
Eternals; Marvel Paling Ambisius, Paling Cantik, Tapi Juga Paling Bikin Penonton Mengernyit
Biasanya film Marvel datang dengan formula yang gampang ditebak; hero muncul, villain bikin rusuh, lalu third act penuh CGI; Eternals mencoba masuk lewat pintu yang lebih megah, puitis, dan sok-sok kosmik.
Film rilisan 2021 ini disutradarai Chloé Zhao, menjadi film ke-26 dalam MCU, dan hadir sebagai bagian dari Phase Four dengan durasi yang lumayan panjang, yaitu 156 menit.

Film ini membawa ensemble cast besar seperti Gemma Chan, Richard Madden, Kumail Nanjiani, Lia McHugh, Brian Tyree Henry, Lauren Ridloff, Barry Keoghan, Don Lee, Kit Harington, Salma Hayek, dan Angelina Jolie.
Secara premis, ceritanya mengikuti para Eternals, makhluk immortal yang hidup tersembunyi selama ribuan tahun di Bumi sebelum akhirnya harus muncul lagi saat ancaman Deviants kembali menyerang.
Visualnya Cantik, Tapi Ceritanya Sering Jalan Kaki

Hal paling menarik dari Eternals adalah ambisinya. Film ini tidak cuma mau jadi cerita superhero biasa, tapi juga bicara tentang penciptaan, moralitas, takdir, kemanusiaan, sampai pertanyaan besar: apakah menyelamatkan satu planet layak jika harus mengorbankan kelahiran entitas kosmik yang lebih besar?
Masalahnya, ide sebesar itu dimasukkan ke dalam satu film yang juga harus mengenalkan sepuluh karakter utama sekaligus. Hasilnya? Kadang terasa seperti kuliah filsafat kosmik yang diselingi adegan laser mata dan monster CGI keren, tapi otak penonton juga lumayan disuruh kerja lembur.
Dari sisi visual, Eternals adalah salah satu film MCU yang paling beda rasa. Penggunaan banyak lokasi nyata dan pencahayaan natural membuat film ini terasa lebih earthy, luas, dan tidak seplastik beberapa blockbuster superhero modern.

Tapi visual cantik saja tidak selalu cukup untuk menjaga energi film selama 156 menit. Banyak bagian terasa lambat, terutama saat film berpindah dari masa lalu ke masa kini sambil mencoba membangun hubungan antaranggota Eternals yang sudah hidup ribuan tahun.
Karakter Banyak, Tapi Tidak Semua Kebagian Napas
Dengan jumlah karakter sebanyak ini, wajar kalau tidak semuanya mendapat ruang yang sama. Sersi menjadi pusat emosional cerita, Ikaris membawa konflik internal paling besar, sementara Ajak, Thena, Kingo, Phastos, Makkari, Druig, Sprite, dan Gilgamesh masing-masing punya warna yang sebenarnya menarik.

Sayangnya, beberapa karakter terasa seperti punya potensi besar tapi hanya sempat lewat sebelum film harus buru-buru pindah ke plot berikutnya. Yang paling mencuri perhatian justru karakter-karakter dengan personality tajam seperti Kingo, Makkari, Druig, dan Gilgamesh, sementara hubungan utama Sersi-Ikaris kadang terasa terlalu dingin untuk jadi jantung emosional film sebesar ini.
Ketika film mulai membongkar bahwa misi Eternals bukan sekadar melawan Deviants, tapi membantu proses Emergence kelahiran Celestial dari dalam planet, barulah cerita terasa punya taruhan yang benar-benar besar. Ini adalah salah satu ide paling liar di MCU karena ancamannya bukan cuma “Bumi diserang”, tapi Bumi sendiri menjadi rahim untuk makhluk kosmik raksasa.
Namun, Deviants sebagai ancaman fisik terasa kurang menggigit. Mereka seharusnya menjadi lawan kuno yang menakutkan, tapi sebagian besar tampil seperti monster CGI wajib hadir supaya film superhero ini tetap punya sesuatu untuk dipukul.
Action Ada, Tapi Bukan Jualan Utama Film Ini

Kalau kamu datang ke Eternals berharap action MCU yang cepat dan penuh ledakan tiap 10 menit, siap-siap agak kecewa. Film ini lebih suka membangun suasana, mitologi, dan konflik batin dibanding menghajar penonton dengan pertarungan nonstop.
Meski begitu, beberapa adegan aksi tetap punya daya tarik, terutama saat tiap Eternal memamerkan kemampuan uniknya. Makkari dengan super speed terasa sangat stylish, Thena punya gaya bertarung elegan, dan Ikaris jelas diposisikan seperti “Superman versi Marvel” dengan laser mata dan kemampuan terbang.
Kelemahan paling terasa dari Eternals adalah pacing. Film ini ingin menjadi origin story, drama keluarga, kisah cinta, epik sejarah, konflik kosmik, dan setup masa depan MCU sekaligus, sehingga ritmenya kadang seperti mobil mewah yang sering rem mendadak.
Tidak heran film ini menjadi salah satu rilisan MCU yang responsnya paling terbelah. Dengan pendapatan global sekitar US$402,1 juta, film ini tetap sukses secara komersial, tapi juga menjadi film MCU pertama yang tidak mendapat respons kritis positif secara umum, terutama karena kritik pada screenplay dan pacing.
Representasi dan Keberanian yang Patut Diapresiasi

Satu hal yang harus diakui: Eternals berani membawa keragaman karakter yang lebih luas dibanding banyak film MCU sebelumnya. Ada karakter dari berbagai latar budaya, usia, kepribadian, dan kemampuan, termasuk Makkari yang diperankan Lauren Ridloff sebagai superhero tuli, serta Phastos sebagai salah satu karakter LGBTQ+ penting dalam MCU.
Representasi ini tidak otomatis membuat filmnya sempurna, tapi jelas memberi warna baru yang dibutuhkan MCU. Di tengah franchise yang sering bermain aman, keberanian ini patut diapresiasi meskipun eksekusi ceritanya belum selalu mulus.
Sebagai Film MCU, Eternals Terasa Seperti Eksperimen Mahal

Sebagai bagian dari MCU, Eternals terasa seperti eksperimen besar yang hasilnya campur aduk. Di satu sisi, film ini memperluas skala semesta Marvel secara ekstrem lewat Celestials, sejarah manusia, dan karakter immortal yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.
Di sisi lain, koneksinya ke MCU utama terasa agak mengambang. Film ini seperti membuka pintu kosmik super besar, tapi setelah selesai, kita malah bertanya: “Oke, terus efeknya ke dunia Marvel yang lain mana?”
Eternals adalah film Marvel yang ambisius, cantik, dan berani beda, tapi juga terasa terlalu penuh untuk berdiri nyaman sebagai satu film. Visualnya megah, konsepnya besar, dan beberapa karakternya menarik, namun pacing lambat serta screenplay yang kurang tajam membuat pengalaman menontonnya tidak semulus film MCU terbaik.





