootout di tengah kemacetan punya bobot fisik yang cukup bikin jantung naik, karena pelurunya terasa menghantam ruang publik yang penuh risiko

Bagian heist Federal Reserve menjadi kekuatan utama karena film memberi perhatian pada prosedur dan detail teknis. Mulai dari delivery makanan, akses ruang hitung, sistem kamera, sampai jalur uang lewat sampah, semua dibuat cukup rinci untuk membuat penonton merasa rencananya memang mungkin terjadi.

Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Namun film juga punya kelemahan dalam follow-through, karena beberapa twist terasa seperti ingin terlalu pintar setelah membangun dunia yang sangat macho dan lurus. Beberapa kritikus menilai film ini kuat di setup, tapi tidak selalu sekuat itu ketika harus menutup semua intriknya secara elegan.

Tetap saja, untuk urusan hiburan aksi kriminal, Den of Thieves punya tenaga yang cukup besar. Ini film yang tidak malu menjadi keras, panjang, dan penuh orang-orang yang bicara seperti mereka baru selesai push-up sebelum masuk frame.

Nuansa Los Angeles sebagai Arena Predator
Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Film ini berlatar Los Angeles, walau proses syuting utamanya banyak dilakukan di sekitar Atlanta dengan aerial shot Los Angeles untuk memperkuat setting. Hasil akhirnya tetap cukup meyakinkan sebagai dunia kriminal urban yang panas, luas, dan penuh jalur pelarian.

Sinematografi Terry Stacey memberi tampilan gritty yang cocok untuk cerita polisi versus perampok. Tidak ada kemewahan visual berlebihan, hanya jalanan, kendaraan taktis, ruang bank, bar, rumah pinggiran, dan kota yang terasa seperti selalu menyimpan orang bersenjata di balik kaca gelap.

Musik Cliff Martinez menambah mood dingin dan tegang tanpa terlalu mengambil alih. Skornya bukan yang paling mudah diingat, tapi cukup membantu film menjaga rasa thriller kriminal yang serius, berat, dan sedikit suram.

Ketegangan yang Menggigit, Derivatif, Tapi Susah Berhenti Ditonton
Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Den of Thieves mendapat respons kritik campuran, dengan Rotten Tomatoes mencatat 42% ulasan positif dan Metacritic memberi skor 49 dari 100. Namun penonton lebih hangat, karena CinemaScore memberi nilai B+ dan IMDb mencatat rating sekitar 7,0 dari lebih dari 150 ribu penilaian.

Film ini sering dibandingkan dengan Heat, dan perbandingan itu memang tidak bisa dihindari. Bedanya, kalau Heat terasa seperti opera kriminal elegan, Den of Thieves lebih seperti sepupu kasarnya yang datang ke pesta dengan kaos ketat, tatapan tajam, dan niat bikin ribut.

Kelemahannya jelas: terlalu panjang, terlalu macho, dan beberapa drama personal terasa seperti bumbu yang belum matang. Tapi ada kenikmatan khas “dad crime cinema” yang sulit ditolak, terutama kalau kamu suka film heist dengan rencana teknis, polisi rusak, dan penjahat yang terlalu profesional untuk sekadar disebut rampok biasa.

Den of Thieves (2018)
Den of Thieves (2018) | © STXFilms

Den of Thieves sebagai action crime thriller, ia punya tekanan yang cukup intens untuk membuat penonton tetap waspada. Dunia film ini terasa brutal karena tidak ada karakter yang benar-benar bersih, hanya orang-orang jahat dan orang-orang yang lebih jahat dengan badge.

Kelebihannya ada pada aksi keras, detail heist, karakter Donnie yang makin menarik menjelang akhir, serta Gerard Butler yang total menjadi polisi paling tidak sehat secara emosi. Kekurangannya ada pada durasi yang melebar, inspirasi yang terlalu jelas dari film heist klasik, dan beberapa karakter yang lebih terasa sebagai simbol maskulinitas daripada manusia utuh.

Kalau kamu mencari film kriminal yang rapi seperti jam Swiss, mungkin ini bukan pilihan paling sempurna. Tapi kalau kamu ingin film heist yang kasar, penuh taktik, penuh peluru, dan punya twist akhir yang cukup membuatmu ingin menonton ulang bagian Donnie, Den of Thieves masih sangat layak dilirik.



Den of Thieves – Movie Info

Scroll to Top