
The Conjuring 2; Teror Enfield yang Lebih Kelam, Lebih Ramai, dan Si Nun yang Bikin Merinding
The Conjuring pertama sukses bikin kita takut sama rumah tua, tepuk tangan di gelap, dan jam 3 pagi, maka The Conjuring 2 datang dengan paket yang lebih “internasional”: keluarga kecil di Inggris, rumah council yang suram, kasus poltergeist terkenal, plus kemunculan sosok demon nun alias Valak yang langsung jadi ikon horor modern.
Film rilisan 2016 ini kembali disutradarai James Wan, dengan Patrick Wilson dan Vera Farmiga balik sebagai Ed dan Lorraine Warren. Ceritanya mengikuti pasangan Warren yang pergi ke London untuk membantu keluarga Hodgson menghadapi gangguan supranatural di rumah mereka di Enfield pada 1977.

Secara skala, film ini terasa lebih besar dari film pertama. Durasinya 134 menit, budget-nya sekitar US$40 juta, dan hasil box office-nya tembus US$321,8 juta secara global. Jadi ya, secara bisnis maupun popularitas, The Conjuring 2 jelas bukan sekadar sequel tempelan.
Film ini juga mendapat respons positif dari kritikus, walaupun banyak yang merasa rasa “baru”-nya agak berkurang karena formula horor rumah berhantu sudah mulai familiar.
Valak Seram, Tapi Jalannya Masih Template Eksorsisme
Harus diakui, sosok setan dalam The Conjuring 2 itu serem banget. Kemunculan demon nun alias Valak punya aura mengganggu yang beda dari Bathsheba di film pertama. Tapi kalau dilihat dari struktur cerita, alurnya masih cukup template.

Ada keluarga diteror, ada anak yang jadi pusat gangguan, ada penyelidikan, ada keraguan apakah kasusnya nyata atau hoaks, lalu ujung-ujungnya masuk ke fase eksorsisme dan konfrontasi langsung.
Tapi ya, ini bukan berarti jelek. Kadang film horor memang paling enak dinikmati sebagai wahana: kita tahu ada formula, tapi tetap deg-degan nunggu kapan kursi bergerak, suara muncul dari sudut ruangan, atau sosok putih-abu-abu nongol dari gelap.
The Conjuring 2 memang nggak selalu mematahkan ekspektasi, tapi James Wan tetap tahu cara menekan tombol panik penonton dengan presisi yang ngeselin.
Warren Couple Tetap Jadi Jantung Cerita

Duo Ed dan Lorraine Warren lagi-lagi jadi alasan kenapa film ini punya emosi yang lebih kuat daripada horor biasa. Patrick Wilson dan Vera Farmiga membawa hubungan Ed-Lorraine dengan hangat, penuh cinta, tapi tetap punya beban spiritual yang berat.
Di awal film, Lorraine mendapat penglihatan mengerikan tentang demon nun dan kematian Ed, sehingga kasus Enfield bukan cuma perkara membantu keluarga lain, tapi juga soal rasa takut kehilangan orang yang ia cintai.
Di sisi lain, keluarga Hodgson juga cukup berhasil jadi representasi korban teror setan “unknown”. Janet Hodgson, yang diperankan Madison Wolfe, menjadi pusat gangguan setelah bermain ouija board dan mulai berbicara sebagai Bill Wilkins, sosok pria tua yang pernah tinggal di rumah itu.

Kita sebagai penonton ikut merasakan kebingungan keluarga ini: apakah Janet benar-benar diganggu, atau semuanya hanya manipulasi? Rasa ragu inilah yang bikin kasusnya lebih menarik.
Nuansa Gereja, Suster, dan London yang Bikin Lebih Mencekam
Salah satu peningkatan terbesar dari film pertama adalah variasi atmosfer. The Conjuring 2 nggak cuma mengandalkan rumah berhantu biasa, tapi juga membawa unsur spiritual yang lebih dekat dengan ikonografi gereja: salib, doa, demon nun, dan rasa “dihukum oleh sesuatu yang lebih tua dari manusia”.
Elemen ini bikin horornya terasa lebih universal, apalagi buat penonton yang tumbuh dengan simbol-simbol agama sebagai sesuatu yang sakral sekaligus menakutkan kalau dipelintir.

Setting London juga memberi warna baru. Rumah Hodgson yang sempit, tua, dan dingin terasa lebih hidup dibanding rumah pertanian film pertama.
Produksi film ini memang berpindah ke London pada November 2015, dengan beberapa lokasi seperti kawasan Maida Vale dan Marylebone station digunakan dalam proses syuting. Hasilnya, latar Inggris era 70-an terasa cukup kuat dan memberi tekstur yang berbeda.
Lukisan Nun: Modal Merinding yang Nggak Main-Main

Ada satu momen visual yang paling nempel dari film ini, jelas adegan lukisan nun. Itu bukan sekadar jumpscare, tapi set piece horor yang dibangun pelan-pelan: ruangan gelap, lukisan menyeramkan, bayangan yang seolah bergerak, lalu rasa takut yang naik sedikit demi sedikit sampai akhirnya meledak.
Buatku, ini salah satu contoh kenapa James Wan tetap jago: dia bisa bikin benda diam terasa punya niat jahat.
Menariknya, sosok nun ini awalnya bukan desain pertama untuk antagonis film. Terdapat dditional photography dilakukan pada Maret 2016 untuk “menciptakan ulang” antagonis film; James Wan merasa desain awal berupa figur demon bersayap kurang cocok.

Lalu menggantinya menjadi sosok nun yang diperankan Bonnie Aarons agar terasa lebih grounded. Keputusan ini benar-benar tepat, karena Valak akhirnya jadi wajah paling ikonik dari film ini dan bahkan melahirkan spin-off The Nun pada 2018.
Horor Misteri yang Cocok Buat Fans Jumpscare

Buat pecinta horor yang suka misteri, The Conjuring 2 punya banyak hal menyenangkan: poltergeist, suara dari dinding, anak kerasukan, benda bergerak sendiri, sampai debat apakah kasus ini benar atau rekayasa.
Film ini juga menyelipkan investigator lain seperti Maurice Grosse dan Anita Gregory, yang ikut mempertanyakan validitas kasus Enfield. Unsur skeptis ini bikin film nggak sekadar “percaya setan dari awal sampai akhir”, tapi memberi ruang untuk penonton ikut curiga.
Secara penerimaan, film ini juga cukup kuat. Rotten Tomatoes mencatat 80% ulasan kritikus positif, dengan konsensus bahwa meski kehilangan sedikit “sting” dari film pertama karena faktor familiar, The Conjuring 2 tetap menjadi ghost story superior yang diceritakan dengan skill menggetarkan.
Ending Klise, Tapi Tetap People Pleaser
Soal ending, ini masih cukup klise. Lorraine menemukan nama Valak, menyebut nama itu, mendapat kuasa atas demon, lalu berhasil mengusirnya kembali ke neraka. Ed dan Janet selamat, keluarga Hodgson bebas, dan Warren couple pulang membawa satu artefak lagi untuk koleksi mereka. Dari sisi formula, ini memang kemenangan klasik pasangan Warren.

Tapi apakah ending ini memuaskan? Iya. Walaupun predictable, penutupnya tetap terasa hangat karena hubungan Ed-Lorraine menjadi jangkar emosional. Adegan Ed bernyanyi “Can’t Help Falling in Love” juga memberi jeda manis di tengah semua teror, membuat film ini nggak cuma tentang setan, tapi juga tentang cinta, perlindungan, dan keyakinan. Jadi meskipun klise, ending-nya berhasil jadi people pleaser yang rapi.
The Conjuring 2 memang tidak se-segar film pertama, tapi secara atmosfer, set piece, dan ikon horor, film ini punya daya dobrak sendiri. Valak menyeramkan, keluarga Hodgson cukup membuat kita ikut panik, dan Ed-Lorraine tetap jadi pasangan horor paling nyaman untuk diikuti.
Kalau kamu suka horor rumah berhantu yang penuh misteri, jumpscare, dan nuansa gereja yang bikin merinding, The Conjuring 2 masih wajib banget masuk daftar tontonan. Formula boleh familiar, tapi eksekusinya tetap nendang.




