
Jurassic World Dominion; Reuni Legendaris, Dinosaurus di Mana-Mana, Tapi Kok Fokusnya Malah Belalang?
Jurassic World Dominion adalah film sci-fi action tahun 2022 yang disutradarai Colin Trevorrow, dengan naskah yang ditulis Trevorrow bersama Emily Carmichael. Film ini menjadi sekuel dari Jurassic World: Fallen Kingdom sekaligus installment ketiga dalam trilogi Jurassic World dan film keenam dalam keseluruhan franchise Jurassic Park.
Ceritanya berlatar empat tahun setelah kejadian Fallen Kingdom, ketika dinosaurus dan makhluk prasejarah hasil de-extinction sudah hidup berdampingan dengan manusia di berbagai belahan dunia. Owen Grady dan Claire Dearing menjalani misi penyelamatan, sementara Alan Grant, Ellie Sattler, dan Ian Malcolm menyelidiki konspirasi besar dari perusahaan genomik bernama Biosyn.

Film ini rilis di Amerika Serikat pada 10 Juni 2022 setelah premiere di Mexico City pada 23 Mei 2022, dengan durasi 147 menit. Meski mendapat respons kritik yang cenderung negatif, film ini tetap sukses besar secara finansial dengan pendapatan sekitar 1 miliar dolar dan menjadi salah satu film terlaris tahun 2022.
Ide Besar yang Sayangnya Tersesat di Jalan
Secara konsep, Dominion punya premis yang seharusnya gila menarik: dunia baru tempat manusia harus hidup bersama dinosaurus. Setelah Fallen Kingdom membuka pintu dengan melepas dinosaurus ke dunia, film ini punya peluang emas untuk menjawab pertanyaan besar tentang ekologi, kekuasaan, dan posisi manusia sebagai predator puncak.

Masalahnya, film ini malah lebih sering sibuk dengan subplot Biosyn, penculikan Maisie, dan ancaman belalang raksasa hasil rekayasa genetik. Untuk film yang menjual “dinosaurus hidup bersama manusia,” fokus ke serangga raksasa terasa seperti pesan makanan datang salah alamat, masih bisa dimakan, tapi bukan menu yang kita pesan.
Alurnya juga terasa sangat penuh, karena film harus menggabungkan cerita Owen-Claire, Maisie, Blue, Beta, Biosyn, locust, dan trio klasik dari Jurassic Park. Akibatnya, banyak konflik terasa numpang lewat, dan beberapa ide besar cuma disentuh sebentar sebelum film buru-buru pindah ke aksi berikutnya.
Meski begitu, beberapa set-piece tetap punya energi seru, terutama saat film bergerak ke mode petualangan global. Adegan kejar-kejaran di Malta, penyusupan ke fasilitas Biosyn, dan beberapa momen dinosaurus menyerang masih cukup ampuh untuk menjaga film ini tidak sepenuhnya kehilangan gigitan.
Reuni Cast Lama Jadi Senjata Paling Kuat

Chris Pratt sebagai Owen Grady masih membawa persona action hero yang tenang, berani, dan punya kebiasaan klasik mengangkat tangan ke dinosaurus seperti sedang menghentikan motor di parkiran. Bryce Dallas Howard sebagai Claire Dearing mendapat beberapa momen lebih intens, terutama ketika ia harus bertahan hidup sendirian di tengah ancaman dinosaurus.
Namun daya tarik paling besar jelas datang dari kembalinya Laura Dern sebagai Ellie Sattler, Sam Neill sebagai Alan Grant, dan Jeff Goldblum sebagai Ian Malcolm. Ketiganya muncul bersama untuk pertama kalinya sejak Jurassic Park original, dan jujur saja, nostalgia mereka sering lebih hidup daripada banyak konflik baru di film ini.

DeWanda Wise sebagai Kayla Watts memberi warna baru yang cukup menyenangkan, karena karakternya punya vibe pilot nekat yang cocok untuk petualangan global. Mamoudou Athie sebagai Ramsay Cole juga membantu sisi Biosyn terasa sedikit lebih manusiawi, walau porsinya belum cukup kuat untuk benar-benar mencuri panggung.
Sayangnya, karena karakter terlalu banyak, film ini sering tidak punya waktu untuk memberi kedalaman yang cukup. Para pemain terlihat berusaha keras, tapi naskahnya seperti anak kecil yang masuk toko mainan: semua mau diambil, tapi akhirnya tangannya kepenuhan.
Dinosaurus Masih Keren, Tapi Rasa Takjubnya Mulai Menipis

Jurassic World Dominion tetap punya skala besar dan produksi mahal, apalagi dengan budget yang dilaporkan mencapai sekitar 465 juta dolar. Lokasi syutingnya mencakup Kanada, Inggris, dan Malta, membuat film ini terasa lebih global dibanding beberapa entry sebelumnya.
Dinosaurusnya tentu masih terlihat megah, dari Pyroraptor, Therizinosaurus, hingga Giganotosaurus yang diposisikan sebagai ancaman besar. Tapi masalahnya, karena film terus-menerus menampilkan makhluk baru, rasa kagum yang dulu dibangun pelan-pelan di Jurassic Park jadi terasa lebih seperti parade CGI mahal.

Ada beberapa shot yang tetap memorable, terutama saat dinosaurus ditempatkan di lingkungan manusia modern. Pasar gelap, jalanan kota, dan fasilitas Biosyn memberi variasi visual yang lumayan segar meski tidak semuanya terasa maksimal.
Namun kalau dibandingkan dengan ketegangan visual film pertama atau horor gotik Fallen Kingdom, Dominion terasa kurang punya identitas atmosfer yang tajam. Film ini besar, ramai, dan mahal, tapi tidak selalu punya rasa takut yang benar-benar menggigit dari balik layar.
Ramai Banget, Kadang Terlalu Kenyang

Jurassic World Dominion jelas tidak kekurangan isi: aksi, nostalgia, dinosaurus, kejar-kejaran, konspirasi korporat, romansa kecil, humor, dan reuni besar. Beberapa respons positif menilai film ini tetap menyenangkan karena memberi banyak tontonan besar dan momen popcorn yang mudah dinikmati.
Tapi justru karena terlalu ingin memberi semuanya, film ini terasa gemuk dan kurang fokus. Durasi hampir dua setengah jamnya kadang terasa berat karena banyak dialog eksposisi dan subplot yang saling berebut panggung.

Film ini masih punya daya tarik kuat kalau kamu datang sebagai fans franchise atau sekadar ingin melihat dinosaurus bikin kekacauan global. Tapi kalau kamu berharap penutup trilogi yang tajam, emosional, dan benar-benar menjawab tema “coexistence”, kemungkinan besar kamu bakal merasa film ini terlalu aman dan terlalu sibuk.
Finale Besar yang Seru, Tapi Tidak Seganas Ekspektasi
Secara keseluruhan, JJurassic World Dominion adalah film yang punya semua bahan untuk jadi penutup epik, tapi tidak selalu tahu cara meraciknya. Reuni cast lama, dinosaurus global, dan skala cerita besar memang menggoda, tapi fokus cerita yang melebar membuat dampaknya tidak sekuat yang diharapkan.

Kelebihannya ada pada nostalgia, beberapa adegan aksi, chemistry cast lama, dan rasa petualangan yang tetap mudah dinikmati. Kelemahannya ada pada plot penuh sesak, ancaman utama yang terasa aneh untuk film dinosaurus, dan kurangnya momen benar-benar ikonik.
Buat fans Jurassic, film ini tetap layak ditonton karena ia menutup banyak benang cerita dan mempertemukan dua generasi karakter. Tapi sebagai “epic conclusion”, Dominion lebih terasa seperti pesta reuni yang ramai daripada finale dinosaurus yang benar-benar mengguncang bumi.





