
One Punch Man Season 3, Penantian Panjang Hero vs Monster Rasanya Kurang Terbayar
One Punch Man Season 3 merupakan musim ketiga anime adaptasi webcomic karya One dan manga ilustrasi Yusuke Murata. Cour pertamanya terdiri dari 12 episode yang tayang melalui TV Tokyo pada 12 Oktober sampai 29 Desember 2025, sedangkan cour kedua telah diumumkan untuk 2027.
J.C.Staff kembali menangani produksinya dengan Shinpei Nagai menggantikan Chikara Sakurai sebagai sutradara. Sebagian besar pemain dan staf utama dari musim kedua kembali, sementara lagu pembukanya dibawakan JAM Project bersama Babymetal.

Season ini mengeksplorasi Monster Association secara lebih luas, mulai dari struktur kepemimpinan, karakteristik monster, sampai rencana mereka melawan Hero Association. Orochi dan Gyoro-Gyoro tidak lagi terasa seperti penjahat episodik, melainkan pemimpin organisasi yang memahami strategi, propaganda, dan kelemahan lawan.
Konfliknya berkembang setelah putra salah satu penyandang dana Hero Association diculik dan para hero kelas S dikirim menuju markas bawah tanah para monster. Cerita kemudian berubah menjadi operasi besar dengan sejumlah pertempuran berlangsung bersamaan, membuat ancamannya terasa lebih sistematis daripada kemunculan monster acak di kota.
Garou Semakin Dekat Menjadi Monster Sesungguhnya

Garou masih menjadi karakter paling menarik karena posisinya tidak pernah sepenuhnya berada di sisi manusia ataupun monster. Ia membenci sistem hero, melindungi anak kecil bernama Tareo, tetapi terus menerima kekuatan baru yang perlahan mendorong tubuh serta pikirannya menuju batas kemanusiaan.
Perjalanan Garou memberi season ini konflik moral yang lebih kuat daripada pertanyaan sederhana tentang siapa yang menang dalam pertarungan. Sayangnya, fokus panjang kepadanya membuat Saitama semakin jarang muncul, sampai tokoh utama anime ini sesekali terasa seperti karakter pendukung dalam ceritanya sendiri.
Semakin Banyak Hero dengan Kekuatan yang Sangat Unik

Operasi penyerbuan menjadi kesempatan untuk menampilkan banyak hero kelas S yang sebelumnya hanya muncul singkat. Child Emperor, Zombieman, Flashy Flash, Atomic Samurai, Pig God, Puri-Puri Prisoner, dan Superalloy Darkshine mendapat lawan yang dirancang untuk menguji kemampuan serta prinsip mereka masing-masing.
Episode seperti “Ninja Tale”, “Brave Child”, “Immortal Bloodbath”, dan “Top Dragons” memberi fokus kepada gaya bertarung berbeda. Variasi tersebut membuat dunia One-Punch Man terasa lebih luas, karena kemenangan tidak selalu datang dari kekuatan mentah dan kadang membutuhkan kecerdikan, daya tahan, kecepatan, atau kemampuan yang sangat absurd.

Sayangnya, jumlah karakter yang sangat banyak membuat beberapa pertarungan terasa seperti potongan teaser yang berhenti sebelum mencapai puncak. Kita terus diperkenalkan kepada hero, monster, jurus, dan konflik baru, tetapi tidak semuanya mendapat waktu cukup untuk meninggalkan dampak emosional.
Saitama tetap menjadi sumber komedi terbaik melalui wajah datar, respons malas, dan ketidakpeduliannya terhadap drama besar di sekelilingnya. Ketika hero lain sibuk menyusun strategi perang, dirinya masih mampu memikirkan hal remeh dan menghancurkan aura serius cerita hanya dengan satu komentar.

Humor tersebut menjaga identitas parodi serinya tetap hidup, meski tidak setajam musim pertama. Sejumlah ulasan menilai semangat serta kedalaman karakter masih terasa, tetapi absennya Saitama dalam banyak bagian membuat komedi khas anime ini kehilangan pusat gravitasinya.
Visual Pertarungan Sumber Kekecewaan Terbesar
Pertarungan seharusnya menjadi jualan utama anime ini, apalagi materi manga Yusuke Murata terkenal melalui panel sangat detail dan pergerakan yang terasa eksplosif. Namun season ketiga terlalu sering memakai gambar statis, gerakan kamera menyapu ilustrasi diam, efek kecepatan, dan potongan cepat yang gagal memberi bobot pada setiap hantaman.

Kritik terhadap kualitas animasinya begitu besar sampai muncul julukan “One-Frame Man”, “One-PNG Man”, dan “One Slideshow Man”. Salah satu contoh yang banyak disorot adalah adegan statis sekitar 20 detik pada episode keenam yang hanya memperlihatkan bagian luar bangunan sambil dialog berlangsung.
Adegan Garou juga melahirkan istilah “Garou Slide” karena pergerakannya dianggap terlalu kaku untuk karakter yang mengandalkan kecepatan serta kemampuan bela diri. Kritik keras tersebut memang tidak seharusnya berubah menjadi serangan personal kepada staf, tetapi rasa kecewa penonton tetap mudah dipahami setelah menunggu enam tahun.

Walaupun animasinya bermasalah, desain monster masih menjadi sumber kesenangan tersendiri. Para eksekutif Monster Association mempunyai bentuk, kemampuan, dan tingkat kegilaan berbeda, membuat setiap pertemuan tetap memancing rasa penasaran mengenai bagaimana hero dapat mengalahkan mereka.
Konsep pertarungannya juga masih kreatif karena lawan sering dipasangkan berdasarkan kelemahan atau benturan kemampuan tertentu. Masalahnya bukan kekurangan ide, tetapi eksekusi visual yang belum mampu menerjemahkan imajinasi liar materi sumber menjadi gerakan yang benar-benar hidup.
Masih Menghibur karena Ini Hanya Pemanasan ke Part Selanjutnya

Season ini belum kehilangan seluruh pesonanya karena interaksi para hero tetap penuh ego, salah paham, dan keputusan tidak masuk akal. Di tengah ancaman kehancuran kota, mereka masih sibuk menjaga reputasi, berdebat soal peringkat, atau meremehkan rekan yang terlihat kurang mengesankan.
Perpaduan pertarungan dan humor tersebut cukup menjaga cour pertama tetap layak ditamatkan, terutama bagi penonton yang sudah terikat dengan dunia serta karakternya. Namun pengalaman menontonnya lebih banyak ditopang cerita asli dan rasa penasaran terhadap duel berikutnya daripada kualitas presentasi animenya.

Episode terakhir, “Ultimate Lifeform”, belum memberikan penyelesaian penuh terhadap perang Hero Association dan Monster Association. Garou terus berkembang, para eksekutif monster masih menjadi ancaman, dan perjalanan menuju konfrontasi terbesar sengaja ditahan untuk cour kedua pada 2027.
Strategi tersebut memang membuat penonton penasaran tentang aksi selanjutnya, tetapi juga meninggalkan rasa bahwa 12 episode ini hanya pemanasan panjang. Setelah begitu banyak rapat, pengenalan karakter, dan pertarungan terpotong, penutupnya belum memberi payoff sekuat penantian selama enam tahun.
Ceritanya Membesar, Animasinya Malah Mengecil

One-Punch Man Season 3 berhasil memperluas organisasi musuh, memberi panggung kepada banyak hero unik, dan mempertahankan kekonyolan yang membuat serinya tetap menghibur. Konflik Garou serta Monster Association masih menarik, tetapi absennya Saitama dan visual pertarungan yang kaku membuat potensi besarnya terasa terbuang.
Kelebihannya ada pada desain monster, variasi kemampuan hero, dunia yang semakin luas, dan misteri menuju perang besar. Kekurangannya sangat jelas melalui gambar statis, pacing penuh eksposisi, aksi kurang bertenaga, serta akhir yang lebih terasa sebagai iklan untuk cour kedua.





