Review Film – The Drama (2026)

The Drama, Seminggu Menjelang Nikah Terasa Kayak Bom Waktu

Kalau kamu datang ke The Drama dengan ekspektasi “oh ini paling cuma film romantis menjelang nikah yang sedikit ribut-ribut lucu,” siap-siap ya, karena film ini pelan-pelan berubah jadi pengalaman yang bikin dada sesak sambil otak sibuk nyusun ulang semua yang barusan kamu tonton.

Film ini ditulis dan disutradarai Kristoffer Borgli, diproduksi oleh tim Square Peg, dan dibintangi Zendaya serta Robert Pattinson sebagai pasangan tunangan, Emma dan Charlie, yang hubungan mereka goyang brutal gara-gara satu pengakuan yang keluar di minggu terakhir sebelum pernikahan.

Film ini tayang perdana di Los Angeles pada 17 Maret 2026, rilis 2026, dan sejauh ini sudah mengumpulkan sekitar US$123 juta dari budget US$28 juta sambil menerima respons kritikus yang cenderung positif. 

The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

The Drama itu film yang sengaja kelihatan “biasa” di permukaan, padahal di bawahnya ada lapisan-lapisan rasa nggak nyaman yang makin lama makin menggila. Ini bukan film yang jual kejutan murahan, tapi film yang bikin kita mengunyah ulang tiap kalimat, tiap jeda, tiap tatapan, sampai akhirnya sadar: “oh, pantesan dari tadi rasanya aneh.”

Jadi kalau mau disimpulkan singkat, ini film tentang cinta, rahasia, rasa takut mengenal pasangan terlalu sedikit, dan betapa tipisnya batas antara “aku siap menikah sama kamu” dengan “sebentar, sebenarnya kamu siapa?”

Nikah Tinggal Hitungan Hari, Kok Malah Semua Jadi Kacau?

Premis besar film ini sebenarnya simpel banget: Emma dan Charlie adalah pasangan yang terlihat bahagia dan tinggal selangkah lagi menuju pernikahan, tapi satu malam obrolan bersama teman-teman mereka berubah jadi sesi bongkar dosa masa lalu yang bikin seluruh fondasi hubungan mereka goyah.

The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Di titik itu, film mulai bergerak dari romansa yang awkward ke wilayah yang jauh lebih gelap, ketika Charlie mulai mempertanyakan seberapa jauh dia benar-benar mengenal Emma, sementara Emma dipaksa berhadapan lagi dengan sisi hidupnya yang selama ini terkubur rapat. 

Yang bikin konflik ini terasa seram justru karena nggak dibungkus dengan ledakan besar atau twist sok pintar di menit awal. Semua dibuka sedikit demi sedikit, kayak orang narik benang kusut yang awalnya kelihatan kecil, tapi makin ditarik malah bikin satu ruangan berantakan.

Jadi rasa ragunya nggak datang sebagai satu momen besar saja, tapi sebagai akumulasi dari banyak hal kecil yang makin lama makin bikin kita ikut ngerasa, “waduh, ini nikah beneran bisa lanjut nggak sih?”

Zendaya & Pattinson: Pasangan Retak yang Bikin Ikut Capek Emosional
The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Salah satu kekuatan paling gede dari The Drama jelas ada di dua pemeran utamanya. Zendaya dan Robert Pattinson berhasil ngebawa Emma dan Charlie sebagai pasangan yang bukan sekadar “lagi bertengkar,” tapi dua orang yang sedang berdiri di ujung jurang keraguan, sambil mencoba tetap terlihat normal di depan dunia.

Dari info produksi dan respons awal, film ini memang dijual sebagai kisah pasangan bahagia yang diuji oleh satu putaran tak terduga sebelum hari pernikahan, dan dua aktor ini benar-benar ngasih bobot ke premis itu.

Yang paling kerasa adalah konflik batin mereka nggak dimainkan secara meledak-ledak terus. Pattinson memainkan Charlie dengan energi waswas yang makin lama makin obsesif, sedangkan Zendaya bikin Emma terasa seperti orang yang kuat di luar tapi jelas nyimpen banyak ruang gelap di dalam dirinya.

The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Hasilnya, hubungan mereka terasa complicated bukan karena filmnya pengin sok rumit, tapi karena mereka berdua berhasil nunjukkin bahwa hubungan dewasa memang sering nggak sesederhana “cinta ya cinta.” Ada masa lalu, trauma, citra diri, rasa malu, dan layer hidup yang baru kelihatan pas semuanya udah telanjur serius. 

Visual Simpel, Tapi Justru Bikin Dramanya Nempel

Secara tampilan, The Drama nggak kelihatan seperti film yang ngotot ingin pamer gaya. Wikipedia mencatat film ini berdurasi 105 menit, dengan sinematografi oleh Arseni Khachaturan, dan hampir seluruh daya tarik visualnya datang dari keseharian yang dibingkai secara tenang: kafe, obrolan dengan teman, lingkungan sosial pasangan, dan persiapan pernikahan yang tampak biasa-biasa saja.

Justru karena semuanya terasa sederhana, fokus kita nggak pecah ke mana-mana dan film bisa mengunci perhatian ke konflik utama Emma dan Charlie. 

The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Aku suka pendekatan ini karena filmnya terasa kayak sedang memotret kehidupan yang mungkin banget terjadi di sekitar kita. Nggak terlalu bergaya, nggak sibuk bikin dunia yang kelewat mewah, dan nggak numpang cantik doang.

Semua terasa cukup “normal” buat bikin rasa nggak nyamannya lebih dekat. Jadi ketika relasi dua tokoh utamanya mulai retak, penonton benar-benar dibiarkan duduk di sana, menatap keretakan itu tanpa distraksi yang terlalu heboh.

Awalnya Terasa Pelan, Tapi Dialognya Justru Kunci Segalanya
The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Aku ngerti banget kalau akan ada penonton yang di 20–30 menit awal bilang, “ini kok cuma orang ngobrol, debat, terus makin awkward, mana dramanya?” Dan jujur, itu reaksi yang valid. Film ini memang bukan tipe yang langsung nyamber leher dari awal.

Tapi justru di situlah trik utamanya: kamu harus merhatiin dialog dan cara karakter saling merespons, karena kedalaman plot-nya memang ditaruh di sana, bukan di adegan bombastis. 

Setiap pengakuan, jeda, dan kalimat yang kelihatannya cuma obrolan nggak penting pelan-pelan jadi potongan puzzle. Itu sebabnya The Drama bisa terasa membosankan buat sebagian orang, tapi buat penonton yang sabar, film ini malah rewarding.

The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Ini jenis film yang bikin kamu selesai nonton lalu tiba-tiba kepikiran lagi satu kalimat random di awal, terus baru sadar, “oh gila, ternyata itu petunjuk.” Dan ya, itu menyenangkan dengan cara yang agak nyebelin tapi nyebelinnya enak.

Ending-nya Liar, Nggak Nurut Harapan, Tapi Tetap Kasih Rasa Puas
The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Bagian akhir film ini adalah tipe ending yang nggak berusaha menyenangkan semua orang, dan justru itu yang bikin menarik. Dari premis resminya saja kita sudah tahu hubungan pasangan ini ditest habis-habisan menjelang pernikahan, dan film kemudian terus menumpuk kebenaran demi kebenaran sampai rasa kontrol itu hilang total.

Jadi ketika ending-nya datang, kesannya bukan “plot twist demi plot twist,” melainkan seperti semua rahasia itu akhirnya menabrak dinding di waktu yang sama. 

Apakah ending-nya akan bikin semua orang puas? Belum tentu. Tapi buatku, ada kepuasan tipis yang aneh di sana; kayak film ini tahu kita sudah diseret muter-muter cukup jauh, lalu akhirnya bilang, “nih, ambil konsekuensinya.”

The Drama (2026)
The Drama (2026) | © A24

Dan kalau kamu sempat lihat materi promosi atau poster yang dari awal membungkus film ini seperti undangan menuju sebuah pernikahan, ya… filmnya memang dari awal sudah ngasih clue bahwa “hari bahagia” ini kemungkinan besar nggak akan berjalan waras. 

The Drama adalah film yang kelihatan kecil, tenang, dan sederhana, tapi diam-diam punya gigitan psikologis yang bikin hubungan antarkarakternya terasa rapuh banget. Ini bukan tontonan buat kamu yang mau drama romantis manis dan aman; ini lebih cocok buat kamu yang suka film hubungan pasangan yang penuh ketidaknyamanan, dialog tajam, dan rasa ragu yang dibangun perlahan sampai meledak.

Dengan Zendaya dan Robert Pattinson yang sama-sama bagus, plus pendekatan Borgli yang sengaja membuat semuanya terlihat “biasa” padahal emosinya semrawut, film ini berhasil jadi drama relationship meltdown yang nggak gampang dilupakan.



The Drama – Movie Info

Scroll to Top