Review Film – Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings; Film Marvel Rasa Kung Fu Family Drama yang Nendang Banget

MCU biasanya identik dengan armor, dewa, multiverse, atau ledakan CGI raksasa, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings datang membawa rasa yang cukup beda: martial arts, konflik keluarga, mitologi Asia, dan daddy issue yang kalau dipikir-pikir lebih tajam daripada banyak senjata di film ini. 

Film tahun 2021 ini disutradarai Destin Daniel Cretton, ditulis bersama Dave Callaham dan Andrew Lanham, serta menjadi film ke-25 dalam Marvel Cinematic Universe.

Dengan durasi 132 menit, film ini dibintangi Simu Liu sebagai Shang-Chi, Awkwafina sebagai Katy, Meng’er Zhang sebagai Xialing, Michelle Yeoh, Ben Kingsley, Benedict Wong, dan tentu saja Tony Leung sebagai Xu Wenwu. 

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Film ini dirilis di Amerika Serikat pada 3 September 2021, meraih sekitar US$432,2 juta secara global, dan menjadi salah satu film penting Phase Four karena memperkenalkan hero Asia pertama yang memimpin film solo Marvel Studios.

Cerita mengikuti Shang-Chi, yang hidup normal di San Francisco dengan nama “Shaun” dan bekerja sebagai valet bersama sahabatnya, Katy. Hidup santai itu langsung hancur ketika ia diserang anggota Ten Rings di bus, lalu masa lalunya sebagai anak pemimpin organisasi kriminal terbesar akhirnya terbuka.

Plot ini memakai formula klasik Marvel: hero kabur dari masa lalu, lalu dipaksa menghadapinya. Tapi yang bikin segar adalah lapisan keluarga di dalamnya, karena konflik utama bukan sekadar “selamatkan dunia”, melainkan anak yang harus menghadapi ayahnya sendiri, trauma masa kecil, dan warisan kekerasan yang selama ini ia hindari.

Hero Baru yang Relatable Tapi Tetap Badass
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Simu Liu berhasil membawa Shang-Chi sebagai karakter yang gampang disukai. Dia bukan hero yang langsung tampil penuh wibawa dari awal, tapi orang biasa yang lucu, agak menghindar dari tanggung jawab, dan punya luka batin besar yang disembunyikan di balik hidup normal.

Begitu action dimulai, barulah kita sadar bahwa “Shaun si valet” ini ternyata monster martial arts yang sangat terlatih. Simu Liu melakukan banyak stunt sendiri karena karakter ini tidak memakai topeng, dan latar latihan seperti taekwondo, gymnastics, Wing Chun, tai chi, wushu, Muay Thai, silat, Krav Maga, jiu-jitsu, boxing, sampai street fighting membuat gerakannya terasa lebih grounded dan fisikal.

Comic Relief yang Nggak Cuma Tempelan
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Awkwafina sebagai Katy memberi energi komedi yang ringan tanpa terlalu mengganggu. Dia menjadi perspektif penonton: orang biasa yang tiba-tiba terseret ke dunia organisasi rahasia, fight club Macau, dimensi mistis, dan naga raksasa.

Menariknya, Katy tidak hanya dipakai untuk joke. Karakternya juga punya kegelisahan soal arah hidup dan ekspektasi keluarga, sesuatu yang cukup relatable untuk banyak penonton muda usia 15–40 yang mungkin juga pernah merasa, “gue ini sebenarnya mau jadi apa sih?”

Mari jujur: Tony Leung sebagai Xu Wenwu adalah jantung film ini. Wenwu bisa saja jadi villain generik pemimpin organisasi kriminal, tapi performa Leung membuatnya terasa seperti pria tua yang terlalu lama hidup, terlalu banyak kehilangan, dan terlalu keras kepala untuk menerima kenyataan.

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Wenwu bukan Mandarin karikatural yang datar. Ia adalah ayah, suami, pemimpin, pejuang, dan orang yang cintanya berubah jadi obsesi berbahaya setelah kehilangan Ying Li. Itulah kenapa setiap adegan Wenwu terasa berat: kita tahu dia salah, tapi kita juga paham kenapa dia tidak bisa berhenti.

Meng’er Zhang sebagai Xialing mencuri perhatian sebagai adik Shang-Chi yang tumbuh dalam sistem keluarga yang tidak memberi ruang untuknya. Karena Wenwu tidak mengizinkannya berlatih, Xialing diam-diam melatih dirinya sendiri sampai akhirnya membangun fight club bawah tanah di Macau.

Karakter ini punya aura kuat, dingin, dan penuh luka. Hubungannya dengan Shang-Chi juga menarik karena mereka sama-sama korban pola asuh Wenwu, tapi memilih cara bertahan yang berbeda: Shang-Chi kabur, Xialing membangun kekuasaan sendiri.

Salah Satu Koreografi Terbaik di MCU
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Bagian action adalah alasan besar kenapa film ini terasa fresh. Adegan bus di San Francisco langsung jadi salah satu sequence terbaik MCU karena koreografinya jelas, intens, kreatif, dan punya rhythm martial arts yang enak ditonton.

Fight di scaffolding Macau juga tidak kalah keren, karena memadukan vertigo, hand-to-hand combat, dan tensi emosional antara Shang-Chi dan Xialing. Brad Allan dan anggota Jackie Chan Stunt Team ikut mengoordinasikan fight sequences, dan pengaruh itu terasa banget dari cara action-nya mengutamakan tubuh, timing, dan ruang, bukan cuma CGI.

Dari Jalanan San Francisco ke Dunia Mistis Ta Lo

Secara visual, film ini punya dua rasa yang cukup berbeda. Bagian awal lebih urban dan grounded, sementara bagian Ta Lo membawa kita ke dunia mistis penuh makhluk mitologis, dragon scale armor, hutan ajaib, dan Great Protector yang megah.

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Ta Lo memang cantik dan memberi nuansa fantasi Asia yang berbeda dari dunia MCU lain. Tapi jujur, ketika film masuk ke final battle CGI besar, sedikit rasa intim dari action martial arts awal agak berkurang, karena pertarungan manusiawi berubah menjadi perang monster raksasa.

Sebagai tontonan hiburan, Shang-Chi sangat berhasil. Ceritanya cukup mudah diikuti, komedinya tidak terlalu berlebihan, action-nya padat, dan emosinya punya akar keluarga yang gampang dipahami lintas usia.

Film ini juga tetap nyambung ke MCU lewat kemunculan Wong, Abomination, serta mid-credit scene bersama Bruce Banner dan Carol Danvers. Tapi untungnya, koneksi itu tidak mengganggu cerita utama; Shang-Chi tetap berdiri sebagai film solo yang punya identitas sendiri.

Final Epik, Tapi Sedikit Kehilangan Keintiman
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Final act di Ta Lo mempertemukan Shang-Chi, Xialing, Katy, warga Ta Lo, Ten Rings, Great Protector, dan Dweller-in-Darkness. Skalanya besar, visualnya megah, dan momen Shang-Chi mewarisi Ten Rings dari Wenwu terasa kuat secara simbolis. 

Namun, bagian paling emosional justru bukan saat monster besar dikalahkan, melainkan saat Wenwu akhirnya sadar dan menyerahkan Ten Rings pada putranya sebelum mati. Di situlah film paling nendang: bukan ketika dunia diselamatkan, tapi ketika anak akhirnya menerima warisan ayahnya tanpa menjadi seperti ayahnya. 

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) | © Marvel Studios

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings adalah salah satu film Phase Four MCU yang paling segar, terutama karena action martial arts-nya kuat, representasinya penting, dan Tony Leung memberi villain dengan emosi yang luar biasa. Film ini punya sedikit kelemahan di final CGI besar yang terasa lebih generik, tapi perjalanan karakternya tetap solid dan menghibur.

Buat kamu pecinta film Marvel, action martial arts, atau drama keluarga dengan rasa fantasi Asia, Shang-Chi wajib ditonton; ini bukan cuma “film origin hero baru”, tapi bukti bahwa MCU masih bisa terasa fresh kalau berani masuk lewat budaya, koreografi, dan konflik keluarga yang benar-benar punya hati.

Logo Disney Plus


Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings – Movie Info

Scroll to Top