Review Film – A Working Man (2025)

A Working Man; Tukang Bangunan yang Salah Diajak Main Mafia

A Working Man adalah film action thriller tahun 2025 yang disutradarai David Ayer, dengan skenario yang ditulis Ayer bersama Sylvester Stallone, berdasarkan novel Levon’s Trade karya Chuck Dixon. Film ini dibintangi Jason Statham sebagai Levon Cade, ditemani Michael Peña, David Harbour, Jason Flemyng, Merab Ninidze, Arianna Rivas, dan Noemi Gonzalez.

Walau diminta sebagai film horror, A Working Man sebenarnya bukan horor supernatural, melainkan thriller aksi gelap tentang penculikan, human trafficking, mafia Rusia, trauma perang, dan kekerasan yang cukup brutal. Jadi rasa “horror”-nya lebih datang dari dunia kriminal yang busuk dan situasi korban yang mengerikan, bukan dari hantu, setan, atau jumpscare.

A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

Film ini rilis di Amerika Serikat dan Inggris pada 28 Maret 2025, berdurasi 116 menit, dan meraup sekitar 89 juta dolar dari budget 40 juta dolar. Respons kritiknya campur aduk, dengan Metacritic memberi skor 52 dan Rotten Tomatoes mencatat konsensus bahwa film ini efisien sebagai kendaraan Jason Statham, tapi minim kepribadian yang benar-benar baru.

Formula Lama, Tapi Masih Punya Tulang yang Keras

Levon Cade adalah mantan Royal Marine Commando yang kini bekerja sebagai mandor konstruksi di Chicago dan berusaha hidup tenang sambil memperjuangkan hubungan dengan putrinya, Merry. Hidupnya kembali berantakan ketika Jenny, anak dari bosnya Joe Garcia, diculik oleh jaringan kriminal Rusia, memaksa Levon memakai lagi skill masa lalunya yang jelas tidak cocok untuk pekerjaan kantoran.

A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

Cerita bergerak dengan formula yang sangat dikenal: pria pendiam dengan masa lalu mengerikan, orang dekat diculik, polisi tidak banyak membantu, lalu satu orang menghancurkan jaringan kriminal sendirian. Ini bukan plot yang segar, bahkan bisa dibilang kamu sudah pernah melihat versi lain di banyak film Statham, Liam Neeson, sampai era Charles Bronson.

Namun formula bukan otomatis masalah kalau eksekusinya punya tenaga, dan di sini film masih punya dorongan naratif yang cukup jelas. Misi menyelamatkan Jenny memberi Levon alasan emosional yang simpel, sementara elemen PTSD, hak asuh anak, dan rasa bersalah masa lalu mencoba memberi lapisan manusiawi di balik aksi pukul-tusuk-tembak. 

Kelemahannya, naskah sering terlalu serius untuk film yang sebenarnya paling nikmat kalau sadar diri sebagai B-movie brutal. Beberapa subplot seperti dunia mafia Rusia, ayah mertua Levon, dan jaringan kriminal terasa seperti teaser untuk semesta lebih besar, tapi belum semuanya cukup menarik untuk dibawa sepanjang hampir dua jam.

Statham Mode Kerja, Harbour Jadi Bonus Rasa
A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

Jason Statham sebagai Levon Cade melakukan hal yang memang kita bayar untuk lihat: diam, menatap tajam, menahan emosi, lalu menghajar orang jahat dengan efisiensi seperti pekerja profesional yang tidak mau lembur. Ia tidak memberi performa yang mengejutkan, tapi ada sedikit kelembutan yang jarang terlihat dalam perannya, terutama ketika film menyentuh relasinya dengan anak dan luka masa lalu.

Michael Peña sebagai Joe Garcia memberi motivasi awal yang cukup hangat, walau perannya tidak sebesar yang mungkin diharapkan dari aktor sekelas dia. Arianna Rivas sebagai Jenny menjadi pusat misi penyelamatan, tetapi karakter ini kurang diberi banyak ruang sehingga rasa urgensinya lebih datang dari situasi penculikan daripada kedalaman personalnya.

A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

David Harbour sebagai Gunny Lefferty adalah salah satu elemen yang paling menyenangkan, karena karakternya memberi warna mentor sekaligus teman lama yang terasa lebih unik daripada karakter pendukung generik. Beberapa ulasan juga menyorot Harbour sebagai salah satu bagian yang paling menarik, meski porsinya terasa belum dimaksimalkan.

Villain-villain Rusia di film ini cukup teatrikal, berisik, dan sengaja dibuat busuk agar penonton tidak merasa bersalah ketika mereka dihajar. Sayangnya, sebagian besar dari mereka lebih terasa seperti target dalam game action daripada ancaman yang benar-benar cerdas atau menakutkan.

Aksi Padat, Tapi Tidak Selalu Meledak
A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

David Ayer membawa tekstur dunia kriminal yang gelap, kasar, dan cukup kotor, sesuai dengan gaya film-film urban action yang sering ia sentuh. Tapi dibanding The Beekeeper, kolaborasi Ayer dan Statham sebelumnya, A Working Man terasa lebih serius dan lebih berat, yang kadang membuat fun-nya sedikit tertahan.

Adegan aksinya mengandalkan baku hantam, tembak-menembak, interogasi keras, dan kekerasan R-rated yang cukup memuaskan untuk penggemar Statham. Ketika film masuk mode “Statham membersihkan ruangan penuh penjahat,” kualitas hiburannya langsung naik karena memang di situlah film ini paling percaya diri.

Masalahnya, koreografi dan staging tidak selalu punya momen ikonik yang akan kamu ingat lama setelah film selesai. Banyak adegan terasa efektif, tapi bukan luar biasa; berdarah, tapi tidak selalu kreatif; keras, tapi jarang membuat kita spontan bilang, “anjir, adegan itu gila.”

A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

Secara teknis, film ini lebih memilih gaya no-nonsense daripada visual yang terlalu glossy. Itu cocok untuk karakter Levon yang pekerja keras dan tidak banyak gaya, tapi juga membuat film sesekali terlihat terlalu datar untuk cerita yang sebenarnya ingin terasa besar dan kelam.

A Working Man adalah tontonan yang sangat mudah dijual kalau kamu sedang ingin melihat Jason Statham menghancurkan kriminal dengan alasan moral yang jelas. Film ini memberi paket standar: pahlawan pendiam, anak diculik, mafia sadis, teman lama, senjata, pukulan, dan final raid yang bisa ditebak tapi tetap enak dilihat. 

Ini terlihat lebih baik kalau kamu tidak menuntut kejutan besar. IMDb mencatat rating sekitar 5,7 dari puluhan ribu penilaian, yang terasa cukup sesuai: bukan film gagal total, tapi juga bukan level terbaik Statham seperti Wrath of Man atau keseruan absurd The Beekeeper. 

A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

Kritik terbesar film ini adalah repetisi dan minimnya identitas baru. Banyak review menyebut film ini terasa seperti kendaraan Statham yang “clock in, clock out,” datang bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang tanpa meninggalkan bekas yang terlalu dalam.

Tetap saja, ada kenyamanan aneh dalam formula ini. Kadang kita memang tidak butuh film action yang mengubah hidup, cukup satu pria marah dengan kemampuan militer, mafia yang terlalu percaya diri, dan 116 menit kekerasan yang rapi meski tidak revolusioner.

A Working Man bukan film horror seperti label permintaan awal, dan kalau masuk dengan ekspektasi horor, jelas kamu akan salah pintu. Ini film action thriller keras dengan tema kriminal gelap, dan kekuatannya ada pada Jason Statham yang masih sangat bisa dipercaya sebagai pria yang tidak boleh kamu ganggu saat dia cuma ingin hidup tenang.

A Working Man (2025)
A Working Man (2025) | © MGM

Kelebihannya ada pada aksi yang padat, Statham yang reliable, David Harbour yang memberi rasa berbeda, dan premis rescue mission yang sederhana tapi efektif. Kekurangannya ada pada plot yang terlalu familiar, villain tipis, durasi yang agak terasa panjang, dan tone yang kadang terlalu serius untuk film yang paling enak kalau lebih liar.

Kalau kamu suka film Statham, ini masih layak ditonton sebagai menu action malam minggu yang aman. Tapi kalau kamu berharap sesuatu yang segar, intens, atau benar-benar mencekam seperti thriller kelas atas, A Working Man mungkin terasa seperti pekerja rajin yang menyelesaikan tugasnya, tapi tidak membawa ide baru ke kantor.

Logo Disney Plus


Eternals – Movie Info

Scroll to Top