
Undertone; Horor yang Bukan Cuma Ditonton, Didengar Pun Jadi Mimpi Buruk
Undertone adalah film supernatural horror Kanada yang ditulis dan disutradarai Ian Tuason dalam debut penyutradaraannya, dibintangi Nina Kiri sebagai Evy dan Adam DiMarco sebagai suara Justin.
Film ini premiere di Fantasia International Film Festival pada 27 Juli 2025, lalu rilis teater Amerika Serikat pada 13 Maret 2026 lewat A24, dengan durasi 94 menit dan budget sekitar 500 ribu dolar.

Ceritanya mengikuti Evy, host podcast paranormal yang skeptis, saat ia kembali ke rumah untuk merawat ibunya yang sedang koma. Bersama Justin, ia menerima sepuluh rekaman audio anonim dari pasangan Mike dan Jessa, yang awalnya terdengar seperti gangguan rumah biasa, tapi pelan-pelan berubah jadi kutukan suara yang masuk ke hidup Evy sendiri.
Premis Ibu Hamil, Demon, dan Rekaman yang Seharusnya Tidak Diputar
Premis Undertone mengerikan karena film menghubungkan teror supernatural dengan kehamilan Evy, membuat ketakutannya terasa sangat personal dan tidak bisa dilepas begitu saja. Ia baru mengetahui dirinya hamil enam minggu, lalu rekaman yang ia dengar mulai mengarah pada Abyzou, demon dalam folklor Mediterranean dan Eropa yang dikaitkan dengan keguguran serta dorongan ibu untuk membunuh anaknya sendiri.

Ini bukan horor yang mengandalkan rumah besar penuh jumpscare setiap lima menit, tetapi horor yang membuat suara bayi menangis, lagu anak-anak, dan bisikan terbalik terasa seperti ancaman. Begitu “London Bridge” dan “Baa, Baa, Black Sheep” diputar mundur dan terdengar punya pesan mengerikan, film langsung mengotori sesuatu yang biasanya polos menjadi disturbing banget.
Eksekusi horornya tidak selalu terasa padat, karena sebagian besar film bertumpu pada Evy di satu rumah, layar komputer, percakapan podcast, dan rekaman yang diputar satu per satu. Namun justru ruang kosong, keheningan, dan ketidakpastian itulah yang membuat film ini punya rasa merinding pelan yang cukup tajam.
Beberapa review menilai pendekatan ini efektif karena film tidak memaksa penonton melihat semuanya secara gamblang. Tuason lebih percaya pada imajinasi penonton, bahkan pernah menyebut inspirasi minimalis seperti The Babadook, ketika benda biasa seperti jaket di kursi bisa cukup untuk membuat ruangan terasa salah.
Audio sebagai Senjata yang Bikin Penasaran

Pembagian audio menjadi sepuluh file adalah jualan paling ampuh film ini, karena setiap rekaman terasa seperti pintu kecil menuju neraka yang lebih dalam. Kita ikut penasaran bersama Evy dan Justin, ingin tahu isi file berikutnya, tapi juga sadar bahwa dalam logika horor, mendengarkan semuanya pasti keputusan yang buruk.
Sound design-nya memang jadi bintang utama, bahkan Rotten Tomatoes menyebut film ini memakai negative space dan audio unsettling untuk membangun dread yang imersif. Empire juga memuji pengalaman sonic-nya sebagai sesuatu yang sangat menyeramkan, sementara The Observer menekankan bahwa aktor, layar komputer, dan sound design kreatif saja bisa cukup untuk menciptakan horor yang efektif.
Karakter Nina Kiri Menahan Film Ini Sendirian

Nina Kiri sebagai Evy membawa film ini hampir sendirian secara visual, karena Evy dan ibunya adalah satu-satunya karakter yang benar-benar terlihat di layar. Semua karakter lain hadir sebagai suara, sehingga tekanan akting ada pada wajah, napas, reaksi, dan perubahan kecil Evy ketika logika skeptisnya mulai retak.
Evy bukan karakter horor yang langsung percaya pada setan, dan itu membuat proses hancurnya lebih menarik. Ia mencoba menjelaskan semuanya sebagai hoaks, gangguan audio, atau sugesti, tapi kehamilan, ibunya yang sekarat, rasa bersalah religius, dan suara-suara yang makin dekat membuat pertahanannya pelan-pelan runtuh.
Visual Rumah Kecil yang Rasanya Makin Sempit

Secara visual, Undertone sengaja tidak banyak bergerak keluar dari rumah Evy, dan keputusan ini membuat film terasa klaustrofobik. Rumah itu bukan rumah berhantu klasik yang penuh lorong gothic, tetapi ruang domestik biasa yang jadi tidak aman karena suara dari luar rekaman mulai terasa hidup di dalamnya.
Graham Beasley sebagai sinematografer dan Sonny Atkins sebagai editor menjaga film tetap minimalis, kadang terlalu minimalis untuk penonton yang butuh stimulasi visual lebih besar. Tapi ketika Evy memakai headphone dan dunia luar seperti mati, film berhasil membuat kita merasa ikut terjebak dalam ruang suara yang makin lama makin busuk.
Ending Antiklimaks yang Justru Membuka Banyak Teori

Ending Undertone terasa antiklimaks karena tidak memberi jawaban tegas tentang nasib Evy, tetapi justru itu yang membuatnya ramai diteorikan. Setelah rekaman terakhir, teror seolah telah pindah dari rumah Mike dan Jessa ke rumah Evy, lalu film memotong ke kegelapan tanpa menampilkan resolusi jelas.
Sebagian penonton mungkin merasa kecewa karena ingin payoff visual yang lebih keras, tetapi ending ini cocok dengan konsep audio nightmare yang sejak awal dibangun film. Yang menakutkan bukan cuma “apa yang terjadi,” melainkan kemungkinan bahwa Evy sudah terjebak dalam kutukan media yang menyebar lewat mendengarkan.
Slow Burn yang Membelah Penonton, Tetap Susah Dilupakan

Sebagai hiburan horor, Undertone jelas bukan untuk semua orang, karena ritmenya lambat, fokusnya audio, dan jumpscare-nya tidak selalu datang dalam bentuk visual besar. IMDb mencatat rating sekitar 5,9, sementara Rotten Tomatoes menunjukkan 74% ulasan kritikus positif dan Metacritic memberi skor 64, jadi responsnya memang lebih dihargai kritikus daripada sebagian penonton umum.
CinemaScore yang berada di C juga cukup menjelaskan kenapa film ini bisa terasa memecah pengalaman bioskop. Penonton yang datang mencari horor cepat mungkin bosan, sementara penonton yang suka slow burn atmosferik bisa merasa film ini seperti podcast jahat yang diam-diam merangkak ke kepala.
Undertone punya premis kuat, terutama karena mengikat teror audio dengan ketakutan menjadi ibu, kehilangan orang tua, dan trauma religius. Eksekusinya tidak selalu padat dan beberapa tropenya terasa familiar, tetapi nuansa horor yang dibangun lewat suara tetap tajam dan cukup bikin merinding.

Kelebihannya ada pada konsep rekaman bertahap, sound design menyeramkan, performa Nina Kiri, dan ending ambigu yang membuka banyak teori. Kekurangannya ada pada pacing lambat, payoff yang bisa terasa kurang meledak, dan sebagian elemen demon yang mungkin terasa belum sepenuhnya tergali.
Kalau kamu suka horor yang bermain dengan suara, kesunyian, dan rasa takut yang muncul setelah film selesai, Undertone layak dicoba dengan headphone atau sound system bagus. Ini bukan horor paling ramai tahun ini, tapi sebagai pengalaman audio yang membuat lagu anak-anak terdengar seperti kutukan, film ini cukup berhasil masuk ke bawah kulit.





