Review Den of Thieves 2: Pantera (2025)

Den of Thieves 2, Heist Dunia Kriminal Bikin Tidak Nyaman

Den of Thieves 2: Pantera adalah film heist action crime tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai Christian Gudegast, menjadi sekuel langsung dari Den of Thieves tahun 2018. Gerard Butler kembali sebagai Nicholas “Big Nick” O’Brien, sementara O’Shea Jackson Jr. kembali sebagai Donnie Wilson, kali ini masuk ke jaringan pencuri berlian kelas Eropa yang lebih licin dan lebih internasional. 

Film ini sebenarnya thriller kriminal penuh pencurian, penyamaran, mafia, dan ketegangan operasi yang bisa bikin telapak tangan basah. Rasa “ngeri”-nya bukan dari setan, tapi dari dunia kriminal dingin yang isinya orang-orang pintar, berbahaya, dan siap menembak kalau rencana meleset sedikit saja.

Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Film ini dirilis Lionsgate di Amerika Serikat pada 10 Januari 2025, berdurasi 144 menit, dan dibuat dengan budget sekitar 40 juta dolar. Secara box office, Pantera meraup sekitar 58,4 juta dolar di seluruh dunia, angka yang tidak meledak besar tapi cukup menjaga denyut franchise ini tetap hidup.

Big Nick ke Eropa, Donnie Naik Kelas Jadi Pemain Berlian

Cerita dimulai ketika Donnie Wilson bergabung dengan Panther Crew, kelompok pencuri profesional yang sedang mengincar berlian dan dokumen penting dalam operasi rapi di Antwerp. Dari sana, plot bergerak ke Nice, Prancis, saat Donnie dan gengnya menyiapkan pencurian besar di World Diamond Center, sementara Big Nick menyusul dari Amerika dengan niat yang awalnya tampak seperti pengejaran, tapi lama-lama berubah jadi kerja sama penuh tanda tanya.

Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Premis “polisi kasar akhirnya masuk ke kru kriminal” ini sebenarnya sangat menarik karena memberi dinamika baru setelah film pertama lebih fokus pada duel law enforcement versus perampok. Pantera terasa seperti film yang lebih santai dan sedikit lebih playful, tidak seberat film pertama, tapi tetap mempertahankan aroma maskulin, kotor, dan penuh keringat khas Den of Thieves.

Masalahnya, film ini panjang banget dan tidak semua menitnya terasa perlu. Banyak bagian awal dipakai untuk membangun suasana, gaya hidup, proses infiltrasi, dan bromance Nick-Donnie, tapi buat sebagian penonton, fase ini bisa terasa seperti pemanasan yang kelewat lama sebelum heist sebenarnya dimulai.

Namun begitu rencana pencurian masuk ke fase eksekusi, film mulai menemukan napas terbaiknya. Detail soal kamera, identitas palsu, sistem keamanan, akses vault, dan timing operasi membuat bagian heist terasa lebih memuaskan daripada sekadar aksi tembak-tembakan biasa.

Gerard Butler Kumal, O’Shea Jackson Jr. Makin Licin
Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Gerard Butler sebagai Big Nick masih membawa energi “polisi rusak tapi susah dibenci” yang jadi ciri khas karakter ini. Bedanya, kali ini Nick terasa lebih lepas, lebih kacau secara personal, dan lebih lucu karena ia seperti orang Amerika brutal yang dipaksa masuk ke permainan kriminal Eropa yang lebih elegan.

O’Shea Jackson Jr. sebagai Donnie tampil lebih percaya diri dibanding film pertama. Donnie bukan lagi sekadar tukang selamat yang pintar membaca situasi, tapi sudah naik level jadi pemain yang bisa masuk ke dunia pencurian berlian internasional dan tetap terlihat tenang saat semua orang di sekitarnya punya agenda sendiri.

Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Chemistry Butler dan Jackson Jr. menjadi salah satu alasan film ini tetap enak diikuti meski ritmenya kadang melambat. Hubungan mereka punya rasa buddy-crime yang aneh: saling curiga, saling butuh, saling menipu, tapi diam-diam ada respek yang membuat interaksi mereka lebih hidup daripada subplot lain.

Evin Ahmad sebagai Jovanna atau Cleopatra memberi warna baru sebagai pemimpin Panther Crew yang cool, cerdas, dan tidak mudah dibaca. Salvatore Esposito sebagai Slavko dan karakter mafia seperti The Octopus menambah tekstur kriminal Eropa, walau beberapa tokoh pendukung masih terasa lebih seperti bagian mekanisme plot daripada karakter yang benar-benar dalam. 

Aksi dan Heist Lebih Rapi, Lebih Teknis, Tapi Tidak Selalu Meledak
Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Aksi di Pantera tidak selalu datang dalam bentuk baku tembak brutal seperti film pertama. Film ini lebih tertarik menunjukkan proses, persiapan, dan detail teknis pencurian, sehingga ketegangannya tidak selalu berasal dari peluru, tapi dari kemungkinan satu kesalahan kecil menghancurkan seluruh operasi. 

Bagian pencurian vault menjadi highlight karena digarap dengan cukup sabar dan penuh perhatian terhadap detail. Beberapa ulasan memuji set-piece film ini karena terasa lebih metalik, praktikal, dan tidak terlalu bergantung pada CGI kartunis yang sering membuat action modern kehilangan bobot.

Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Namun buat penonton yang berharap ledakan aksi non-stop, film ini bisa terasa kurang ganas. Ada banyak percakapan, perencanaan, perjalanan, dan tatapan macho sebelum adrenalin benar-benar naik, jadi kesabarannya memang diuji.

Ketika aksi akhirnya pecah, terutama saat escape dan konflik dengan geng lain serta mafia, film memberikan rasa keras yang cukup memuaskan. Hanya saja, ia tidak selalu punya satu adegan ikonik yang langsung menempel di kepala seperti shootout besar yang biasanya dicari dari film kriminal semacam ini. 

Nuansa Eropa Terlihat Mahal, Kriminalnya Terlihat Melelahkan
Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Perpindahan latar ke Antwerp, Nice, Italia, dan wilayah Eropa memberi film ini napas visual yang lebih luas dibanding film pertama. Produksi juga dilakukan di Inggris dan Canary Islands, dengan beberapa area Santa Cruz de Tenerife disulap agar terlihat seperti lokasi Eropa yang cocok untuk dunia bank, berlian, dan mafia.

Sinematografi Terry Stacey memberi film ini tampilan yang cukup bersih tapi tetap macho. Ada banyak shot jalanan, coastline, interior bank, club, dan ruang keamanan yang membuat film terasa seperti campuran heist thriller dan liburan kriminal yang mahal tapi berbahaya.

Kevin Matley menggantikan Cliff Martinez untuk scoring, dan musiknya cukup mendukung ritme film yang lebih smooth dibanding pendahulunya. Nuansanya tidak terlalu mencolok, tapi efektif menjaga mood kriminal internasional yang santai, licik, dan kadang seperti film sedang menikmati dinginnya Eropa sambil merencanakan kejahatan besar.

Dad Cinema yang Panjang, Nikmat Kalau Mood-nya Pas
Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Den of Thieves 2: Pantera mendapat respons campuran ke positif, dengan Rotten Tomatoes mencatat 62% ulasan positif dan Metacritic memberi skor 60. IMDb menampilkan rating sekitar 6,3 dari puluhan ribu penilaian, yang terasa cukup pas untuk film yang jelas punya penggemar spesifik tapi tidak akan memuaskan semua orang. 

Rotten Tomatoes menyebut film ini menukar keseriusan film pertama dengan pendekatan yang lebih ringan dan sedikit wink-wink, meski familiaritasnya masih terasa. Istilah “Dad Cinema” terasa cocok banget: pria besar, kriminal profesional, mobil, senjata, berlian, rencana rumit, dan dialog macho yang kadang terdengar seperti keluar dari botol whiskey.

Kelebihan hiburannya ada pada vibe santai namun keras, chemistry dua pemeran utama, dan proses heist yang cukup detail. Kekurangannya ada pada durasi 144 menit yang bisa terasa gemuk, pacing awal yang lambat, dan plot yang kadang terlalu berbelit untuk cerita yang sebenarnya bisa lebih ringkas. 

Den of Thieves 2: Pantera (2025)
Den of Thieves 2: Pantera (2025) | © Lionsgate

Den of Thieves 2: Pantera adalah film heist action crime yang lebih nyaman bermain di wilayah pencurian teknis, kriminal internasional, dan bromance kasar antara polisi bermasalah dan pencuri yang makin licin.

Sebagai sekuel, film ini cukup berhasil memperluas dunia Den of Thieves ke skala global tanpa kehilangan DNA macho-nya. Ia mungkin tidak lebih tajam dari film pertama untuk semua penonton, tapi jelas punya identitas yang lebih santai, lebih elegan, dan lebih percaya diri sebagai franchise heist.

Kalau kamu suka heist movie yang sabar membangun rencana, penuh detail teknis, dan dibumbui karakter pria-pria bermasalah yang merasa hidup cuma masuk akal saat sedang merampok atau mengejar perampok, film ini layak dicoba. Tapi kalau kamu butuh aksi cepat sejak menit awal, Pantera mungkin terasa seperti mobil sport yang terlalu lama dipanaskan sebelum akhirnya melaju.

Logo Amazon Prime Video


Den of Thieves 2: Pantera – Movie Info

Scroll to Top