Review Film – Mortal Kombat (2021)

Mortal Kombat; Brutal, Berdarah, Fan Service Nendang, Tapi Rasanya Baru Pemanasan

Kalau ada satu hal yang paling ingin dilihat fans dari film adaptasi Mortal Kombat, jawabannya simpel: jangan jinakin kekerasannya. Dan untungnya, versi 2021 ini paham banget soal itu.

Disutradarai Simon McQuoid dan diproduseri James Wan, film ini jadi reboot layar lebar untuk franchise game legendaris karya Ed Boon dan John Tobias, dengan jajaran cast seperti Lewis Tan, Jessica McNamee, Josh Lawson, Joe Taslim, Hiroyuki Sanada, Ludi Lin, sampai Chin Han.

Filmnya rilis pada 23 April 2021, berdurasi 110 menit, dan secara umum memang mendapat respons campur aduk: banyak yang memuji aksi, gore, dan fan service-nya, tapi cukup banyak juga yang mengkritik naskah, eksposisi, dan fakta bahwa film ini terasa seperti pembukaan buat sesuatu yang lebih besar, bukan film yang benar-benar selesai berdiri sendiri. 

Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Secara cerita, film ini mengikuti Cole Young, petarung MMA yang hidupnya lagi seret dan tiba-tiba diserang Sub-Zero karena ia membawa tanda naga misterius. Dari situ, dia masuk ke dunia Earthrealm, Outworld, para champion, dan ancaman turnamen Mortal Kombat yang sudah dimenangkan Outworld sembilan kali berturut-turut. Kalau Earthrealm kalah sekali lagi, tamatlah semuanya.

Konsep dasarnya sebenarnya gampang dan cukup cocok buat penonton baru, apalagi film ini memang memakai Cole sebagai karakter baru yang jadi pintu masuk ke lore yang lebih luas. Tapi ya, di sinilah salah satu masalah utamanya muncul: film ini sering terasa lebih sibuk menjelaskan dunia daripada benar-benar membangun cerita yang kuat. 

Saat Filmnya Ingat Kalau Ini Mortal Kombat, Rasanya Langsung Hidup
Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Mari mulai dari yang paling enak dulu; aksinya. Film ini akhirnya berani jadi R-rated dan benar-benar menampilkan elemen yang paling identik dari game-nya, yaitu fatalities, darah yang muncrat tanpa sopan santun, dan pertarungan yang kelihatan niat bikin fans senyum jahat. Film ini memang “lebih cocok buat fans sumber aslinya”, tapi setidaknya berhasil menghidupkan lagi franchise ini dengan kekerasan yang pantas.

Film ini sebagai tontonan yang fun buat fans game-nya, sementara Polygon terang-terangan menyebut reboot ini berhasil menangkap alasan utama kenapa orang mencintai Mortal Kombat: leher patah, jantung dicabut, dan kekacauan yang sadar diri. 

Bagian aksinya adalah saat film benar-benar “hidup” dengan combo moves, catchphrases, dan beberapa fatality terkenal yang akhirnya tampil penuh di layar lebar. Reboot ini terasa seperti upgrade yang memang seharusnya dilakukan sejak dulu, yaitu membuat filmnya sebrutal game-nya.

Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Jadi kalau kamu datang ke film ini untuk lihat orang dibekukan, disayat, dihajar, dan dilempar ke kematian dengan cara yang sekreatif mungkin, tenang, film ini nggak pelit-pelit amat.

Opening Hanzo vs Bi-Han: Momen yang Bikin Langsung Duduk Tegak

Salah satu bagian terbaik film ini, dan mungkin yang paling gampang disepakati banyak orang, adalah opening Hanzo Hasashi vs Bi-Han. Adegan pembuka di Jepang abad ke-17 itu beneran keren: emosional, brutal, dan koreografinya mantap.

Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Pembuka prolog yang efektif dengan koreografi yang kuat, sementara Polygon menyebut film ini dibuka dengan pertarungan yang “banger” dan ditutup dengan duel besar yang sama impresifnya. Buat fans lama, ini juga jadi hadiah karena langsung menaruh Scorpion dan Sub-Zero sebagai inti emosional film, bukan sekadar maskot tempel. 

Joe Taslim sebagai Sub-Zero juga punya aura dingin yang berbahaya banget, sedangkan Hiroyuki Sanada membawa gravitas yang bikin Hanzo/Scorpion terasa punya bobot emosional. Jadi waktu konflik mereka dibayar lunas di babak akhir, rasanya memang puas. Ini tipe payoff yang bikin kita bilang, “nah ini dia yang dari tadi ditunggu!”

Kano Malah Nyaris Nyolong Filmnya Sendiri
Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Di antara semua karakter, yang paling sering disebut mencuri perhatian adalah Kano versi Josh Lawson. Polygon menggambarkan Kano sebagai karakter yang “enjoyably psychotic” dan jadi sumber energi liar dalam film. Bahkan ketika cerita mulai berat oleh ramalan, arcana, dan urusan nasib Earthrealm, begitu Kano muncul dan ngoceh, filmnya terasa lebih hidup. 

Masalahnya, justru ketika karakter sampingan seperti Kano terasa lebih seru, Cole Young sebagai tokoh utama jadi makin kelihatan lemah. Ini salah satu kritik yang paling sering muncul. Penonton juga menyebut ini sebagai perjalanan emosional Cole terasa tidak terlalu melibatkan, dan Cole memang lebih berfungsi sebagai karakter “penanya” untuk membantu menjelaskan lore ke penonton baru. Dengan kata lain, dia berguna, tapi belum tentu menarik.

Cerita yang Kebanyakan Setup, Turnamennya Malah Nyaris Nggak Ada
Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Nah, sekarang bagian cons yang paling besar: film ini terasa seperti prolog panjang. Film ini tersendat di bagian tengah karena latihan dan bahasan “destiny” yang terlalu panjang, lalu berakhir seperti sedang menyiapkan franchise ketimbang memberi finale yang memuaskan.

Visual terlhat menonjol dan stylist, tapi tetap ada  unsur kekerasan, tapi secara naratif terasa seperti giant setup untuk film berikutnya. Bahkan salah satu komentar netizen nyeletuk tajam bahwa film ini seperti bikin film berjudul The Olympics tapi yang ditampilkan cuma babak kualifikasi. Pedes, tapi jujur lucu juga karena… ada benarnya.

Buat fans game, ini mungkin masih bisa dimaafkan karena banyak elemen ikonik tetap hadir: “Get over here!”, “Flawless Victory”, “Fatality!”, Shinnok’s amulet, The Pit, sampai tease Johnny Cage di akhir.

Fandom juga mencatat bahwa Johnny Cage memang sengaja disimpan untuk sekuel, dan ending film secara terang-terangan mengarah ke fase berikutnya. Tapi buat penonton umum yang ingin satu film utuh dengan awal-tengah-akhir yang mantap, ya wajar kalau terasa nanggung.

Bukan Flawless Victory, Tapi Tetap Seru Buat Fans
Mortal Kombat (2021)
Mortal Kombat (2021) | © Warner Bros

Film ini paling pas disebut sebagai fan-service berdarah yang seru tapi belum sepenuhnya matang. Kalau kamu pencinta game-nya, ada banyak hal yang bisa dinikmati: kekerasannya akhirnya lepas, Scorpion vs Sub-Zero dibayar mahal, Kano kocak ngajak ribut, dan nuansanya jauh lebih dekat ke jiwa Mortal Kombat daripada beberapa adaptasi game yang terlalu takut kotor.

Tapi kalau kamu datang dengan harapan naskah yang rapi, karakter utama yang kuat, dan cerita yang benar-benar tuntas, film ini jelas belum flawless.

Jadi, apakah adaptasi baru ini bagus? Jawabannya: iya, kalau kamu siap menerima bahwa ini lebih terasa seperti bab pertama yang brutal daripada film lengkap yang benar-benar sempurna. Dan anehnya, justru di situlah daya tariknya. Film ini kayak uppercut yang belum sampai fatality keras, bikin semangat, tapi masih terasa ada ronde berikutnya yang harus datang.



Mortal Kombat – Movie Info

Scroll to Top