
Despicable Me 4; Gru Jadi Ayah Bayi, Minions Jadi Superhero, Tapi Ceritanya Kebanyakan Mainan
Franchise Despicable Me adalah makanan ringan, maka Despicable Me 4 itu seperti snack party size: manis, ramai, gampang dinikmati, tapi setelah selesai kita sadar isinya kebanyakan rasa sekaligus.
Film animasi komedi tahun 2024 ini disutradarai Chris Renaud, ditulis oleh Mike White dan Ken Daurio, serta menjadi film utama keempat dalam seri Despicable Me dan installment keenam secara keseluruhan dalam franchise-nya.
Dengan durasi sekitar 94 menit, film ini kembali membawa Steve Carell sebagai Gru, Kristen Wiig sebagai Lucy, Pierre Coffin sebagai Minions, serta pemain baru seperti Will Ferrell, Joey King, Sofía Vergara, Stephen Colbert, dan Chloe Fineman.
Secara box office, film ini tetap gila kuat: dengan budget sekitar US$100 juta, Despicable Me 4 meraup sekitar US$986,7 juta secara global dan menjadi salah satu film terlaris tahun 2024.

Cerita dimulai ketika Gru menghadiri reuni di sekolah lamanya, Lycée Pas Bon, dan bertemu lagi dengan musuh masa sekolahnya, Maxime Le Mal. Maxime, yang kini berubah menjadi villain bertema kecoa setelah memodifikasi tubuhnya dengan bagian tubuh serangga, kabur dari penjara dan berniat membalas dendam pada Gru dengan menargetkan bayi Gru, Gru Jr.
Karena ancaman itu, Gru, Lucy, Margo, Edith, Agnes, dan Gru Jr. dipindahkan ke safe house dengan identitas baru oleh Anti-Villain League. Premis witness protection ini sebenarnya lucu banget karena keluarga Gru dipaksa pura-pura jadi keluarga suburban normal, padahal mereka jelas terlalu aneh untuk melebur dengan tetangga sosialita.
Di atas kertas, film ini punya banyak bahan seru: Gru melawan rival lama, Lucy mencoba kerja salon, anak-anak menyesuaikan diri, Poppy Prescott memeras Gru untuk melakukan heist, Gru Jr. sulit dekat dengan ayahnya, dan Minions berubah jadi Mega Minions. Semua itu masuk ke film berdurasi 94 menit, jadi wajar kalau rasanya seperti koper liburan yang dipaksa ditutup padahal isinya kebanyakan.

Hasilnya, tidak semua plot mendapat napas yang cukup. Film bergerak cepat dan jarang membosankan, tapi beberapa konflik terasa hanya lewat sebentar sebelum pindah ke gag berikutnya, membuat struktur ceritanya terasa overstuffed seperti piñata penuh permen.
Walau Tak Fokus, Tapi Deliver Setiap Karakter Cukup Menarik
Steve Carell tetap berhasil menjaga Gru sebagai karakter yang lucu, kaku, dan lovable. Suara khasnya masih jadi identitas utama, apalagi ketika Gru harus menghadapi fase baru sebagai ayah bayi yang justru tampak kurang menyukainya.
Hubungan Gru dan Gru Jr. menjadi salah satu elemen emosional yang paling potensial. Sayangnya, hubungan ini sering terselip di antara banyak subplot, sehingga payoff ketika Gru Jr. akhirnya memanggilnya “Dada” terasa manis, tapi tidak sekuat momen emosional Gru dengan tiga anak perempuan di film pertama.

Maxime Le Mal punya konsep yang absurd: villain Prancis berkumis, mantan rival sekolah Gru, terobsesi balas dendam, dan punya kekuatan serta estetika kecoa. Will Ferrell jelas bersenang-senang dengan aksen dan energi teatrikal karakter ini.
Tapi sebagai villain utama, Maxime terasa kurang punya beban emosional. Motivasinya lebih seperti dendam masa sekolah yang dipanjangkan sampai dewasa, lucu sih, tapi tidak cukup kuat untuk membuat ancamannya benar-benar terasa besar.
Poppy Prescott, remaja tetangga Gru yang bercita-cita jadi supervillain, menjadi tambahan yang cukup menyenangkan. Dia mengenali masa lalu Gru dan memaksanya membantu mencuri maskot honey badger sekolah, Lenny, dari Lycée Pas Bon.
Joey King memberi Poppy vibe anak muda yang sinis, cerdas, dan cukup menyebalkan dalam cara yang fun. Subplot heist dengan Poppy bahkan terasa lebih segar daripada konflik utama melawan Maxime, karena membawa kembali rasa “Gru si mantan villain yang masih punya skill lama.”
Anak-anak Puas, Dewasa Lumayan Terhibur

Konsep Mega Minions jelas dibuat untuk jadi highlight marketing: beberapa Minions diberi superpower oleh AVL dan berubah menjadi parodi superhero. Ide ini mengambil inspirasi dari tim superhero seperti Fantastic Four dan The Incredibles, tapi dibungkus dengan kebodohan khas Minions.
Masalahnya, Mega Minions terasa lebih seperti sketsa komedi sampingan daripada bagian penting cerita. Mereka lucu saat menghancurkan kota karena tidak kompeten, tapi kalau dihapus pun inti cerita Gru vs Maxime dan keluarga safe house masih tetap berjalan.
Dari sisi visual, Despicable Me 4 tetap membawa gaya Illumination yang sangat mudah dijual: warna cerah, desain karakter simpel, ekspresi hiperaktif, dan slapstick cepat. Beberapa karakter lama juga mendapat update rig dan surface agar tampil lebih sesuai standar animasi terbaru.

Adegan Poppy bermain arcade yang awalnya berupa animation test bahkan masuk ke final cut karena dianggap berhasil. Detail seperti ini menunjukkan bahwa film tetap punya kreativitas visual kecil yang menyenangkan, meski secara artistik tidak sedang mencoba menjadi animasi paling ambisius dekade ini.
Sebagai hiburan keluarga, film ini masih efektif. Slapstick Minions, konflik suburban, bayi yang susah didekati, villain kecoa, dan heist sekolah membuat film terus bergerak cepat tanpa memberi banyak jeda untuk bosan.
Tapi untuk penonton dewasa atau fans lama, terasa jelas bahwa franchise ini mulai bermain aman. Humor masih kena, tapi tidak sehangat film pertama atau seimbang film kedua; ini lebih seperti mesin hiburan yang tahu tombol mana yang harus ditekan agar penonton tetap senyum.
Ramai, Cepat, dan Cukup Manis Walau Tidak Terlalu Nendang

Final act membawa Maxime menculik Gru Jr. dan mengubahnya menjadi hybrid manusia-kecoa yang dikendalikan. Gru lalu mengejar Maxime bersama Poppy, sementara Lucy dan anak-anak menghadapi kekacauan di safe house sebelum AVL dan Mega Minions ikut turun tangan.
Secara aksi, klimaksnya cukup ramai, tapi penyelesaiannya terasa cepat dan sedikit terlalu mudah. Momen terbaiknya tetap ketika Gru Jr. akhirnya lepas dari kendali Maxime karena kata-kata Gru, lalu memanggilnya “Dada”, yang memberi sentuhan emosional kecil di tengah kekacauan.

Despicable Me 4 adalah film animasi keluarga yang fun, cerah, dan mudah ditonton, tapi juga terasa paling penuh gimmick dibanding beberapa installment sebelumnya. Plotnya terlalu padat, villain kurang tajam, dan Mega Minions lebih terasa seperti bonus mainan, namun energi komedi dan pesona keluarga Gru masih cukup kuat untuk membuat film ini tetap menghibur.
Cocok untuk tontonan santai bareng keluarga atau fans Minions, tapi kalau kamu mencari cerita sehangat Despicable Me pertama, film ini lebih terasa seperti sugar rush: seru, ramai, bikin ketawa, lalu cepat menguap setelah selesai.




