Review Film – Fall 2: Deadpoint (2026)

Fall 2 Deadpoint; Teror Ketinggian Kembali dengan Luka Keluarga

Fall 2: Deadpoint adalah film survival thriller Amerika Serikat garapan Peter Spierig dan Michael Spierig, dengan naskah karya Jonathan Frank bersama Scott Mann. Sekuel Fall tahun 2022 ini dibintangi Harriet Slater, Arsema Thomas, Tom Brittney, dan Virginia Gardner, lalu dirilis pada 2 September 2026 dengan durasi 97 menit. 

Ceritanya melanjutkan warisan tragedi film pertama melalui Jax Hunter, adik mendiang Shiloh yang masih kesulitan menghadapi rasa kehilangan. Sedikit koreksi dari poin awal, perjalanan mereka berlangsung di Gunung Kwan, Thailand, bukan Myanmar, setelah Jax menemukan scrapbook berisi daftar lokasi ekstrem yang hendak ditaklukkan kakaknya.

Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Jax bertemu Luce, perempuan yang mengaku sebagai teman Shiloh, ketika hendak menjual truk peninggalan sang kakak. Luce kemudian membujuk Jax menyelesaikan plank walk di Gunung Kwan sebagai penghormatan kepada Shiloh sekaligus usaha membantunya berdamai dengan ketakutan.

Keputusan melanjutkan cerita pertama melalui legacy keluarga cukup cerdas karena adrenalin dari insiden menara masih ikut terbawa. Jax tidak mendaki sekadar untuk membuat konten ekstrem, tetapi karena merasa keberanian sang kakak meninggalkan pertanyaan yang belum selesai dalam hidupnya.

Prolog Tipis, Survival Mode Langsung Menyala
Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Setibanya di Thailand, Jax dan Luce bertemu Jon, pemandu asing yang bersedia membawa mereka melewati jalur tertutup meskipun kawasan tersebut rawan hujan deras, gempa, dan longsor. Perjalanan mereka segera berantakan ketika longsor memisahkan Jon dari kedua perempuan itu, lalu menghancurkan sebagian pijakan kayu di Devil’s Elbow.

Film tidak menghabiskan banyak waktu untuk membangun kehidupan para tokoh sebelum pendakian dimulai. Begitu kaki mereka menginjak jalur sempit di pinggir jurang, setiap klip pengaman, papan rapuh, dan gerakan tubuh langsung berubah menjadi persoalan hidup atau mati.

Jax dan Luce Cukup Meyakinkan Membawa Ketegangan
Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Harriet Slater memainkan Jax sebagai perempuan yang membawa trauma, takut pada ketinggian, tetapi terus memaksakan diri demi mengenang kakaknya. Ekspresi panik serta gerakan tubuhnya cukup efektif mewakili ketegangan penonton ketika satu langkah salah dapat menyeretnya jatuh ribuan kaki.

Arsema Thomas memberi Luce energi yang lebih berani, spontan, dan terlihat terbiasa menghadapi aktivitas ekstrem. Chemistry keduanya berkembang cukup natural dari dua orang asing menjadi partner survival, meskipun film kemudian mengungkap bahwa identitas serta sejarah Luce bersama Shiloh tidak sepenuhnya benar.

Jax akhirnya menemukan bahwa perempuan di sebelahnya bukan Luce yang dikenal Shiloh, melainkan Billie, penggemar kanal mendiang kakaknya yang memakai identitas palsu agar bisa mendekati keluarga tersebut. Billie juga mengaku menderita kanker terminal dan ingin membantu Jax menaklukkan rasa takut sebelum waktu hidupnya sendiri habis.

Twist tersebut seharusnya memperdalam emosi, tetapi penyampaiannya terasa lebih seperti tambahan melodrama daripada pengungkapan yang benar-benar menghancurkan hubungan mereka. Meski begitu, hubungan Jax dan Billie masih menjadi bagian paling manusiawi karena keduanya sama-sama memakai pendakian ekstrem untuk melarikan diri dari kenyataan.

Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Tom Brittney cukup meyakinkan sebagai Jon, pemandu yang paham medan, cuaca, serta prosedur “clip-in clip-out” ketika melintasi jalur berbahaya. Keberadaannya membuat teknis pendakian lebih jelas dan memberi kedua protagonis seseorang yang bisa diandalkan setelah dirinya ditemukan selamat dari longsor.

Sayangnya, perubahan fungsi Jon menjelang akhir terasa seperti film mendadak membutuhkan antagonis manusia setelah alam tidak lagi cukup. Pengungkapan bahwa tabung oksigen mereka berisi fentanyl dan pendakian tersebut menjadi bagian operasi penyelundupan terdengar liar, tetapi kurang menyatu dengan teror ketinggian yang sudah dibangun.

Obstacle Lebih Banyak, Rasa “Fall” Justru Berkurang
Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Film pertama mengurung karakter pada satu titik tinggi, sedangkan Deadpoint membawa perjalanan melewati tangga, jalur kayu, Devil’s Elbow, patung naga, jembatan antarpuncak, dan lereng yang terus dihantam cuaca. Variasi tersebut membuat visualnya tidak monoton serta memberi rintangan fisik berbeda dalam setiap tahapan pendakian.

Pemandangan gunung Thailand terlihat indah sekaligus berbahaya, terlepas dari perpaduan lokasi nyata dan efek digital yang dipakai. Proses produksinya memang dilakukan di Thailand, membantu vegetasi, bebatuan, serta lanskap tropis memberi sekuel ini identitas berbeda dari gurun tandus pendahulunya.

Longsor, hujan, papan patah, tas yang tergantung sulit dijangkau, altitude sickness, kehabisan tenaga, dan jembatan tidak stabil terus menambah tekanan. Pecinta adrenalin masih bisa ikut merasakan betapa mustahilnya bergerak ketika satu-satunya pijakan hanya selebar telapak kaki.

Namun keberagaman lokasi menjadi bumerang karena film tidak lagi fokus pada satu ketakutan sederhana seperti menara tinggi dalam Fall. Elemen “jatuh” terasa kurang kuat, sebab perhatian kita terus berpindah dari trauma, kebohongan identitas, kanker, longsor, narkotika, sampai pengkhianatan sang pemandu.

CGI Belum Mampu Menjual Ilusi Ketinggian Sepenuhnya
Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Beberapa shot lebar berhasil memperlihatkan kecilnya tubuh manusia di sisi gunung dan menciptakan rasa ngilu ketika kamera mengarah ke bawah. Sayangnya, efek digital pada pergerakan, jurang, serta latar tertentu terlihat kurang mulus sehingga ilusi bahayanya tidak selalu sesolid film pertama.

Kritik serupa juga muncul dalam sejumlah ulasan yang menyorot CGI murah, dialog datar, dan kegagalan memanfaatkan maksimal potensi lokasinya. Meski beberapa rangkaian pendakian masih efektif membuat pusing, keseluruhan visualnya belum konsisten menimbulkan vertigo.

Klimaks Narkotika Terasa Salah Masuk Film

Ketika Billie menemukan fentanyl di dalam tabung oksigen, Jon mengaku memakai para pendaki sebagai kurir tanpa sepengetahuan mereka. Helikopter yang mendekat pun ternyata milik penyelundup, bukan tim penyelamat, lalu konflik survival berubah menjadi pertarungan melawan pemandu berbahaya.

Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Elemen kriminal ini memang menambah kejutan, tetapi rasanya aneh dikaitkan dengan cerita tentang trauma dan ketakutan pada ketinggian. Alih-alih meningkatkan emosi, twist tersebut membuat film seperti kehilangan kepercayaan bahwa duel manusia melawan alam sudah cukup membawa penonton sampai akhir.

Billie akhirnya tewas setelah didorong Jon, sedangkan Jon jatuh akibat usahanya sendiri membunuh Jax. Jax menggunakan narkotika yang tersisa sebagai alat tawar-menawar dengan para penyelundup, berhasil diselamatkan, lalu kembali ke bar sambil mengenang Billie.

Keselamatannya mudah diperkirakan, sementara hubungan antara Shiloh, Billie, Jon, dan operasi penyelundupan terasa terlalu nyaman dijelaskan menjelang akhir. Emosi yang seharusnya menyesakkan justru kehilangan tenaga karena film lebih sibuk merapikan kebetulan dan menyiapkan destinasi baru bernama Hell’s Chasm.

Lebih Luas, tetapi Tidak Lebih Tinggi
Fall 2: Deadpoint (2026)
Fall 2: Deadpoint (2026) | © Lionsgate

Fall 2: Deadpoint masih memberikan survival thriller yang cukup menegangkan melalui dua pemeran utama solid, medan beragam, dan beberapa rangkaian pendakian yang membuat telapak tangan berkeringat. Respons kritikus terbelah, dengan 53 persen ulasan positif di Rotten Tomatoes, skor Metacritic 54, dan nilai B- dari CinemaScore.

Kelebihannya berada pada hubungan Jax-Billie, visual pegunungan, variasi rintangan, dan kontinuitasnya dengan tragedi Shiloh. Kekurangannya terletak pada CGI tidak konsisten, twist fentanyl yang terasa dipaksakan, karakter yang kurang dalam, serta hilangnya fokus teror ketinggian sederhana dari film pertama.



Fall 2: Deadpoint – Movie Info

Scroll to Top