Review Film – Materialists (2025)

Materialists; Cinta, Uang, dan Red Flag yang Dibungkus Cantik

Materialists adalah film romantic comedy-drama Amerika tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai Celine Song, dengan Dakota Johnson, Chris Evans, dan Pedro Pascal sebagai tiga pusat hubungan utamanya. Film ini rilis di Amerika Serikat pada 13 Juni 2025 lewat A24, berdurasi 117 menit, dan menjadi film kedua Celine Song setelah Past Lives. 

Walau diminta sebagai film horror, Materialists sebenarnya bukan horor dalam arti hantu atau pembunuhan, tapi kalau kamu pernah capek dengan dating apps, standar pasangan yang kayak daftar belanja, dan cinta yang dihitung pakai angka, film ini tetap punya rasa ngeri yang sangat nyata.

Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Ceritanya mengikuti Lucy Mason, mantan aktris yang kini bekerja sebagai matchmaker sukses di New York, lalu terjebak antara Harry Castillo, pria kaya yang tampak “sempurna”, dan John Pitts, mantan pacar yang tidak mapan tapi masih punya tempat di hatinya.

Romcom yang Senyumnya Mahal, Tapi Hatinya Lelah

Lucy bekerja di Adore, agensi matchmaking elit yang membantu orang kaya mencari pasangan berdasarkan kriteria super spesifik, mulai dari usia, tinggi badan, status ekonomi, sampai paket kepribadian yang terdengar seperti filter e-commerce.

Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Film ini langsung menarik karena Celine Song tidak memperlakukan cinta sebagai dongeng manis, melainkan sebagai transaksi sosial yang kadang terasa dingin, lucu, dan menyedihkan sekaligus.

Konflik utama muncul ketika Lucy bertemu Harry, pria kaya, elegan, dan sangat ideal di atas kertas, sementara John hadir sebagai mantan yang secara finansial jauh dari sempurna tapi masih punya koneksi emosional paling jujur dengannya. Di sinilah film mulai menusuk pelan-pelan: apakah cinta harus masuk akal secara ekonomi, atau justru cinta paling benar itu yang membuat angka-angka jadi berantakan?

Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Bagian yang paling gelap muncul lewat subplot Sophie, klien Lucy yang mengalami kekerasan setelah dijodohkan lewat sistem yang katanya profesional dan aman. Subplot ini memberi film bobot moral yang besar, walau beberapa kritik merasa pengolahannya agak problematis karena terlalu cepat masuk dan keluar dari cerita utama. 

Kelemahannya, film ini kadang terasa seperti ingin menjadi romcom, drama sosial, kritik kapitalisme, dan studi karakter sekaligus, tapi tidak semua bagian punya kedalaman yang sama. Ada momen ketika dialognya tajam banget, tapi ada juga bagian yang terasa terlalu konseptual, seperti tesis tentang cinta yang dipakaikan gaun mahal.

Terlihat Indah Semua, Tapi Luka Mereka Lebih Menarik
Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Dakota Johnson sebagai Lucy cocok banget karena ia punya aura cool, datar, dan elegan yang sesuai dengan karakter perempuan yang sudah terlalu terbiasa menjual cinta sebagai produk. Lucy bukan karakter yang gampang dipeluk, tapi justru menarik karena ia pintar, sinis, rapuh, dan diam-diam takut salah memilih hidup. 

Pedro Pascal sebagai Harry membawa pesona “perfect man” yang nyaris tidak realistis: kaya, sopan, dewasa, dan kelihatan seperti jawaban dari semua checklist dating modern. Tapi film cukup pintar untuk menunjukkan bahwa orang yang cocok di atas kertas belum tentu membuat hati bergerak, karena kesempurnaan juga bisa terasa seperti kontrak mahal tanpa napas.

Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Chris Evans sebagai John tampil lebih sederhana, lusuh, dan emosional dibanding persona blockbuster yang sering melekat padanya. John adalah tipe karakter yang mungkin kalah di spreadsheet Lucy, tapi menang di memori, rasa nyaman, dan sejarah yang tidak bisa dibeli dengan penthouse 12 juta dolar.

Chemistry tiga pemain utama cukup kuat, meski tidak selalu meledak seperti romcom klasik yang penuh sparkle. Film ini memang lebih tertarik pada rasa canggung, jarak, dan pertanyaan batin daripada membuat kita teriak “cieee” setiap lima menit.

New York yang Mahal, Dingin, dan Sangat Instagrammable
Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Shabier Kirchner memotret Materialists di 35mm film, membuat New York terlihat elegan, lembut, dan sedikit melankolis. Lokasi syutingnya mencakup Manhattan, Brooklyn, West Village, Brooklyn Heights, dan Sunset Park, sehingga kota ini terasa bukan sekadar latar, tapi pasar besar tempat cinta dijual dengan harga berbeda-beda. 

Kostum film ini juga bekerja sebagai komentar sosial, bukan hanya pemanis visual. Harry memakai brand mewah yang menunjukkan kelas dan kontrol citra, John tampil lebih sederhana karena kondisi ekonominya, sementara Lucy berada di tengah sebagai perempuan yang memahami nilai tampilan tapi tidak selalu yakin dengan nilai hatinya sendiri.

Gaun biru Lucy yang muncul di poster terasa seperti simbol: cantik, bersih, mahal, tapi juga sedikit jauh dan sulit disentuh. Visual film ini cocok dengan temanya, karena semuanya terlihat polished, sementara isi hatinya justru penuh retakan kecil.

Romcom untuk Orang yang Sudah Capek Percaya Romcom
Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Materialists bukan romcom ringan yang memberi gula dari awal sampai akhir. Film ini lebih pahit, lebih dewasa, dan lebih cerewet soal uang, status, serta cara manusia memasarkan diri demi terlihat layak dicintai.

Kalau kamu datang berharap film berbunga-bunga penuh komedi dating lucu, mungkin rasanya sedikit dingin dan lambat. Tapi kalau kamu suka romance yang membongkar lapisan tidak nyaman di balik “pasangan ideal”, film ini punya banyak bahan untuk dipikirkan setelah selesai.

IMDb mencatat rating sekitar 6,2 dari lebih dari 100 ribu penilaian, yang terasa cukup menggambarkan reaksi penonton yang terbagi. Banyak yang menghargai kedewasaan dan dialognya, tapi tidak sedikit juga yang merasa film ini terlalu datar, terlalu prediktabel, atau kurang chemistry untuk ukuran cerita cinta segitiga.

Horor Paling Realistis Adalah Menyadari Cinta Bisa Dihitung
Materialists (2025)
Materialists (2025) | © A24

Materialists adalah film yang indah, cerdas, dan dingin dengan cara yang sengaja dibuat tidak sepenuhnya nyaman. Celine Song tidak memberi fantasi cinta yang mudah, tapi memaksa kita melihat bahwa banyak hubungan modern dibangun dari ketakutan: takut miskin, takut salah pilih, takut menua, takut tidak cukup menarik, dan takut cinta saja tidak cukup.

Kelebihannya ada pada konsep yang tajam, visual 35mm yang cantik, performa trio utamanya, dan keberanian film untuk membuat romcom terasa seperti debat moral. Kelemahannya ada pada pacing yang kadang lambat, subplot serius yang tidak sepenuhnya rata, dan ending yang mungkin terasa terlalu rapi bagi sebagian penonton. 

Kalau Past Lives adalah luka lama yang dibisikkan pelan, Materialists adalah spreadsheet cinta yang tiba-tiba berdarah. Ini bukan horror, tapi cukup menakutkan karena menunjukkan bahwa kadang monster terbesar dalam hubungan adalah standar yang kita buat sendiri.



Materialists – Movie Info

Scroll to Top